
"Jangan sampe lo ada perasaan sama cewek itu."
"Gak akan, lo pikir gue gila? Dia sayang banget sama tuh cewek, lagipula sebentar lagi dia bakalan bangun kok dan tugas gue selesai."
"Kenapa gak lo ceritain aja sih yang sebenarnya? Gue yakin pasti dia bisa ngontrol emosinya." Ucap wanita yang sekarang sedang duduk di samping pria itu sembari memandang nya.
Dia menghembuskan nafas pelan, "gak bisa, dia sering cerita ke gue tentang cewek itu jadi gue tau bakal kaya gimana perasaannya kalo tiba-tiba aja gue cerita ke dia tentang keadaannya."
Wanita itupun membuang nafas, dia menghadap ke arah depan lagi melihat pemandangan di sore hari.
Hari sudah semakin sore, mereka berdua pun bangkit untuk pulang ke rumah.
****
"Tyara lo kenapa? Lo sakit?" Tanya Yeni panik. Sejak upacara bendera berakhir tadi wajah Tyara sangat pucat sekali dan dia selalu memijit-mijit keningnya. Saat ini mereka sedang berada di dalam kelas dan sedang jam kosong karena guru yang mengajar hari ini berhalangan masuk.
"Mau ke UKS?" Tanya Yeni lagi.
Tyara menggeleng perlahan, dia pun mengambil air di botol minumnya dan segera meminumnya berharap pusingnya itu bisa mereda sedikit.
Tapi bukannya mereda malah ia merasa semakin pusing.
"Udah ayo gue anter ke uks."
Yeni pun membantu Tyara untuk bangun dan berjalan ke arah UKS. Sedangkan, Arva entah ada dimana dia sekarang.
"Nah, lo rebahan dulu disini gue mau nyari pengurus uksnya dulu kebiasaan banget kalo ada yang sakit pasti nih uks gak pernah ada yang jaga giliran gue mau cabut kesini malah ada yang jaga, sial." Omel Yeni sembari berjalan keluar uks Tyara yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya.
Dia pun mulai merebahkan tubuhnya pada kasur uks, matanya perlahan ia pejamkan dan kepalanya pun bukannya menghilang sakitnya tapi malah semakin berdenyut.
Dia memijit pelan keningnya sembari bergumam, "lama banget sih."
Ceklek...
Pintu uks terbuka, yaps, Yeni lah yang membukanya.
"Lama, ya?" Tanyanya pada Tyara yang sekarang sedang menatap lemas kearahnya.
Tyara hanya mengangguk perlahan.
"Tadi di jalan mau kesini gue papasan sama Azka, terus dia nitipin ini buat lo." jelas Yeni sembari menyerahkan kantong plastik yang entah apa isinya.
Tyara pun mengambil kantong itu dan melihat isinya.
"Apaan?" Tanya Yeni penasaran.
"Roti, air aqua sama susu."
Yeni mengangguk mengerti, "hobi banget ngasih lo roti, aqua sama susu ya dia."
Tyara menghendikkan bahunya acuh, "pengurus uksnya mana?"
"Gak ada, kata guru bk ambil aja obatnya sendiri bentar gue cari dulu."
Selesai Yeni memberikan obat pada Tyara dia kembali lagi ke kelas untuk mengikuti pelajaran selanjutnya, dan setelah minum obat pun Tyara langsung tertidur karena efek samping dari obat tersebut yang membuatnya jadi mengantuk.
Sejak jam pelajaran ketiga Tyara tertidur di UKS sampai bel pulang sekolah berbunyi dia baru terbangun.
"Duh, kenapa gue bisa ketiduran sampe selama ini sih, gak ada yang bangunim gue juga lagi." Gerutunya sembari merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan.
Dia melihat ke samping ranjang dan disana tersimpan tas nya serta tas milik seseorang yang sepertinya tidak asing baginya.
"Udah bangun?" Tanya seseorang tiba-tiba.
Tyara tersentak kaget dan reflek menengok ke arah sumber suara, "iya? Lo, dari kapan disini?"
__ADS_1
"Sekitar setengah jam yang lalu, sebelum bel pulang sekolah bunyi." jawabnya sembari memandang Tyara dengan intens, "masih pusing?"
Tyara menggeleng, dia segera memakai tasnya dan berdiri.
"Mau gue anter."
"Gak usah" jawab Tyara cepat.
"Itu pernyataan bukan pertanyaan" ucap Azka santai.
"Dih?"
Tanpa menunggu lagi Azka langsung saja menarik lengan Tyara untuk pulang.
Di perjalanan pulang Tyara masih saja mendumel karena tidak terima sudah ditarik paksa oleh Azka yang jelas-jelas dia menolak untuk diantar pulang olehnya.
"Ngedumel aja, suara motor gue sampe kalah berisiknya."
Tyara melirik kearah spion, dia berdecak lumayan kencang agar supaya Azka mendengarnya.
Azka hanya terkekeh melihat tingkahnya yang bisa dibilang lucu(?) Dia pun mempercepat laju sepeda motornya agar cepat sampai.
