ALUMNI HATI

ALUMNI HATI
38


__ADS_3

...****...


...Sama dia sakit tapi gak sama dia jauh lebih sakit....


...****...


Sesampainya di depan rumah seseorang, Azka langsung saja memasuki rumah itu tanpa menekan bel terlebih dahulu yang memang kebetulan pintunya pun tidak terkunci.


Ia mencari-cari keberadaan orang yang dicari sekaligus orang yang sudah mengganggunya, dan tibalah dia di sebuah kamar yang tampak gelap karena hujan ditambah hanya lampu yang ada di meja saja yang dibiarkan menyala.


Azka menghampiri seorang gadis yang sedang terduduk di pojok ruangan dengan selimut yang menutupi tubuhnya.


"Kenapa?" Tanya Azka pelan.


Gadis itu menengadahkan kepalanya, "Hujan, gue takut petirnya nyeremin." jawabnya dengan suara yang sedikit bergetar.


Tanpa bertanya lagi Azka langsung memeluknya guna untuk menenangkannya.


"Tenang, ada gue disini, Lun."


Ya, benar, Luna.


Gadis yang sekarang sedang berada di dalam dekapannya adalah Luna, tadi Luna meminta Azka untuk segera datang ke rumahnya. Karena hujan yang begitu deras serta diiringi dengan petir sesekali tentu saja membuat Luna ketakutan.


Luna memang sangat takut pada suara petir, dan kebetulan juga dia sedang sendiri di rumahnya karena kedua orang tuanya sedang berada diluar kota untuk urusan bisnis.


Setelah dikira Luna sudah cukup tenang, Azka melepaskan pelukannya. Ia menatap wajah Luna dengan lembut, menghapus jejak-jejak air mata yang membasahi kedua pipinya.


"Udah tenang, kan? Udah makan?"


Luna menggeleng pelan.


"Mau makan apa?" Tanya Azka lagi.


"Gue gak mau makan, Lo ada disini aja itu udah lebih dari cukup."


Azka menghela nafas pelan, "Tapi lo harus makan, Luna."


"Gak mau, Azka," Jawab Luna mantap.


Sekali lagi Azka menghela nafas pelan, kalau sudah begini sulit untuk membujuk Luna agar dia mau makan.


Mereka masih berada pada posisi awal, Azka yang memeluk Luna sembari membelai rambutnya pelan. Ia sibuk dengan pikirannya yang sekarang sedang dipenuhi rasa bersalah kepada Tyara atas tindakannya ini.


Mungkin, jika Tyara mengetahui apa yang sedang dilakukannya Tyara akan sangat kecewa dan tidak akan bisa memaafkannya untuk yang kesekian kalinya.


****


Tokk... Tok.. Tok ..


Ketika Tyara sedang asyik menyantap makan malam di meja makan terdengar seperti suara seseorang mengetuk pintu rumahnya, tidak langsung berdiri ia memilih untuk diam sejenak dan mendengarkan lagi takut ia salah dengar.


Tok .. Tok.. Tokk. . Tokkk ..


Lagi, suara ketukan pintu itu terdengar kembali dengan sigap Tyara bangkit dari duduknya dan segera membuka pintu rumahnya.


Ketika ia membuka pintu ia mendapati seseorang yang sudah lama tidak ia temui, "Papa," Tyara tersenyum kecil.


"Kamu sendirian?" Tanya papanya sembari melirik ke dalam rumah Tyara karena Tyara membuka pintunya lebar-lebar.


Melihat sikap papanya Tyara menutup pintunya sedikit agar papanya tidak dapat melihat keadaan rumahnya, "Papa ngapain kesini?" Tanya Tyara balik bertanya.


Papanya tersenyum, "Papa cuma mau tau keadaan kamu aja, oh iya, Rei mana?"


"Dia lagi ke Bandung."


Papanya mengernyitkan alisnya bingung, "Ngapain?" Tanyanya kemudian.

