ALUMNI HATI

ALUMNI HATI
20


__ADS_3

Jangan lupa di like terlebih dahulu sebelum membacanya ..


Happy Reading ..


......******......


...***Teruntuk hati yang pernah tersakiti,...


...jangan pernah berhenti untuk peduli***....


......******......


Terhitung sudah lebih lima kali iris mata hitam pekat itu melirik kearah jam dipergelangan tangannya, terdengar juga suara hembusan nafas yang lelah. Juga, kepalanya yang sesekali menoleh kearah pintu kelas yang terbuka dengan lebar berharap ada sebuah harapan yang datang kepadanya.


Sekali lagi, ia menghela nafas lelah, guna mengusir rasa bosan Tyara pun mengeluarkan handphonenya dari saku seragamnya. Ia melihat ada notifikasi chat masuk di handphonenya dan langsung membacanya.


Reii :


"Lo dimana?"


^^^"Di sekolah, Napa?"^^^


"Kok belom pulang?"


^^^"Iya, bentar lagi juga pulang"^^^


"Yaudah, cepetan pulang nanti keburu sore apa mau gue jemput?"


^^^"Gak usah, gue bisa pulang sendiri."^^^


"Y."


Tyara kembali memasukkan handphonenya ke dalam saku seragamnya, lalu gadis itu bangkit dari duduknya dan mulai berjalan keluar kelas, mulai menyusuri koridor ketika jam sudah menunjukkan pukul tiga sore.


Ketika kakinya sudah menginjak halaman sekolah ia berhenti sejenak, kemudian melanjutkan langkahmya menuju gerbang sekolah meninggalkan jejak yang membekas hingga waktu yang sangat lama.


Deru motor di jalan raya menyamarkan suara langkahnya diantara heningnya suasana sekolah. Embusan angin menerbangkan helaian rambutnya yang dibiarkan tergerai, ketika bola mata hitam itu membesar dan menangkap sesosok yang sedang duduk diatas motor tepat didepan gerbang sekolah dan tatapan mereka beradu.


Tyara buru-buru mengalihkan pandang ke sembarang arah, mendengus lalu kembali melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.


'pura-pura gak liat ajalah,' batinnya.


Padahal itu semua sia-sia ia lakukan, sebab orang yang ia hindari telah menyadari keberadaannya.


Ketika sudah sampai di halte bus ia langsung duduk di bangku sembari melepaskan tas yang menggantung di punggungnya dan menyimpan tas itu ke pangkuannya. Ia menoleh hingga mendapati seorang wanita paruh baya tengah tersenyum kearahnya, Tyara mengangguk sekilas dan balas tersenyum.


Lalu, matanya menatap lurus kearah jalan raya yang membawa kendaraan-kendaraan itu ke tempat yang diinginkan. Terkadang membawa tawa lalu pulang membawa luka, hingga suara klakson memecahkan konsentrasi Tyara dan membawanya kembali ke dunia nyata. Ia mengerjapkan matanya beberapa saat lalu menatap dalam diam sosok yang sedang duduk diatas motornya, bahkan ketika laki-laki itu hendak melepaskan helm fullfacenya.

__ADS_1


"Lo beneran gak ngeliat gue apa pura-pura gak ngeliat, sih?"


Haruskah ia berteriak bahwa ia memang sengaja pura-pura tidak melihatnya bahkan dia sangat tidak ingin bertemu dengan laki-laki itu saat ini.


Dari sudut matanya Tyara melihat Azka tersenyum miring, "perlu gue ulangin?" laki-laki dengan seragam yang sudah berantakan itu berdeham, "lo tau? Gue sama dia cuma sebatas ketua dan wakil gak ada hubungan lebih seharusnya lo ngerti, dan juga yang gue cinta sampe detik ini ya cuma elo."


Kali ini giliran Tyara yang tersenyum, "kalo pun elo punya hubungan lebih sama dia itu bukan urusan gue, kita gak ada hubungan apa-apa."


"Gak bisa gitu dong, enak aja."


Tyara mendelik, "gak bisa gitu gimana? Ya emang kita gak ada hubungan apa-apa kita cuma mantan."


"Oh, mau diperjelas?"


"Apaan, sih?! Mau lo tuh apa?!"


Azka menjawab santai sembari melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, "pulang bareng lo."


"Gak usah, gue pulang naik bus."


Azka mendengus, "waktu gue udah kebuang sejam gara-gara nungguin lo, terus ini balesannya? Lo tau kan gue paling gak suka sama orang yang bertele-tele, cepet naik."


Tyara membuang nafasnya kasar, lalu ia menoleh pada wanita paruh baya yang juga tengah menatapnya.


