
Happy Reading!!!
...*****...
...Kamu itu bagaikan rumah,...
...Jadi sejauh apapun aku pergi pasti akan kembali lagi ke rumah...
...*****...
"Kenapa lo gak pernah bilang ke gue sih kalo lo punya kembaran?" ujar Tyara sembari menyuapi bubur ayam pada Azka.
"Lo gak pernah nanya," sahutnya.
Tyara mengernyit, "Lah? Terus gue harus nanya gitu lo punya kembaran apa gak? Ya kan gue mana tau."
Azka terkekeh mendengar jawaban Tyara, "berjanda elah."
"Becanda bukan janda."
"Terus ngapain lo kesini?"
"Ya mau jengukin elo lah, apa lagi coba."
Azka menganggukkan kepala, "padahal ntar malem gue juga balik."
Tyara memberikan minum untuk Azka ia sudah selesai menyuapinya, "terus si Izki kemana?"
"Lah, dia kan tadi sekolah masih gantiin gue."
"Tapi tadi gue gak ngeliat dia lho seharian ini," ujar Tyara yang langsung membuat Azka kebingungan.
Tiba-tiba saja pintu kamar inap Azka terbuka dan menampilkan tiga orang pria memakai seragam sekolah yang sudah berantakan.
"Lho? Kok ada elo, Ra?" tanya Vano sembari berjalan menghampiri Azka dan Tyara.
Tyara menghendikkan bahunya acuh sedangkan Azka hanya menatap Izki intens.
"Kenapa lo ngeliatin gue?"
"Ya ampun babang Azka, gue gak tau kalo lo sakit, kenapa bisa kaya gini sih? Siapa yang nyakitin lo hah?" tanya Diyas sembari memegang perban yang berada di lengan kiri Azka.
"Anjir, sakit." keluh Azka sembari menepis tangan Diyas sedangkan Diyas hanya memberikan cengirannnya.
Azka kembali menatap Izki, "Lo kemana? Gak masuk sekolah? Image gue sebagai ketos yang teladan rusak dah gara-gara Lo."
"Yeeeh... Enak aja, noh omelin tuh bocah dua gue diajakin cabut sama mereka," sahut Izki menunjuk Diyas dan Vano yang sedang sibuk memakan jeruk.
"Si kampret," gerutu Azka pelan.
__ADS_1
Tyara bangkit dari duduknya, "Yaudah gue balik ya, kan udah ada tiga rantang ini yang nemenin Lo," ujarnya sembari tersenyum tipis.
Azka memandang Tyara lembut, "Makasih ya udah jengukin gue, dan makasij juga karna lo gak marah sama gue perihal gue punya kembaran."
"Its oke, gak masalah seharusnya gue yang minta maaf sama lo gara-gara gue Lo jadi kaya gini."
Vano memutar bola matanya malas, "hadeh... Mulai deh drama."
Tyara dan Azka menoleh kearah sumber suara secara bersamaan dan menatapnya tajam, "berisik Lo!" ujar Tyara.
"Yaudah, ya, gue pamit," ujar Tyara lagi kepada Azka dan langsung pergi meninggalkan mereka.
Diyas yang melihatnya membelalakkan mata dan mengernyitkan alisnya bingung, "dia gak pamit sama kita?"
"Siapa elo! Hahahahha!" sahut Vano sembari tertawa.
****
Keesokan harinya,
Suasana kantin yang sepi dijadikan sebagai tempat melarikan diri oleh Azka dan dua sahabatnya setelah upacara bendera di bubarkan. Mereka bertiga memesan minum dan gorengan, berdiri dibawah terik matahari sungguh melelahkan diri. Namun, jika dibandingkan dengan orang-orang terdahulu, sangatlah tidak sebanding.
"Kagak bakal ketauan guru piket, nih?" tanya Vano sembari menyeruput es tehnya.
"Tenang aja ada Azka ini yang bakal tanggung jawab," balas Diyas santai. Ketika Vano lengah tangan kanan Diyas mengambil gelas es yang berada di depan Diyas dan langsung menyeruputnya.
"Woi, modal dong. Main ambil-ambil aje, beli sana!" Vano merebut kembali gelas esnya dari tangan Diyas, matanya melotot sempurna saat melihat isi gelas yang sudah kosong melompong. "Anjir lo ya! Es gue lo abisin, tenggorokan gue masih kering ini tanggung jawab gak lo!" serunya sembari melempari Vano dengan tisu yang berada dihadapannya.
"Lo aja gak minta, maen ambil aja," ujar Azka sembari menatap Diyas yang masih sibuk menghindari lemparan tisu dari Vano.
"Ngapain pake acara minta segala, kalo udah jadi sahabat artinya itu kita udah semakan seminum," ujar Diyas mencari pembelaan.
"Mending lo ngalah aja, Zka. Gak bakal menang ngelawan mulut lemesnya dia."
Diyas hendak membantah ucapan Vano, namun urung saat mendengar suara lain yang berasal dari belakang tubuhnya.
"Oh, bagus ya, orang lain udah pada masuk kelas kalian masih asyik nongkrong anteng di kantin."
