
Happy Reading!!
...*****...
...Kenangan dan segala tentangmu sudah menjelma menjadi masa lalu....
...Lantas, mengapa hatiku masih saja tertuju padamu?...
...*****...
Tiupan peluit sebanyak tiga kali membuat siswa maupun siswi kelas XI. IPA-3 yang awalnya sedang duduk-duduk santai di pinggir lapangan mulai membentuk barisan. Setelah barisan dirapikan barulah sang ketua kelas memimpin untuk berdoa, kemudian disusul dengan gerakan pemanasan.
Ketika pak Tyo, selaku guru olahraga sedang menyampaikan sedikit amanat, Tyara tidak begitu memperhatikan. Matanya asyik berkeliaran menatap keselilingnya, sampai matanya menangkap seorang laki-laki tinggi dengan perawakan tegap sedang berbicara serius dengan seorang gadis yang tidak bisa ia lihat dengan jelas karena terhalang oleh tubuh laki-laki yang berdiri didepannya.
"Azka sama Aliya," Yeni yang berdiri disampingnya pun angkat suara, lalu ia pun menoleh pada Tyara yang menatapnya tanpa suara, "Kenapa? Cemburu? Gak usah cemburu, kali aja dia ada urusan kan ketua Osis sama wakilnya mah selalu berdampingan, saling melengkapi gitu lohh," ujarnya sembari menaik-turunkan alis.
"Siapa yang cemburu hah?!" Spontan, Tyara langsung menutup mulutnya kaget.
Yeni terkekeh kecil, "Kalo gak cemburu gak usah ngegas dong, Bu."
Tyara mendengus kesal bersamaan dengan barisan yang dibubarkan, diiringi dengan suara pak Tyo yang mengatakan bahwa mereka dibebaskan untuk bermain dengan satu syarat tidak boleh mengganggu kelas lain yang sedang belajar.
Anak laki-laki memilih bermain basket dan sepakbola sedangkan anak perempuan memilih untuk duduk-duduk saja di pinggir lapangan menonton mereka. Tyara dan Yeni memilih duduk di bawah pohon mangga, menjadikan ratusan daun hijau itu menjadi payung sebagai tempat berlindungnya dari sinar matahari.
"Mereka bahas apaan ya, kok gue jadi kepo," Yeni melirik Azka yang masih berada di tempatnya, lalu tatapan jahil jatuh pada sosok Tyara, "Atau... Jangan-jangan lagi bahas masa depan? Sambil ketawa-ketawa lagi, duhh so sweetnya."
"Duh, panas... panas.." Yeni mengibaskan kedua tangan di depan wajahnya. "Lo kepanasan gak sih, Ra?" tanyanya usil sembari menyenggol lengan Tyara.
Tyara mendengus dan memilih untuk mengabaikan kehebohan Yeni, ia mengeluarkan handphonenya dari saku celana kemudian jari-jari lentik itu bergerak lincah diatas layar. Tyara mendengar suara tawa dari sampingnya ternyata ketika ia menoleh sudah ada Arva yang ikut bergabung dengan keringat yang bercucuran akibat bermain basket dengan anak laki-laki.
Tyara menghela napas pelan, lalu mengedarkan pandang hingga bola mata hitam pekatnya itu beradu dengan manik mata coklat Azka. Tidak sampai tiga detik, karena Tyara langsung mengalihkan pandangannya kearah lain.
Handphone yang berada di dalam genggamannya berbunyi, menandakan notifikasi pesan masuk. Perlu waktu beberapa detik untuk dia bisa menetralkan detak jantungnya setelah melihat nama pengirim pesan itu.
Makhluk astral :
*Lo gak cemburu, kan?
Awas aja kalo sampe cemburu lagi, gue cuma bahas urusan Osis doang kok sama dia*.
