
Jangan lupa di like dan komen yaa guys 🤸
...*****...
...Kalau benci bisa berubah menjadi cinta, lalu apakah cinta juga bisa berubah menjadi benci?...
...*****...
Tyara menatap pantulan dirinya didepan cermin kamarnya, lengkungan tipis menghias wajahnya yang sudah dipoles bedak dengan tipis. Lalu, tangannya yang kanan pun meraih botol parfum yang ada di atas nakas kemudian ia semprotkan pada seragam sekolahnya. Setelah itu kaki jenjangnya berjalan menuju tempat tidur, menyambar tas serut handphonenya lalu ia pun berjalan keluar kamar menuruni anak tangga satu persatu.
Ia pergi hanya diisi dengan roti isi, saat tiba di depan gerbang rumahnya hal yang pertama kali ia lihat adalah sebuah mobil berwarna silver yang sudah terparkir indah bersama dengan sang pemilik mobil itu yang tengah bersandar di depan mobilnya.
"Lama lo," Azka berjalan kearah pintu penumpang dan membukakan pintu untuk Tyara dan menyuruhnya untuk segera masuk.
Tyara membuka mulutnya, hendak melontarkan kalimat penolakan, namun urung saat Azka tiba-tiba memotong, "kali ini gak usah ada niatan buat nolak keburu telat, kan gak lucu ketua Osis masa telat."
Tyara mendengus sebelum akhirnya masuk ke dalam dan duduk disana, "lagian gak ada yang nyuruh lo buat jemput gue, emang gue nyuruh lo buat jemput?" tanyanya sembari memasang seatbelt, pertanyaan itu ia lontarkan saat Aka sudah duduk di bangku kemudi.
"Nggak ada," balas Azka tanpa mengalihkan pandangannya dari depan.
"Terus, ngapain lo jemput gua?" tanya Tyara sembari melirik kearah Azka.
"Perasaan daritadi lo ngoceh terus, gak capek mulut lo?" ujar Azka bertepatan ketika kendaraan roda empat itu meninggalkan kediaman Tyara.
"Tumben banget lo bawa mobil ke sekolah, bawa motor aja kalo ketauan polisi ditilang ini lagi segala bawa mobil," ujar Tyara.
"Suka-suka gue lah," sahut Azka.
Tyara hanya mendengus dan langsung mengalihkan pandangannya pada kaca jendela, memandangi pemandangan kota Jakarta di pagi hari.
Ketika ia sampai di sekolah, hampir seluruh pasang mata di parkiran tertuju pada mobil silver Azka yang baru saja bergabung bersama beberapa kendaraan roda empat yang lainnya. Bukan merk mobilnya yang menjadi bisik-bisik mereka, melainkan dua remaja yang baru saja keluar dari kendaraan beroda empat itu. Mereka memang sudah tidak kaget lagi jika Azka berangkat atau pulang bersama dengan Tyara, tapi yang membuat mereka kaget adalah tidak seperti biasanya seorang Azka membawa mobil ke sekolah itu hal yang baru pertama kali terjadi tentu saja ini akan menjadi trending topic terkini.
Tyara mengedarkan pandangannya ke sekeliling parkiran, ia memutar bola matanya malas.
"Udah gue bilang ngapain segala bawa mobil ke sekolah coba."
Azka mengernyitkan alisnya, "lah suka-suka gue dong, mobil, mobil siapa? Mobil gue, yang nyetir siapa? Ya gue kenapa lo yang ribet."
Baiklah, sepertinya akan ada pertengkaran lagi di pagi hari yang indah ini.
Tyara bersedekap, "heh, gara-gara lo bawa mobil kita jadi tontonan mereka pada tau gak."
Azka juga mengikuti Tyara bersedekap, "terus? Bagus dong."
"Apanya yang bagus?!"
"Biasanya juga lo gak peduli," Azka menarik lengan Tyara dan memaksanya untuk mengikutinya.
__ADS_1
"Biasanya, biasanya, ya elo kan gak tau perasaan gue gimana kalo jadi pusat perhatian gini," omel Tyara.
