
Happy Reading!
Maafkan kalau ada typo...
...*****...
...Tidak ada yang perlu dirubah...
...Kamu sempurna bagi siapa saja yang menyukaimu...
...*****...
Bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak beberapa menit yang lalu, namun gadis dengan rambut yang dijepit menggunakan jedai masih duduk manis di bangkunya sembari memainkan handphone. Teman-teman sekelasnya sudah berangsur-angsur pergi meninggalkan kelas, sehingga meninggalkan ia yang sendirian. Ia tetap fokus pada handphonenya tidak memperdulikan suara derap langkah kaki yang kian mendekat, hingga suara decitan kursi yang beradu dengan lantai memecah hening.
"Kenapa gak nunggu di parkiran aja? Emang gak takut sendirian di kelas?"
Tyara menoleh ke sumber suara dan mendapati Azka yang tengah duduk di bangku Yeni, rambut laki-laki itu terlihat berantakan. Kemudian tangan kirinya menopang dagu dan menatap lurus kepada Tyara.
Tyara mengalihkan pandangannya dan kembali menatap layar handphonenya, "nggak lah, daripada nunggu lo di parkiran terus gue kepanasan mending gue tunggu disini."
Azka menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, sebelah lengannya mendarat di dahi serta kedua matanya memejam sebentar, "terus lo masih mau disini? Gak mau pulang?"
"Bentar lagi."
Azka diam tak menjawab, demi mengusir rasa bosan ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan handphonenya. Detik demi detik terlewati begitu saja, hening menyapa dua insan yang sama-sama terhanyut ke dalam kegiatannya masing-masing. Hingga akhirnya sebuah helaan nafas terdengar mengudara bersamaan dengan umpatan kecil dari Azka ketika permainannya berakhir dengan kekalahan.
Tyara memasukkan buku-bukunya yang berserakan ke dalam tasnya, "Ayo," ujarnya sembari beranjak dari duduknya.
Azka mengangguk sembari memasukkan handphonenya ke dalam saku celana, lalu beranjak dari duduk kemudian berjalan dengan langkah yang lebar keluar kelas.
Tyara berdecak pelan ketika langkahnya tertinggal jauh dari Azka, ia pun berlari kecil, berusaha untuk menyeimbangkan langkahnya dengan Azka, "Jalannya pelan-pelan aja dong."
Azka berhenti berjalan lalu berbalik, "Ada apa sih, princess?"
"Jalannya pelan-pelan aja, gak usah cepet-cepet."
Azka mengangkat alisnya satu sembari memasukkan tangannya ke dalam saku celana, "Elo sih, yang jalannya kelamaan udah kaya putri keraton."
"Dih, kaki lo aja yang kepanjangan."
Azka menyetarakan tinggi badannya dengan Tyara yang hanya setinggi bahunya, "Dasar pendek," ujarnya.
Tyara menghempaskan tangan Azka yang berada diatas kepalanya, "Enak aja, badan lo aja yang ketinggian, lo makan galah ya bukan nasi jadinya begini deh hasilnya."
Setelah mengatakan itu, Tyara berjalan menjauh meninggalkan Azka. Melewati koridor yang sudah sepi tanpa penghuni, menuruni satu persatu anak tangga hingga sampai pada akhirnya kakinya menjejaki di lantai satu. Lalu, ia pun melangkah menuju parkiran sekolah ketika sampai di halaman depan sekolah, barulah Tyara melihat masih ada beberapa siswa dan siswi yang masih duduk-duduk di bawah pohon. Juga, dengan beberapa kendaraan roda dua yang masih berjejer.
Tyara membawa langkahnya menuju pos satpam ketika matanya sudah menangkap sosok Azka yang sedang berjalan ke arah parkiran. Ia memilih untuk menunggu Azka disana saja, ya, sekalian berlindung dari terik matahari.
Deru motor yang kian mendekat semakin terdengar jelas di telinganya, ketika motor itu berhenti di depannya, Tyara tetap diam pada posisinya bahkan ketika Azka menggerakkan dagunya menunjuk kearah jok belakang.
"Ngapain lagi? Buruan."
"Kirain lo bawa mobil," ujarnya sembari melangkah maju.
__ADS_1
"Anjir, kesannya lo kaya matre gak sih sekarang?" Pertanyaan Azka barusan membuat Tyara melayangkan tatapan tajam.
"Enak aja, motor lo kan tinggi terus gue juga kan pake rok, motor sama orangnya sama aja, sama-sama tinggi."
