ALUMNI HATI

ALUMNI HATI
39


__ADS_3

...*****...


...Jadi, ini kita kelanjutannya gimana?...


...***********...


Pagi hari di hari senin, sudah pukul 6 lewat Tyara belum juga bangun dari tidur lelapnya, ketika alarmnya berbunyi kembali untuk yang kesekian kalinya ia mengerjapkan matanya dan melihat jam.


Setelah melihatnya ia kembali menarik selimut dan memejamkan mata, tapi tunggu, beberapa saat kemudian dia membuka matanya lebar-lebar lalu melihat kembali jam yang ternyata sudah pukul setengah tujuh lewat.


"Anjrit!" Celetuknya, ia langsung bangun dan melempar selimutnya kesembarang arah. Berlari terbirit-birit ke dalam kamar mandi sampai-sampai dia hampir terpeleset karena lantai kamar mandi yang licin.


"Buseh, ngeri-ngeri sedap nih kalo jatoh." ucapnya.


Setelah 15 menit berlalu ia keluar kamar mandi, bergegas untuk memakai seragam sekolahnya.


Di perjalanan menuju sekolah, ia terus menggerutu karena bangun kesiangan ditambah ia tidak sarapan dan jangan lupa kalau kakaknya Rei tidak ada di rumah otomatis ia harus berangkat sendiri menggunakan ojek online.


"Anjrit, macet?!" ucapnya syok.


Ya, karena hari ini hari senin ditambah banyak orang yang ingin berangkat kerja maupun sekolah makanya jalanan sangat ramai.


"Aduh, bisa-bisa gue telat ikut upacara nih," ucapnya lagi pelan. Ia celingak-celinguk melihat kesekelilingnya lalu menghembuskan nafasnya kasar.


Sesampainya di sekolah, gerbang sekolahnya sudah tertutup rapat juga disana terlihat salah seorang anggota Osis yang sedang berdiri. Sepertinya Osis itu sedang memantau murid-murid yang datang terlambat hari ini.


Melihat ada salah satu anggota Osis yang sedang berjaga, Tyara pun memutar badannya dan berjalan kearah belakang sekolah.


Sesampainya di belakang sekolah ia melempar tasnya terlebih dahulu, barulah ia menaiki tembok yang lumayan tinggi dengan bantuan bangku kecil yang memang sudah ia pinjam dari abang tukang bakso langganannya didekat sekolah.


Setelah berhasil melompati tembok itu ia membersihkan roknya yang sedikit kotor juga mengambil tasnya yang tadi ia lempar, baru saja ia ingin berbalik dan berjalan sudah ada suara seseorang yang berdeham dibelakangnya.


"Ekhem.."


Tyara terdiam terpaku mendengar suara itu, "Aduh, anjrit! ketauan ini gue." Gerutunya dalam hati.


Tyara berbalik arah dengan perlahan, dan terpampang jelas wajah Doni salah satu anggota Osis yang ternyata hari ini ditugaskan oleh Azka untuk berjaga dibelakang sekolah. Ia menampilkan senyum kecil yang sangat menyebalkan bagi Tyara.


"Ternyata bener omongannya Azka, pasti ada curut yang bakal lewat sini," ucapnya kemudian matanya beralih melihat tembok dibelakang Tyara, "Padahal tuh tembok lumayan tinggi, kok bisa sih lo lewatinnya?"


Tyara berdecak, "Udah, deh, to the point aja lo mau laporin gue ke Azka, kan?" sahut Tyara sembari menyilangkan tangannya didada.


Doni menggelengkan kepalanya, "Enggak, gue mah baik hati jadi gak bakal gue laporin," ia membuka ponselnya dan mengetikkan sesuatu disana.


Melihat gerak-gerik Doni yang sedikit mencurigakan Tyara memicingkan matanya.


Tak lama kemudian Doni pergi meninggalkan Tyara tanpa sepatah katapun, tentu saja itu membuat Tyara semakin curiga.


Tak lama setelah Doni pergi, baru saja Tyara ingin melangkahkan kakinya tiba-tiba saja Azka sudah berdiri didepannya dengan wajah datar. Melihat Azka, membuat Tyara membuang nafasnya kasar.


"Emang kampret si Doni" Gerutunya dalam hati.


Karena Azka hanya diam memandangi Tyara dengan enggan Tyara pun membuka suaranya, "Apa? Iya, gue telat. Kalo mau hukum, hukum aja."


