
Happy Reading!!!
...*****...
...Tanpa ku sebut namanya semesta pun tahu bahwa aku mencintainya...
...*****...
Motor Azka melaju di tengah keramaian kota Jakarta, cowok itu mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Namun ada yang aneh, semakin lama laju motor Azka maka semakin kencang juga seiring lurusnya jalanan yang ia lewati.
"AZKA! PELAN-PELAN!" teriak Tyara dengan tangan yang memeluk erat pinggang Azka sembari memejamkan matanya guna menetralisir rasa takut dan mual-mualnya. Azka sungguh menguji nyalinya dengan semakin memperkencang laju motornya, rasanya Tyara ingin sekali melompat dari motor Azka saat ini juga.
Setelah sampai di rumah, Tyara berlari menuju selokan yang ada di depan rumahnya dan memuntahkan isi namun ternyata tidak ada yang keluar. Kepalanya seperti di putar-putar, jalannya pun hampir limbung jika tidak ada yang menyangga pinggangnya.
"Lo mau bunuh gue? Mentang-mentang badan gue kecil, seenaknya aja!" Tyara mencak-mencak dengan tangan yang berada di kedua pinggangnya.
"Dasar lemah," mata Tyara memicing menatap Azka. Nafasnya memburu naik turun tak beraturan, apa katanya? Lemah? Hei, siapa yang akan tahan dengan laju motor yang seperti kilat tadi, orang lain pun akan sama sepertinya.
"Udah?" tanya Azka ketika Tyara sudah bisa bernafas dengan normal.
Raut wajah Tyara berubah bingung, ia mengerjapkan matanya berulang kali.
"Sayang, marahnya udah belum?"
Tyara menganga dengan mulut yang terbuka lebar, apa tadi katanya? sayang? gak salah?
Setelah membawa motor ugal-ugalan dan membuat jantungnya bekerja dua kali lipat, dengan mudahnya Azka berbicara seperti itu? Astaga!
Merasa tidak ada tanggapan, Azka mengelus puncak kepala Tyara dengan pelan. Lalu berpaling dari hadapan Tyara dan menyalakan motornya menjauhi pekarangan rumah Tyara, tidak memperdulikan sikap cengo Tyara karena ulahnya.
Tyara kembali mengerjapkan matanya, tanpa pikir panjang ia langsung memasuki rumahnya dengan pikiran bercabang.
"Hayo, dianterin siapa?" Tyara terperanjat mendengar suara mamanya yang tiba-tiba ada di hadapannya.
"Astaga mama, ngagetin aja deh." Riana tersenyum lalu menghampiri Tyara dengan langkah pelan.
"Dianterin sama Azka," jawab Tyara sebelum mamanya mencercanya dengan pertanyaan-pertanyaan konyol. "Kak Rei mana, mah?" lanjut Tyara berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Abangmu kan kuliah, gak usah pura-pura lupa deh."
Tyara menyengir, "yaudah, aku mandi dulu ya, babay!" Tyara berlari-lari kecil menuju tangga yang menghubungkannya dengan kamarnya yang berada di lantai atas.
Selang beberapa menit, mamahnya kembali memanggilnya untuk makan bersama. Meskipun jam baru menunjukkan pukul empat sore, Tyara tetap saja makan.
"Tyara, ayo makan, sekalian bareng abangmu nih tadi kamu nanyain," teriak Riana dari lantai bawah.
Tyara bergegas turun dari kamarnya menuju ruang makan, dia melihat Rei yang sudah duduk manis disana dengan senyumannya yang manis. Tyara pun membalas senyuman itu.
"Halo abang sayang!" ujarnya sembari memeluk Rei dengan erat.
Rei pun membalas pelukan adiknya itu, "Ada apa, sih kawan? Kayanya sedih banget," ujarnya dengan nada bercanda.
__ADS_1
Tyara mengurai pelukan mereka dan memukul pelan pundak Rei sedangkan yang dipukul hanya terkekeh kecil.
Riana tersenyum melihat kedua anaknya yang tampak bahagia.
****
"Halo."
Suara lembut langsung terdengar di telinga laki-laki itu saat panggilan telepon itu diterima.
"Tumben nelpon duluan, ada apa?" tanyanya tanpa basa-basi.
Terdengar helaan napas panjang di ujung telepon, "Lo beneran gak inget apa-apa?"
Azka mengernyit bingung, "Emangnya apa?"
Lagi, Azka dapat mendengar helaan napas berat dan panjang dari ujung telepon. Jeda beberapa detik sebelum akhirnya Tyara kembali membuka suara.
"Bahkan lo lupa akan janji lo sama gue."
Azka diam, berusaha untuk mencerna kata demi kata yang masuk ke dalam Indra pendengarannya. Namun, seolah tak membiarkan Azka untuk berpikir lebih lama lagi, Tyara kembali bersuara.
"Lupa kan? Padahal hari ini kita janji mau nonton, lho."
Azka membelalakkan matanya, janji itu, dia benar-benar melupakannya. Ia mengusap wajahnya kasar lalu menghembuskan napasnya pelan, "Gue minta maaf, Ra. Seharian ini gue gak buka hp jadi gue gak tau kalo lo ngehubungin gue."
"Kenapa sampe gak bisa buka hp barang sebentar pun?"
Azka menunduk dengan wajah bersalah, walaupun ia tahu Tyara tidak akan bisa melihatnya.
"Luna lagi? Gue kapan?"
Pertanyaan Tyara barusan mampu membuat Azka menjadi merasa semakin dilanda rasa bersalah, sungguh ini kesalahan fatal yang ia buat dan harus dipertanggung jawabkan.
"Kenapa semenjak ada Luna, lo seakan lupa sama gue? Gue pacar lo kan?"