"Siapa suruh pake rok pendek," Azka mematikan mesin motornya terlebih dahulu lalu membuka resleting tas yang semula menggantung di pundaknya. Ia mengeluarkan sebuah Hoodie berwarna mocha dan menyerahkannya pada Tyara.
"Nih, tutupin rok lo pake ini."
"Pengertian banget sih kamu, mas."
Mendengar ucapan Tyara membuat Azka bergidik ngeri, Tyara melingkarkan lengan jaket itu pada pinggangnya lalu dengan bantuan pundak Azka sebagai pegangan, gadis itu berhasil mendaratkan tubuhnya di jok belakang.
****
Suasana hening dan penuh buku menyambut Tyara saat ia baru saja menginjakkan kakinya di dalam perpustakaan, awal masuk ke tempat tersebut, para murid pecinta buku alias kutu buku langsung berbisik-bisik seakan-akan Tyara tidak pernah memasuki perluasan. Dia pernah masuk ke dalam perpustakaan tapi itu saat dia kelas 10, dan tentu saja ia masuk kesana hanya karena sebuah tugas dari guru sejarahnya.
Tak ingin memusingkan hal itu ia memilih untuk berjalan santai seraya matanya melihat ke sekeliling mencari-cari tempat yang pas untuk ia jadikan singgasananya.
Ia tidak merasa tertarik sedikitpun saat melihat buku-buku yang berjejer rapi di rak-rak ini. Jangankan untuk tertarik membacanya, melihat perpustakaan saja Tyara sangat enggan, lantas untuk apa ia datang ke perpustakaan?
"Dimana, ya."
Kedua bola matanya masih mencari-cari tempat strategis, lalu matanya menangkap bangku panjang yang berada di sisi pojok ruangan yang tertutupi oleh rak-rak buku. Ia pun berjalan kearah bangku itu dan langsung mendaratkan tubuhnya, ia menghela nafas lega.
"Akhirnya gue bisa kabur juga dari jeratan monster utan," ujarnya sembari mencari-cari posisi yang pas.
Setelah mendapatkan posisi yang menurutnya nyaman, Tyara pun mengeluarkan handphonenya dan mulai menonton drama Korea yang sudah lama tidak ia tonton. Lama ia terhanyut ke dalam drama itu, tiba-tiba saja handphonenya diambil oleh seseorang.
"Woi!" ujar Tyara tanpa melihat siapa dalang dari pengambilan handphonenya.
Orang itu memasukkan handphone Tyara ke dalam saku celananya, "Kenapa lo malah disini?"
Tyara hanya diam mengacuhkan pertanyaan yang dilontarkan untuknya.
Lagi, orang itu kembali bertanya, "Kenapa malah disini? Cabut?"
"Enggak, Azka. Di kelas nggak ada guru, terus gue mau nonton drakor disana gak bisa, anak-anak pada berisik jadi mendingan gue lari kesini kan," sahutnya.
Azka menghela nafas pelan, kemudian ia duduk disamping Tyara dan memberikan kembali handphone itu kepada pemiliknya. Tyara yang bingung pun langsung mengambil handphone itu tanpa memperdulikan Azka yang kini tengah menatapnya intens.
Merasa diperhatikan, Tyara menoleh dan tatapan mereka beradu yang mana itu malah membuat Tyara menjadi salah tingkah dan langsung memutuskan kontak.
"Apa lagi?"
"Gak mau balik ke kelas aja?"
Tyara menggeleng pelan, "Nanti."
Ternyata Tyara menjadikan perpustakaan sebagai tempat pelariannya untuk menonton drama korea, dan yang dia maksud monster utan adalah Arva. Karena, Arva lah yang sengaja mengganggunya ketika ia sedang menonton dengan cara berteriak-teriak di samping Tyara.
Lama Tyara menonton sampai ia tidak sadar masih ada Azka yang setia duduk di samping menunggunya hingga ia tertidur. Tyara melirik sebentar lalu dia mempause tontonannya dan lamgsung memfoto Azka.
Ia tertawa kecil, sampai membuat sang pemilik foto itu membuka matanya perlahan. Azka diam menatap Tyara yang belum sadar karena asyik melihat hasil jepretannya.
__ADS_1
"Ngetawain gue lo, ya?"
Tyara menghentikan tawanya kemudian menoleh, "Nggak, pede banget sih."
