
Happy Reading
...*****...
...Bersikap seolah semuanya baik-baik saja, walau ternyata terluka parah....
...*****...
Azka mencondongkan sedikit tubuhnya dari pintu kelas lalu ia pun duduk di bangku yang ada di depan kelas itu untuk sekedar menunggu Tyara yang sedang merapikan bukunya. Dia memejamkan matanya sejenak, ketika sedang asyik menikmati semilir angin tiba-tiba saja kepalanya dipukul oleh seseorang menggunakan buku.
Pukkk!
Azka meringis dan membuka matanya perlahan, dia pun tersenyum ketika melihat siapa pelaku yang memukul kepalanya itu.
"Ngapain kamu disini?" Tanya pak Agus selaku guru matematika sekaligus wali kelasnya yang baru saja keluar dari kelas Tyara.
"Duduk," sahut Azka.
"Saya dapat laporan dari Bu Laura tadi pagi kamu bolos ke kantin sehabis upacara bendera, betul itu Azka?"
Lagi, Azka tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.
"Jangan senyum-senyum kaya gitu, saya ngeri liatnya."
Mendengar itu ia langsung menghilangkan senyumannya dan memasang wajah datar.
"Ya gak kaya gitu juga muka kamu," ujar pak Agus lagi.
Azka memutar bola matanya malas, "Salah mulu saya pak."
"Ya kamu emang selalu salah, terus kenapa itu bajunya gak dimasukin, berantakan banget mana ada ketua Osis yang seragamnya berantakan kaya gitu," ujar pak Agus sembari memukul lagi kepala Azka dengan buku tebalnya.
Lagi, Azka kembali meringis dan mengusap-usap kepalanya itu, "bapak ya, ini namanya KDLS tau, gak."
Pak Agus mengernyitkan alisnya bingung, "Apa itu KDLS?"
"Kekerasan Dalam Lingkungan Sekolah!"
"Halahh.. kamu itu ya..."
Belum sempat pak Agus menyelesaikan ucapannya tapi sudah dipotong lebih dulu oleh seseorang."
"Lho? Azka?"
"Ehh, neng Tyara, pa kabar?" ucap Azka dengan nada yang seramah mungkin.
Pak Agus beralih menatap Tyara, "Heh, Tyara. Kamu jangan mau sama laki-laki macam dia nih," ujarnya sembari menunjuk Azka.
Azka dan Tyara mengernyit bingung, "Emang kenapa pak?" tanya Tyara penasaran.
"Dia ini kan ketua Osis bukannya mengayomi teman-temannya buat ke jalan yang lurus eh malah ikutan belok."
Tyara membelalakkan matanya kaget, "Maksudnya pak? Belok? Dia udah gak demen cewek, apa gimana?"
Azka menyentil kening Tyara mendengar perkataan wanita itu, "heh! Kalo ngomong sembarangan banget jadi cewek."
"Aduh, sakit, ya lagian tadi pak Agus bilangnya lo belok jadi gue pikir lo udah gak demen sama cewek."
"Duhh, udahlah saya pusing sama kalian berdua," ujar pak Agus lalu ia berjalan pergi meninggalkan mereka berdua.
Tyara diam sejenak memperhatikan Azka sedangkan orang yang diperhatikan hanya memandang bingung, "Kenapa?" tanya Azka kemudian.
Tyara mendekati Azka ia menyibak lengan baju kiri Azka dan langsung menghela nafas lega, "Gue kirain lo Azka yang palsu."
"Aslilah, si Izki kan udah gue usir."
__ADS_1
"Maksudnya?"
"Dia udah balik lagi ke Aussie," ujar Azka sembari bangkit dari duduknya.
"Serius?"
"Yaiyalah, sejak kapan sih aku boong sama kamuuuu," sahut Azka dengan ekspresi yang diimut-imutkan.
Tyara bergidik ngeri melihat tingkah Azka, ia pun pergi meninggalkan Azka yang terdiam membisu.