Tyara hanya membaca pesan tersebut tanpa berniat untuk membalasnya, ia mematikan handphonenya lalu memasukkan kembali ke dalam saku celananya. Tanpa sadar bibirnya melengkung tipis sembari mengedarkan pandangan menatap sekeliling dan berhenti ditempat dimana Azka berada, namun ternyata Azka sudah tidak ada disana.
****
Evano berdiri berhadapan dengan seorang pria yang sedang menatap tajam kearahnya, "udah gue bilang elo tuh belum sembuh total ngapain juga sih pake ngegantiin dia segala, hah?!" ujar Evano marah.
"Lo gak tau gimana perasaan gue."
__ADS_1
"Gue tau! Tau banget, tapi lo juga harus inget luka lo belum sembuh total dan sekarang? Lo liat jaitannya kebuka lagi kan, udah sekarang lo ikut gue ke rumah sakit gue gak mau tau pokoknya lo harus diem disono gak usah kelayapan," ujar Evano dan matanya beralih kearah pria yang sedang duduk santai, "lo juga Ki, kenapa lo biarin dia coba? Kalo kejadian ini gak terjadi mungkin gue gak tau yang sebenarnya."
Pria yang dipanggil 'Ki' hanya menganggukkan kepalanya santai, "iya iya sorry gue tau gue salah, yaudah, Bang. Lo ikut dia gih ke rumah sakit gue gak mau lo kenapa-kenapa, urusan Tyara biar gue aja yang ngurus."
Pria yang sedang berdiri sembari memegangi lengannya yang sudah mengeluarkan sedikit darah itu menatapnya tajam, "Eh.. santai dong, tenang aja gue gak bakal baper sama dia," sahut pria itu.
Evano langsung menarik pria yang sedang terluka itu untuk masuk ke dalam mobilnya dan ia langsung melesat dengan cepat ke rumah sakit. Sedangkan pria yang satunya masih duduk santai sembari mengunyah permen karetnya.
"Hadeh, ngelanjutin misi lagi deh," ujarnya sembari bangun dari duduknya dan pergi entah kemana.
****
Tyara dan Yeni berjalan menyusuri jalanan yang tampak ramai karena kendaraan beroda dua dan empat berlalu lalang.
Byurr!!
Seragam putih yang dipakai Tyara bercampur dengan lumpur dan air jalanan, langkah kaki Tyara mendadak berhenti nafasnya mulai tak beraturan menahan gejolak amarah yang meluap-luap. Beginilah sifat asli Tyara, pemarah, apalagi jika ia sedang tenang tiba-tiba ada yang mengganggunya, tamatlah riwayatnya.
Iris matanya menajam melihat batu yang kebetulan berada didekatnya, tanpa basa-basi ia mengambil batu itu dan melayangkannya kearah mobil yang telah mencipratkan air ke baju seragamnya.
^^^Tukk!^^^
"Woi, kalo nyetir tuh lihat-lihat dong! Ada gue disini lo punya mata gak sih?!" Teriak Tyara di belakang mobil itu. Beruntung mobil yang melaju itu belum terlalu jauh.
Tyara diam sejenak dan menajamkan penglihatannya memastikan warna mobil yang sepertinya ia kenal.
Jantung Tyara dan Yeni seakan-akan berhenti berdetak ketika mobil itu berhenti tepat setelah batu itu berhasil membuat kaca belakang mobilnya retak.
Sial
"Kabur, Yen!" ujar Tyara pada Yeni, "buruan!" lanjutnya dan langsung menarik tangan Yeni untuk pergi dari tempat itu.
Ia berlari secepat kilat ketika menyadari mobil siapa yang ia timpuk pakai batu, sungguh seharusnya ia diam saja tadi tidak usah membuat ulah.
"Aduhh, pelan-pelan dong gue capek lari terus."
"Kabur anjrit, entar gue abis sama tuh orang," sahut Tyara panik sembari terus berlari dengan sesekali menengok kearah belakang.
"Emang lo kenal mobil siapa itu?"
