
Apa yang lo lakuin kalo tiba-tiba mantan lo gangguin lo lagi setiap hari? Kalo gue, udah pasti gue masukin dia ke peti mati terus gue anyutin di sungai Amazon.
***
Pagi ini dia tidak bangun kesiangan lagi, karena dia sudah memasang alarm sebelum tidur.
Di koridor sekolah dia bertemu dengan Azka dan tampaknya juga baru sampai. Dia pun mulai mempercepat langkahnya berharap Azka tidak melihatnya saat ini. Tapi ternyata sepertinya kesialan kembali menimpanya.
"Tyara!"
Makhluk astral itu mendekat dan mencekal tangannya agar tidak lari. Belum puas juga ternyata dia semalam setelah diberikan tendangan maut.
"Tumben gak telat, Ra?" Tanyanya basa-basi.
"Gak usah basa-basi deh, apaan?"
"Emang lo tuh mantan terpeka yang pernah ada" Azka terkekeh mendengar ucapannya sendiri. Sedangkan Tyara? Dia hanya memandang wajah Azka datar.
Azka pun berdeham karena dia tidak melihat sedikitpun tawa atau senyum dibibir Tyara.
"Pulang sekolah temenin gue yuk"
"Kemana"
"Toko buku, gue mau beli komik, lo kan tau gue hobi banget baca komik."
Tyara mengerutkan alis, "gak, gue gak tau lo suka komik."
Azka membelalakkan matanya, "masa gak tau? Padahal dulu lo yang sering banget beliin gue komik lho."
Tyara sangat malas jika makhluk astral ini mulai membicarakan masa lalu. Padahal dulu dia sendiri yang bilang sewaktu mereka baru putus selama seminggu. Tyara masih mengingatnya Azka berkata 'yang lalu biarlah berlalu, sekarang jalan kita udah gak beriringan' .
Padahal dulu Tyara cuma bilang kalau dia memimpikan Azka. Itu cuma mimpi, sial, Tyara tidak ada niatan untuk mengungkit masa lalu! Ah kesel hayati.
Pasti kalian juga pernah kan memimpikan sang mantan? Nah, Tyara juga, tapi bedanya mungkin kalian tidak berani bilang ke mantan kalian kalau kalian memimpikannya, iya kan? Kalau Tyara beda, dia orangnya frontal. Apa yang dia pikirkan dan rasakan akan dia ungkapkan saat itu juga, meski ke mantan sekalipun.
Beda versi lagi kalau sudah menyangkut perasaan yaa. Tyara juga perempuan yang mempunyai gengsi.
"Yang lalu biarlah berlalu, gak usah di ungkit apalagi dibicarain lagi." Ucap Tyara mengikuti gaya Azka berbicara dulu, tapi perkataannya sedikit di edit agar tidak dikira copypaste.
Selesai Tyara berkata seperti itu, dia langsung berjalan ke kelas meninggalkan Azka yang melongo mendengar ucapannya.
Rasain lo. Gumam Tyara pelan.
Sesampainya Tyara di kelas sudah ada Yeni di bangkunya, tapi dia tidak melihat dimana Arva.
"Yen, si kadal mana?." Kadal, sebutan dari Tyara untuk Arva. Gak tau deh kenapa dia memanggil Arva kadal, Tyara sendiri juga bingung.
Yeni mendongak dan melihat ke arahnya yang masih setia berdiri di samping meja, "dia gak masuk, tadi pagi ngechat gue katanya izin."
"Kemana?"
Yeni menghendikkan bahunya tak tahu.
Sambil menunggu guru sejarah yang mengajar hari ini datang Tyara memilih untuk membuka aplikasi Instagram di ponselnya. Biasalah, ngestalk cowok-cowok ganteng.
***
Sudah selama satu jam pak Yudi, selaku guru sejarah menceritakan tentang sejarah Indonesia. Dan sudah selama itu juga Tyara menahan kantuk yang tak kunjung hilang.
Jujur, ini pak Yudi sedang mendongeng kali ya, suaranya sangat lembut mengalun indah di telinganya yang membuatnya semakin mengantuk.
Berkali-kali dia menguap dan memegangi kelopak matanya agar melotot, tapi rasanya sulit sekali. Astaga, tolong di percepat dong belnya demi apapun Tyara sangat mengantuk.
