ALUMNI HATI

ALUMNI HATI
#17


__ADS_3

Suara alarm digital yang berbunyi berhasil mengganggu jam tidur Tyara. Pasalnya, dia baru saja tidur pada pukul dua pagi dan itu semua dikarenakan dia marathon untuk menghabiskan satu film drama Korea, lagi.


Entahlah, mungkin karena gaya gravitasi di kasur lebih kuat dibandingkan di tempat lain membuat ia memilih untuk berlama-lama di atas kasur. Namun sebelum ia melanjutkan mimpinya yang sempat tertunda itu teriakan mamanya menginterupsi dan membuat matanya kembali terbuka dengan lebar.


"TYARA! SUDAH JAM SETENGAH TUJUH, JANGAN NGAYAL MULU KATANYA MAU KE KOREA TAPI KERJAANNYA NGAYAL DOANG MAU KE KORANYA SAMBIL MIMPI?!"


Aishh... Mama, kalo ngomong suka bener.


"Yaudah sih Ma, baru juga jam setengah tujuh.. HAH?! MAMPUS GUE TELAT!" Dan, dengan semangat empat lima, Tyara buru-buru turun dari kasur dan berlari menuju ke kamar mandi.


Karena terlalu bersemangat dia hampir saja terpeleset,


"gila, untung gak jatoh gue."


****


Gerbang sekolah tampak sudah hampir tertutup membuat ia langsung berlari secepat mungkin,


"Ehh.. neng, hati-hati aduhh jangan lari nanti jatoh," seru pak Bowo satpam sekolahnya.


Tyara hanya tersenyum tipis dan bergegas masuk ke dalam sebelum ia ketahuan oleh ketua Osisnya, sesampainya di koridor sekolah dia berjalan dengan santai sembari merapikan rambutnya yang sedikit berantakan akibat berlari ia berkaca sebentar pada jendela kelas lain dan kembali melanjutkan jalan memasuki kelasnya dengan hati-hati.


Tanpa tahu ada seorang cowok yang memperhatikan gerak geriknya dari jauh dengan raut wajah yang datar kemudian segera berlalu dan pergi.


Dia berdiri di depan pintu kelasnya yang terbuka sedikit, ia mengintip ke dalam kelas dan melihat guru bahasa Indonesia sedang menulis di papan tulis.


Ia memberi isyarat kepada teman sekelasnya agar mau bekerjasama dengannya, perlahan-lahan ia membuka pintunya dengan pelan dan mulai melangkahkan kakinya ke arah bangkunya berada.


Ketika ia hampir menduduki singgasananya tiba-tiba saja, "tulis di kertas folio 'saya tidak akan datang terlambat lagi' sebanyak 5 lembar sekarang," ucap guru itu tiba-tiba.


Antara tidak tahu dan pura-pura tidak tahu, Tyara dengan santai mengeluarkan buku tulisnya dan bersiap untuk mencatat tulisan yang ada di papan tulis.


"Kamu tidak dengar apa yang saya katakan barusan?"


Lagi, Tyara hanya menengok kiri dan kanan tidak sadar bahwa orang yang di maksud adalah dirinya.


"TYARA! KERJAKAN APA YANG BARUSAN SAYA PERINTAHKAN!"


Teriakan itu membuat seisi kelas menjadi hening,


"Baik ibu guru yang dermawan." jawab Tyara sembari membungkukkan tubuhnya, ia pun bergegas untuk duduk di tempat duduknya dan bersiap untuk mengerjakan apa yang diperintahkan oleh gurunya.


"Siapa yang menyuruh kamu duduk?"


Tyara mengerutkan alisnya bingung, "Lho bukannya tadi saya disuruh itu yang tadi ibu suruh ya?"

__ADS_1


"Iya benar."


"Yaudah, saya nulis sekarang nih."


"Tapi saya tidak meminta kamu untuk menulisnya di tempat dudukmu lho." jawab gurunya sembari bersedekap.


"Terus?"


"Kerjakan di tengah lapangan," jawab gurunya lagi dan kembali menulis di papan tulis.


Tyara tercengang mendengar jawaban gurunya, seketika ia langsung mengintip keluar jendela yang langsung memperlihatkan lapangan sekolahnya, terik. Matahari sudah mulai menaik dan dia menelan ludahnya pelan-pelan.


"Makeup gua bisa luntur kalo kaya gini caranya mah."


"Kalo gak mau makeup nya luntur makanya jangan telat," tiba-tiba saja ada sebuah suara menyahut gerutuannya.


