ALUMNI HATI

ALUMNI HATI
Rindu


__ADS_3

 


Rindu itu menyesakkan


 \*\*\*\*


Tyara duduk diatas kasurnya, dia membuka album foto yang tadi diambilnya, melihat lembar demi lembar foto itu.


Tiba-tiba saja dia merindukan seseorang yang ada di dalam album foto itu, album foto yang sangat dia jaga agar fotonya tidak rusak, album foto yang selalu dia sembunyikan dari siapapun bahkan dari seseorang yang ada di foto itu.


Ia mengusap foto itu, dia menatap sendu. Rasa rindunya semakin menguasai, tiba-tiba saja setetes air mata jatuh tepat di foto itu.


"Gue rindu lo" dia menghapus bekas jejak-jejak air matanya.


"Kok gue ngerasa kalo lo bakal ninggalin gue ya?."


Tyara menutup album foto itu dan kembali menyembunyikannya.


Di lain tempat, seseorang sedang berdiri bersandar di motornya yang terparkir di sebuah pohon besar yang tidak jauh dari rumah Tyara.


Seseorang itu mengetikkan sesuatu di ponselnya dan mengarahkan ke telinganya.


"Gimana?" Matanya tetap fokus ke arah balkon kamar Tyara.


"Beres"


"Oke"


Setelah mengakhiri telfonnya dia memasukkan kembali ponselnya ke saku jaket dan menaiki motornya untuk bergegas pergi.


***


Pada pukul tiga dini hari Tyara terbangun dari tidurnya, tenggorokannya terasa sangat kering. Karena air yang biasa dia simpan di meja kamarnya sudah habis akhirnya dengan sangat terpaksa dia harus pergi ke dapur untuk mengambilnya.


Setelah mengambil minum Tyara kembali lagi ke kamarnya, dia ingin kembali tidur tapi matanya sudah tidak bisa diajak tidur. Alhasil dia memilih untuk memainkan game di ponselnya.


Lama Tyara sibuk dengan gamenya itu ternyata waktu sholat subuh sudah tiba. Ia menyimpan ponselnya dan bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan sholat.


Ketika jam sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi, Tyara mengganti pakaiannya dan memakai sepatu berniat untuk jogging.


"Tumben"


"Iyadong, biar sehat." Tyara mencium punggung tangan mamanya dan pamit untuk berangkat joging, biar berkah jogingnya makanya dia pamit terlebih dahulu.


Tyara joging di sekitaran taman dekat kompleknya, dan ketika dia hendak beristirahat di bangku taman disana dia melihat seorang cowok sedang bersandar di bangku taman dengan mata yang terpejam.


"Azka?"


Cowok yang di panggil Azka pun membuka matanya, "ngapain? Abis joging juga?" Lanjut Tyara.


"Hmm"


"Gue duduk disini ya"


"Hmm"


"Lo kenapa, sih, akhir-akhir ini kaya ngejauh gitu dari gue?" Tyara bertanya, dia menatap lurus ke depan.

__ADS_1


Tak kunjung mendapatkan jawaban dari bibir Azka Tyara kembali bertanya,


"Gue ada salah?" Aduh, kenapa Tyara dilahirkan menjadi cewek yang tidak peka.


Belum sempat Azka menjawab pertanyaan Tyara tiba-tiba saja ponsel Azka berdering menandakan ada panggilan masuk.


"Iya?"


"...."


"Oke, saya segera kesana sekarang."


Azka mematikan panggilannya dan segera melenggang pergi tanpa menjawab pertanyaan Tyara.


Tyara yang melihatnya pun hanya menghembuskan nafasnya. Dia terdiam dan mencoba untuk mengingat-ingat kejadian beberapa hari yang lalu. Setelah dia berhasil mengingatnya, dia membelalakkan matanya.


"*****, kan gue yang nyuruh dia buat jauhin gue." Ucapnya sembari menepuk dahinya pelan. "Lu beneran jauhin gue? Jahat banget, gak ngerti kamus cewek apa." Lanjutnya.


**Kamus cewek :



Kalau dia bilang Jauhin gue, itu artinya Selalu disamping gue.


Kalau dia bilang Gue bisa sendiri, itu artinya Gue gak bisa tanpa lo.


Kalau dia bilang udah lama ya kita gak ketemu, itu artinya Gue kangen lo bisa kita ketemu sekarang?



Dan masih banyak lagi**.


Tyara menjambak rambutnya frustasi, "gue gak sepenuh hati ngomong kaya gitu."


Yeni menghela nafas pelan, "gini deh" dia membenarkan posisi duduknya "coba lo tanya sama hati lo, maunya apa."


Seusai joging tadi Tyara memang berkata kepada Yeni bahwa dia akan bertamu ke rumahnya sekaligus untuk curhat.


