ALUMNI HATI

ALUMNI HATI
28


__ADS_3

HAPPY READING!!!


......*****......


...Kita gak pacaran, tapi kamu punya aku....


...*****...


"Gue pulang bareng lo, ya."


"Lho, katanya lo dijemput nyokap lo?"


Luna menggeleng, "Nggak."


Azka menatap Tyara dan Luna secara bergantian, lalu ia menatap Tyara dengan sorot mata bersalah, "Lo..."


"Gak papa kok, gue bisa pulang sendiri," ujar Tyara sembari tersenyum setipis mungkin.


"Serius?"


Tyara mengangguk meyakinkan, "Iyaa gak papa."


Jangan pernah bermain-main dengan janji, jangan pernah menjadikan janji sebagai kalimat penenang semata dan jangan pernah berjanji kalau tidak bisa menepatinya.


Azka menghela napas pelan, "Pulangnya hati-hati kalo udah sampe kabarin gue, inget kabar itu penting."


Tyara menaikkan alisnya satu, "Emang gue siapa lo sampe kabar gue penting banget bagi lo?"


Azka mengerjapkan matanya berkali-kali mendengar ucapan Tyara, "Walaupun lo bukan pacar gue, tapi tetep punya gue."


Tyara memutar bola matanya malas, "Terserah." sembari beranjak pergi dari hadapan Azka.


"Azka, ayo..." ucap Luna setelah Tyara hilang dari pandangan. Azka mengalihkan fokusnya pada Luna kemudian menyerahkan helm yang telah ia siapkan untuk Tyara tadi.


"Pakein," cengir Luna.


Azka mendengus tapi tetap memasangkan helm untuk Luna, tangannya mengetuk pelan kepala Luna yang terbungkus helm, "Pake sendiri jangan manja, udah gede juga."


"Ribet tau," ujarnya sembari menaiki motor besar Azka.


Motor itu melaju keluar dari parkiran, melewati Tyara yang berjalan sendirian menuju gerbang sekolah. Selama perjalanan, Tyara mencoba untuk menenangkan dirinya tapi tetap saja, ada perasaan tidak rela yang bersarang di hatinya.


****


"KAMU MAU KEMANA?!"


Terdengar suara teriakan mamanya dari dalam rumah, Tyara diam sejenak di gerbang rumahnya.


"UDAH BERBULAN-BULAN KAMU GAK PULANG, TIBA-TIBA DATENG NGASIH SURAT CERAI?! HEBAT KAMU YA!"

__ADS_1


Jdeerrr!!


Bak tersambar kilat yang langsung menyambar hatinya, ia diam membatu, kakinya tidak mampu lagi untuk melangkah barang sejengkal pun.


"OH! APA KARENA KAMU LEBIH MEMILIH PELACUR ITU DIBANDING KELUARGA KITA, IYA?!"


Plaakk!!


Suara tamparan mendarat sempurna di pipi mulus Riana, mamanya Tyara. Tyara mencoba untuk melangkahkan kakinya mendekati pintu utama, ia mengintip dari ambang pintu dengan wajah yang tidak bisa diartikan.


"JAGA MULUT KAMU RIANA!" Tunjuk Setyo, tepat di depan wajah Riana yang saat ini sudah banjir akan air mata.


Riana menepis tangan suaminya, lalu menatapnya nyalang, "KENAPA? KAMU GAK TERIMA SAMA UCAPANKU?!"


Setyo berusaha mati-matian untuk menahan amarahnya yang sudah memuncak, mata laki-laki itu menatap tajam dengan urat-urat leher yang menyembul. Ia menghela nafas kasar sebelum akhirnya mendengus, "Sudahlah, berbicara denganmu hanya membuang-buang waktu saja."


Setyo berbalik dengan satu tangan yang menarik koper, saat ia hendak mencapai ambang pintu ia kembali berkata, "Saya titip Tyara dan Rei, jaga mereka baik-baik."


Dan, saat dia sampai di ambang pintu Setyo dikejutkan dengan keberadaan Tyara yang saat ini tengah menatapnya dingin. Bahkan tatapan itu pun pertama kalinya ia lihat anak perempuannya menatapnya seperti itu.


Ia berjalan mendekat kearah Tyara, mungkin, hubungannya dengan Riana memang telah berakhir tetapi tidak dengan Tyara dan Rei. Ia akan tetap menyayangi mereka berdua sebagaimana seorang ayah menyayangi anaknya.


"Ra, papa minta maaf.. Maaf karena papa..."


Setyo tidak melanjutkan ucapannya karena setelahnya Tyara berjalan kearah mamanya, "Ma..." Ia berjongkok kemudian menggenggam erat kedua tangan Riana. Dan, tanpa seizinnya air matanya jatuh menetes mengenai punggung tangan Riana.


"Kamu kenapa nangis, sayang?" Tangan Riana terulur untuk menghapus air mata Tyara.


Riana menggeleng, ia belum sanggup untuk menceritakan masalah yang ia tutupi rapat-rapat selama ini.


"Mama tetep gak mau cerita? Tyara udah liat dan denger semuanya, Ma. Mama masih gak mau cerita? Mau sampe kapan mama sembunyiin ini semua? Mama mau aku hancur?"


Riana menggeleng lemah, itu sama sekali bukan tujuannya, ibu mana yang rela membiarkan anaknya hancur?


"Tyara kecewa sama mama," ucap Tyara lirih.


Riana menghela napas berat, kemudian memeluk Tyara dengan erat. "Papa kamu selingkuh."


Memangnya masalah apalagi di dalam kehidupan rumah tangga selain perselingkuhan dan perekonomian?