Tyara menengok ke arah sumber suara, dia memutar kedua bola matanya ketika tahu siapa yang telah menganggunya.


"Ngapain lo?"


"Mantau murid teladan."


"Murid teladan ndasmu!"


Tyara menatap bingung Azka, "ngapain lo ikutan duduk?"


"Kan gua udah bilang, gua mau mantau murid teladan belajar."


"Yang ada nih ya, kalo ada lo disini bukannya kelar malah gak selesai-selesai tugas gua."


"Loh, kenapa gitu?"


"Ya lo gangguin mulu kampret, liat aja nih sekarang aja lo ngajak ngobrol gua mulu."


Azka menaikkan alisnya bingung, "Yang ngajak lo ngobrol siapa?"


"Elo lah."


"Kan yang mulai ngomong duluan elo," jawab Azka tak mau kalah.


"Dih, yang ngajak lo ngobrol siapa kambing.. gue cuma nanya kalo gue nanya belum tentu gue mau ngajak lo ngobrol." Tyara mulai mengerjakan tugasnya sembari tetap mengoceh layaknya ibu-ibu.


"Lagian, ngapain sih ketua Osis kelayapan mulu bukannya diem-diem aja dalem kelas," lanjutnya tanpa menoleh kearah lawan bicaranya.


Hening,

__ADS_1


Karena dia tidak mendengar suara Azka sedikitpun dia mencoba melihat kearah Azka, ternyata sejak tadi Azka tidak mendengarkan dia berbicara dan malah asik tiduran di lantai lapangan.


"Azka ih! jadi lo daritadi gak dengerin gue ngomong hah?!"


Azka hanya melirik kearah Tyara sekilas tanpa merubah sedikitpun posisinya.


Tyara memandang Azka dengan raut wajah yang kesal, "ad gitu ya manusia macem gini," gerutunya pelan dan ternyata didengar oleh Azka.


"Gue denger lho."


Tyara mengabaikan perkataan Azka dan kembali melanjutkan tugasnya yang sempat tertunda.


*****


Jam istirahat telah berbunyi beberapa menit yang lalu, Tyara baru saja keluar dari toilet sekolah dan ketika dia hendak berbelok ke koridor yang membawanya dimana kantin berada, tiba-tiba saja dia berhenti ketika mendengar suara seseorang yang sedang mengobrol.


"Terus sampe kapan gue kaya gini hah? bohongin dia terus-terusan, lo pikir enak jadi gue? selalu dihantui rasa bersalah karna udah bohongin tuh cewek."


lawan bicaranya menghembuskan nafas pelan, " setidaknya sampe dia siuman dari komanya," ujarnya pelan.


"Sampe kapan? Lo tau? gue udah mulai nyerah, kalopun dia mau pergi, gue ikhlas."


"LO GILA HAH?!!" bentak salah satunya, "dia kembaran Lo, Lo tega mau cabut alat-alatnya ketika dia lagi berusaha buat berjuang? lo tau kan sesayang apa dia sama tuh cewek? pliss lah, tunggu sebentar lagi baru setelah itu klo lu mau balik lagi ke amrik, silahkan." lanjutnya tegas, setelhnya dia pergi meninggal seseorang yang sekarang sedang termenung mencerna kata-katanya.


Tyara yang tidak mengerti arah pembicaraannya pun mulai sadar dari lamunannya, dia melamun karena sepertinya dia mengenali suara milik siapa yang sedang berdebat tadi.


"Tyara?"


"Ehh? lho, Azka? ngapain?" tanyanya gugup tanpa sebab.


Azka mengernyitkan alisnya bingung, "lewat" jawabnya singkat.


"Ya iya tau, maksud gue Lo abis ngapain?" tanya Tyara lagi memperjelas.


"Gue abis dari ruang OSIS, kenapa? berminta jadi sekretaris gue?" tanyanya jahil sembari tersenyum.


"Idih, ogah."


Tyara melangkahkan kakinya pergi dan berjalan kearah kantin.


Sedangkan Azka tetap diam ditempatnya melihat punggung Tyara yang semakin menjauh.


Di sepanjang perjalanan Tyara masih saja memikirkan suara milik siapa yang ia dengar tadi.


"Apa bukan ya?" tanyanya entah kepada siapa, "tapi mirip banget sama suaranya Azka, ah udahlah pikirin amat mending gue pesen makan dulu lah." lanjutnya yang ternyata sudah tiba di kantin sekolah, ia segera menuju ke tempat tukang bakso langganannya.

__ADS_1


__ADS_2