Azka menghembuskan nafasnya pelan, "Doni bilang ke gue katanya lo lompat dari tembok itu, bener?" Tanyanya sembari menunjuk tembok dibelakang Tyara dengan dagunya.


Tyara hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, "Doni emang kurang ajar, katanya gak mau ngadu ke Azka." pikirnya.


"Ada yang lecet?"


Sekali lagi, Tyara hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban.

__ADS_1


"Itu tembok tinggi, Tyara. Nanti kalo jatoh terus keseleo gimana? Gue juga yang repot." Tatapan Azka melunak tidak sedatar sebelumnya.


"Kenapa lo yang repot? Ini kaki gue, badan gue harusnya gue yang repot bukan lo," sahut Tyara.


"Jangan lupa, gue masih pacar lo," jawab Azka menekankan.


"Oh, lo pacar gue? Kalo iya, kenapa lo malah lebih ngedepanin dan ngeprioritasin Luna dibanding gue?" Tyara sudah mulai terpancing emosinya ketika Azka menyebutkan kata pacar.


"Tyara, Luna itu sahabat gue jadi wajar dong kalo dia gue ngebantu dia."


"Wajar? Apa wajar juga kalo pacarnya lebih milih ngebohongin pacarnya sendiri demi nemenin sahabatnya itu makan? Wajar?"


Azka mengernyitkan alisnya bingung, "Bohong?"


"Apa? Mau belagak bego dan gak tau apa-apa?"


"Bohong apanya?"


"Lo bilang semalem lo makan berdua sama Diyas, tapi nyatanya? Ternyata lo makan sama Luna! Itu yang lo bilang gak bohong?"


Azka sudah mulai mengerti jalan pembicaraan ini kemana, "Gue tuh cuma mau jaga perasaan lo doang, kalo gue bilang pasti lo bakalan marah."


"Lo pikir dengan cara lo ngebohongin gue itu gak bikin gue marah? Iya? Yang ada gue malah makin marah sama lo, Azka!"


"Iyaa gue minta maaf karena udah ngebohongin lo, tapi lo juga harus ngerti posisi gue gimana, gue gak bisa ninggalin Luna dalam keadaan kacau kaya gitu."


"Lo gak bisa ninggalin Luna tapi lo bisa ninggalin gue gitu aja demi Luna?" ucap Tyara tak habis pikir.


"Lo brengsek Azka," lanjutnya.


Setelah mengatakan itu Tyara melangkahkan kakinya pergi, tapi ternyata Azka memegang pergelangan tangannya tiba-tiba.


"Dengerin penjelasan gue dulu," ucap Azka.


"Kenapa, sih, lo gak bisa ngertiin gue sedikit pun?" ucap Azka tiba-tiba.


Mendengar perkataan Azka Tyara langsung berbalik kearahnya dan menatap mata Azka tajam, "Gue gak ngertiin lo? Dimana letak yang gak ngertiin lo, Azka? Gue selalu ngertiin lo tentang apapun itu bahkan ketika lo lebih milih prioritasin Luna pun gue tetep nyoba buat ngertiin lo. Apa masih kurang?"


"Bukan itu maksud gue," Azka mengacak-acak rambutnya frustasi.


"Kayanya kita emang butuh waktu sendiri dulu buat saling introspeksi diri dimana letak salahnya."


"Kenapa kaya gitu?" Tanya Azka.


"Azka, plis, udah ya. Gue capek, kalo lo masih belum tau kesalahan lo apa dan dimana, tolong, tolong jangan ganggu gue dulu."


Setelah mengatakan iti Tyara bergegas pergi meninggalkan Azka yang terdiam mematung. Azka mengusap wajahnya kasar, ia pun pergi untuk kembali ketugasnya yang sempat tertunda tadi.


*****


Jam istirahat sudah berbunyi beberapa menit yang lalu tapi Tyara masih tetap pada posisinya bahkan ketika Yeni serta Arva sudah pergi ke kantin untuk mengisi cacing diperutnya.


Tyara memilih untuk memejamkan matanya saja, dia merasa sangat lelah hari ini padahal dia belum sarapan pagi tadi dan sekarang pun ia tidak makan siang melainkan memilih untuk tidur.


20 menit berlalu Tyara membuka matanya dan melihat ada sebuah kantong plastik didepan matanya, ia memicingkan matanya menatap kantong plastik itu lamat-lamat lalu melihat kesekeliling kelas yang semua penghuninya sedang asik sendiri.


..."Dari siapa, nih?" Pikirnya bingung....