Tyara mendongak, menatap wajah mamanya dan bertanya, "Udah lama?"


Tidak mampu lagi mengeluarkan suara, Riana hanya menganggukkan kepala sebagai respon.


"Itu salah satu alasan papa jarang pulang ke rumah? Dan juga alasan mama selalu nangis tiap malem?" Lagi, Riana hanya mengangguk sembari melepaskan pelukannya.


"Jadi, selama ini papa gak pernah tugas ke luar kota?" Seiring dengan anggukan Riana, Tyara menambahkan, "Mama bohongin Tyara dan kak Rei selama ini?"


Riana menghela napas pelan, "Rei udah tau semuanya."

__ADS_1


Mendengar jawaban dari mamanya membuat Tyara membelalakkan mata kaget, "Jadi, cuma Tyara yang gak tau apa-apa?" Ia menatap Riana tak percaya.


"Mama cuma gak mau bikin kamu jadi kepikiran sama masalah ini, mama mau kamu nikmatin masa remaja kamu tanpa harus mikirin masalah di rumah," ujarnya sembari mengelus puncak kepala Tyara.


"Mama udah ngebayangin kalau hal ini pasti akan terjadi, mama cuma gak mau disaat mama terpuruk seperti ini kamu dan Rei pergi ninggalin mama..."


Tyara memaksakan dirinya untuk tersenyum, "Buktinya Tyara gak pergi kan dari mama?"


"Makasih, sayang," ujar Riana sembari kembali memeluk Tyara erat. Riana tidak akan terlalu berlarut-larut di dalam kesedihan, karena masih ada Tyara dan Rei yang harus ia bahagiakan.


****


Tyara merebahkan tubuhnya di atas kasur, hari ini terasa sangat melelahkan, masalah datang terus menerus tanpa diminta. Gagal jalan-jalan bersama Azka, pulang sekolah langsung disuguhi pemandangan yang sangat membuatnya perasaannya campur aduk.


Dengan posisi yang telungkup, Tyara menonton drama Korea yang belum sempat ia selesaikan tempo hari lalu. Kemudian, ketika bosan sudah melandanya ia membuka aplikasi Instagram dan melihat instastory followingnya. Sampai pada instastory milik Azka yang dipost beberapa menit yang lalu membuatnya terpaku karena sebuah tagged nama yang tidak asing lagi.


Jika kalian bertanya-tanya akun siapa yang Azka tag, ialah akunnya Luna. Video berdurasi sepuluh menit itu terpampang jelas memenuhi kaya handphonenya, dalam video itu terlihat Luna yang sedang tersenyum lebar sedang Azka yang tersenyum miring.


Tyara melihat jam di layar handphonenya, pukul sembilan lewat dua puluh menit. 'setengah sepuluh kurang?'


tidak lama kemudian sebuah notifikasi chat masuk ke handphonenya, panjang umur, orang yang mengiriminya pesan adalah orang yang sedang ia pikirkan.


Makhluk astral :


*Astaga Tyara, maaf banget gue lupa ngabarin lo, tadi gue ketiduran.


^^^Iya, gapapa kok.^^^


Jangan begadang, udah malem, tidur gih*.


Read.


Tyara tersenyum miris, disini Azka yang terlalu pintar atau dirinya yang terlalu bodoh?


****


Tyara melangkahkan kakinya menyusuri lorong sekolah yang terlihat sepi lantaran jam pelajaran sedang dilaksanakan, baru saja Bu Ayu selesai mengajar di kelasnya. Tyara yang duduk di bangku paling depan mau tak mau ditunjuk oleh beliau untuk membantunya membawakan buku anak-anak kelas XI IPA Satu yang berada di lantai atas.


Di sepanjang perjalanan panjang dari kelasnya menuju kelas XI IPA-1 cukup melelahkan baginya. Tyara menyunggingkan senyum termanisnya tatkala ia berpapasan dengan para guru yang di lewatinya, tinggal sedikit lagi ia hampir sampai di kelas tujuannya.


Hiruk pikuk keramaian dari dalam kelas itu terdengar hingga ke telinganya, semakin dekat, semakin keras pula suara-suara itu terdengar.


Meja semrawut, kursi yang berantakan dan tidak pada tempatnya salah satu hal yang terlintas di otak Tyara adalah jamkos. Tidak mungkin keadaan akan kelas seperti ini jika ada guru di dalamnya.


"Maaf, ketua kelasnya mana ya?" Tanya Tyara sembari tetap berdiri di ambang pintu. Salah satu anak di kelas itu menunjuk seorang anak laki-laki yang sedang mengobrol bersama seorang anak perempuan yang ia yakini adalah Luna. Tanpa harus bertanya lebih lanjut Tyata sudah tahu pasti siapa laki-laki itu kalau bukan Azka, ya, selain sebagai ketua Osis Azka juga ditunjuk sebagai ketua kelas di kelas XI IPA-1.


Tapi lihatlah sekarang, walaupun ada ketua kelas yang sekaligus merangkap sebagai Osis, kelasnya malah lebih parah dari pada kelas yang lain, seperti kapal pecah.


Tyata menghela nafas, "Yaudah, gue titip buku ya, makasih sebelumnya,"ujar Tyata sembari beranjak pergi meninggalkan kelas tanpa menunggu jawaban dari lawan bicaranya.

__ADS_1


Salah satu anak laki-laki itu memperhatikan gerak-gerik Tyara, dari ia mulai menginjakkan kakinya dikelas ini sampai ia keluar kembali. Lalu, orang itu menatap kearah Azka dengan pandangan yang tidak bisa diartikan.


...*****...


__ADS_2