*****
"Udah lama nunggunya?"
Pertanyaan yang mengudara seiring dengan derap langkah kaki yang berasal dari belakang membuat Tyara spontan berbalik. Lalu, tatapannya jatuh pada sosok Azka yang datang sembari menyeruput es jeruk.
"Gak, santai aja," sahut Tyara sembari mengambil alih minuman yang ada ditangan Azka dan langsung menyeruputnya hingga habis, sedangkan Azka hanya memandangnya dalam diam.
"Yaudah, ayo," ujar Azka kemudian ia berjalan mendahului Tyara kearah parkiran sekolah.
Tidak membutuhkan waktu lama, mereka berdua pun sudah tiba di parkiran sekolah. Mobil dan motor yang tadi pagi berjejer rapi sekarang hilang entah kemana, dan menyisakan motor Azka juga beberapa motor yang masih terparkir indah disana.
"Kok gak bawa mobil, sih?" Tanya Tyara sembari menerima helm yang diberikan oleh Azka.
"Emang kenapa?"
"Panas tau, nanti muka gue item," ujar Tyara yang diakhiri dengan mencembikkan bibirnya.
Azka tertawa kecil, "emang udah item kan?"
"Ish," Tyara memukul pundak Azka pelan dan langsung naik ke atas motor Azka. Mereka pun keluar meninggalkan area parkir dan mulai menyusuri jalan raya yang ramai dengan kendaraan-kendaraan yang saling berlalu lalang di sore hari.
Azka melirik kearah spion motor dan menatap Tyara, "Makan dulu ya, gue laper."
"Makan dulu, gue laper," ujar Azka dengan suara yang sedikit keras.
"Apa, sih?!" Tanya Tyara lagi.
"MAKAN DULU SEBENTAR, GUE LAPER!" ujar Azka dengan suara yang keras.
Tyara menepuk punggung Azka, "Gak usah teriak-teriak dong."
"Lah," ujar Azka pelan.
Azka menghentikan motornya di depan angkringan yang bertuliskan 'Masakan khas Bunda' yang terpampang nyata di bagian depan.
Tyara memilih tempat duduk yang berada di pojok dan langsung tertuju kearah jalan raya, dari tempat duduknya Tyara bisa melihat kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang di jalan raya.
Seorang pelayan wanita menghampiri meja mereka berdua, tak lupa pelayan itu juga menyerahkan dua buah buku menu pada Azka dan juga Tyara.
Tyara hanya membolak-balikkan buku menu yang ada ditangannya, dia bingung harus memesan apa. Tangannya terus membolak-balikkan halaman demi halaman, akhirnya ia mengangkat suara seiring dengan buku menu yang ia letakkan di atas meja.
"Saya pesan pecel ayam aja deh, mba."
Sembari mencatat pesanan Tyara pelayan itu kembali bertanya, "Ada lagi kak? minumannya?"
"Nambah mie Aceh sama minumnya jus jeruk dua, mba."
Pelayan itu mengangguk singkat, lalu mencatat menu yang baru saja dilontarkan oleh Azka. Kemudian pelayan itu mengulangi pesanan mereka, sebelum akhirnya berlalu setelah mendapat anggukan dari Azka dan Tyara.
Lalu, sembari menunggu pesanannya datang Tyara mengeluarkan handphonenya, menenggelamkan diri dalam dunianya sendiri. Menghabiskan waktu dengan memfoto pemandangan yang menurutnya layak untuk diabadikan, berbeda dengan Azka yang memilih untuk bermain game.
Tak jarang ia mengumpat kecil saat game yang ia mainkan berakhir dengan kekalahan. Ekspresi wajah kesal Azka lah yang wajib ia abadikan, Tyara pun mengambil gambar Azka secara diam-diam lalu ia terkikik geli melihat hasil jepretannya.
