ALUMNI HATI

ALUMNI HATI
23


__ADS_3

Happy Reading!!!


......******......


...Perihal kecewa sering terjadi karena kita terlalu menaruh harap kepada manusia....


......******......


Tyara menatap pantulan dirinya di depan cermin, kaus hitam berlengan pendek yang di padukan dengan cardigan rajut broken white serta celana jeans hitam yang melekat pas ditubuhnya. Ia meraih handphonenya, kembali membaca percakapan dengan Azka siang tadi, beberapa jam yang lalu laki-laki itu mengatakan akan mengajaknya keluar malam ini karena ada hal serius yang harus dibicarakan.


"Ra! Cepetan turun, si Azka udah nungguin tuh!" Teriak Rei dari lantai bawah.


Tyara menarik sudut bibirnya menciptakan senyum tipis, ia meraih slingbagnya lalu menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa. Ketika berhasil menjejaki kakinya di lantai bawah, Tyara menghampiri Rei yang berdiri di dekat sofa.


"Anjay, cantik amat ade gue," ujar Rei sembari mengusap-usap puncak kepala Tyara.


"Ihh, jadi berantakan lagi rambut gue!" Omel Tyara sembari kembali merapikan rambutnya.


Lalu, tatapan Rei jatuh pada sosok Azka yang sedang duduk di sofa, "Yaudah, sana jalan ntar keburu kemaleman. Titip nih bocah ya kalo nyusahin buang aja ke laut," ujarnya diakhiri dengan kekehan. Sedangkan Azka hanya membalasnya dengan anggukan juga tawa kecil.


Mereka berdua pun pamit kepada Rei dan langsung berjalan keluar rumah, hawa dingin langsung menyusup ke dalam pori-pori ketika mereka berhasil menjejaki kaki di teras.


"Mau kemana nih?" Tanya Tyara menatap Azka yang berjalan disampingnya.


Tyara memandangi mobil yang dibawa oleh Azka, terlihat berbeda lalu ia pun memberanikan diri untuk bertanya, "Kok mobilnya beda?"


Azka melirik Tyra sebentar sebelum akhirnya menjawab, "Kaca mobil gue yang belakangan retak ditimpuk batu sama orang gila," sahut Azka sembari membukakan pintu penumpang untuk Tyara.


"Kok bisa ditimpuk sih?" Tanya Tyara setelah Azka sudah berhasil duduk di bangku kemudi.


"Emang gak jelas tuh orang gila," sahut Azka sembari memasang seatbelt, "tapi kayanya sih gue kenal tuh siapa yang nimpuk," lanjutnya sembari melirik kearah Tyara.


Mendengar Azka berkata seperti itu seketika membuat tubuhnya langsung menegang, ia pun hanya diam membisu. Di sepanjang perjalanan hanya keheningan yang menyelimuti mereka, tidak ada yang berbicara ataupun memulai pembicaraan mereka sibuk dengan pikirannya sendiri.


Tak lama kemudian, mobil mereka berhenti di pinggir jalan, tanpa sadar Tyara berdecak kagum ketika matanya menatap puluhan bohlam yang digantung di sepanjang jalan setapak. Lalu, pinggir jalan setapak itu dipenuhi oleh pedagang yang membentangkan lapak terjejer dengan rapi, dengan masing-masing bangku panjang yang berada di sekitar lapak mereka.


Tyara menoleh pada Azka yang ternyata sedang menatapnya, "kita turun disini?"


Azka berdeham pelan, "Lo turun duluan aja, gue mau parkir mobil dulu bentar," ujarnya dan dibalas anggukan kepala oleh Tyara.


Lalu, ia pun melangkah keluar mobil dan bergabung bersama puluhan orang yang memenuhi jalan setapak itu. Ia mengedarkan pandangan dan melihat beberapa anak kecil yang sedang berlarian sembari memegang permen kapas. Sementara para remaja yang lain mengisi beberapa bangku yang berada di sekitar pedagang, menikmati berbagai macam jenis makanan dengan pemandangan langit malam yang dihiasi kembang api.


Hingga tepukan di pundak kirinya menyadarkan Tyara, ia berbalik dan menatap Azka yang berdiri dihadapannya.


"Ayo jalan."


Tyara mengangguk, mengikuti langkah Azka yang lebar, "mau ngomongin apaan sih?" tanyanya sembari berusaha mengimbangi langkah Azka.


"Nanti, kita jalan-jalan aja dulu."


Tyara hanya diam tak menjawab lagi, karena langkah kaki Azka yang lebar dan Tyara mau tak mau harus mengikutinya, keduanya berhasil sampai di depan pintu masuk dengan cepat. Untuk kedua kalinya Tyara kembali dibuat kagum ketika matanya menangkap beberapa wahana permainan anak-anak maupun orang dewasa. Terlebih lagi ketika gemerlap lampu warna-warni dari bianglala yang tengah berputar.


"Ah, udah lama banget gak ke pasar malam," ujar Tyara sembari mengedarkan pandangan. Matanya berbinar indah, sedangkan mulutnya tak henti-hentinya berdecak kagum.


