
HAPPY READING!!
Jangan lupa likenya kakak☺️
...*****...
...Saling menyayangi tapi juga saling menyakiti....
...*****...
"Kalo sekarang gue bilang suka sama lo, gimana?"
Tyara terdiam mendengar ucapan Vano, ia menatap wajah Vano lamat-lamat, tidak yakin jika kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir laki-laki itu. Baru saja hendak mengeluarkan suara mulutnya kembali terkatup rapat saat mendengar suara tawa Vano.
Tyara menatap laki-laki itu bingung dengan kening yang berkerut dalam.
"Gue becanda kali, lo nanggepinnya serius amat," ujar Vano sembari memegangi perutnya yang sakit akibat tertawa.
Tyara memberengut kesal, kedua tangannya ia lipat di bawah dada sembari terus memperhatikan Vano yang masih tertawa.
"Iyaa, iya, gue berhenti nih, tapi mukanya bisa biasa aja gak, tolong." Lagi, Vano kembali tertawa.
"Gak lucu," seru Tyara, ia kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan posisi tangan yang masih terlipat di bawah dada.
Vano berdeham pelan, berusaha meredam tawanya, "Iya deh iya yang lucu lo doang."
Tyara mendengus sembari memutar kedua bola matanya malas.
"Lagian mana mungkin gue suka sama cewek orang, harga diri dong, apalagi ini pacar temen gue sendiri."
"Makanya bercandanya jangan kaya gitu, gak lucu."
"Terus mau yang kaya gimana biar lucu?" tanya Vano sembari menaik turunkan alisnya.
"Ya, bebas pokoknya jangan yang kaya gitu."
Vano mengangguk-ngangguk pelan, "Yaudah gue ajak ke KUA aja, gimana?"
"Itu tambah gak lucu!"
Detik setelahnya adalah bantal sofa yang mengenai wajah tampan Vano, laki-laki itu mengusap wajahnya lalu tawanya mengudara ketika melihat raut wajah kesal Tyara.
****
"Kaki gue pegel, njir."
Diyas terus mengeluh dari dalam kelas sampai mereka berada di koridor menuju kantin yang berada di lantai bawah. Pasalnya tadi ketika dia tidak bisa menjawab soal matematika yang diajarkan oleh pak Agus, pak Agus memintanya untuk berdiri menggunaka satu kaki sedang kaki yang lainnya ditekuk ke belakang.
"Makanya jadi murid jangan bandel," ujar Arva enteng.
Ya, Arva memang sahabat dekatnya Diyas jadi ketika Diyas sudah kembali dari kampungnya dia jadi lebih sering berkumpul dengan Diyas dibanding Yeni dan Tyara.
"Ngaca, mas," sindir Diyas. "Heran gue sama murid pinter mereka tuh beli otak dimana coba?" keplakan yang lumayan keras Diyas dapatkan setelah mengatakan kalimat itu.
"Atau pas lagi ngandung emak mereka minum jus rumus," Diyas mengusap dagunya menggunakan ibu jarinya, "iya! pasti itu alesannya."
"Jus rumus? Emang ada?" tanya Arva menatap Diyas bingung saat laki-laki itu kembali melontarkan opini yang menurutnya aneh.
"Lo pada kepo kan cara bikinnya gimana?" Diyas berdeham cukup keras, "Sebenernya gampang. Pertama, lo ambil buku pelajaran yang banyak rumusnya terus rendem terus kalo tulisannya udah luntur dan kertasnya udah hancur tinggal lo minum deh, dijamin isinya bakal melekat diotak kita."
"Ajaran siapa lagi,sih? Gobloknya mengalir sampe jauh, bukan temen gue lah."
Hanya Diyas dan Arva yang sibuk berbicara sedangkan Vano dan Azka hanya diam dan saling memandang kearah lain.
Arva berbisik di telinga Diyas, "Mereka lagi kenapa dah?"
__ADS_1
"Gak tau," jawab Diyas dengan suara pelan.
Arva menoyor kepala Diyas, "Kan elo yang sama dia berdua terus masa kaga tau."
"Ya mana gue tau anjir, lagi perang dingin kali."
Orang yang dibicarakan pun menoleh kepada mereka berdua, lalu mereka pun langsung pura-pura menyeruput minumannya sembari melihat kearah lain.
