
Kenapa sih, lo suka banget mengganggu?
eh tapi gue suka kok digangguin sama lo, hehe
****
Sepertinya, Tyara memang terlahir sebagai cewek tersial yang pernah ada. Kemarin, dunia terasa sangat indah, Ralat. Kemarin di hukum karena datang terlambat, sekarang ia di hukum kembali karena datang terlambat. Lagi?!
Aliya memperhatikan setiap gerak gerik Tyara yang sekarang sedang membersihkan perpustakaan, dia takut siswi yang berlangganan telat itu akan kabur dan meninggalkan hukumannya begitu saja.
Risih, karena selalu diperhatikan Tyara pun menghentikan aktifitasnya dan berbalik untuk menghadap Aliya.
"Gak usah diliatin juga kali, gue risih."
Aliya menaikan alisnya sebelah, "santai aja sih, anggep aja gue malaikat yang gak kelihatan"
"Najis"
"Gue heran deh, sama lo. Kenapa lo tuh langganan banget sama yang namanya telat" Aliya bersandar di tembok, "gue tau, pasti lo ngepet ya tiap malem biar duit lo banyak?makanya bangun kesiangan mulu."
Tyara melotot ketika Aliya menuduhnya ngepet, "sembarangan lo kalo ngomong"
Aliya tersenyum miring, "atau lo ke dukun buat bikin Azka bertekuk lutut lagi di hadapan lo? Ah, susuk lo udah gak berfungsi ya."
Tyara melempar kemoceng yang sedari tadi dia pegang, dia muak. Ia menatap Aliya tajam, "jaga mulut lo! Mau gue robek, Hah?!"
Aliya tertawa, bahkan suara tawanya saja sudah seperti nenek lampir.
"Ngaku aja, sih."
Ketika Tyara hendak mengambil buku untuk di lemparkan ke wajah senga Aliya seseorang berdeham. Sontak keduanya langsung menengok ke sumber suara.
"Lo ngapain disini?" Tatapan dingin orang itu tertuju kepada Aliya.
Aliya tersenyum, "lagi mantau si Ratu telat" menekankan dua kata terakhir.
Azka melirik Tyara yang sekarang sudah kembali membersihkan rak-rak buku, "lo boleh ke kelas." Ucap Azka kepada Aliya.
"Terus dia?" Tunjuknya pada Tyara yang masih setia memunggungi mereka berdua.
"Gue yang urus"
Ragu, tapi sesaat kemudian Aliya mengangguk dan bergegas keluar dari perpustakaan.
Tyara menghembuskan nafas lega ketika mengetahui si nenek lampir itu sudah pergi. Tapi sepersekian detik kemudian dia tersadar, bahwa ada satu makhluk astral yang sedang berdiri di belakangnya.
Tak peduli dengan keberadaan Azka, Tyara melanjutkan kembali kegiatannya.
Azka terus saja menatap punggung Tyara intens, alisnya terangkat sebelah ketika melihat Tyara menghempaskan tubuhnya di lantai.
"Gue capek, tepan ya"
Tepan? Dia kira mereka sedang bermain petak umpet pakai acara tepan segala. Karena Azka tidak menjawabnya, Tyara pun melempar kemoceng ke Azka yang hanya berdiri diam di dekat pintu.
Tyara kecewa ketika kemoceng yang ia lempar itu berhasil ditangkap oleh Azka, Azka menyimpan kemoceng itu ke atas meja yang berada di dekatnya. Dia menghampiri Tyara yang masih setia dengan posisinya.
"Bangun"
Tyara menoleh mendapati uluran tangan Azka, "hah?"
"Bangun Tyara" ucap Azka lagi penuh dengan penekanan.
__ADS_1
Tyara menyambut uluran tangan Azka, dengan senang hati.
"Makasih" serunya ketika sudah berdiri di hadapan Azka.
"Balik ke kelas" Azka pergi lebih dulu meninggalkan Tyara.
Azka menyusuri koridor dengan Tyara yang masih setia mengikutinya dari belakang, namun ketika melewati kelasnya Azka tidak berhenti.
"Lo gak masuk kelas?"
Azka tidak menjawab, dia terus berjalan hingga tiba di depan sebuah kelas yang pintunya tertutup rapat. Ia mengetuk pintunya dan membukanya.
