
Dengan adanya jarak diantara kita, itu
seakan memperkuat hubungan kita yang sempat Hancur.
***
Suara dering alarm membangunkan Tyara dari tidur nyenyaknya, dia meraba-raba meja dan mencari dimana jam wekernya berada. Setelah tangannya mencapai jam weker dia mematikannya dan kembali menarik selimutnya untuk kembali tidur.
Setengah jam kemudian Tyara membuka kedua kelopak matanya dan meregangkan otot-otot yang terasa kaku. Dia melihat ke arah jendela kamar yang ternyata matahari sudah bersinar dengan sangat terang.
Seketika matanya langsung melotot dan melihat jam dengan panik.
"******, gue telat"
Dengan tergesa-gesa Tyara berlari ke kamar mandi untuk segera bersiap-siap karena jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh lewat.
Lima belas menit kemudian Tyara keluar dari kamarnya, dia menuruni anak tangga dengan sesekali sekaligus melewati dua anak tangga.
"Tyara, hati-hati turunnya!" Peringat Yuli, mamanya.
Tyara menyengir dan duduk di meja makan, dengan santai dia mengambil piring dan memakan makanannya yang sudah di siapkan oleh mamanya.
"Kamu udah terlambat sayang, masih mau makan dengan santai setelah melihat jam?" Mamanya menunjuk kearah jam di dinding.
Tyara menengok dengan perlahan, "*****!" Gumamnya pelan.
"Kak Rei mana mah?" Tanyanya panik, takut jika kakaknya itu sudah pergi meninggalkan dia.
"Itu dia udah didepan nungguin kamu." Jawab mamanya santai.
Tyara bangkit dari duduknya dan menyampirkan tasnya sebelah, ia mencium punggung tangan mamanya dan bergegas untuk pergi ke sekolah.
"Kak! Cepetan dong, ngebut lah ngebut gue udah telat ini." Ucap Tyara dengan wajah yang gelisah, walaupun dia sudah langganan telat tapi untuk kali ini dia sedang malas dihukum.
"Sabar dong, kita tuh naik mobil bukan motor jadi gak bisa cepet. Lagi salah lo sendiri kenapa bangunnya telat kebiasaan banget." Cerocos kak Rei tanpa henti.
"Duh, gue gak butuh ceramahan lo, cepet dong lama banget sih bawa mobilnya."
Kak Rei menghembuskan nafas kasar, dia langsung saja menancap gasnya.
"Allahuakbar! Kak Rei! Jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya, gila lo tar kalo kita nabrak gimana woi."
"Tadi katanya suruh ngebut, serba salah gue."
Tyara mengeratkan pegangan tangannya pada seatbelt, "ya gak gini juga *****."
Mobil berhenti tepat didepan gerbang sekolahnya, Rei melihat wajah pucat Tyara karena insiden kebut-kebutan itu pun menahan tawanya.
Tyara yang sadar sedang ditertawakan langsung melepaskan seatbelt dan memukul lengan kakaknya dengan kencang, "gak lucu, udah ah gue masuk." Ucapnya seraya membuka pintu mobil dan langsung keluar.
Ketika ia akan memasuki gerbang sekolahnya ia berhenti sejenak, disana dia melihat Azka yang berdiri di depan pos satpam. Hari ini jadwal Azka menghukum setiap siswa dan siswi yang datang terlambat.
__ADS_1
Dia mondar mandir memikirkan bagaimana caranya agar bisa lolos dari jeratan hukum sang ketua Osis.
"Masuk."
Tyara terpaku mendengar suara yang datar nan tegas itu, perlahan-lahan dia membalikkan tubuhnya ke belakang.
Ia nyengir ketika melihat siapa orang yang sedang berdiri dihadapannya kini.
"Ikut gue."
"Azka, gue bisa jelasin, aduh pelan-pelan dong tangan gue sakit." Tyara memegangi tangannya yang dicekal Azka dengan keras.
Ya, Azka menarik Tyara masuk ke dalam area sekolah. Dengan sangat tidak santai, Azka melepaskan tangan Tyara membuat sang pemilik tangan hampir terhuyung ke belakang.
Tyara yang kaget dengan perlakuan Azka hanya bisa mengelus pergelangan tangannya yang sedikit memerah.
Azka melihatnya, Sorry.
Azka kembali menatap ke arah Tyara, "kelilingi lapangan 10 kali putaran atau bersihin toilet?"
Tyara menaikkan alisnya sebelah, "lapangan" jawabnya malas.
Azka mengangguk dan segera pergi meninggalkan Tyara yang melongo menatap punggung cowok itu.
Ia berdecak, "seenaknya ngasih hukuman." Dia melempar tasnya ke sembarang arah, "terus pergi gitu aja. Helooow, gue bukan cewek yang abis dipake terus dibuang gitu aja."