"Makanya gak usah pake perasaan."
"Pala lo gak usah pake perasaan, emangnya gue elo yang gak punya perasaan."
Azka mendadak berhenti yang mana membuat Tyara yang berada dibelakangnya juga ikut berhenti, dia berbalik dan menatap Tyara yang menampilkan raut wajah kesal.
"Nih, udah sampe kelas lo," ujarnya sembari melepaskan pegangannya pada lengan Tyara.
"Merah tau gak tangan gue ditarik sama lo dari parkiran sampe kesini."
Azka tidak merespon apa yang dikatakan olehnya dia malah mendorong Tyara untuk masuk ke dalam kelas, "udah sana masuk, belajar yang bener jangan sampe ada guru yang lapor ke gua kalo pacar dari ketua OSIS males belajar."
"Siapa juga yang pacar lo."
"Bodo, pulang nanti gua tunggu di parkiran," ujar Azka diiringi lambaian tangan, lalu laki-laki itu berbalik dan pergi meninggalkan Tyara yang masih berdiri di ambang pintu kelas dengan tatapan yang tidak pernah lepas dari punggung tegap Azka yang perlahan mulai menjauh.
*****
Suasana di kelas XI IPA-1 saat ini sangat jauh dari kata tenang, gaduh. Pasukan anak laki-laki duduk di belakang kelas membentuk barisan dengan satu ponsel yang diletakkan di atas kursi untuk menonton. Sedangkan anak perempuan membentuk kelompok untuk bergosip atau sekedar menonton drakor, drama Korea. Padahal jelas-jelas di kelas ini ada ketua Osisnya, tapi sepertinya ketua OSISnya pun sudah tidak peduli dengan keadaan kelasnya sendiri.
Diyas, laki-laki yang sedang memetik gitar itu bernyanyi bersama dengan Evano. Sebagai informasi, Diyas baru saja masuk sekolah kembali lantaran dia izin seminggu untuk pulang ke kampung halamannya, ya, maklumkan saja Diyas memang anak dari kepala sekolah ini.
Sedangkan, Azka hanya diam dan matanya fokus pada layar handphonenya, berbeda dengan anak laki-laki yang duduk di belakang kelas mereka bertiga memilih untuk duduk di depan kelas.
"Oy adek yang namanya Uti, cantik manis bak ulat bulu..."
"Aseeekkk, tarriikk maaanggg..." timpal Evano sembari mengunyah permen karet.
"Dapat salam dari abang Diyas, tamat SMA kita nikah aja..." Diyas terkikik geli menyanyikan lirik yang ia ciptakan sendiri.
Laki-laki itu hendak kembali bernyanyi tapi ia urungkan saat kedua telinganya ditarik dari belakang oleh seseorang. Ia pun menoleh ke samping hingga sudut matanya menangkap sosok Uti yang sedang berdiri dengan wajah garang.
"Woi! Lo ngapain narik kuping gue?! Anjirlah, lepas nggak?!" Diyas mendengus saat Uti tidak melepaskan tarika di telinganya. Ia menatap Azka menampilkan raut memelas, "Mas Azka bantuin gue napa, lo daritadi diem-diem bae kan lo juga ketua Osis pasti dia takut sama lo."
Tarikan di telinga Diyas bukannya mengendur tapi malah semakin kuat, Uti terkekeh, "ayo, Yas, kita nikahnya sekarang ajalah nunggu tamat SMA mah kelamaan," ujar Uti sebelim akhirnya melepaskan jewerannya di telinga Diyas, lalu ia kembali bergabung bersama teman-temannya.
"Bener-bener ya lo, sakit nih kuping gue kalo putus gimana," Diyas mengelus telinganya yang memerah.
"Tinggal sambungin lagi," sahut Evano sembari tertawa.
"Teman ****** emang lo, Van. Bukannya nolongin gue tadi lah ini malah ngasih saran yang gak bermutu."
"Lagian salah sendiri bawa-bawa Uti, udah tau itu cewek seneng banget ngeladenin orang," ujar Evano diakhiri dengan kekehan.