Azka mengalihkan tatapannya lagi kearah lain, saat melihat Tyara berjalan sendirian ia sontak menghampirinya tanpa berpamitan terlebih dahulu kepada yang lainnya.
"Kan, kebiasaan si kampret mah, kalo udah bucin lupa sama kita," ujar Diyas.
****
Tyara mengenakan rok selutut yang dipadukan dengan sweater pink polos, ia menatap pantulan dirinya di depan cermin lalu menguncir rambutnya asal. Ia akan pergi ke minimarket terdekat guna membeli camilan untuk teman menonton nanti.
Riana dan Rei sedang tidak ada di rumah, jadilah ia pergi sendiri sekalian cuci mata.
Tidak perlu membutuhkan waktu lama, Tyara tiba di minimarket yang ia tuju. Langsung saja ia masuk ke dalam dan berjalan menuju ke rak-rak makanan. Memilih beberapa jenis macam makanan dan memasukkannya ke dalam keranjang yang ia pegang.
Sebenarnya, ia tidak akan peduli pada suara apapun yang terdengar di sekelilingnya. Namun, suara tawa yang berada di belakangnya cukup mengganggu indra pendengarannya hingga membuat Tyara spontan berbalik. Ia membeku sejenak, sebelum akhirnya sorot matanya berubah datar.
"Papa," ia menatap keluarga kecil itu dengan pandangan yang tak bisa diartikan.
Di tengah pria dan wanita paruh baya itu terdapat anak kecil berumur sekitar 5 tahun, kedua tangannya yang mungil menggenggam erat jari tangan Setyo dan wanita itu. Rambut hitamnya sebahu, matanya bulat besar sehingga Tyara bisa melihat binar itu dengan jelas, tingginya hanya sebatas paha dua orang dewasa yang berada di sisi kanan dan kirinya.
Samar-samar Tyara bisa mendengar jelas suara cadel yang gadis kecil itu keluarkan. Beralih dari anak kecil itu, Tyara menatap Setyo, ada senyum kecil yang menghiasi bibir dari laki-laki itu. Lihatlah, ternyata dia sangat bahagia bersama mereka. Ia sesekali tertawa renyah menanggapi ucapan anak kecil yang berada di sebelahnya.
Saat pandangannya dan Setyo bertemu, Tyara buru-buru mengalihkan tatapannya ke arah lain. dengan langkah tergesa, ia berlalu pergi dari rak-rak makanan dan berjalan menuju kasir.
Setelah selesai membayar belanjaannya, Tyara berjalan keluar dari minimarket. Namun langkahnya terhenti saat tangannya tiba-tiba dicekal dari belakang oleh seseorang. Ia berbalik, lalu tatapannya jatuh pada sosok Setyo yang berdiri dengan raut tenang.
"Papa perlu bicara sama kamu," ucap Setyo.
Tyara berusaha untuk melepaskan cekalan tangannya dari Setyo, "Apa lagi yang mau dibicarain?" tanyanya sebisa mungkin untuk tetap tenang.
Menjadi pusat perhatian adalah hal yang paling Tyara tidak suka, oleh karena itu saat orang-orang menatap ke arah mereka sebisa mungkin ia melepaskan cekalan tangan Setyo.
"Gak ada yang perlu dibicarain lagi, maaf aku harus pergi."
Cekalan tangan itu terlepas, lalu Tyara pergi begitu saja. Setyo menatap punggung kecil itu yang semakin menjauh dari pandangannya, ia menghela napas berat.
****
Bahkan ketika tubuhnya sudah berhasil menjejaki di lantai rumah, pikiran Tyara masih berada di minimarket. Ia terlalu memikirkan ucapan Setyo hingga tidak sadar jika Riana sudah berdiri di ambang pintu.
"Mama!" pekik Tyara.
"Mama perhatiin kamu ngelamun aja daritadi, mikirin apa, sih?" Tanya Riana lembut.
"Ah, gak ada kok, Ma." Balas Tyara sembari mencium punggung tangan mamanya, "Aku masuk ke kamar dulu, ya," ujarnya sembari mengangkat kantung kresek yang berada ditangannya.
Setelah mendapat persetujuan dari Riana, Tyara berjalan masuk lalu menaiki anak tangga satu persatu. Setelah sampai di kamarnya, Tyara langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.