Karena terlalu sibuk dengan kegiatan masing-masing, mereka berdua sampai tidak sadar bahwa pesanan yang mereka pesan sudah sampai dan tertata dengan indah diatas meja. Satu piring mie Aceh, pecel ayam serta dua gelas jus jeruk.
__ADS_1
Tidak membutuhkan waktu lama bagi Tyara untuk menghabiskan pecel ayam pesanannya, ia menopang dagunya dengan satu tangan dan memperhatikan Azka yang sedang menyantap makanannya.
"Kebiasaan banget, sih, kalo makan pasti deh kaya gini."
Tyara menaikkan kedua alisnya bingung, "Maksudnya? Kaya gini gimana?"
Azka menghela napas, tanpa melontarkan kata ia mengambil dua lembar tissu dari kotaknya yang berada di atas meja. Sedang Tyara dibuat menahan napasnya ketika Azka mengikis jarak yang terbentang di antara mereka berdua, terlebih lagi ketika tangan Azka terangkat lalu menyapu sudut bibir Tyara menggunaka tissue yang ia ambil tadi.
Dan, ketika Azka kembali menciptakan jarak, barulah Tyara menyadari perkataan dari Azka tadi.
*****
Azka berjalan memimpin diikuti oleh Diyas juga Vano, ketiga laki-laki itu menghentikan langkahnya ketika berhadapan dengan Tyara, Yeni juga Arva.
"Selamat pagi, Tyara sayang," ujar Diyas dan langsung mendapat pelototan dari Yeni.
"Dih, kenape lo melototin gue?" tanyanya tanpa salah.
Plaakk!
Vano memukul kepala bagian belakang Tyara dengan lumayan keras, "Lo oon apa pura-pura oon, sih?"
"Apa, sih?!" ujar Diyas sembari mengusap-usap bagian yang dipukul oleh Vano tadi.
Azka maju selangkah dan berdiri diantara Diyas dan Tyara, dia menatap Diyas intens.
"Ini lagi satu, ganggu aja," ujar Diyas.
Azka mengernyitkan alisnya, "Dah lah," ujar Azka kemudian berbalik arah untuk menatap Tyara.
"Tadi berangkat sama siapa?"
"Naik bus."
"Gak dianter Rei?"
Tyara menggeleng, "Enggak, dia ada kuliah pagi."
Azka membulatkan mulutnya membentuk huruf 'O'
"Pulang nanti sama gue aja."
Tyara menganggukkan kepalanya pelan, "Iya."
"Ekhem.. Ekhem..." Sebelah tangan kanan Vano terangkat guna menepuk-nepuk dadanya sembari membungkukkan badannya layaknya orang yang sedang mengidap batuk berat, "Mulai lagi dah."
Tanpa memperdulikan sindiran dari Vano, Azka justru mendaratkan tangannya diatas puncak kepala Tyara dan mengusapnya lembut, "Belajar yang rajin jangan males."
Tyara memutar bola matanya malas, dia menurunkan Azka dari kepalanya, "Iye iye, ah lebay banget segala usap-usap."
Azka menaikkan sebelah alisnya, lalu ia berjalan mendekat ke sisi kiri Tyara dan berbisik, "Gue gak mau ya kalo istri gue bodoh nanti, makanya lo belajar yang rajin biar jadi ibu yang pinter buat anak-anak gue nanti," bisiknya sembari tersenyum jahil.
Terlihat pipi Tyara yang memerah, "Apaan sih, Lo!" ia pun mendorong Azka untuk menjauh darinya.
Azka hanya terkekeh lalu kembali kepada posisinya, Diya menatap Azka dengan tatapan yang menyelidik. "Bisikin apaan lo tadi?"
Azka melirik sekilas, "Kepo, umur lo masih ilegal gak boleh kepo," ujarnya lalu pergi meninggalkan Diyas diikuti Vano.
"Dasar kampret!"
...*******...
__ADS_1