
HAPPY READING!!!
...*****...
...Jangan berpura-pura, itu hanya membuat aku semakin menyedihkan di mata mereka....
...*****...
Suasana di kelas XI IPA-3 sedang hening-heningnya yang terdengar hanyalah suara guru yang sedang menulis di papan tulis dengan santai. Tiba-tiba saja pintu kelas itu terbuka dan menampilkan sesosok makhluk yang sudah menjadi langganan telat.
Ia berjalan mengendap-endap menuju bangkunya, serta telunjuknya yang berada di depan bibirnya memberitahu kepada temannya untuk tetap diam.
"Saya kira kamu sudah tobat," Bu Laura berbalik menghadap ke belakang dan bersedekap, menatap Tyara intens. Sedangkan yang ditatap hanya memberikan cengirannya khasnya, "Belum tobat juga? Udah mau naik kelas lho kamu ini, masih gak mau berubah juga?" lanjutnya.
Tyara yang sedari tadi memperlihatkan cengirannnya kini menundukkan kepalanya, takut.
'Sial, salah sasaran gue telat di jam dia.' rutuknya dalam hati.
"Sudah sana, kamu bersihkan toilet sekolah sampai benar-benar bersih."
"Bu, tapi kan..."
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya tapi sudah di potong lebih dulu oleh Bu Laura, "Gak ada tapi-tapian, cepat bersihkan toilet sekolah sampai bersih." ujar Bu Laura dan kembali lagi menghadap ke arah papan tulis untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
Tyara menoleh ke arah bangkunya, ia menatap Yeni serta Arva dengan wajah memelas sedangkan yang ditatap hanya menghendikkan bahunya acuh.
Dengan perasaan kesal, Tyara pun keluar dari kelas dan berjalan menuju toilet sekolah. Setelah sampai disana ia menyimpan tas nya pada wastafel, menjepit rambutnya yang terurai dan mulai menyikat lantai toilet itu.
Tiga puluh menit sudah berlalu, tapi ia baru selesai membersihkan satu bilik kamar mandi. Itu pun belum sepenuhnya bersih, ia beristirahat sejenak dan menyandarkan tubuhnya pada tembok.
"Gila, capek banget."
Tyara tersentak kaget ketika pipinya merasakan dingin yang tiba-tiba itu, ia pun menoleh dan melihat Azka sedang tersenyum dengan memegang sebotol air mineral dingin.
Tyara langsung saja merebut botol itu dan menenggaknya hingga tandas, setelah tenggorokan sudah tidak kering lagi ia mengembalikan botol kosong itu kepada empunya.
"Aus neng?"
Tyara hanya mengangguk sebagai jawaban, Azka pun terkekeh dan menyodorkan sebungkus roti, membukakan bungkusnya dan menyuapinya. Tyara hanya melirik sekilas kearah Azka, lalu langsung memakan roti itu.
"Makanya jangan telat mulu."
Tyara hanya memutar bola matanya malas sembari mengunyah potongan roti terakhirnya, kemudian ia barulah bicara, "Siapa juga yang mau telat, gue kesiangan bangunnya tadi."
"Siapa suruh kesiangan? Begadang?"
"Overthinking!" serunya.
Azka menaikkan alisnya satu, "Mikirin apaan, sih emang?"
"Mikirin lo lah, ogeb! Jadi laki kaga pekaan pisan lo sama cewek," ujar Tyara dengan penuh rasa kesal.
Sedangkan Azka hanya diam memperhatikan Tyara, "udah?"
"Udah apaan?"
"Udah marah-marahnya? Kalo udah nanti malem kita jalan, oke?"
Tyara mengerjapkan matanya beberapa kali setelah mendengar Azka berkata seperti itu dengan nada yang selembut mungkin.
Sehabis mengatakan itu, Azka langsung pergi meninggalkan Tyara yang masih termangu dibuatnya.