"Si Azka juga diem-diem bae bukan bantuin gue."
__ADS_1
Evano mengangkat jari telunjuknya lalu ditaruh di depan mulutnya, "kalo Azka gak usah diganggu, dia lagi bucin lagi tuh," ujar Evano yang dibalas tatapan tajam oleh Azka.
"Hah? Maksudnya?"" tanya Diyas dengan raut wajah kebingungan.
Evano menepuk jidatnya pelan, "gue lupa si kampret satu ini kan baru balik dari kampung."
Diyas mengernyitkan alisnya, "apa, sih? Kasih tau gue buru," sudahlah kalau tingkat kekepoan Diya sudah tinggi dia pasti akan memaksa lawan bicaranya untuk berkata jujur.
"Dia lagi pedekatean lagi sama Tyara."
"Lah? Bukannya udah putus?"
Evano menyentil jidat Diyas, "ya makanya gua bilang tadi kan dia lagi pedekatean lagi sama Tyra, kampret lo ya bikin orang naek darah aja."
Diyas mengangguk-angguk mengerti, tidak lama kemudian dia langsung berteriak, "ANJIR LO?! KENAPA GAK NGASIH TAU GUE KAMPRET!"
Teriakannya sukses membuat seisi kelas langsung menoleh kearahnya, sedangkan sang pelaku hanya menyengir tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.
"Kenapa gak ada yang ngasih tau gue sih? Ah kesel deh," ujar Diyas dan langsung mendapatkan tatapan tajam dari Azka.
"Iya deh iya, yang lagi deket sama mantan mah beda," Diyas kembali memetik gitarnya asal, "kenapa nasib gue gini amat ya?" gumamnya sembari mendongak, menatap langit-langit kelas.
"Gimana, gimana?" sahut Evano semangat, ia mengubah posisi duduknya menghadap Diyas sepenuhnya.
"Muka pas-pasan, pacar gak punya, duit juga kosong melompong, udah miskin kentang pula," keluh Diya dengan wajah melasnya.
Evano berdecak dan menggelengkan kepalanya, "Setelah bertahun-tahun lamanya akhirnya lo nyadar juga."
"Anjir, temen macem apa lo bukannya nyemangatin gue malah ngejatuhin gue, **** you boy," ujar Diyas sembari mengacungkan jari tengahnya.
"Bukannya gitu, Boy. Berhubung yang lo bilang tadi itu fakta semua jadi gak ada pembelaan yang cocok, gue mau ngebela lo juga bingung apa yang mau dibela," ujar Evano mantap diiringi suara tawa yang membahana.
Lalu, Evano menutup mulutnya berusaha untuk menghentikan tawa, "tapi tenang aja boy, lo juga punya kelebihannya kok."
"Emang ada?" Azka bertanya sembari mengangkat alisnya sebelah, handphone yang sedari tadi menjadi fokusnya sudah ia masukkan ke dalam saku celananya.
"Lo jangan gitu, biar kaya gini juga nih anak punya kelebihan," ucap Evano yang semakin membuat anak-anak yang lain ikut penasaran. Bahkan, anak laki-laki yang awalnya duduk di belakang kelas kini juga sudah ikut bergabung bersama dengan Azka dan yang lainnya.
"Apaan woi kelebihan gue?!" Tanya Diyas tidak sabaran.
"Kelebihan lemak," balas Evano enteng sedangkan yang lain hanya menatapnya heran, "Kenapa? Emang gue salah?" tanyanya sembari menggaruk tengkuknya.
"Salah lah, kalo kelebihan lemak itu Uti bukan Diyas," celetuk salah satu anak laki-laki yang ada disana seketika tawa orang-orang yang ada disana kembali pecah.
Azka menatap anak laki-laki yang barusan berkata dengan tatapan tajam, "gak usah jadiin fisik seseorang buat dijadiin bahan lawakan."
Tenang.
__ADS_1
Namun, mampu membuat orang-orang yang berada disana terdiam, Azka memang paling bisa membungkam seseorang dengan kata-katanya dia memang pantas jadi ketua Osis, Eh.
...*****...