Ia mencolek-colek kantong plastik itu, curiga karena takut orang iseng yang mengerjainya.


"WAHHH! ANJIR ARVA LO! GAK MAU TAU POKOKNYA HARUS GANTI!"

__ADS_1


Tyara melihat Arva sedang berlari menghindari kejaran Yeni, ia berhenti dan duduk dibangku yang ada didepan meja Tyara dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Nanti.. Gu..gue..gantiiii," ucap Arva terputus-putus. Begitu juga Yeni yang sudah sampai dihadapan mereka yang sedang mengatur nafasnya akibat berlari mengejar Arva.


Tyara menatap keduanya secara bergantian, "Kalian kenapa, sih?" Tanyanya bingung.


"Ini, si kampret Arva."


"Kenapa?" Tanya Tyara lagi."


"Dia numpahin jus jeruk gue, siapa yang gak kesel coba," jawab Yeni dengan emosi yang kembali memuncak.


"Kan gue udah bilang nanti gue ganti elah."


Yeni beralih menatap Arva, "Nantinya elo tuh kapan kuprett."


"Pokoknya nanti diganti, santai aja santai."


Mendengar jawaban Arva, Yeni hanya memutar matanya malas.


"Ini isinya apaan, Ra?" Tanya Arva sembari menunjuk kantong plastik yang berada didepan mereka bertiga.


Tyara baru menyadari itu karena sejak tadi ia sibuk memperhatikan kedua temannya yang bertengkar, "Gak tau, udah ada dari sejak gue tidur."


Tanpa basa basi lagi Arva langsung saja menyambar kantong plastik itu dan langsung membukanya.


"Ini nasi goreng sama susu coklat," ucapnya. "Ada suratnya nih," lanjutnya lagi sembari mengeluarkan selembar kertas.


"Tyara, kamu makan ya biar gak sakit perutnya, maaf aku udah bikin kamu marah." Arva membaca isi surat itu yang ternyata dari Azka, "Dia bikin ulah apalagi emang?" tanyanya kemudian sembari memberikan surat beserta kantong plastik dan isinya.


"Gapapa, kok," sahut Tyara sembari mengambilnya.


Yeni memicingkan matanya curiga, "Lo abis nangis ya?"


Tyara mengerjapkan matanya beberapa kali, "Enggak."


"Mata lo bengep," ucap Yeni sembari memberikan kaca kecilnya, "Kaya abis nangis. "


Tyara memperhatikan kedua matanya melalui kaca yang diberikan Yeni, ternyata benar matanya terlihat besar seperti orang yang habis menangis. Tapi, seingatnya ia tidak menangis, atau jangan-jangan ia menangis ketika sedang tertidur tadi?


"Gak tau, perasaan gue gak nangis tadi, apa pas tidur kali ya." Ucapnya sembari terus memperhatikan kedua matanya.


Yeni menghendikkan bahunya acuh, ia pun mendudukkan dirinya disebelah bangku Tyara, "Lo udah makan?" Tanyanya.


Tyara menggeleng.


"Makanlah, ngaco. Itu nasi goreng dari Azka dimakan takut keburu gak enak nanti." ucap Yeni.


Tyara menganggukkan kepalanya sembari membuka sterofom yang isinya nasi goreng itu, ia menyantap makanannya dengan perlahan.


"Gue rasa nih anak lagi kelai sama si kutu kupret Azka," ucap Arva berbisik kepada Yeni.


"Feeling gue sih, iya," sahut Yeni ikut berbisik juga.


Mereka berdua memperhatikan Tyara melahap makanannya dengan tidak berselera, yang diperhatikan pun menoleh secara perlahan.


"Kenapa?" tanya Tyara kemudian.


Yeni serta Arva menggelengkan kepalanya secara bersamaan, melihat tingkah mereka Tyara hanya menghendikkan bahunya acuh.


Tidak lama kemudian bel masuk tanda istirahat telah berakhir sudah berbunyi, Tyara segera membereskan makanannya walaupun belum ia habiskan.

__ADS_1


Ketika ia hendak membuang sampah diluar kelas, ia melihat Azka sedang berjalan bersama kedua temannya. Tanpa sengaja kedua mata mereka bertabrakan, Tyara langsung saja memutuskan kontak mata dengan Azka dan segera kembali ke dalam kelas.


kedua temannya Azka saling pandang, bingung melihat dua sejoli yang biasanya selalu bersama tiba-tiba saja seperti seorang stranger.


__ADS_2