Azka bangun dari posisinya yang bersandar pada tembok, "Udah istirahat, yuk ke kantin," katanya sembari matanya melihat jam tangan yang melingkar indah dipergelangan tangannya.
Tyara hanya mengangguk dan mengikuti Azka yang sudah berjalan lebih dulu di depan.
****
"Kita mau kemana? Kok gak belok?" Tyara menatap Azka yang tetap fokus memandang jalan di depan.
"Ke rumah gue," jawab Azka tanpa menoleh sedikitpun.
"Emang mau ngapain?"
"Ketemu bunda, udah lama gak ketemu kan sama bunda?" Azka balik bertanya.
Tyara mengangguk pelan, "Ketemu bunda doang nih?"
"Itu salah satunya."
Tyara tidak lagi membalas ucapan Azka, hingga lima belas menit lamanya mobil Azka berhenti di depan sebuah rumah bertingkat. Pagar hitam tinggi menjulang yang awalnya tertutup, dibuka oleh seorang satpam ketika Azka membunyikan klakson sebanyak dua kali.
Mobil Azka perlahan memasuki halaman yang luas, mata Tyara langsung disuguhkan oleh pemandangan yang memanjakan mata. Air mancur dengan beberapa patung angsa terletak disamping teras rumah, taman bunga dengan berbagai warna tumbuh subur di dekat air mancur. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya Tyara datang ke rumah Azka, dulu dia sudah pernah datang ke rumah Azka tapi tetap saja ia terpukau dengan keindahan air mancur dan taman bunga itu.
"Jangan bengong, kesambet patung angsa baru tau."
Tyara mendelik setelah sadar dari lamunannya, "Kalo ngomong sembarangan." Lalu ia mengedarkan matanya hingga menangkap tiga motor besar yang terparkir rapi di samping garasi serta satu mobil berwarna silver, yang ia yakini itu adalah mobil yang dia timpuk dulu.
Tyara meringis ketika mengingat kejadian itu, dia memperhatikan kaca bagian belakang mobil itu yang sudah tampak seperti baru kembali tanpa adanya goresan atau retakkan sedikitpun.
"Itu bukannya motornya Vano? Kok dia ada disini?" Tyara menunjuk salah satu motor berwarna merah itu.
Azka mengikuti tatapan Tyara, "Kebiasaan nih curut," ujarnya pelan.
Melupakan pertanyaan Tyara, Azka berjalan keluar mobil dan diikuti Tyara. Lalu, laki-laki itu menarik pergelangan tangannya.
Mereka berjalan melewati batu-batu kecil yang mengisi jalan setapak dari halaman depan sampai pintu utama, dengan lampu taman yang berdiri gagah di sepanjang jalan. Ketika dua remaja itu berhasil menjejakkan kaki di ruang tamu, tatapan Tyara langsung tertuju kearah sahabat-sahabatnya Azka. Vano dan Diyas yang saat ini sedang duduk santai di sofa. Bahkan dengan tidak malunya Diyas memangku toples camilan yang isinya sudah tinggal setengah.
"Eewh, adwaa cewwek cwantiks dwateng," ujar Diyas dengan mata berbinar bahkan dengan mulutnya yang masih dipenuhi camilan sampai ia tersedak.
Vano tertawa melihatnya, "Makanya kalo lagi makan itu jangan ngomong, lo mah begonya udah ke urat nadi sih, gue udah kasih tau berkali-kali."
Ucapan Vano barusan hanya dibalas dengan oleh Diyas, lalu tatapannya beralih kepada Azka tatkala laki-laki itu membuka suara.
"Lo udah lama disini?" Azka menjatuhkan dirinya diatas sofa, diikuti Tyara yang ikut duduk di sampingnya.
"Nggak, sih."
Azka mengangguk pelan, "Gue keatas dulu." Lalu tatapannya jatuh pada Tyara, "Gue tinggal dulu bentar, kalo nih anak macem-macem," ujar Azka sembari menunjuk Diyas. "Lo cekek aja, kalo aus minta ambilin sama Diyas."
"Jadi, selama ini Lo nganggep gue cuma sebagai babu? gue kira pertemanan kita..."
__ADS_1
Azka tidak menggubris ucapan Diyas, laki-laki itu melangkah lebar lalu menaiki anak tangga satu persatu. Bertepatan ketika punggung Azka menghilang dibalik pintu, sosok gadis berseragam SD muncul sembari berlari-lari kecil.
...*****...