Suara tepuk tangan dengan tempo pelan tapi kuat itu mengalihkan pandangan ketiga anak laki-laki itu ke sumber suara.
"Eh, ibu," Diyas menggaruk tengkuknya sembari cengengesan, "Sungkem, Bu." Tangannya tergerak hendak mencium punggung tangan Bu Laura selaku guru BK di sekolah mereka, sebelum akhirnya ditepis oleh guru itu.
"Kok ditolak, Bu? Ibu gak tau ya rasanya ditolak tuh gimana," ujar Diyas dengan tampang yang mengenaskan.
"Masih punya nyali kamu mau cium-cium tangan saya?!" Bu Laura berkacak pinggang dengan raut wajah yang dipasang segalak mungkin. Bu Laura beralih menatap Azka, "Kamu juga Azka! Kamu kan ketua Osis seharusnya kamu bisa mengayomi teman-teman kamu biar gak kaya gini."
"Bu, kalo kita gak nakal nanti ibu gak punya kerjaan buat ngehukum anak-anak nakal kaya kita," sahut Azka santai.
Bu Laura membelalakkan matanya mendengar jawaban Azka yang kelewat santai, terdengar suara cekikikan yang berasal dari kedua anak muridnya itu.
__ADS_1
"HEH?! KALIAN NGETAWAIN APA HAH?!" Bu Laura menatap ketiga anak muridnya itu satu persatu.
"Nggak kok, Bu," sahut Diyas kalem.
Bu Laura menggelengkan kepala kuat, "Udah, nggak penting! Sekarang kalian bertiga ikut saya ke kantor," Bu Laura berbalik dan berjalan pelan.
"Tuh, kan. Ibu jadi punya kerjaan sekarang," ujar Azka sembari bangkit dari duduknya.
"Jadi, kapan Bu ke kantornya?" pertanyaan Vano barusan membuat Bu Laura membalikkan badannya.
"Taun depan!"
"Lama amat, Bu," Diyas ikut menyahut dan membuat wajah guru BK itu memerah menahan amarahnya.
"Ya sekaranglah, Jamal!"
Diyas meringis melihat raut muka Bu Laura yang semakin bertambah merah, ia berpikir keras agar bisa terbebas dari hukuman wanita itu.
Tiba-tiba saja terlintas sebuah ide cemerlang, "Bu! Ada pak Tyo, tuh!" Telunjuk Diyas terangkat ke belakang Bu Laura, yang mana membuat guru itu berbalik.
Tapi, ternyata tidak ada siapa-siapa berdiri dibelakangnya. Bu Laura hendak membuka mulut namun urung saat mendengar suara teriakan dari belakang.
"KABUURRR!"
Suara teriakan itu didominasi oleh suara Diyas, tentu saja karena dialah dalang dibalik semua ini. Bu Laura berbalik, punggung ketiga laki-laki yang kian menjauh itu adalah pemandangan yang pertama kali ia lihat.
"SINI KALIAN BERTIGA!"
"AZKA! KAMU UDAH BOSAN JADI KETUA OSIS HAH?!"
Mendengar namanya disebut, Azka menghentikan langkahnya sebentar untuk menoleh kearah Bu Laura yang berada jauh dibelakang sana, "BOSEN BU! CAPEK!" teriaknya dan kembali berlari menyusul dua temannya.
****
Bulir-bulir keringat mengalir deras, Azka sesekali mengelap keringat yang menetes menggunakan punggung tangannya. Sementara Diyas sibuk mengeluarkan ocehan-ocehan tidak jelas yang ia tujukan pada Bu Laura, bagaimana tidak akibat kelakuan mereka yang membohongi guru BK itu dan berlari darinya membuat mereka bertiga malah dihukum untuk membersihkan toilet dan halaman sekolah.
"Sumpah! Nih si Cinta Laura ngehukum anak muridnya gak kira-kira," sepanjang perjalanan dari toilet sekolah hingga menuju kelas Diyas terus saja menggerutu.
Bahkan, ia pun memberikan pelototan kepada siapa saja yang melihat ke arahnya.
"Anjir, Cinta Laura, kecakepan gila," sahut Vano.
"Biarin, ah. Suka-suka gue," Azka menggelengkan kepalanya mendengar jawaban Diyas barusan. Ia tidak mengeluh sama sekali tentang hukuman ini. Toh, memang ini semua salah mereka, lalu ia berjalan menuju tangga dan meninggalkan kedua sahabatnya yang sudah berdiri di depan pintu kelas.
"Azka! Mau kemana lo ?!" Seru Vano.
"Tyara!" balas Azka tanpa berbalik badan.
"Anjay, dia aja ngapelin pacarnya, lo kapan, Van?" tanya Diyas sembari menaik turunkan alisnya.
__ADS_1
"Tanya ke diri sendiri dulu, boy. Baru nanya ke orang lain," sahut Vano sembari menepuk pundak Diyas pelan, sedangkan yang disindir hanya menghendikkan bahunya acuh dan mengikutinya masuk ke dalam kelas.
......*******......