Tapi tidak lama kemudian Tyara menyerah, 'yaudahlah tidur aja daripada gue mati gara-gara kengantukan' gumam Tyara.
Tyara pun tertidur di atas meja dengan begitu nyenyak.
***
Ketika Tyara sedang tidur dengan nyenyaknya, dia merasakan kepalanya seperti ada yang mengelusnya. Dia membuka mata dan langsung memegang tangan itu tanpa menoleh terlebih dahulu.
"Aduh, Ra, sakit gila"
__ADS_1
Kok gue kaya kenal nih suara. Gumam Tyara dalam hati.
Setelahnya Tyara langsung menoleh, melihat tangan siapa yang dia pegang ini. Dia kaget, ternyata pelaku pemegang kepalanya ini si makhluk astral. Siapa lagi kalau bukan Azka Zahfriel si ketos sekaligus mantan terkurang ajar ini.
Dengan cepat Tyara langsung menghempaskan tangannya begitu aja. Azka memegangi pergelangan tangannya yang tadi dicekal oleh Tyara dengan sangat keras.
Ada niatan untuk meminta maaf sih, tapi gengsi berhasil mengalahkannya. Alhasil, Tyara hanya melengos dan menatap jendela kelas yang ada di samping kanannya.
"Lo gak istirahat, Ra?"
Tyara menengok kearahnya dengan cepat, "udah istirahat?"
Dia mengangguk, "mau bareng?"
"Gak, gue gak lapar." Jawab Tyara dusta.
Setelah mengatakan itu, dengan tidak tahu malunya perut buncit Tyara berbunyi keras.
Azka yang mendengar itu pun menahan tawanya, "Yaudah, ayo ah, gue tau lo paling gak bisa nahan lapar." Ucapnya kemudian menarik tangan Tyara pelan.
Terpaksa, Tyara mengikutinya ke kantin. Dia benar, Tyara memang tidak bisa dengan yang namanya menahan lapar. Tyara berjalan sambil menundukkan kepalanya dengan tangan Azka masih yang setia menggandeng tangannya.
Kok tiba-tiba jantung gue kaya mau meledak ya, gumam Tyara dalam hati.
Di sepanjang jalan kenangan, eh salah, di sepanjang jalan kearah kantin banyak orang yang memandang ke arahnya dengan bingung. Mungkin mereka berpikir karena Tyara sudah putus dengan si ketos tapi kok masih gandeng-gandengan tangan, ralat, hanya Azka yang menggandeng.
Tyara melihat dari ekor matanya, ada yang memandangnya dengan sinis ada pula yang dengan terang-terangan mengatakan,
"Idih, sok cantik banget Tyara."
"Azka matanya katarak kali ya, kok dia mau-mauan aja gandeng tuh cewek lagi."
"Mereka bukannya udah putus?"
Tyara yakin 100% Azka juga mendengar apa yang mereka bicarakan dan sepertinya dia memilih untuk menutup telinganya. Karena ketika dia melirik kearah Azka, cowok itu tetap berjalan dengan wajah yang santai seolah dia tidak mendengar kicauan burung gagak itu.
Sesampainya mereka di kantin, Azka meminta Tyara untuk mencari tempat duduk terlebih dahulu sedangkan dia memesankan makanan.
Tyara menepuk bahu cowok itu pelan, cowok itu pun menengok.
"Kenapa?"
Oh, ternyata, vano. Evano Wijaya teman sekelas Azka, dia juga ganteng tapi masih gantengan Azka lah ya.
"Gue sama Azka gabung ya?"
Vano mengangguk, "silahkan."
Tyara pun duduk sembari melihat kearah Azka yang tengah memesan siomay disana.
"Eh, Azkanya mana? kok Lo sendiri?."
"lagi persen siomay."
"Oh.." jawab Vano yang sekarang tengah fokus dengan ponselnya.
Tyara kembali menatap kearah Azka, lama banget, rutuknya. Dia memilih untuk memainkan ponsel saja, menghilangkan kegabutan.
Tidak lama kemudian Tyara kembali menoleh kearah Azka yang sekarang sedang celingukan mencari keberadaannya. Dia berdiri dan melambaikan tangan agar Azka melihatnya.
"Azka!" Teriaknya.
Azka menengok dan tersenyum tipis, ah tampannya pangeran bersiomaynya itu.
Azka berjalan ke arahnya, lebih tepatnya kearah meja yang dia dan Vano tempati.