"Pulang aja nak, kayanya bus juga gak bakal lewat soalnya saya juga udah nunggu lumayan lama disini tapi masih gak ada, mungkin satu jam ke depan baru ada lagi yang lewat," ujar wanita itu sembari tersenyum.


Tyara tersenyum canggung, "terus kenapa ibu belum pulang?"


Tyara mengangguk untuk kalimatnya yang pertama tapi tidak untuk kalimat kedua, karena merasa sudah tidak ada pilihan lain Tyara pun beranjak bangun dari duduknya. Ia melempar senyum pada wanita itu yang juga dibalas senyuman serta anggukan kepala, lalu ia berjalan ke sisi motor Azka dan menerima tawaran helm dari laki-laki itu.


"Pake, jangan sampe gue ditilang polisi gara-gara boncengin lo."


"Padahal tetep bakalan ditilang kalo ketauan polisi," ujar Tyara sembari mengaitkan pengait helmnya.


"Kenapa?"


"Emang anak dibawah umur boleh ngendarain kendaraan?"


Azka tersenyum mengejek bertepatan dengan Tyara yang mendaratkan bokongnya diatas jok motornya, "umur gue udah legal, santai."


Setelah berhasil membungkamnya, Azka menghidupkan mesin motornya, sebelum benar-benar pergi Azka menghidupkan klakson sekali lalu membawa kendaraan roda dua itu berbaur dengan bersama kendaraan-kendaraan yang lain berlomba untuk sampai di tempat tujuan dengan cepat.


Apa kalian tau, hal apa yang membuat Tyara marah dan cemburu seperti ini?


Yap, tentu saja ulah dari nenek lampir itu, Aliya si wakil ketua Osis yang hobinya mengganggunya setiap hari. Buktinya hari ini dia sudah mengacaukan hari Tyara dengan cara menarik paksa Azka ketika mereka sedang istirahat bersama dengan alasan dia bosan makan dikantin sendirian.


Dan tentu saja Azka menolaknya dengan mentah, tapi bukannya nenek lampir itu pergi justru dia malah mengaitkan lengannya pada lengan Azka dan membuat Tyara pergi meninggalkan mereka berdua.

__ADS_1


****


"Tyara! Makan malam dulu, ayo!"


Teriakan mamanya dari lantai bawah terdengar menggema hingga ke kamar Tyara, membuat sang empunya mau tidak mau harus menghentikan aktivitasnya.


Tyara meraih ikat rambutnya yang berada diatas nakas, menguncir rambutnya asal lalu menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa.


"Hati-hati, sayang," mamanya memperhatikan Tyara sampai gadis itu duduk di kursi tepat dihadapannya, "kamu udah mandi kan?" tanyanya sembari memberikan piring berisi ayam goreng.


"Udah, kok," Tyara tersenyum kecil saat melihat hidangan yang ada dihadapannya indera penciumannya menangkap bau yang berasal dari makanan diatas meja, "wahh.. Harum, pasti enak banget nih soalnya kan masakan mama mah gak pernah ngecewain."


Rei mencibir, "emangnya elo gak bisa masak."


"Heh, gue bisa ya masak."


"Masak apa coba?" ujar Rei menantang.


"Masak telor goreng sama mie instan," sahut Tyara sombong.


Rei hanya mendengus mendengar jawaban dari adiknya itu sedangkan mamanya hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah dari anak pertama dan keduanya.


"Udah, sekarang makan, gak usah ngomong lagi," ujarnya sembari menyendokkan nasi serta lauk pauk ke piring Tyara.


Tyara mengangguk antusias sembari menerima piring dari mamanya, sebelum suapan pertama masuk ke dalam rongga mulutnya, kakaknya Rei kembali berucap.


"Tadi pulang sama siapa?"


Tyara melirik kearah sumber suara, "pulang bareng Azka."


"Oh.... Pantesan, gue nawarin pengen dijemput apa gak tapi ditolak ternyata sama Azka," ujar Rei sembari menganggukkan kepalanya.


"Ih, gak gitu, dianya yang maksa-maksa padahal ya gue udah tolak mentah-mentah."


"Tolak mentah-mentah apa terima mateng-mateng?" tanya Rei yang membuat Tyara bingung.


"Maksudnya?"


"Udahlah, capek ngomong sama orang yang IQ nya dibawah rata-rata," ujar Rei sembari menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


"Lo ngomong apa sih, njir?"


"Husshh, gak boleh gitu sama Rei."


Rei yang merasa dapat pembelaan pun menjulurkan lidahnya, sedangkan Tyara hanya memutar bola matanya malas.


"Udah, sekarang lanjutin makannya gak usah ngomong terus."

__ADS_1


Mereka berdua mengangguk bersamaan dan suasana di meja makan pun menjadi hening yang terdengar hanya suara denting sendok yang saling beradu.


...*******...


__ADS_2