ALUMNI HATI

ALUMNI HATI
36


__ADS_3

...Sungguh, melepaskan seseorang yang masih kita cintai itu bukanlah perkara mudah....


...Sekalipun orang tersebut sudah memberikan luka yang tidak akan pernah bisa disembuhkan...


...****...


Pagi ini Tyara sedang duduk di teras depan rumahnya, ia sudah lengkap dengan seragam sekolahnya. Sudah hampir dua puluh menit ia menunggu Azka datang untuk menjemputnya, ya, kemarin Azka sudah berjanji akan berangkat ke sekolah bersama tapi lihatlah sampai sekarang Azka belum menunjukkan batang hidungnya.


Rei keluar dari dalam rumah yang juga sudah rapi untuk berangkat ke kampus.


"Lho? Kok belum berangkat?" tanya Rei bingung.


"Azka belum jemput."


Rei melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, "Udah hampir jam tujuh nanti lo telat, berangkat sama gue aja ya?"


Tyara sempat ragu untuk mengiyakan ajakan Rei, karena takut tiba-tiba Azka datang tapi dia sudah berangkat.


"Udah sama gue aja, ayo." paksa Rei sembari menarik lengan Tyara.


Akhirnya, mau tak mau Tyara pun bangkit dari duduknya. Dia juga tidak ingin dihukum lagi kalau datang terlambat akibat menunggu Azka terlalu lama.


Di perjalanan menuju sekolah Tyara hanya diam memandangi jalanan yang sudah mulai ramai melalui kaca jendela mobil Rei.


Rei melirik sebentar kearahnya, "Kenapa? Ada masalah?" tanya Rei sambil tetap fokus menyetir.


"Nggak ada," jawab Tyara pelan.


Lagi, Rei melirik Tyara sebentar, ia tahu betul kalau adik semata wayangnya ini sedang ada masalah pasti ia hanya diam dan tak banyak bicara.


Rei pun juga memilih tidak bertanya lagi.


Tak berapa lama kemudian mobil mereka sampai di depan gerbang sekolah Tyara, pintu gerbang hampir ditutup oleh satpam kalau saja Tyara tidak segera berlari.


"Aduh, Eneng... Kenapa telat lagi sih?" Tanya satpam sekolahnya yang memang sudah akrab dengan Tyara karena langganan terlambat.


Tyara hanya memberikan cengiran andalannya dan bergegas pergi menuju kelasnya.


Sesampainya di kelas Tyara melihat Arva dan juga Yeni yang sedang mengobrol bersama.


"Telat lagi? Untung gurunya belum dateng," ucap Yeni.


Tanpa menjawab pertanyaan Yeni, Tyara langsung duduk di kursinya dan menelungkupkan wajahnya. Yeni dan Arva saling pandang kebingungan akan tingkah laku temannya ini.


"Kenapa, Ra?" kini Arva yang bertanya.


"Gue kesel bangettt sama Azka! Dia tuh, aarrgghh.... Manusia ternyebelin yang pernah ada!" Omel Tyara sembari menggebrak meja, tentu saja hal itu membuat seisi kelas memandang kearah mereka bertiga.


Tanpa memperdulikan yang lain Tyara melanjutkan perkataannya, "Padahal kemaren dia bilang mau berangkat bareng gue, tapi tadi gue tungguin hampir setengah jam dia gak dateng-dateng coba!!"


Terlihat wajah Tyara yang memerah akibat menahan emosi, "Kenapa, sih! Dia tuh selalu aja bikin gue kesel."


"Lah? Bukannya tadi Azka berangkat bareng Luna, ya?" ceplos Arva tiba-tiba.


Yeni yang mendengar itu pun langsung menoyor kepala Arva, "bego, udah gue bilang jangan sampe keceplosan," ucap Yeni tanpa suara.


Mendengar perkataan Arva spontan Tyara langsung menoleh kearahnya, "Apa lo bilang? Azka? Bareng Luna?"


Arva hanya mengangguk dengan wajah cemas.


"Brengsek!"


Tyara bergegas pergi meninggalkan kelas, entah mau kemana dia.


"Yah, elo, sih. Udah gue bilang diem-diem aja."


"Gue keceplosan, Yen, lagian mana tau gue kalo dia bakal bereaksi kaya gitu."