Tyara menaikan kedua alisnya bingung, "oke!" Dia berdiri dan beranjak ke depan cermin besar yang ada di kamar Yeni, "hati? Coba deh kasih tau gue, mau lo apa?"


Yeni memutar kedua bola matanya, "jadi cewek jangan ****-**** amat kenapa pantes Azka mutusin lo."


Tyara cemberut mendengar ucapan Yeni, "Terus gue harus gimana?"


"Ya ikutin kata hati lo lah."


"Gue yang punya hati aja bingung ini hati maunya gimana."


"Gak tau ah" jawab Yeni frustasi dan dia pun memilih untuk memainkan ponselnya.


Lagi dan lagi Tyara hanya bisa cemberut, "jadi temen gak ngebantu banget sih elah," niat hati ingin curhat tapi malah di kacangin seperti ini.


***


Seseorang sedang berjalan di sebuah koridor rumah sakit, dia mendapat kabar dari pihak rumah sakit bahwa sudah ada perkembangan. Semakin lama dia semakin mempercepat langkahnya.


Ketika sampai di depan pintu ruangan ICU dia menghentikan langkahnya sejenak sebelum akhirnya meraih kenop pintu dan membukanya.

__ADS_1


Di dalam sana sudah ada seorang dokter serta suster yang sedang memeriksa pasien yang sedang terbaring lemah.


"Gimana, dok?"


Dokter itu menghela nafas pelan, dia menggeleng, "saya berpikir dia akan segera sadar, tapi ternyata tidak. Yah, setidaknya sudah ada perkembangan walau tidak terlalu signifikan kita berdoa saja semoga dia bisa segera siuman." Dokter itu pun pamit untuk pergi dan melayani pasien lainnya.


Orang itu mengacak rambutnya frustasi, dia menghampiri seseorang yang terbaring lemah, "lo tidurnya nyenyak banget ya, sampe gak mau bangun gini."


"Tadi gue udah seneng kalo lo bakal bangun, dan tugas gue bakal selesai." Menunduk dan menahan air matanya, dia tidak boleh lemah.


"Tapi, yaudah deh, kalo lo masih pengen tidur mah gak apa-apa, tapi jangan lama-lama." Lanjutnya sembari bangkit berdiri dan duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


Pintu ruangan ICU tiba-tiba terbuka, menampilkan sosok laki-laki dengan nafas yang tersengal-sengal. Dia berhenti sejenak di daun pintu untuk mengatur napasnya dan menutup pintunya kembali.


"Lo kenapa?"


"Gue lari, tadi pas di koridor gue ketemu Arva dia nanya gue ngapain disini, mau jengukin siapa hampir aja gue keceplosan."


Dia berjalan kearah ranjang rumah sakit yang di tempati oleh seseorang, "masih belum ada perkembangan?"


Orang yang duduk di sofa menggeleng, "nyokap bokap juga masih belum tau, mereka lagi ngurusin masalah perusahaan yang ada di london gue gak mau nambah beban mereka."


"Yaudah, sekarang kita doain aja semoga dia cepet bangun."


***


Tyara merogoh isi tasnya mencari-cari buku pr biologinya, namun sedari tadi buku pr yang ia cari tak kunjung ditemukan. Atau jangan-jangan.....


"*****"


"Kenapa Ra?" tanya Yeni kaget serta Arva yang ikut kebingungan mendengar celetukan Tyara.


"Buku pr biologi gue ketinggalan."


Yeni menepuk dahinya dan Arva meletot serta mulutnya yang terbuka kaget.


"Siap-siap dah lo kena hukum."


"Duhh, terus gue harus gimana ini." Tyara mengacak rambutnya frustasi.


Dia menatap Yeni kemudian Arva, tapi mereka berdua serentak menggeleng tak tahu. Tyara menghembuskan nafas, pasrah sajalah.


"Siapa yang belum mengumpulkan pr?" tanya Bu Dira sembari melihat seisi kelas.


Tyara mengangkat tangannya ragu, kali ini dia cuma bisa pasrah saja.


"Maaf, Bu. Buku saya ketinggalan di rumah."


**


"Tahan Tyara, tahan. Masa gini aja lo nyerah kemarin-kemarin dihukum sama si ketos aja santuy masa cuma disuruh berdiri di depan tiang bendera aja lemah." ucapnya menenangkan dirinya sendiri.


Tyara tersentak merasakan pipinya ditempelin air dingin oleh seseorang, lantas dia pun menoleh ke arah orang yang menempelkan air dingin itu.


Tyara mengerutkan dahi, "lah? ngapain lo?"


"Ngasih lo minumlah, buta?" Azka menyodorkan botol minuman dingin itu ke tangan Tyara kemudian beranjak pergi meninggalkan Tyara.

__ADS_1


Tyara masih bingung dengan perlakuan Azka yang tiba-tiba datang memberinya minuman dan langsung pergi begitu saja.


Malas mengambil pusing ia pun meminum minuman itu hingga habis.


__ADS_2