"Dihukum lagi, dihukum lagi. Bosen banget rasanya gue."
"10 kali kata dia? Ini 2 kali aja udah gempor kaki apalagi 10 kali, ini luas banget Azkaaaa udah gila lo ya." Teriaknya, Azka yang ternyata masih ada di sekitar lapangan pun berhenti dan menengok kearahnya.
Tyara kaget ketika Azka berhenti dan menengok kearahnya ia menyengir dan langsung berbalik badan, "sial, gue kira udah kelaut tuh orang." Gumamnya pelan dia kembali memandangi lapangan itu dengan pundak yang melemas dan mulai berlari mengelilingi lapangan.
Tyara meringis ketika merasakan kakinya sudah mulai melemah serta perutnya yang mulai berbunyi meminta asupan.
Dalam hatinya, ia terus mengucapkan sumpah serapahnya kepada Azka yang telah menghukumnya dengan sangat tidak pakai hati. Tapi dia berpikir kembali, lebih baik disuruh lari daripada harus membersihkan toilet.
Ketika dia telah menyelesaikan hukumannya Tyara berjalan menuju kelasnya dengan langkah gontai.
Dia membanting tubuhnya di bangku yang kemudian meringis kesakitan.
"Nih dari Azka."
Sekantong plastik hitam yang berisi sebungkus roti serta air aqua disodorkan ke depan wajahnya.
Tanpa pikir panjang ia langsung mengambil kantong plastik itu dan memakan isinya.
"Bilangin makasih hukumannya udah bikin gue gempor."
"Sip" belum sempat Vano menginjakkan kakinya Tyara sudah berbicara kembali.
"Makasih juga buat roti sama air nya, seengganya dia udah bertanggung jawab sama perbuatannya."
__ADS_1
Vano terkekeh pelan sembari mengangguk dan bergegas pergi.
***
"Nurut juga lo ternyata sama gue, gue nyuruh lo buat jauhin Azka dan ternyata lo beneran ngelakuinnya."
Tyara mengacuhkan seseorang yang sekarang sedang tersenyum miring menatapnya, ia memilih untuk fokus dengan makanannya dibanding mendengarkan cerocosan nenek lampir ini.
"Al, lo dari tadi dicariin Azka." Ucap Vano yang tiba-tiba datang, matanya beralih menatap Tyara, "tumben sendirian, Ra"
"Lagi pengen"
"Al, lo samperin gih si Azka, penting katanya." Setelah mengatakan itu dia pergi meninggalkan Tyara dan Aliya.
Aliya kembali mengalihkan pandangannya ke Tyara, "see? Azka udah gak butuh lo lagi, dia udah gak perduli sama lo." Bisik Aliya tepat di samping telinga Tyara.
Aliya pergi meninggalkan Tyara yang termangu, matanya mulai berair. Kenapa akhir-akhir ini Tyara cengeng sekali jika sudah menyangkut Azka.
Tidak ingin air matanya menetes hanya karena hal sepele, ia menengadahkan kepalanya keatas.
Stop alay Tyara! Azka nyariin Aliya karena dia emang wakil ketua Osis, jadi wajar dong kalo ketua nyariin wakilnya, lo cuma mantan **** gak berhak cemburu.
Tyara beranjak meninggalkan kantin untuk segera kembali ke kelasnya, dia merutuki kesalahannya sendiri karena menolak Yeni dan Arva untuk menemaninya ke kantin.
Dia berjalan tergesa-gesa dengan kepala yang tertunduk.
Brukk..
Tyara menabrak dada bidang seseorang ia menyentuh kepalanya yang sedikit sakit. Sebenarnya dia menabrak seseorang atau tembok? Kenapa rasanya sangat sakit?
Setelah melihat siapa yang ia tabrak Tyara mendengkus, pantes sakit orang yang gue tabrak muka tembok + datar kaya jalan tol.
"Kalo jalan pake mata" ucap orang itu dingin.
"**** deh, jelas-jelas jalan pake kaki ngeliat baru pake mata." Sahutnya sebal.
"Terus gunanya mata lo apa kalo jalan aja masih nabrak, sengaja ya mau nyentuh dada bidang gue?" Ucap Azka dengan alis yang menaik sebelah.
Tyara memutar kedua bola matanya malas, sedang apa Azka disini? Main kucing-kucingan dengan Aliya?
"Terserah"
Tyara melengos pergi meninggalkan Azka yang terdiam memandangnya.
Kalo lo tau yang sebenarnya, gue pastiin lo gak akan mau ninggalin dia seperti lo ninggalin gue disini.
Azka kembali melanjutkan langkahnya ke ruang Osis.
\*\*\*\*
sorry guys up nya lama huhuhuu
__ADS_1