***


Tyara berjalan di koridor sekolah dengan emosi yang sudah tak terkendali, dia mengepalkan kedua tangannya.

__ADS_1


Mungkin jika kalian mengira Tyara akan datang menemui Azka di kelasnya dan memarahi Azka, kalian salah mengira.


Disinilah sekarang Tyara berada, yaps, toilet. Dia memilih melepaskan emosinya di toilet, berteriak sekencangnya.


"AZKA BRENGSEK!! KALO LO EMANG CINTANYA SAMA LUNA YAUDAH! NGAPAIN NGAJAKIN GUE BALIKAN ANJIRR! SUMPAH LO JAHAT BANGEEETT!"


"GUE KESEL SAMA LO, TAPI GUE JUGA GAK MAU PERGI DARI LO!"


"AH ANJIRR GUE SEBEL BANGEEETT!"


Setelah puas, Tyara mencuci mukanya untuk menyegarkan diri dan menghilangkan emosinya. Setelah selesai ia pun keluar dari toilet, tapi ketika akan berbelok ke koridor ia hampir terjatuh karena saking kagetnya melihat Azka yang sedang bersandar di tembok.


Rupanya Azka sedang menunggu Tyara, dia mendapatkan info dari Arva bahwa Tyara akan datang menemuinya dan akan memarahinya.


Kebetulan saja Azka melihat Tyara yang berjalan di koridor dengan mengepalkan tangannya, dia pun memilih untuk mengikuti saja dan tibalah mereka disini.


"Ngapain lo?" Tanya Tyara galak.


Azka menaikkan alisnya sebelah, "Harusny gue yang nanya, lo ngapain keluyuran padahal jam pelajaran udah mau mulai."


"Bukan urusan lo," sahut Tyara ia pun mendorong tubuh Azka pelan dan pergi melewati Azka begitu saja.


"Urusan lo ya urusan gue juga, lo itu pacar gue, Ra."


Tyara berhenti ketika mendengar perkataan Azka, "Pacar lo?" tanyanya tanpa berniat untuk berbalik badan.


"Iya, lo pacar gue jadi gue berhak tau apa yang lagi lo alamin."


"Sekalipun itu karna salah lo?" tanya tyara lagi masih tetap pada posisinya.


"Maksudnya?"


"PACAR LO ITU LUNA APA GUE, HAH?!"


Azka panik ketika mendengar Tyara yang tiba-tiba saja berteriak, ia melihat ke sekeliling dan langsung memeluk tyara dari belakang berniat untuk meredakan emosi Tyara.


Tyara melepaskan pelukan Azka, ia berbalik dan menatap Azka dengan air mata yang tertahan.


"Lo kenapa, Ra?" Tanya Azka yang masih bingung dengan situasi yang terjadi.


"Lo tinggal jawab aja susah banget, pacar lo itu gue apa Luna, Azka!"


"Lo."


"Tapi kenapa malah Luna yang lo prioritasin? Kenapa malah Luna yang lo nomor satuin? Kenapa gue selalu jadi opsi kedua bagi lo? Kenapa Azka? jawab."


Tyara melayangkan pertanyaan beruntun yang tentu saja membuat Azka semakin bingung.


"Ini ada apa, sayang?" tanya Azka lembut. "Coba jelasin kenapa marah-marah gini?"


Tyara tidak sanggup melihat tatapan mata Azka, ia pun memilih untuk memalingkan wajahnya kearah lain.


"Lo lupa, lo bilang kemarin lo mau berangkat bareng gue tapi kenyataannya gak ada satupun kabar dari lo, malah yang ada gue tau dari Yeni kalo lo berangkat bareng Luna." jelas Tyara.


Azka memasang wajah kaget, dia benar-benar lupa dengan janjinya pada Tyara.


"Sayang, sumpah aku minta maaf, aku bener gak inget sama sekali. Aku lupa, soalnya pagi-pagi banget Luna udah dateng ke rumah aku minta berangkat bareng, kamu tau kan aku sama dia tetanggaan," Azka menjelaskan.


Satu tetes air mata jatuh dari kelopak mata Tyara, "Semenjak Luna balik lo jadi lebih mentingin dia dibanding gue."


"Lho, bukan gitu Tyara..." belum sempat Azka melanjutkan perkataannya Tyara sudah lebih dulu pergi meninggalkannya.