__ADS_1


"Oma sakit, dia juga disuruh mama buat nyusul kesana," jelas Tyara.


Sedikit informasi, Omanya yang berada di Bandung ialah ibu dari mamanya Tyara. Sedangkan dari keluarga papanya Tyara berada di Tasikmalaya.


Papanya mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.


"Mau apa?" Tanya Tyara lagi.


"Papa mau menjelaskan, ah lebih tepatnya mau meluruskan masalah yang sebenarnya terjadi sama mama dan papa, atau lebih tepatnya masalah di keluarga kita." Jelas papanya.


Tyara hanya memasang wajah datar, "Udah gak ada yang perlu dijelasin lagi, Pah."


"Kamu salah paham, nak."


"Pah, ini udah malem dan Tyara juga udah ngantuk mau tidur, jadi lain kali aja ya bahasnya," ucap Tyara dengan wajah lelah.


Papanya menghelas nafas pelan, "Baiklah, nak kalau begitu. Lain kali kita bicarakan ini lagi, sekarang papa pamit dulu kamu istirahat ya maaf sudah ganggu kamu malam-malam." ucap papanya kemudian dan setelahnya ia pergi meninggalkan rumah Tyara.


Tyara menutup pintu rumahnya, dia bersandar pada pintu itu, "Tindakan gue udah bener, gak sih? Tapi, gue jadi ngerasa bersalah gini sama papa," dia diam sejenak.


"Eh tapi, kalo gue udah kasar kaya gitu nanti gak dikasih uang bulanan lagi, gimanaaa," lanjutnya kemudian.


Memang benar, mama papanya sudah bercerai tapi papanya tidak pernah melupakan tugasnya sebagai seorang ayah yang wajib menafkahi anaknya walaupun sudah bercerai dengan istrinya.


"Dih, apa sih, masih mikirin duit aje gue," lanjutnya lagi dan langsung bangkit dari posisinya untuk kembali ke dapur dan membereskan meja makan yang tadi sempat terganggu.


Setelah selesai membereskan meja makan, Tyara masuk ke kamarnya dan menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang kasur. Ia mencari-cari handphonenya yang disimpan diatas nakas.


Membuka aplikasi Instagram dan melihat-lihat story' Instagram teman-temannya yang sedang malam mingguan.


"Idih pada pamer sama pacarnya segala," celetuknya.


Ketika dia merefresh ulang, tiba-tiba saja akun Instagram yang bernama Azkazfrl membuat story'. itu adalah akun Instagramnya Azka, ia ragu untuk melihatnya soalnya sejak Azka pulang dari rumahnya dia belum menghubunginya lagi sampai sekarang.


Dengan ragu ia membuka story Azka, dan ketika ia membukanya terpampang foto sedang makan di tempat makan yang tidak asing baginya.



^^^Tyrprmstka :^^^


^^^Sama siapa?^^^


Setelah pesannya berhasil terkirim ia pun menunggu balasan dari Azka. Setelah menunggu beberapa saat, Azka membalasnya.


Azkazfrl :


Sendiri, beb.


Tyara mengernyitkan alisnya, 'Sendiri kok, porsinya dua,' pikirnya bingung.


^^^Tyrprmstka :^^^


^^^Yakin?^^^


Azkazfrl :


Iyaa


Tyara tidak merasa puas dengan jawaban yang diberikan oleh Azka.


^^^Tyrprmstka :^^^


^^^Sendiri, kok, porsinya dua?^^^


Lama ia menunggu tapi Azka tak kunjung menjawab pesannya. Setelah setengah jam lamanya Azka pun membalasnya.


Azkazfrl :

__ADS_1


Iya, ini sama si Diyas.


Diyas, oke. Setelah mendapat balasan dari Azka tentu saja Tyara masih belum puas dengan jawaban Azka, Akhirnya ia pun memberanikan diri untuk menghubungi Diyas dan memastikan kebenarannya. Entahlah, akhir-akhir ini dia tidak percaya dengan semua yang dibicarakan Azka.


