ALUMNI HATI

ALUMNI HATI
19


__ADS_3

Jangan lupa di like dan juga dikomen yaa biar semakin semangat updatenya..


...******...


...**Terkadang, kepedulian itu gak harus melulu tentang saling bertukar kabar....


...Tapi, memantau dari jarak jauh tanpa diketahui pun sudah bisa dimaksud sebagai bentuk dari kepedulian yang sesungguhnya**....


......******......


Sesampainya di bioskop lagi-lagi Azka berbuat ulah tentu saja hal itu membuat Tyara langsung bete habis-habisan.


"Elo tuh kenapa nyebelin banget sih? Kenapa gak pas dirumah gue tadi coba? Tau ah, kesel banget gue sama lo."


Mendengar Tyara yang terus saja marah membuatnya tidak tahan dan langsung pergi entah kemana.


"Dih, si kampret ya bener-bener malah ninggalin gue."


Tau apa yang membuat Tyara sampai marah dan bete seperti itu? Tiba-tiba saja ketika baru sampai Azka bilang kepada Tyara kalau perutnya tiba-tiba mules. Tentu hal itu membuat Tyara langsung mencak-mencak memarahinya sedangkan yang dimarahi tadi hanya bisa jongkok sembari memegangi perutnya.


Dan itu pun menjadi tontonan para pengunjung yang ada disana membuat Tyara menjadi malu dan mengajak Azka ke pojok bioskop barulah disana ia bisa puas memarahinya.


Tyara terus-menerus menelfon Azka tapi tidak kunjung diangkat olehnya, "sumpah ya dia tuh bisa gak sih sehari aja bikin gue seneng gak bikin gue naik darah terus."


Ia mengotak-atik handphonenya dan memspam chat Azka entah udah berapa kali dia menghubungi makhluk satu itu tapi tak kunjung juga dapat balasan.


Ketika ia sedang menahan emosinya tiba-tiba saja ada yang menepuk bahunya pelan, Tyara menoleh dan langsung memasang wajah datar.


Azka terkekeh melihat Tyara yang seperti itu.


"Gak usah cengar-cengir lo, gue lagi marah sama lo," ucap Tyara penuh emosi.


"Iya iya maaf, abisan tadi perut gue mules banget tau Ra, masa lo tega biarin gue cepirit di celana kan gak lucu cowok seganteng gue cepirit dicelana."


Tyara hanya mengangkat alisnya satu, "terus? Ini kita akhirnya jadi nonton apa kaga nih gue tanya."


Azka menepuk keningnya pelan, "oh iya! Yaudah ayo kita langsung masuk aja deh yuk."


"Berasa bioskop sendiri lo," ucap Tyara dan langsung memberikan tiketnya kepada petugasnya.


Setelah selesai menonton Tyara pergi ke toilet sebentar sedangkan Azka menunggunya diluar bioskop. Ketika sudah selesai Tyara pun berjalan keluar untuk menghampiri Azka tapi langkahnya terhenti ketika ia melihat seseorang yang menggunakan hoodie hitam, topi hitam serta masker berwarna hitam.


"Anjir, ada artis Korea," celetuknya asal.


Ia pun berniat untuk menghampiri orang itu , ketika sudah hampir dekat orang itu menolehkan kepalanya dan mereka saling tatap. Tyara terdiam ketika melihat sorot mata tajam dari orang itu, dia memandangi orang itu dengan seksama.


"Kok, kaya... Azka?" pikirnya.


Dia mengerjapkan matanya beberapa kali untuk memastikan tapi ketika Tyara hendak kembali berjalan mendekat orang itu menurunkan topinya agar menutupi wajahnya dan melangkahkan kakinya pergi menjauh.


Tyara berhenti dan kembali terdiam, "Masa iya si kampret satu itu punya kloningan?"


Sembari terus berjalan pikirannya tetap tertuju kepada pria yang dilihatnya tadi sampai dia tidak sadar kalau dia sudah berada tepat di hadapan Azka yang sedang memandanginya bingung.


"Kenapa lo?" tanya Azka.


Tyara tersentak kaget, "hah? Eng... Enggak papa kok."

__ADS_1


Azka memicingkan matanya, "masa? Lo kenapa anjir udah kaya abis dikejar zombie lo, sawan ya?"


"Sawan gara-gara lo," Tyara nyelonong pergi meninggalkan Azka yang terdiam melongo.


****


Terlihat seorang pria yang sedang duduk di bangku koridor rumah sakit menggunakan hoodie hitam serta topi hitam yang sudah dilepasnya.


"Gue gak sengaja ketemu dia tadi."


"Maksud lo?" tanya pria yang satunya.


"Iya, kita papasan dan dia tiba-tiba kaya diem gitu pas ngeliat gue," dia memainkan handphonenya.


"Terus gimana? Dia tau lo siapa?"


Pria berhoodie itu menggelengkan kepalanya, "padahal gue udah nyoba buat jaga jarak supaya gak ketauan sama dia eh dia malah ada di belakang gue."


"Yaudah, sekarang lo istirahat diranjang lo jangan mikirin apa-apa dulu nanti malah bikin tubuh lo drop lagi."


Pria berhoodie hitam itu mengangguk dan bangkit dari duduknya untuk masuk dan beristirahat di dalam.


****


"Udah kali Ra, difoto aja catatannya kan nanti juga bisa disalin dirumah."


"Nggak mau ah, ntar kalo gue foto ujung-ujungnya cuma jadi koleksi di galeri hp gue doang, jadi mendingan gue kelarin aja sekalian disini," sahut Tyara dengan mata yang masih terfokus pada papan tulis.