Azka menyimpan nampan yang berisi siomay dan jus jeruk itu di meja kemudian duduk di samping Tyara.
"Udah lama, Van?" Tanyanya ke Vano.
"Lumayan"
Azka menyodorkan siomay dan jus jeruk itu ke hadapan Tyara, Tyara mengambil sendok siomay dan bersiap untuk memakannya. Tapi belum sempat dia menyendokkan siomay itu ke mulutnya, Azka sudah lebih dulu mengambil alih sendoknya.
__ADS_1
"Gue suapin." Katanya kemudian.
Vano yang duduk di hadapan Tyara pun berdeham, "kayanya gue mengganggu ya." Ucapnya seraya berdiri dan bersiap untuk pergi.
"Duduk aja Van, biar lo menyaksikan betapa cintanya gue sama mantan yang satu ini." Ucap Azka sembari menyeringai.
Vano tertawa, "kalo cinta kenapa dijadiin mantan." celetuk Vano santai sembari duduk kembali.
Mendengar ucapan Vano membuat Tyara terbatuk - batuk dan Azka pun segera memberikan Tyara minum.
"Makannya pelan-pelan dong, sayang." Ucap Azka menekankan kata sayang.
'Kurang ajar nih makhluk astral'
Tiba-tiba Tyara mendapatkan sebuah ide, dia juga akan membuat Azka baper, seperti apa yang dilakukan Azka kepadanya.
Tyara memandang wajah Azka dengan senyuman yang sangat manis. Kalian tau? Makhluk astral yang satu ini sangat suka dengan senyuman manisnya. Lihat saja pasti setelah ini Azka akan klepek-klepek.
Azka yang melihat itu tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya. Shit! Ini mah senjata makan tuan.
"Apaan sih, lo" ucap Tyara sembari melengos melihat kearah lain, dia merasakan panas di pipinya.
Dengan kurang ajarnya Azka menarik kepala Tyara agar melihat ke arahnya, "ko pipinya merah sih, wah mantan gue blushing yaaa."
Tyara menepis tangan Azka, "tau ah, gue mau ke kelas aja."
Ketika dia berjalan kearah luar kantin, Azka berteriak, "Mantan! I love you!"
Kemudian dia dan Vano tertawa terbahak-bahak. Memang kurang ajar!
***
Malam harinya, ketika Tyara sedang asik mendengarkan musik tiba-tiba saja ada yang menelfonnya. Oh, iya jadi tadi siang ketika pulang sekolah Azka masih memaksanya untuk menemaninya ke toko buku dengan alasan takut diculik sama mbak-mbak di toko buku itu. Dengan berat hati Tyara pun memilih untuk menemaninya.
'Makhluk astral calling'
Dengan malas Tyara mengangkatnya.
"Apaan?" Tanyanya tanpa basa basi.
"Ke balkon dah, gue di bawah."
Tut.. Tut. Tut...
Sehabis mengatakan itu Azka langsung mematikan panggilannya. Walaupun Tyara masih bingung tapi dia tetap menuruti perintahnya.
Sesampainya di balkon, Tyata melongokkan kepalanya kebawah mencari keberadaan Azka. Azka berdiri di bawah sana sambil melambai-lambaikan tangannya.
Tyara mengerutkan kening bingung, "ngapain lo?"
"Gue cuma mau mengenang kenangan kita, dulu kan gue selalu berdiri disini sambil lambain tangan kearah lo."
Tyara berdecak, lagi-lagi masa lalu.
"Lo tunggu disitu!" Teriaknya.
Azka pun mengangguk dengan senyuman yang tidak pernah pudar dari bibir tipisnya itu.
Tyara masuk kembali ke kamar dan tak lama kemudian dia keluar lagi menghampiri makhluk astral itu yang masih setia berdiri di bawah.
Byuurr....
Dia menyiramnya dengan air segayung, "rasain tuh air mancur buatan gue." Teriak Tyara kearah Azka lalu masuk kembali ke dalam.
Azka yang tidak tahu harus merespon apa memilih untuk berteriak, "Iya! Gue juga cinta sama lo, Ra!"
Tyara keluar lagi sembari membawa jaket dan melemparkannya ke arah Azka. Lalu masuk kembali ke dalam, dia tidak setega itu membiarkan Azka kedinginan akibat air mancur buatannya itu.
\
__ADS_1