"Lo mau naik apaan?"


"Katanya mau ngomong sesuatu?" tanya Tyara.


"Ya nanti, Lo mau naik apaan?" Azka kembali bertanya.


Tyara mengedarkan pandangan, "gue mau naik bianglala," ujarnya sembari menunjuk wahana yang berbentuk lingkaran.


Azka mengangguk lalu menyeret langkah menuju tempat pembelian tiket, setelah berhasil mendapatkan dua buah tiket kemudian mereka pun berjalan menuju pintu masuk wahana bianglala itu. Lalu menyerahkan tiket itu kepada bapak penjaga yang menunggu di dekat pintu masuk.


Rasanya campur aduk, terlebih lagi ketika keranjang yang ditempati Tyara dan Azka berhenti diatas puncak. Tyara memejamkan matanya sejenak sebelum akhirnya mengedarkan tatapan, menikmati kelap-kelip lampu kota dari atas bianglala.

__ADS_1


Ia menunduk dan sedikit terkekeh ketika menyadari manusia-manusia dibawah sana bagaikan semut jika dilihat dari atas.


"Lo gak takut?" tanya Azka basa-basi.


Tyara mendongak, menatap Azka yang duduk dihadapannya kemudian menggeleng kecil, "Nggaklah, ngapain juga takut kan gue juga udah pernah naek ini."


Azka tidak merespon, lalu ia mengedarkan pandangan melihat kelap-kelip lampu kota.


"Jadi, Lo mau ngomong apa sama gue?" Dilihatnya tubuh Azka yang sedikit menegang tapi hanya sepersekian detik.


Azka hanya diam tak menjawab.


"Heh, makhluk astral," ujar Tyara sedikit kesal.


Azka menoleh dan mengangkat alisnya satu.


"Apaan?"


Dilihatnya pria itu menghela nafas pelan, "tapi lo harus janji sama gue buat gak motong ucapan gue."


That mengernyit bingung, "Emang apaan?"


"Udah ikutin aja kata-kata gue, oke?"


Tyara menganggukkan kepalanya dengan bingung, "Iyaa."


"Sebenernya Azka itu punya kembaran..."


Belum sempat ia melanjutkan kata-katanya Tyara sudah memotongnya lebih dulu, "Heh? Gimana, gimana? Coba jelasin, Azka punya kembaran? Lah, elo kan Azka?"


Azka memutar bola matanya malas, "Kan gue udah bilang, jangan dipotong dulu sebelum gue ceritain semuanya ke elo."


"O-okee."


"Oke, gue lanjut. Jadi sebenernya Azka itu punya kembaran, nah gue kembarannya Azka nama gue Izki...."


"Udah gue bilang jangan motong pembicaraan gue, biar gue yang jelasin semuanya ke elo biar gak ada kesalahpahaman," Tyara mengangguk mengerti. "Gue sama Azka kembar identik, bahkan nyokap bokap kita pun dulu sering banget salah ngira. Oke langsung aja ke intinya, Azka sekarang ada dirumah sakit," Izki menghentikan ucapannya untuk melihat respon Tyara.


Sedangkan Tyara hanya diam membisu dan memasang wajah tak percaya, "Dia kecelakaan sehabis nganter lo pulang yang bikin dia kecelakaan itu gara-gara dia nelfon gue terus ceritain semua yang lo ucapin ke dia waktu itu, dia tuh bego udah tau kalo bawa mobil gak boleh sambil nelfon apalagi pas keadaan dia lagi kacau..."


"Tunggu, tunggu, lo bilang dia kecelakaan sehabis nganterin gue pulang? Terus, emang gue ngomong apa ke dia?"


"Lo minta ke dia buat jauhin lo, iya kan? Lo inget gak kalo pernah ngomong kaya gitu?"


Tyara mengernyit bingung, ia terdiam untuk mengingat kembali kejadian itu, "Itu kan udah lama? Terus sekarang Azkanya manaaaa?!" Ucapnya histeris sembari menggoyang tubuh Izki.


Izki melepaskan tangan Tyara dari pundaknya, "Dia udah siuman seminggu yang lalu,"


Tyara yang mendengar itu langsung menghelas nafas lega, "Tapi kemarin dia dibawa ke rumah sakit lagi karena jaitan di lengan kirinya robek terus ngeluarin darah yang lumayan banyak." Mendengar itu membuat Tyara membelalakkan matanya kaget.


Lalu, suasana mendadak senyap bersamaan dengan putaran bianglala yang kembali berjalan. Hingga tak terasa lima belas menit terlewati begitu saja.


Tyara berjalan di samping Izki dengan tangan yang memegang erat tali slingbagnya itu. Izki membawa Tyara menuju pedagang minuman yang masih berada disekitar wahana. Ia membeli dua botol air mineral dingin, dan mengajak Tyara untuk duduk di bangku panjang yang berada disana.


Izki menyerahkan botol mineral yang segelnya telah dibuka, "Nih."


Tyara menerima botol mineral itu tapi tidak langsung meminumnya, "Gue mau ketemu Azka."


"Iya nanti."


"Gue mau sekarang!" ucap Tyara dengan nada yang sedikit membentak.