^^^Yas? Lagi sama Azka?^^^


Tyara memilih menghubungi Diyas via WhatsApp, lama ia menunggu balasannya, Diyas pun akhirnya membalasnya.


Diyas :


Engga, Ra, kenapa?


Melihat pesan chat Diyas membuat Tyara yakin bahwa Azka telah membohonginya, dia tidak habis pikir kenapa Azka berani berbohong kepadanya padahal kalau pun Azka berkata jujur ia juga mungkin tidak akan marah, mungkin.


Diyas :


Kenapa emangnya, Ra?


Karena Tyara tidak membalasnya Diyas kembali mengiriminya pesan.


^^^Enggak, gapapa.^^^


Setelah dia membalas chatnua Diyas dia pun pergi ke balkon untuk mencari udara segar sekaligus memikirkan kenapa Azka berani membohonginya.


Ketika Tyara sedang berada di balkon ternyata Diyas kembali mengirimkannya pesan.


Diyas :


Dia lagi nemenin Luna makan, soryy, Ra.


Seharusnya Azka tahu bahwa Tyara sangat tidak suka dibohongi, bahkan tidak hanya Tyara manusia lain pun pasti tidak suka jika dibohongi seperti ini.


Cuaca malam ini sangat dingin dikarenakan habis diguyur hujan, suasananya sangat cocok untuk bergalau ditambah angin malam yang menerbangkan beberapa helaian rambutnya.


Tyara terus memikirkan apakah dia akan melanjutkan hubungannya dengan Azka atau dia menyerah saja, karena jika kita bersaing dengan orang lama sebucin apapun pasangan kita tetap orang lama lah yang menjadi pemenangnya.


Dia membuang nafasnya kasar.


"Emang Azka, geblek." ucapnya.


Sebenarnya, dia pun sudah lelah dengan hubungan yang dijalaninya ini semenjak kedatangan Luna kembali di kehidupan Azka, Azka jadi selalu mengutamakan Luna dibanding dirinya selalu Luna yang menjadi prioritas utamanya.


Apakah dia akan kuat menahannya?


Dia ingin sekali menyudahi semua ini, tapi rasa sayangnya terhadap Azka lah yang membuatnya mengurungkan niatnya untuk pergi meninggalkan Azka.


Ternyata benar peribahasa, sama kamu sakit tapi gak sama kamu jauh lebih sakit.


Tapi, apakah kita mau terus-menerus disakiti jika tetap bertahan pada hubungan yang toxic ini? Bukankah lebih baik kita meninggalkan hal yang membuat kita sakit walaupun awalnya sangat sulit bahkan menyakitkan tapi akhirnya membuat kita menjadi lebih tenang dibanding harus merasakan sakit terus-menerus.


Entahlah, terkadang rasa sayang membuat semuanya menjadi berantakan jika segalanya sudah tidak lagi sama.


Sudah satu jam lamanya ia berdiam di balkon dan angin malam pun semakin kencang serta semakin dingin, kulit tubuhnya seperti ditusuk-tusuk saking dinginnya, tak mau berlama-lama lagi ia pun memilih untuk masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu balkon.


Tyara melihat jam di dinding yang menunjukkan pukul satu dini hari, ah, rupanya sudah sangat malam. Ia kira masih sekitar jam sepuluh ternyata dugaannya salah tanpa berlama-lama lagi ia pun memilih untuk merebahkan tubuhnya di ranjangnya.


Tak lama kemudian ia sudah terlelap dan menjelajahi alam mimpi.


Satu pesan chat masuk,


Azka :


Sorry


Begitulah pesan singkat yang dikirim oleh Azka, oh, ya Tyara bahkan sudah mengganti display name Azka dikontaknya yang awalnya ia beri nama makhluk astral menjadi Azka saja.


***

__ADS_1


__ADS_2