Selang beberapa menit kemudian mereka berdua pun sampai di depan rumah Tyara, "lo bawa motor kenceng banget gila gue sampe megangin jaket lo ish."
Azka terkekeh pelan, "ya bagus dong, kenapa gak sekalian aja lo peluk."
Tyara melotot dan memukul pundak Azka pelan, "maunya lo itu mah."
Azka hanya tersenyum tipis.
"Lo.. mau masuk?" tanya Tyara ragu,
"Itu ajakan?"
"Itu pertanyaan"
"Jadi, mau masuk?"
Azka menggeleng pelan, "nggak, gue langsung pulang aja ada urusan soalnya."
"Oh, yaudah, sana." Usir Tyara sembari tersenyum.
"Gue balik ya, salam buat mama."
"Iya."
Azka pun langsung memakai kembali helmnya lalu menyalakan motornya dan segera bergegas pergi meninggalkan rumah Tyara.
Setelahnya Tyara langsung masuk ke rumahnya untuk beristirahat.
****
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam tapi tidak ada tanda-tanda ia untuk tidur, kedua matanya masih terlihat segar menonton drama korea favoritenya.
Ya, siapa lagi kalau bukan Tyara Pramestika si wanita yang sangat mencintai negeri ginseng itu.
"Ya ampun suami gue ganteng banget tuhan.... Ji chang wok, aku cinta padamuuuu"
Tyara berteriak-teriak sendiri ketika melihat tokoh pria utamanya, terkadang dia meloncat-loncat kegirangan melihat adegan yang romantis dan juga dia ikut meneteskan air matanya ketika ada adegan sedih dan menguras air mata.
Brak!!
Tyara melompat turun dari kasurnya kaget ketika ada seseorang yang membuka pintunya dengan kasar.
Tyara memelototi orang itu ketika dia tahu siapa yang sudah mengganggunya.
__ADS_1
"Kenapa siiihhhh, kenapa sih elo selalu ngeganggu gue." Ucap Tyara dramatis
Tanpa babibu Kak Rei langsung saja melompat ke atas kasurnya Tyara dan membuat laptonya hampir saja terjatuh ke lantai.
Lagi, Tyara melototkan matanya, "biasa aja dong matanya" celetuk kakaknya.
Ia menghembuskan nafas kasar dan kembali naik ke atas kasurnya untuk melanjutkan film tontonannya.
"Nonton apa sih"
Tanpa menjawab perkataannya Tyara langsung saja menggeser laptopnya sedikit ke arah Rei.
"KOK DRAMA KOREA SIIH, RA?!" Teriak Rei tiba-tiba.
Tyara memukul pundak Rei dengan kencang, "bisa gak lo gak usah teriak-teriak kaya gini?"
"Ya abisnya kenapa lo malah ngajak gue nonton film korea."
"Ngajak? Gue gak ngajak lo Rei."
"Lah, itu buktinya tadi lo ngegeser laptop lo kearah gue, apa coba kalo bukan ngajak nonton?"
Tyara mengernyitkan alisnya bingung, "terserah lo lah" ucapnya dan kembali melanjutkan tontonannya.
Sedangkan Rei yang merasa teracuhkan hanya bisa diam dan ikut menonton drama korea itu.
"Udah ah, bosen gue."
Tyara melirik kearah Rei yang sekarang sedang asik merebahkan tubuh, "baru nonton bentaran aja udah bosen."
Rei hanya menghendikkan bahunya acuh, "besok lo sekolah?"
Hening.
"Gue nanya sama lo"
Hening.
Tak ada jawaban dari Tyara.
"Aduh aduh aduh aduuhhh! Sssakit woi!" Teriak Tyara ketika Rei menjambak rambutnya, "apa sih?!" tanyanya sebal.
"Besok lo sekolah?"
"Besok?"
Rei megangguk polos, "besok sabtu bodoh."
"Emang iya?" Tanyanya bingung
"Ya iyalah, gue punya abang kenapa bodoh banget sih"
Pletakk!!
"Aduh! Sakit tau" protes Tyara karena jidat paripurnanya dipukul oleh Rei.
Sedangkan Rei hanya memberikan cengirannya, "lo gak tidur?"
Tyara berdecak sebal, "kak! Plis jangan ganggu gue, gue lagi nonton jadi gak fokus gara-gara mulut bawel lo itu."
"Ya kan gue nanya, udah malem bukannya tidur."
"Besok wekeend, bebas dong kalo gue mau begadang, udah deh mending lo balik kamar gih berisik tau."
"Dih.."
__ADS_1
Melihat Tyara yang memelototkan matanya membuat Rei tidak bisa berkata-kata, dia berdiri dan membungkukkan tubuhnya lalu bergegas pergi meninggalkan kamar adiknya itu.
Setelah melihat Rei keluar dari kamarnya ia segera mengunci pintu kamarnya dan menghela nafas pelan, merasa lega karena pengganggunya telah pergi ia pun kembali melanjutkan maraton film drama korea favoritenya itu.