Ponsel yang ia letakkan di samping tubuhnya bergetar, dengan gerakan kilat ia menyambar benda pipih itu dan membuka aplikasi pesan.
Makhluk Astral :
Lo udah tidur?
^^^Belum^^^
Buruan tidur, nanti kesiangan aja.
^^^^^^Iya, lo juga tidur biar gak kesiangan.^^^^^^
__ADS_1
Iya, nanti.
^^^^^^Kok nanti? ^^^^^^
Lagi nemenin Luna nonton dulu.
Tyara diam sesaat setelah membaca isi pesan dari Azka, kemudian ia pun mengusir asumsi-asumsi aneh yang mengisi pikirannya.
Makhluk Astral :
*Lagi nemenin Luna nonton dulu.
^^^Kok, ada dia? ^^^
Nginep di rumah gue*.
Read.
Ya, Tyara hanya membaca pesan terakhir dari Azka. Ia menutup roomchatnya bersama Azka lalu mengubah posisinya menjadi telentang, matanya menatap langit-langit kamar hingga memori tentang kebersamaannya dan Azka memenuhi pikirannya. Tanpa kehadiran Luna, tentunya.
Lalu hati kecilnya tiba-tiba berbisik, mengungkap tanya yang tak ia ketahui jawabannya, sederhana saja.
Kapan Azka akan memprioritaskan ia seutuhnya? Seperti dahulu, ketika belum ada Luna di antara mereka.
Bukankah hal itu bisa terpenuhi seandainya Luna tidak menampakkan dirinya lagi di depan Azka?
****
Bel pulang sekolah telah berbunyi sekitar sepuluh menit yang lalu, terlihat seorang gadis sedang duduk di depan gerbang menunggu jemputannya. Gadis itu ialah, Tyara. Tadi sekitar lima menit yang lalu, Yeni sudah di jemput oleh papanya, sehingga Tyara hanya sendiri menunggu kedatangan kakaknya, Rei.
"Lama banget, sih," cerocos Tyara dengan wajah kesalnya. Karena sedari tadi ia menunggu tapi kakaknya Rei tak kunjung datang juga.
Ia lantas mengambil handphonenya dan berniat ingin mengirimi pesan agar Rei segera menjemputnya.
Tapi, belum sempat Tyara mengetik pesannya, sebuah panggilan masuk ke handphonenya dan terpampang nama Rei, segera ia mengangkat panggilan tersebut.
"Rei! Lo dimana, sih?! Lama banget, cepetan jemput gue," semprot Tyara dengan wajah kesalnya yang tentu saja Rei tidak akan bisa melihatnya.
"Sorry, Ra. Gue ada urusan ngedadak sama temen gue, cuma sebentar sih, lo mau nungguin gue apa pulang duluan?" tanya Rei dengan nada pelan.
"Gak usah! Gue naik bus aja," lantas ia langsung mematikan sambungan telepon itu secara sepihak.
Dengan wajah geram, Tyara berjalan menuju halte bus berharap masih ada bus yang lewat.
Terdengar suara motor sport yang sudah tidak asing lagi di telinganya, motor tersebut berhenti tepat di hadapannya. Lelaki tersebut pun membuka helm itu dan langsung membuat Tyara kaget.
"Lo! Ngapain lo berhenti di depan gue?" tanya Tyara.
"Naik," ucap Azka singkat.
Tyara hanya diam tak menuruti perkataan Azka, melihat Tyara yang tetap diam Azka langsung menari lengan Tyata mendekat ke sisi motornya.
"Ngapain sih, narik-narik." ujar Tyara marah.
"Naik ke motor gue, udah gue bilang pulangnya sama gue aja, batu banget, sih lo jadi cewek."
Tyara bersedekap, "Kalo gue batu, kenapa lo mau sama gue, hah?!" tanyanya menantang.
dibalik kaca helmnya, Azka menaikkan alisnya sebelah, "Karna lo cantiklah, apalagi coba."
Tyara melotot mendengar jawaban dari Azka, ia pun memukul lengan Azka meluapkan kekesalannya.
"Udah cepetan naik, ah."
Akhirnya, Tyara hanya menuruti perkataan Azka dan langsung menaiki motor besar Azka. Mereka pun melesat meninggalkan halte bus itu.
__ADS_1
...*****...