__ADS_1
*****
"Struktur organisasi dalam lembaga peradilan yang bertanggung jawab dalam mas.." Bu Lidia spontan menutup spidolnya. Tubuhnya berbalik, lalu mata tajamnya menjelajahi seisi kelas. Ia tidak mungkin salah dengar jika ada suara gaduh yang berasal dari belakang sana.
Kemudian mata tajamnya berhenti tepat di bangku kedua dari belakang, dua orang siswi yang terlihat masih menahan gelak tawanya. Melihat pandangan Bu Lidia yang tak pernah lepas dari mereka berdua, spontan semua murid mengikuti arah pandang wanita itu.
"Iya, Yen! Asli, coba njir gimana malunya gue waktu itu," ujar Tyara kepada Yeni yang ternyata sudah mematung di tempatnya. Tyara kembali tertawa dengan suara yang sepelan mungkin, ia tidak memperhatikan ke sekelilingnya yang sekarang sudah diam dan memandang kearahnya.
Tukk!!
"Aduhh! Saya lagi, saya lagi yang kena," omel Arva sembari memegangi kepalanya yang terkena lemparan spidol dari Bu Lidia.
Bu Lidia meringis melihat Arva, "salahin spidol saya dong, Arva, dia maunya mengenai kamu bukan ke dua curut itu."
Arva hanya mencembikkan bibirnya mendengar perkataan dari gurunya itu, ia menyimpan spidol itu diatas mejanya.
"Ya sudah, kembalikan spidol saya," ujar Bu Lidia.
"Enak aja, ibu yang ambil nih sendiri yang butuh siapa? Saya apa ibu?"
Mendengar jawaban Arva yang tampak kurang ajar itu sontak Bu Lidia langsung melototkan matanya, "berani kamu sama saya?"
Arva menghembuskan nafas kasar, kemudian ia pun bangkit dari duduknya dan berjalan ke depan menyerahkan spidol itu. Sedangkan Yeni dan Tyara kembali cekikikan melihat Arva yang menjadi sasaran empuk.
Ketika Arva sudah kembali pada tempatnya ia langsung menempeleng dua wanita yang ada di depannya.
"Ish! Apaan, sih lo. Sakit tau," ujar Tyara sembari mengelus-elus kepalanya juga Yeni yang langsung menimpuk Arva menggunakan penghapus.
"Gara-gara lo berdua nih pea gue jadi kena imbasnya."
"Lah, kok gara-gara kita?" Tanya Tyara dengan wajah tak berdosa.
Yang ditatap sedemikian galak hanya menampilkan wajah bingung, "Kenapa lagi Bu?", tanya Arva lelah.
"Kalian bertiga maju ke depan!"
"Lho? Saya juga Bu? Kan saya gak salah," ujar Arva sembari menunjuk dirinya sendiri.
"Kamu cowok kan?"
Arva menganggukkan kepalanya dengan wajah bingung, "Iya terus kenapa?"
"Yaudah, karena cowok selalu salah jadi kamu ikut maju ke depan," ujar Bu Lidia tak mau diganggu gugat.
Arva hanya menghembuskan nafas kasar, ia maju ke depan menyusul Tyara dan Yeni yang sudah lebih dulu berdiri di depan sana.
"Elo, sih," ucapnya kepada Tyara yang berdiri di sampingnya.
Tyara hanya menghendikkan bahunya acuh tak peduli, ia sudah khatam dengan segala macam hukuman tapi anehnya selalu saja ia mengulangi kesalahan yang sama.
"Lari keliling lapangan basket 10 kali!"
"Lho?Bu? Gak salah? Lari 10 kali? Ibu ini kalo ngasih hukuman kira-kira dong."
"Kenapa Tyara? Mau saya tambah hukumannya?"
"Tapi Bu, biasanya kan ibu juga nyuruhnya cuma bersihin toilet doang."
Bu Lidia menyilangkan tangannya di depan dada, "Mau membantah?"
"Tapi kan Bu..." Belum sempat Tyara menyelesaikan kalimatnya mulutnya sudah di bekap oleh Yeni.
