ALUMNI HATI

ALUMNI HATI
40


__ADS_3

Tyara berjalan perlahan dari sekolah menuju halte bus, ia berniat pulang menggunakan bus saja dibanding menggunakan ojek online.


Karena ia berjalan sembari menundukkan kepala ia tidak memperhatikan jalanan didepannya sehingga ia menabrak tubuh seseorang.


ia mengusap kepalanya pelan, "Aduh, kalo jalan pake mata dong," protes Tyara padahal dia lah yang salah sebenarnya.


"Bukannya kalo jalan itu pake kaki ya? Kalo ngeliat baru pake mata," sahut seseorang yang ditabraknya.


Tyara mendongakkan kepala untuk melihat siapa yang sudah ia tabrak, "Eh? Sorry Vano, gue kira siapa," ujarnya diakhiri dengan cengiran.


Vano mengacak-acak rambut Tyara pelan, "Lagian elo kenapa coba jalan nunduk gitu kaya orang yang lagi frustasi aja."


"Kepo amat jadi manusia," sahut Tyara sembari merapikan rambutnya yang sedikit berantakan akibat ulah Vano, ia pun kembali melanjutkan langkahnya menuju halte.


"Ditanya bukannya jawab malah nyelonong aja," ucap Vano dan mengikuti Tyara dari belakang.


Sesampainya di halte bus, Tyara mendudukkan dirinya pada kursi yang sudah tersedia disana. Tyara menoleh ke sisi kanan yang ternyata Vano juga duduk disampingnya.


"Ngapain?" Tanya Tyara tanpa basa basi.


"Duduk," sahut Vano singkat, padat dan jelas.


Tyara berdecak, "Iya tau, tapi lo ngapain, mau naik bus? Kan lo bawa motor."


"Oh iya ya, gue ngapain disini?"


Tyara mengernyitkan alisnya bingung, "Dih? Bodoamat deh serah lo," sahut Tyara malas.


"Mau ngajak lo pulang bareng mungkin?"


"Ngaco," jawab Tyara tanpa menoleh sedikit pun.


"Lah, kok ngaco? Orang gue mau ngajak lo pulang bareng juga, ngaco darimananya?"


Tyara enggan menjawab perkataan Vano jadi ia memilih untuk diam saja, lama, ia tidak mendengar celotehan Vano akhirnya ia pun menoleh ke samping dan ternyata sudah tidak ada Vano alias Vano menghilang entah kemana.


"Ternyata bener, cowok kalo punya temen pasti setipe orangnya, liat aja udah kaya Azka suka tiba-tiba ilang," gerutu Tyara.


Ttiiiinnnn tiiinnn.. tttiiiiinnnn.


Suara klakson motor yang sangat berisik itu membuatnya menoleh dengan wajah kesal, Tyara melihat kearah sumber suara. Ia melihat Vano yang sudah duduk diatas motor besarnya itu besama dengan cengiran andalannya.


"Buru naik, gue anterin pulang." ucap Vano setengah berteriak.


Tyara menggeleng mantap, "Gak usah."


"Cepetan anjrit, ini panas mataharinya kalo gue item gimana."


"Itu urusan lo, lagian gue gak minta lo nganterin gue pulang."


Vano hanya diam memandang Tyara intens, Tyara yang dipandang seperti itu pun menjadi salah tingkah dan ia segera berdiri dari posisi awalnya.


"Yaudah, yaudah, gue mau," ucap Tyara terpaksa.


Vano yang mendengar perkataan Tyara pun kini tersenyum, "Ayo, lets goooo!" ucap Vano sembari menarik gas dan motor pun melaju.


Ditengah-tengah perjalanan Vano bertanya, "Mau mampir dulu buat makan gak?" tanyanya.


Tyara yang tidak mendengar pun berteriak kencang, "APA?!"

__ADS_1


"MAU MAMPIR MAKAN DULU GAK?!" Tanya Vano lagi dengan suara yang lumayan kencang.


"ENGGAK, GUE MAU LANGSUNG PULANG."


"OKE." jawab Vano kemudian.


Sesampainya di rumah, Tyara bergegas membuka pintu gerbang rumahnya dan langsung menutupnya kembali. Melihat tingkah laku Tyara membuat Vano terheran.


"Lo gak mau mampir kan? Yaudah, langsung pulang aja," ucap Tyara tiba-tiba.


Vano mengangkat kedua alisnya bingung, "Ada ya, manusia gini. Biasanya kan kalo ada tamu atau apa itu ditawarin masuk, ditanya mau mampir apa gak lah ini malah disuruh pulang," celetuk Vano sembari menggelengkan kepala.


Mendengar ucapan Vano membuat Tyara meringis, "Hehe, di rumah gue lagi sendirian soalnya takut ada yang mikir macem-macem."


Vano mengangguk mengerti, "Iyaa, iya, it's okey, no problem. Yaudah gue langsung pulang aja deh."


Tyara mengangguk sebagai jawaban, setelah melihat Vano yang sudah menjauh dari rumahnya Tyara pun bergegas masuk ke dalam rumah, ia ingin segera beristirahat rasanya energinya terkuras habis hari ini.


****


Malam ini sekitar jam delapan, Tyara mendapat sebuah pesan singkat dari nomor tidak dikenal.


Ia membukanya guna melihat apa isi pesan itu,


081xxxxxxxxxx :


Jauhin Azka atau lo bakal kena akibatnya.


Tyara membaca pesan singkat itu dengan wajah datar, dia sudah tidak kaget lagi jika mendapatkan pesan-pesan ancaman seperti ini karena sebelumnya pun ia juga sudah mendapatkannya.


"Manusia gabut mana lagi coba yang ngancem-ngancem gue kaya begini," oceh Tyara sembari menggelengkan kepala heran.