Ia terus menulis dengan mata yang tetap fokus kearah papan tulis tanpa peduli tulisannya seperti apa dibuku.


"Nyatet sih nyatet, emang bisa kebaca tulisannya kalo naik turun kaya gitu?" tanya Yeni yang semakin dibuatnya bingung.


"Astaga Yeni! Kenapa baru bilang?" Tyara berteriak histeris sampai beberapa murid yang masih berada di kelas menoleh kearahnya.


"Ya gimana mau bilang kalo daritadi sahabatku yang cantik ini gak mau peduli sama sekitarnya," ucap Yeni gemas.


Tyara mencembikkan bibirnya, "tetep ingetin dong Yen, terus ini gimana dong percuma kalo gak bisa kebaca juga," ucap Tyara panik.


"Gak usah dicatet aja, kaya gue dong gak pernah nyatet," sahut Arva dengan bangganya.


"Itu kan elo, pokoknya sekarang catatan gue gak boleh ada bolongnya, gimana nih?"


Arva hanya menghendikkan bahunya acuh sedangkan Yeni hanya tersenyum tipis dan berdiri dari duduknya.


"Gue pulang duluan ya, lo sama Arva aja tuh. Va, lo temenin ya si Tyara sampe kelar," ucap Yeni sembari tertawa dan berjalan pergi meninggalkan kelas.


Arva menatap Yeni melongo, "anjrit.. Woi!" dia bersandar pada bangku yang ditempatinya.


"Tyara menatap Arva penuh harap sedangkan yang ditatap hanya memasang wajah datar.


"Ishh, terus sekarang gimana?"


"Ya mau gimana lagi, tinggal tulis ulang aja kok repot."


"Gila lo ya, capek gue kalo harus nulis ulang."


Arva pun mengambil handphone Tyara yang berada tepat disampingnya dia langsung berjalan ke depan papan tulis dan langsung memfoto catatan uang ada di papan tulis itu.

__ADS_1


Tyara yang melihatnya hanya melongo, setelah selesai Arva kembali duduk di bangkunya dan mengembalikan handphone itu kapada sang pemiliknya.


"Gitu aja kok repot," ucapnya santai.


"Iihh, nanti yang ada cuma jadi koleksi di galeri gue doang," sahut Tyara sembari memeriksa hasil fotonya, "tapi oke juga lo ngefotonya gak ada blur."


Mendengar itu Arva langsung menepuk dada bidangnya, "iyalah apa sih yang gak gue bisa," sahutnya sombong.


"Mau tau apa yang lo gak bisa?"


Arva mengangguk pelan.


"Cari cewek," ucap Tyara setelah mengatakan itu dia langsung membereskan barang-barangnya dan pergi meninggalkan Arva dengan wajah mengenaskan.


"Sialan," ucap Arva dan langsung mengejar Tyara yang sudah berada diluar kelas.


Arva mengantar Tyara pulang, dan di sepanjang perjalanan pulang yang mereka bahas hanyalah seputar hal-hal yang tidak penting. Arva menghentikan motornya tepat di depan gerbang rumah Tyara.


"Mau mampir dulu gak, Va?"


Arva memandang kearah atas melihat cuaca yang mendung dan sepertinya tidak lama lagi akan turun hujan, "enggak dulu deh, Ra, kayanya mau ujan nih gue mau langsung pulang aja takut kehujanan ntar kegantengan gue jadi luntur."


"Idih najis," Tyara memasang wajah geli, "yaudah sana makasih ya udah mau nganterin gue," lanjutnya.


Arva hanya menganggukkan kepalanya dan menutup kaca helmnya setelag pamit dia langsung menancap gas dan melesat pergi.


Setelah kepergian Arva, Tyara langsung membuka pintu gerbang rumahnya dan masuk ke dalam.


"Tumben gak sama Azka," ucap seseorang tiba-tiba.


Tyara berjengit kaget mendengarnya, "bisa gak sih gak usah ngagetin gue kaya gini."


"Lah, elonya aja yang kagetan mulu."


"Maaaa! Kak Rei nih gangguin Tyara!" teriak Tyara memanggil mamanya.


"Dih, dasar tukang ngadu," ucap Rei dan langsung pergi meninggalkan Tyara yang memandangnya dengan wajah songong.


Malam harinya, Tyara masih memikirkan kejadian kemarin malam di bioskop ia memikirkan pria berhoodie hitam itu menerka-nerka siapa gerangan pria dibalik masker itu.


"Masa iya si Azka punya kembaran? Kalo iya masa gue gak tau," ucapnya dengan tangan yang menempel pada dagunya.


"Yen, Lo tau gak Azka punya kembaran atau nggak?"


Tyara memutuskan untuk bertanya pada Yeni melalui pesan chat.


Lama menunggu balasan pesan dari Yeni Tyara memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di atas kasur kesayangannya. Tidak lama kemudian Yeni membalas pesannya,


"Lo tau darimana?"


Tyara mengernyit kebingungan, "apa sih? Kan gue nanya."


"Gue nanya sama lo, Lo tau Azka punya kembaran apa nggak?"


"Gak tau, satu Azka aja udah pusing apalagi ada dua Azka apa gak meledak pala lo nanti?"


Membaca balasan dari Yeni membuat Tyara terkekeh, 'iya juga ya' pikirnya.

__ADS_1


Ia memutuskan tidak membalas pesan itu dan memilih untuk tidur saja karena memang ia sudah mengantuk sedikit. Siapa kira-kira pria berhoodie hitam yang terus saja menganggu pikirannya, apakah memang benar Azka mempunyai kembaran atau...


__ADS_2