Tyara berjalan dengan cepat sembari menghapus air matanya dengan kasar, "Kurang ajar, ngapain nangis segala sih."


"Cowok kaya Azka tuh gak pantes ditangisin," tyara berbicara sendiri, "Tapi kenapa malah gue nangis gara-gara dia coba, kejar gue kek" lanjutnya.


Tyara menengok ke belakang berharap Azka mengejarnya tapi ternyata Azka sudah tidak ada disana, "Ih! Emang nyebelin banget sumpah!" Tyara kembali berjalan dengan menghentak-hentakkan kakinya.


Setelah tiba di depan kelas Tyara melihat pintu kelasnya sudah tertutup rapat, ia ragu untuk masuk atau tidak.


Kalau ia masuk pasti akan dihukum dan kalau tidak masuk pun akan dihukum juga, jadi ia memilih untuk putar balik dan berjalan menuju kantin.

__ADS_1


Sesampainya di kantin dia langsung memesan satu porsi siomay kesukaannya serta jus jeruk, ketika sedang asyik memakan siomay tiba-tiba saja bahunya dipukul oleh seseorang dengan pelan.


Tyara tersedak dan langsung meminum minumannya.


"Eh, aduh sorry sorry, Ra, gue gak tau kalo lo lagi makan," ucap Vano sembari duduk di hadapan Tyara, "Kok malah di kantin? Gak belajar?" tanyanya kemudian.


Tyara menggeleng sebagai jawaban, mulutnya masih asyik mengunyah siomaynya.


"Yaudah abisin dulu makanannya baru ngomong."


Setelah tyara meminum minumannya hingga habis ia baru bicara, "Lo sendiri ngapain disini?"


Vano terkekeh pelan, "Cabut, pusing gue di kelas."


Tyara hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Tau gak? Tadi Azka berantem di kelas," ucap Vano tiba-tiba.


Mendengar nama Azka membuat Tyara langsung memandang kearah Vano, "Berantem? Sama siapa?"


"Luna."


Tyara diam setelah dan sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Gue denger sih tadi Azka bilang ke Luna kalo dia gak mau lagi digangguin sama Luna, dia juga bilang kalo dia udah punya lo jadi dia mau fokus ke lo bukan ke Luna."


Sekali lagi, penjelasan Vano mampu membuat Tyara kaget mendengarnya.


"Terus, Lunanya jawab apa?" Tanyanya penasaran.


"Dia bilang, 'gue kan temen masa kecil lo Azka masa Lo malah lebih mentingin dia sih yang jelas-jelas belum lo kenal lama' gitu deh," sahut Vano sembari memperagakan gaya bicara Luna.


Tyara menahan tawanya melihat itu, "Terus, terus, Azka gimana?"


"Azka bilang terserah ya, Lun. Gue udah bilang jangan ganggu gue lagi, sehabis dia bilang gitu dia langsung cabut."


"Cabut kemana?" Tanya Tyara penasaran.


"Gak tau, gue juga cabut, sih."


Tyara mendengus mendengar jawaban Vano.


"Lo abis berantem ya sama Azka?"


Tyara mengerjapkan matanya beberapa kali, bagaimana bisa Vano mengetahui hal itu.


"Tau dari mana?"


Vano menghendikkan bahunya acuh, "Nebak aja."


"Iya."


"Berantem mulu, dah."


"Semua juga kan gara-gara Luna, kalo gak ada Luna gue gak bakal kaya gini sama Azka, Van."


"Iya, iya, tau. Yaudah jangan ngegas ke gue, buset."


Tyara nyengir, "Gak ngegas, kok."


"Yaudah, gue mau mesen makanan dulu, lo mau mesen lagi?" tanya Vano.


"Nggak, udah kenyang."


Setelah mendapat jawaban itu Vano langsung berdiri dan pergi memesan makanannya, Tyara memandangi punggung Vano dari belakang.


"Vano, baik. Tapi gue sukanya sama Azka," ucap Tyara tiba-tiba saja.


Kini Tyara hanya diam dan sibuk dengan pikirannya sendiri, entah apa yang dia pikirkan banyak sekali hal-hal yang mengganggu pikirannya akhir-akhir ini hingga membuat dia sulit untuk tidur dan selalu terbangun di tengah malam hanya untuk melamun masalahnya.


****

__ADS_1


__ADS_2