Ia berjalan kearah balkon kamarnya, dan duduk pada bangku yang ada disitu. Udara malam ini terasa sangat dingin, sepertinya habis diguyur hujan karena lantai balkon ini sedikit basah.


Tyara menghembuskan nafasnya pelan, setelah pulang sekolah tadi hingga malam ini dia belum sempat mengisi perutnya yang kosong, terakhir ia isi hanya ketika jam istirahat saja.


Dia menarik nafas dan membuangnya pelan-pelan guna untuk menenangkan suasana hatinya yang sedang risau.


Ia tiba-tiba saja teringat pada perkataan papanya tempo hari, salah paham? pikirnya.


Entah salah paham apa yang dimaksud oleh papanya dia masih belum mengerti dan tidak mau mendengarkan penjelasan papanya, bukan tidak mau lebih tepatnya ia belum siap untuk mendengar fakta apa yang sebenarnya terjadi perkara perpisahan orang tuanya dahulu.


Tyara kembali menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan, "Capek banget ya, Tuhan, boleh gak nyerah aja."


"Azka juga kaya kentut, nyebelin banget kenapa coba dia lebih mentingin Luna dibanding cewek sendiri."


Tidak lama kemudian air matanya sudah menetes sedikit demi sedikit dan akhirnya menjadk tangisan yang deras.


Tak lama kemudian hujan kembali mengguyurnya, ya, sepertinya semesta tidak ingin Tyara menangis sendirian malam ini.


****


Pagi hari, Tyara masih asik berada di dalam selimut kesayangannya ia merasa tidak enak badan akibat menangis semalaman ditambah juga hujan yang mengenai tubuhnya.


Ia mengambil handphonenya yang berada diatas nakas berniat untuk menghubungi Yeni bahwa ia tidak bisa masuk sekolah hari ini.


"Halo, Ra. Kenapa?" Tanya Yeni disebrang sana.


"Kayanya hari ini gue izin gak masuk ya, badan gue gak enak banget soalnya." Jawabnya dengan suara yang sedikit serak ciri khas orang baru bangun tidur.

__ADS_1


"Lo sakit? Sakit apa? Mau gue bawain obat gak? Mumpung gue belum berangkat, nih," ucap Yeni menawarkan bantuan.


"Gak usah, cuma gak enak badan doang sama pusing lagi juga dirumah gue ada obat kok."


"Yakin?" Tanya Yeni lagi meyakinkan.


"Iya," jawab Tyara sembari menganggukkan kepala walaupun Yeni tidak mungkin melihatnya.


"Yaudah, kalo gitu semoga cepet membaik ya, gue matiin telfonnya."


"Iya, thanks ya sekali lagi."


Setelah sambungan telepon tertutup Tyara kembali menyelimuti tubuhnya dan kembali memejamkan mata untuk melanjutkan tidurnya.


Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi dan Tyara pun terbangun karena suara dering ponselnya yang sangat mengganggunya. Ia melihat display namenya sebentar yang ternyata Rei lah yang menelepon.


"Kenapa?" Tanyanya tanpa basa basi.


"Lo sakit?"


Tyara berdehan sebagai jawaban.


"Udah minum obat?" Tanya Rei lagi khawatir.


"Belum."


"Kenapa belum? Minum obat sana, oh iya makan dulu jangan langsung minum obat, lo kan kebiasaan kalo minum obat pasti gak makan dulu," ceramah Rei tentu saja itu membuat Tyara sebal mendengarnya.


"Iya, Rei. Bawel banget deh, nanti juga gue minum obat."


"Lo tau gue sakit darimana?" tanya Tyara penasaran, karena seingatnya ia tidak memberitahukan perihal itu kepada sang kakak.


"Azka," sahut Rei singkat.


Tentu saja itu membuat Tyara semakin bingung, "Perasaan gue gak ngasih tau ke dia, deh."


"Azka tau dari Yeni, Udah dulu yaa, mama manggil gue lagi nih, kalo lo butuh uang kabarin gue aja nanti gue transfer," ucap Rei dan langsung mematikan handphonenya secara sepihak.


Tyara mendengkus kesal, kebiasaan kakaknya yang selalu mematikan telfon secara sepihak, "pantes jomblo terus," gerutunya.


Tyara menyibak selimutnya ia berniat untuk pergi ke kamar mandi namun tiba-tiba saja tubuhnya oleng dan terjatuh diatas kasur.


"Anjrit, pusing bangeettt." gerutunya dan masih berusaha untuk menetralkan pandangan matanya yang tadi sempat kabur.


Ia mengerjapkan matanya beberapa kali dan kembali mencoba untuk melihat kesekeliling, setelah dirasa sudah lebih baik ia pun langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, ya walaupun sudah terlalu siang untuk mandi setidaknya dia masih memiliki niat untuk mandi.


Setelah mandi ia turun ke bawah untuk mengisi perutnya yang terasa sangat kosong dan tentu saja cacing-cacing diperut meminta untuk diberi makan.


Ketika Tyara sedang membuat nasi goreng didapur rumahnya tiba-tiba saja terdengar suara bel rumahnya, ia melihat kearah pintu depan sebentar lalu mematikan kompornya dan bergegas untuk membukakan pintu.


Entah siapa yang bertamu ke rumahnya ini, tentu saja itu Membuat Tyara menggerutu kesal karena kegiatannya digagalkan oleh seseorang tak diundang.


Bel rumahnya kembali berbunyi, "Iya sebentarrrrr," sahutnya setengah berteriak sebal.


Ketika ia membuka pintunya, ia diam membeku ditempatnya.


...****************...


Guysss aku up lagiiii heheee, semoga konsisten huhuu

__ADS_1


btw, maaf kalo pendeeeekkkk


__ADS_2