"Tyara, bukan gitu, gue bener-bener..."
"Gue tutup, ya."
Belum sempat Azka menyelesaikan ucapannya, sambungan telepon diputuskan secara sepihak. Spontan, Azka melempar ponselnya ke atas tempat tidur. Kalau saja Luna tidak memaksanya untuk pergi menemaninya, mungkin semua ini tidak akan terjadi.
Dan, kalau saja Azka teringat akan janjinya mungkin Tyara pun tidak akan semarah ini padanya.
Ia mengacak rambutnya frustasi, lalu melirik jam dinding di kamarnya yang sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Dengan gerakan cepat ia bangkit dari tempat tidurnya, kemudian meraih jaket serta kunci motornya yang terletak di atas nakas.
Azka melajukan motornya dengan kecepatan diatas rata-rata, membelah dinginnya jalanan kota Jakarta di malam hari. Udara malam berdesir menembus kulit tangannya yang terbebas dari sehelai kain, langit hitam yang membentang luas seakan-akan memberi sinyal bahwa akan turun hujan sebentar lagi.
Tak membutuhkan waktu lama, ia tiba di kediaman Tyara, setelah pagar dibukakan ia kembali melajukan motornya ke halaman rumah Tyara. Azka menuruni motornya dengan tergesa-gesa, kemudian menekan bel terus-menerus hingga pintu rumah dibuka dan menampilkan sosok Rei dengan wajah datar.
"Rei, Tyara ada?"
__ADS_1
Tanpa menjawab Rei kembali masuk ke dalam rumahnya dengan pintu yang ia tutup setengah, tak lama kemudian pintu itu kembali terbuka dan menampilkan sosok Tyara.
"Lo, nangis?"
Azka menghampiri Tyara, semakin dekat jaraknya dengan gadis itu semakin terlihat jelas mata sembab Tyara. Napas Azka tercekat tatkala menyadari kemungkinan yang menyebabkan wanita kesayangannya itu menangis.
"Ngapain kesini?" tanya Tyara datar dengan posisi tubuh yang masih berdiri di ambang pintu, tangannya terlipat di bawah dada sembari menatap Azka tanpa ekspresi.
"Gue salah, gue bener-bener minta ma..."
Tyara memutar bola matanya, lalu menatap Azka malas, "Lain kali gak usah buat janji lagi kalo emang gak bisa ditepatin, jadi pihak yang menunggu sama yang ditunggu itu beda."
Azka mengangguk cepat bahkan sangat cepat, "Ini terakhir kalinya, gak akan gue ulangin lagi, lo mau maafin gue, kan?"
Tyara menghela napas pelan, "It's okay, gue maafin lo untuk kali ini."
Ya, seharusnya memang seperti itu...
Tyara berjalan ke depan kemudian duduk di kursi teras dan langsung diikuti oleh Azka. Keduanya sama-sama diam dengan pikirannya masing-masing yang melambung jauh.
Diam-diam Tyara melirik wajah Azka dari samping, laki-laki itu memang memiliki wajah sangat tampan. Bodoh, kenapa ia baru menyadarinya hari ini? Jadi, tentu saja tidak heran jika laki-laki itu menjadi sorotan di sekolahnya, selain karena ia yang menjabat sebagai ketua OSIS.
Tyara terkesiap saat Azka tiba-tiba saja menolehkan kepalanya hingga tatapan mereka beradu, "Lo mau ngomong?" tanya Azka setelah sekian lama bergelut dengan pikirannya.
"Gak ada," jawab Tyara sembari menggeleng dan tersenyum kaku.
"Mulut lo bisa bohong, tapi mata lo gak pernah bisa bohong."
Tyara menghela napas pelan, sebelum akhirnya menatap Azka dalam, "jangan pernah kecewain gue lagi, bisa?"
Ia takut, ia takut Azka akan kembali mengecewakannya lagi. Sebab, jika Azka mengecewakannya kembali ia tidak akan mampu bertahan lagi, karena cinta pertamanya pun sudah dihancurkan oleh papanya.
****
Suara gelak tawa bercampur teriakan memenuhi suasana kantin yang saat ini, namun tidak berlangsung lama, kegaduhan itu mendadak hening saat gerombolan anak laki-laki berdiri di tengah kantin. Setelahnya yang terdengar adalah suara petikan gitar beriringan dengan suara merdu milik salah seorang dari mereka. Dan tentu saja langsung mendapat pekikan histeris dari anak perempuan.
Tyara dan Azka menikmati makanan mereka dengan tenang, seolah tidak peduli pada kehebohan yang tercipta di sekitar mereka. Satu menit, dua menit, bahkan di menit kelima pun mereka masih sama-sama bungkam. Hingga pada menit selanjutnya, deheman Azka mencairkan suasana.
"Padahal gue udah berkali-kali ngasih tau, lo."
Tyara mengernyit bingung mendengar ucapan Azka barusan, "maksudnya?"
"Kalo makan jangan belepotan, kaya bocil aja lo," ujar Azka yang mana langsung mendapatkan pelototan.
Jangan berpikir Azka akan membersihkan sisa-sisa makanan itu seperti yang dulu pernah dia lakukan, karena yang dilakukan laki-laki itu hanya menyodorkan tissue ke hadapan Tyara.
"Nih, bersihin dulu."
Tyara menerima tissue itu, kemudian dengan perlahan membersihkan sisa-sisa makanan yang menempel di bibirnya. Setelah selesai ia membuang tissue itu ke tempat sampah yang terletak tidak jauh dari tempatnya duduk.
"Nanti pulang sama gue, tungguin di parkiran."
__ADS_1
Tyara hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban dari perkataan Azka barusan. Ya, apalagi? Kalau ditolak pun Azka tetap akan memaksanya untuk pulang bareng.
...*****...