__ADS_1
"Iya Bu, iya, kita akan melaksanakan hukumannya," ujar Arva sembari menarik tubuh Tyara untuk keluar dari kelas sebelum gurunya itu menjadi semakin murka.
Bel istirahat sudah berbunyi sejak beberapa menit yang lalu, Azka bersama dengan Diyas dan Vano mereka bertiga berjalan menelusuri koridor sekolah menuju kantin. Tapi, karena arah menuju kantin melewati lapangan basket kontan ia melihat Tyara serta kedua temannya sedang duduk di tengah-tengah lapangan basket.
Ia mengernyitkan alisnya kemudian berhenti, tentu saja hal itu membuat kedua temannya juga ikut berhenti.
"Kenapa?" tanya Diyas.
Azka tidak menjawab pertanyaan Diyas, laki-laki itu berjalan menghampiri Tyara yang juga diikuti oleh Diyas dan Vano.
Ketika mereka sudah sampai di hadapan Tyara dan teman-temannya, disana terdapat beberapa botol minuman yang tergeletak begitus saja. Juga, isinya yang beberapa sudah hampir habis.
"Ngapain disini?" tanya Azka dengan mata yang tertuju kepada Tyara.
Mendengar suara Azka spontan membuat Tyara langsung menolehkan kepalanya ke arah sumber suara, ia memberikan cengirannya, "dihukum sama Bu Lidia."
"Gara-gara?"
"Mereka berdua ngobrol sambil cekikikan, udah gitu gue pake keseret lagi," bukan, bukan Tyara atau pun Yeni yang menjawab melainkan Arva yang sekarang sedang membaringkan tubuhnya.
"Kebiasaan," ujar Azka sembari mengulurkan tangannya.
Tyara yang bingung pun langsung bertanya, "Apa?"
"Makan, belom makan kan pasti? Nanti sakit kalo gak makan."
"Ekhem ekhem, disini masih ada manusia keleuss," ucap Diyas sembari batuk yang di buat-buat.
Sedangkan Vano hanya memutar bola matanya dan langsung pergi meninggalkan mereka semua. Melihat kepergian Vano membuat Diyas bingung, "Woi! Mo kemane lo!" teriaknya kepada Vano tapi Vano terus berjalan dan tidak menjawabnya.
Diyas berdecak kesal melihat tingkah temannya yang satu itu, "Emang dasar kampret!" ujarnya sembari berlari menyusul Vano yang mulai menjauh.
"Yuk," ujar Azka lagi pada Tyara.
Tyara pun langsung menggapai uluran tangan itu dan berdiri di samping Azka, "Lo pada mau ikut apa gimana?" tanyanya pada Yeni dan Arva yang sekarang sudah sibuk dengan handphonenya masing-masing.
"Enggak," sahut mereka bersamaan.
"Yaudah," setelah mengatakan itu Tyara serta Azka pergi meninggalkan mereka.
Tak beberapa lama setelah kepergian Tyara dan Azka, Yeni menatap Arva. Merasa ditatap oleh seseorang Arva pun langsung menolehkan pandangannya, "Apa?" tanyanya.
"Gue kasian sama Tyara."
"Kenapa?"
Yeni menceritakan semua hal yang ia lihat kemarin malam, Arva yang mendengarnya pun langsung mengepalkan tangannya. Terlihat sangat jelas bahwa ia sedang menahan emosinya.
"Gak bisa dibiarin, si kampret itu kayanya pengen banget gue hajar ya," ucap Arva sembari mengepalkan telapak tangannya.
"Jangan, kita liatin aja dulu sampe kapan dia kaya gitu, gue juga gak mau temen gue disakitin lagi sama dia buat yang ke dua kalinya."
Setelah mengatakan itu hanya ada keheningan yang menyelimuti, mereka sama-sama sibuk dengan pikirannya masing-masing.
...*****...
Maaf banget up nya lamaaa:(((
kemarin-kemarin gak dapet inspirasi:((
so, jangan lupa like nya yaaa 💛
__ADS_1