"Ada apa, Azka?" Tanya guru yang sekarang sedang mengajar di dalam kelas.
"Saya ingin mengantar murid yang habis saya hukum karena telat, pak"
Azka menengok ke belakang dimana Tyara berdiri sekarang, dia menghendikkan kepalanya meminta Tyara untuk segera masuk.
"Kamu telat lagi, Tyara?"
Baru beberapa langkah melewati pintu pak Yadi yang mengajar hari ini bertanya, Tyara mengangguk lesu.
"Berhubung bapak sedang baik, silahkan kamu duduk di tempatmu."
Melihat Tyara sudah duduk pada tempatnya Azka pamit untuk pergi ke kelasnya.
"*****, udah kaya bocah lo dianterin ke kelas." Ucap Yeni ketika ia melihat Tyara diantar oleh Azka.
Tyara mendengkus mendengar penuturan Yeni, dia sedang malas berdebat hari ini. Ia mengeluarkan buku serta pulpennya untuk mencatat soal yang sudah tertera di papan tulis.
***
Tyara, Yeni dan Arva sedang berjalan memasuki kantin dengan Tyara yang memimpin jalan di depan.
Di sisi pojok kantin terlihat Azka sedang menatap tajam ke arah Tyara, mengikuti setiap gerak gerik yang Tyara lakukan. Tiba-tiba saja ketika Tyara hendak kembali ke meja kantin yang mereka tempati seusai memesan jus kakinya tersandung dan terjatuh sehingga membuat jus yang ada di genggamannya terlepas dan mengenai seragamnya.
Tyara berusaha membersihkan seragamnya yang sekarang sudah berwarna merah jambu akibat tumpahan jus jambunya.
"Sorry, gak sengaja" ucap Aliya dengan penekanan di dua kata terakhirnya.
Tyara geram, dia mengambil minuman yang ada di meja belakangnya dan menumpahkan keatas kepala Aliya.
Aliya membelalakkan matanya ketika jus alpukat mengenai rambutnya yang habis di curly dan sekarang sudah tidak karuan.
"Lo?!!"
Aliya mengambil mangkuk bekas bakso dan bersiap untuk menumpahkan ke atas kepala Tyara.
Byurrr..
Tetapi, bukannya kuah bakso itu mengenai kepala Tyara tapi ternyata malah mengenai seragamnya. Dia membelalakkan matanya melihat siapa yang telah memutar mangkuknya itu.
"Lo gila?!" Aliya membelalakkan matanya tak menyangka, "Kenapa lo malah belain dia, hah? Nih liat, seragam gue jadi kotor Azka" Lanjutnya.
"Lo udah kelewatan" ujar Azka dingin.
Aliya ingin menjawab perkataan Azka tapi dia tidak menemukan kalimat yang pas untuk meluapkan emosinya, dia pun memilih untuk pergi meninggalkan kantin.
Ketika Azka menoleh ke arah Tyara ternyata cewek itu masih berusaha untuk membersihkan seragamnya. Azka memegang pergelangan tangan Tyara dan menariknya menuju koperasi, membeli seragam baru. Sedangkan Tyara, hanya diam mengikuti.
Tyara keluar dari toilet wanita dengan seragam yang baru, disana dia melihat Azka yang berdiri memunggunginya dengan tangan yang sedang mengetikkan sesuatu di ponsel.
"Makasih"
Azka menoleh ia memperhatikan seragam Tyara yang sudah berganti, dia mengangguk dan melenggang pergi.
__ADS_1
Tyara menatap kepergian Azka sendu, tiba-tiba saja dia merindukan sosok Azka yang selalu mengganggunya dan banyak berbicara bukan Azka yang sekarang sedikit bicara dan selalu pergi meninggalkannya sendirian.
Jam tanda pulang sekolah sudah berbunyi sejak lima menit yang lalu, entah kenapa hari ini dia sangat ingin sendiri dan tidak ingin ada yang mengganggunya. Bahkan Arva dan Yeni yang biasanya selalu ada di sisi kiri dan kanannya sekarang sudah ia usir untuk pulang lebih dulu.