Izki melihat mata Tyara yang sudah berkaca-kaca, ia tidak tega jika orang yang dicintai kembarannya menangis seperti ini.


"Oke gue akan ajak lo buat ketemu Azka tapi lo minum dulu, tenangin diri lo."

__ADS_1


Tyara menggelengkan kepalanya, "Gue mau ketemu Azka sekarang," ujarnya lemah.


"Iya, gue tau, tapi lo harus tenang dulu anjirlah gue males ya ngajak lo kalo lo nya nangis kaya gini."


Mendengar itu membuat Tyara langsung menghapus air matanya dan langsung meminum air mineral yang diberikan oleh Izki tadi hingga habis, Izki yang melihatnya dibuatnya melongo tak percaya.


"Udah, sekarang ayo kita ketemu Azka."


Tyara langsug bangkit dari duduknya dan menarik lengan Izki untuk segera bangun mengikutinya.


"Emang lo tau rumah sakitnya dimana?" tanyanya santai. Sedangkan Tyara hanya menggelengkan kepalanya pelan lalu Izki pun berjalan menuju mobil mendahului Tyara yang terdiam memandangnya.


"Kurang ajar!" gerutu Tyara sembari berjalan mengikuti.


****


Tyara melepaskan seatbelt ketika mobil itu berhenti di depan sebuah rumah sakit ternama, sebelum keluar dari mobil ia menatap pria yang berada disampingnya, "disini?" tanyanya.


Pria itu mengernyitkan alisnya bingung, "Yaiyalah emang lo kira dimana? Kuburan?"


Tyara memutar bola matanya malas, "Gue nanya serius, gak Azka gak kembarannya samanya lo berdua bikin gue naek darah terus." ujar Tyara dan langsung membuka pintu mobil meninggalkan Izki yang terheran-heran.


"PMS kali ye," ucapnya acuh.


Mereka berdua berjalan melewati koridor rumah sakit tanpa ada sedikitpun suara, ketika sampai di depan pintu kamar inap.


"Dia ada di dalem, sana lo masuk biar gue tunggu disini aja."


Tyara mengangguk, perlahan tangannya memegang kenop pintu dan mendorong pintu itu sampai terbuka. Ia masuk ke dalam dan tak lupa untuk menutup pintunya kembali, dari ujung pintu ia melihat sesosok laki-laki yang sedang terbaring di atas ranjang rumah sakit.


Tyara berjalan perlahan dan berdiri tepat disamping ranjang itu, tak terasa ia mulai menitikkan air matanya ketika melihat seseorang yang sangat ia cintai sedang terbaring lemah.


Perlahan orang itu membuka matanya, awalnya ia kaget dengan kehadiran Tyara tapi ia normalkan kembali.


"Gak usah nangis kali, Ra. Gue masih idup beloman mati," ujarnya santai.


Tyara menghapus air matanya dengan kasar, "Kenapa lo bisa kaya gini sih? Siapa yang bikin lo jadi kaya gini?"


"Ya elo lah, pea kali ya, jelas-jelas elo yang udah bikin gue overthinking terus akhirnya nabrak."


"Padahal lagi sakit, tapi bisa-bisanya gue di gas," gerutu Tyara pelan yang ternyata masih terdengar oleh pria itu.


"Gue bisa denger yaa."


"Huaaaa!!!! Azka! Kenapa lo jadi kaya gini sih? Gue gak bisa liat lo sakit kaya gini," ujar Tyara dengan tangis yang ia paksakan.


"Gak usah lebay deh, harusnya lo nangisin gue seminggu yang lalu pas gue belom sadar begini, kalo sekarang mah udah telat," sahut Azka sembari mengambil remot tv.


Tyara merebut remot tv itu dengan paksa, "Jangan megang yang berat-berat, lo gak boleh megang yang berat-berat."


"Apa sih? Kenapa jadi lawak gini dah? Ini remot woi, bukan gas elpiji." ujar Azka gemas.


Sedangkan Tyara hanya memberikan cengirannnya, "Tapi serius kenapa lo bisa sampe kaya gini sih, Azka? Maafin gue, lo kaya gini karena gue, maafin gue yaa," ucapnya tulus.


Azka tersenyum tipis, "Telat!" ucapnya sembari melototkan matanya.


Tyara yang melihat itu tersentak kaget dan langsung mundur selangkah, "Serem anjir."


Azka terkekeh kecil, "Gue laper, Ra. Tolong potongin apel ya, tuh di meja."


Tyara melihat sebuah apel diatas meja dan mulai mengambilnya dan memotongnya menjadi beberapa bagian.


Malam ini Tyara berniat untuk menemani Azka untuk beberapa saat dan meluapkan perasaan rindunya kenapa makhluk astral kesayangannya itu, ia sudah tidak peduli pada kembaran Azka yang menunggunya bosan diluar sana.


...******...

__ADS_1


Duhh,, niatnya pengen ada suka dukanya gituu pas ketemu sama Azkanya tapi aku tuh gak bisa bikin sedih, malah jadi ngelawak kaya gitu:(


__ADS_2