ALUMNI HATI

ALUMNI HATI
Gangguan Pesan & Fans Mantan


__ADS_3

*Sudah jatuh tertimpa tangga pula*



\*\*\*\*


Minggu pagi ini Tyara sedang menyiram tanaman di halaman depan rumahnya. Tidurnya sangat nyenyak semalam karena di temani oleh boneka doraemon hasil jerih payahnya sendiri yang dimodalkan Azka.


Dari dalam kak Rei teriak-teriak memanggil namanya, Tyara menyimpan selang yang tadi dia pakai untuk menyiram tanaman ke tempatnya semula.


"Apa, sih, kak Rei?" Tanya Tyara ketika sudah berada di ruang keluarga.


"Ponsel lo dari tadi bunyi terus, tuh."


Tyara mengambil ponsel yang ada di atas meja dan mengeceknya.


Ada beberapa pesan yang masuk, dia membukanya dan membacanya dari siapa pesan sebanyak itu. Pesan itu ternyata dari Azka, Tyara menghela nafas kasar dan membaca pesannya satu persatu.


Makhluk astral :


(1) Pagi Tyara


(2) Tyara, lo udah bangun kan?


(3) Jangan lupa sarapan wahai


(4) mantan, nanti kalo lo sakit lo gak (5) bisa liat gue bahagia.


(6) Tadinya gue mau kerumah lo tan, tapi gak jadi.


(7) Nanti gue di tipu lagi kaya semalem.


Ketika Tyara membaca pesan yang ketiganya, apa-apaan . Gerutunya.


Dia tidak berniat untuk membaca pesan-pesannya yang lain, jadi dia hanya mengscrollnya tanpa dibaca.


Tidak lama kemudian ponselnya berbunyi kembali.


Makhluk astral :


(1) kok diread doang sih, tan?


Tyara kaget membaca pesannya, jadi dari tadi Azka menunggu balasannya? Tyara hanya tertawa pelan dan menyimpan ponselnya kembali di meja.


Beberapa saat kemudian ponselnya berbunyi kembali, kali ini lebih lama yang artinya ada panggilan masuk.


Manusia astral calling


Tyara mengerutkan alisnya bingung,


"Mau ngapain sih lo nelfon gue" tanyanya tanpa basa basi.


Di seberang sana Azka terkekeh.


"Gak boleh gitu kalo gue nelfon mantan sendiri?"


"Enggak! Udah, deh, lo tuh sekarang persis kaya setan tau gak hobinya gangguin orang." Omel Tyara menekan kata setan.


Tyara mendengar Azka menghembuskan nafasnya,


"Yaudah, deh, gue matiin."


Tutt.. Tut.. tutt...


Panggilan dimatikan secara sepihak, Tyara melongo memandang ponselnya yang menampilkan layar hitam. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Apa kata-kata gue terlalu kasar ya?" Tanyanya entah kepada siapa, "tapi, dia gak pernah tuh marah sama gue gara-gara sering gue kerjain masa kaya gini aja marah? Baperan amat."


Tyara bingung dan memutar-mutar ponselnya sambil memandang ke layar televisi yang menyala walaupun sebenarnya dia tidak sepenuhnya menonton acaranya. Pikirannya tertuju kepada Azka.

__ADS_1


"Apa gue coba tanya aja ya," gumamnya lagi dan mulai mengetikkan sesuatu di kolom percakapan antara dia dan Azka. Sesaat kemudian dia menghapusnya,


"Gengsi ah," ucapnya pelan.


Selagi Tyara sibuk dengan pikirannya, ponselnya berbunyi kembali. Pucuk ditunggu ulam pun tiba, Azka mengiriminya pesan.


Makhluk astral :


(1) gue gak marah kok sama lo


Begitu isi pesan yang di kirimkan Azka kepadanya, Tyara menghela nafas lega seakan Azka mengerti apa yang sedang Tyara rasakan saat ini. Sesaat kemudian ponselnya berbunyi kembali.


Makhluk astral :


(1) Tadi gue kebelet, perut gue mules yaudah gue matiin aja daripada gue cepirit.


Tyara tertawa terbahak-bahak membaca pesannya, 'sialan gue kirain dia marah beneran'


Tyara membalas pesannya dengan singkat, padat dan jelas.


***


Malam harinya, setelah selesai menikmati makan malam dia dan kak Rei menonton televisi di ruang keluarga.


Tiba-tiba kak Rei bersuara, "de, lo putus ya sama Azka?"


Tyara tersentak kaget mendengar pertanyaan kak Rei yang tiba-tiba itu, apalagi membawa-bawa makhluk astral itu.


"Iya, udah lama juga," jawabnya singkat.


"Kenapa?" Tanya kak Rei sembari mengubah posisinya yang semula menghadap ke depan sekarang menghadap ke samping, menatapnya.


Dia menghendikkan bahu, "gak tau, tiba-tiba aja dia mutusin gue gitu."


"Lo gak ada niatan nanya gitu ke dia penyebabnya apa?"


"Belum, lagipula itu udah sebulan yang lalu gue gak mau nanya dia nanti yang ada dia malah bilang yang lalu biarlah berlalu gak usah diungkit lagi, males dengernya."