Ia menyumpal telinganya dengan headset dan sesekali bersenandung mengikuti alunan lagu. Jauh di belakangnya seseorang mengikutinya dalam diam dia harus memastikan bahwa Tyara sampai di rumah dengan aman karena pasti akan ada kejadian buruk yang akan menimpanya lagi.
Ketika Tyara sedang menuruni tangga tiba-tiba saja tangannya dicekal oleh seseorang dan ditarik ke belakang sekolah. Seseorang yang di belakangnya pun mendadak panik tapi sepersekian detik selanjutnya dia mampu mengendalikan raut wajahnya dan segera mengikuti kemana Tyara pergi.
"Aduh"
Tyara terjatuh ke rumput yang sedikit basah akibat diguyur hujan semalam, dia menengadahkan kepalanya. "Lo?!"
"Udah gue bilang sama lo buat jauhin Azka! Lo **** apa gimana, hah?!" Bentak seseorang.
Tyara tersentak mendengar bentakan itu pasalnya dia tidak pernah dibentak oleh keluarganya sekalipun dia melakukan kesalahan.
Aliya menangkup kedua pipi Tyara, "gue bilang jauhin Azka."
"Lo siapa berhak ngatur-ngatur gue?" tanya Tyara menantang.
Aliya menghempaskan wajah Tyara tangannya bersiap untuk menampar pipi mulus Tyara, Tyara yang melihatnya pun memejamkan matanya.
Sedetik, dua detik, namun hingga beberapa detik lamanya Tyara tidak merasakan sebuah tangan mendarat di pipinya. Ia membuka kedua matanya.
Matanya membulat sempurna ketika melihat tangan seseorang yang menahan tangan Aliya yang ada di udara. Dia bahkan bisa mendengar ringisan Aliya, bisa dipastikan orang itu mencekal pergelangan tangan Aliya dengan sangat kuat.
"Lepasin tangan gue, sakit!"
Vano melepaskan tangan Aliya dengan kasar, "gue gak nyangka sama lo, Al. Gue pikir lo cewek baik-baik, tapi ternyata gue salah."
"Apa urusan lo, hah!"
"Awalnya gue gak percaya sama omongan Azka tentang lo, tapi ternyata setelah gue liat langsung kelakuan lo di kantin dan sekarang, itu udah membuktikan kalo lo bukan cewek baik-baik."
"Tapi dia udah ngerebut Azka dari gue! Gue gak bisa tinggal diam!"
"Lo! Lo yang udah ngerebut Azka dari dia!"
Tyara dan Aliya tersentak mendengar suara Vano yang meninggi satu oktaf.
"Lo yang udah ngerebut Azka dari dia, lo juga yang udah ngambil kebahagiaan Azka dan lo juga yang udah bikin Azka hampir kehilangan nyawanya," lanjutnya.
"Itu semua gue lakuin karna gue cinta sama dia!"
"Itu bukan cinta! Lo cuma obsesi sama Azka!" Vano membantu Tyara untuk berdiri, "bisa tolong bedain, mana cinta dan mana obsesi," lanjutnya dan menarik Tyara untuk pergi.
Di kejauhan seseorang berdiri sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, dia menghela nafas dan mulai berjalan pergi meninggalkan tempatnya.
Di perjalanan ke arah rumah Tyara, Vano sesekali melirik ke arah spion motor ia melihat Tyara yang melamun seakan memikirkan sesuatu.
"Udah sampe, Ra."
Vano menengok ke belakang ketika Tyara yang tidak kunjung turun dari motornya, "Tyara?"
Tersentak, Tyara segera turun dari motor dan melepaskan helm yang dipakainya.
"Gak usah dipikirin omongan Aliya tadi," ucap Vano sambil mengambil alih helm yang Tyara pegang.
"Bisa tolong jelasin maksud omongan lo yang bilang Azka hampir kehilangan nyawanya gara-gara Aliya, maksudnya apa? Gue gak ngerti," tanya Tyara polos.
Vano terdiam wajahnya mendadak panik, tapi kemudian dia mampu mengontrol wajahnya kembali, "Mendung nih mau ujan kayanya," alihnya sambil melihat keatas, "Gue duluan ya," Vano menancap gasnya dan segera pergi.
Tyara mengerjapkan matanya bingung, kaya ada yang ditutupin.
Dia menghendikkan bahunya acuh dan langsung masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1
\*\*\*\*