"Mobil Azka!" sahutnya lantang.
Yeni langsung membelalakkan matanya kaget, "anjrit! Sumpeh lo? Wah gila sih, kalo dia sampe tau kita pelaku pelempar batu itu bisa-bisa dia minta ganti rugi."
"Nah! Makanya ayo cepet kita ke halte bus terus balik naek bus aja lah gak usah ke toko buku."
Yeni menganggukan kepala setuju, lama mereka berlari akhirnya sampai juga pada halte bus dekat sekolahnya.
__ADS_1
Mereka duduk dengan napas yang tersengal-sengal akibat berlari terlalu lama, "gila capek banget, gak lagi-lagi dah gue kaya gitu," ujar Tyara sembari menyenderkan pundaknya pada tembok halte.
Yeni hanya diam sembari kipas-kipas dengan menggunakan telapak tangannya, padahal yang membuat ulah adalah Tyara tapi dia juga harus kena imbasnya.
"Duh, gue capek banget njir, elo sih."
"Lah kok gue?"
"Iyalah elo, coba kalo lo gak nimpuk tuh mobil pake batu mungkin nasib kita gak bakal kaya gini."
"Ya mana tau gue kalo itu mobilnya Azka, lagian salah dia juga kenapa mobilnya nyipratin air ke seragam gue," ujar Tyara sembari membersihkan seragamnya.
Tidak lama kemudian mereka berdua berdiri ketika melihat ada sebuah bus yang datang mendekat dan langsung masuk tepat bus itu berhenti di depan halte.
****
"Astaga! Eh bocil, itu baju lo kenapa dekil begitu sih elo sebenernya sekolah apa jadi kuli bangunan sih?" Teriak Rei ketika Tyara berjalan melewatinya yang sedang menonton tv dengan langkah gontai.
"Kecipratan air," sahutnya dengan nada lemas.
"Kok bisa?"
"Iya! Tadinya kan gue sama Yeni pulang sekolah pengen ke toko buku dulu nah berhubung toko bukunya kan lumayan deket jaraknya dari sekolah jadi kita mutusin buat kesannya jalan kaki aja,"
"Terus, terus?" tanya Rei penasaran.
"Terus ya di jalan ada mobil sue banget dia lewatin kubangan air gitu nah berhubung gue yang dipinggir jalannya jadi itu airnya nyiprat ke baju gue, karna kesel gue timpuk aja tuh mobil pake batu yang ada disitu," ujar Tyara sembari mengunyah makanan Rei.
Rei hanya diam memperhatikan, "nah dan lo tau mobil siapa yang gue timpuk?"
Rei menggelengkan kepala sebagai jawaban, "mobilnya Azka anjirr!"
Mendengar nama Azka sontak Rei langsung membelalakkan matanya kaget, "serius lo?"
"Iya anjir, udah gitu ya pake segala retak lagi tuh kaca mobilnya yang belakang, pas tuh mobil mau berhenti gue langsung cabut aja. Lari sekenceng-kencengnya pokoknya Yeni sampe hampir mau jatoh gara-gara gue tarik."
Rei menyentil kening Tyara pelan, "elo juga bodoh banget ngapain segala ditimpuk batu."
"Abisan gue sebel, seragam gue jadi kotor gara-gara dia," sahut Tyara sembari mengusap-usap keningnya.
"Duh, kenapa malah ngegosip sih, udah sana ganti seragamnya biar langsung direndem jadi gak membandel nodanya," ujar mamanya Tyara yang entah datang darimana.
Mendengar itu Tyara langsung bangkit dari duduknya dan pergi ke kamarnya sebelum ia menaiki anak tangga ia kembali berkata kepada Rei, "Udah dulu ya gosipnya Bu Rei saya mau mandi dulu," ujarnya sembari memberikan cengiran khasnya.
Sedangkan Rei yang melihat itu hanya diam memasang wajah datarnya.
...*****...
__ADS_1