"Cerita apaan?" Tanya Tyara penasaran.


Kak Rei kembali menghadap ke depan,


Hening.


"Ada deh," ucapnya setelah terdiam beberapa saat.


Tyara melengos, kesal, sudah menunggu ternyata jawabannya seperti itu. Dia memilih untuk menonton televisi saja, tapi pikirannya selalu terngiang-ngiang dengan ucapan kak Rei itu.


"Dua hari yang lalu Azka nelfon gue, dia cerita tentang lo"


Tyara mencoba untuk fokus menonton televisi tapi lagi-lagi ucapan kak Rei terngiang-ngiang kembali. Dia menghela nafas panjang, memilih untuk menonton acara malam ini. Lagi-lagi dia gagal, ucapan kak Rei terus mengganggu pikirannya.


Tyara menghela nafas lagi, kali ini kak Rei menoleh "kenapa, sih?"


"Gak apa-apa."


"Pasti lo penasaran kan Azka cerita apa tentang lo? tenang, dia gak cerita kejelekan lo kok. ya walaupun gue juga tau kejelekan lo." ucapnya yang diakhiri dengan kekehan. "Tidur gih, udah malem, besok lo sekolah kan?" lanjutnya.


Tyara mengangguk dan bergegas pergi ke kamar untuk tidur.


Di dalam kamar, dia masih memikirkan ucapan kak Rei. Aaarghh, sebenernya Azka cerita apa sih sama kak Rei bikin penasaran aja. Rutuknya dalam hati.


Tyara mengambil boneka doraemon yang dia dapatkan pada saat mereka jalan. Dia memukulnya dan dia cemek-cemek wajah boneka itu menganggap bahwa yang dia cemek-cemek itu adalah wajah Azka.


"Lo udah jadi mantan masih aja bikin gue gelisah, sih." Omelnya pada boneka itu, "kenapa disaat gue udah berniat buat move on lo dateng lagi, kampret."


Tyara terus saja meninju-ninju boneka itu berharap dia merasakan apa yang Tyara rasakan.


Tyara menguap, "kok ngantuk ya" gumamnya sembari merebahkan kepalanya di bantal. Kamar yang bernuansa biru dan cream itu mampu membuatnya tertidur dengan cepat.

__ADS_1


***


Senin, hari yang paling di benci seluruh murid di sekolah manapun. Karena di hari senin sudah pasti diadakan upacara bendera, Tyara berdiri di barisan paling belakang, keringat mulai membasahi wajahnya.


"Lama banget sih amanatnya, heran" gerutunya.


Yeni yang berada di depannya menengok ke belakang karena mendengar gerutuan Tyara yang lumayan kencang, "sabar, dikit lagi." Katanya dan kembali menghadap ke depan.


Bukan tanpa alasan Tyara kesal, masalahnya dia sudah memutihkan wajahnya berbulan-bulan eh ngiteminnya cuma dalam waktu sekejap, sia-sia dong dia beli skincare kalau kaya gini caranya.


Ketika Tyara menengok ke belakang di samping kanannya ada guru piket yang sedang berdiri dan ketika menengok ke samping kiri ada Azka sang ketua osis, entah kenapa dia bisa ada disitu.


Tyara memandang ke arah Azka dan orang yang dipandang pun menengok dan memelototkan matanya, Tyara juga ikut melotot kearahnya. Mulut Azka berkata "liat ke depan!" Tanpa suara hanya bibirnya saja yang bergerak-gerak.


Lucu


Tyara terdiam beberapa saat dia masih memikirkan perkataan kakaknya semalam. Dia pun menghela nafas dan kembali menghadap ke depan, tidak lama kemudian amanat serta upacara bendera pun selesai dan barisan di bubarkan. Tyara dan Yeni berjalan ke arah kelas, Arva sedang ke kantin katanya dia ingin membeli minuman dulu.


"Sekarang pelajarannya siapa?" Tanya Tyara ke Yeni ketika mereka sudah duduk di kelas.


"Pak Yadi."


Tyara menganggukkan kepalanya, mengerti, di depan kelas dia melihat pak Yadi yang sedang menjewer telinga, Arva?! Dia dan Yeni membelalakkan mata kaget.


Gimana gak kaget, jelas-jelas tadi Arva pamit sendiri dengannya dan Yeni mau ke kantin kenapa sekarang jadi ada disini menikmati jeweran pak Yadi yang bisa dibilang kelewat enak.


"Pak, ampun, pak"


"Kamu ini, sudah tahu sekarang jam pelajaran saya kenapa malah mangkal di kantin, hah?!" Ucap pak Yadi dengan mata yang melotot.


Gile, matanya lebih serem dari Azka tadi Woi.


"Sudah, sana kamu duduk di tempatmu" suruh pak Yadi dan melepaskan jewerannya.


Tyara melihat Arva yang berjalan kearah bangkunya sembari mengusap-ngusap telinganya yang memerah akibat jeweran itu.


"Kenapa, Va?" Bisik Tyara pelan.


"Ketauan gue lagi makan gorengan di kantin." Jawab Arva sembari duduk di bangkunya tepat di belakang Tyara.


Tyara menahan tawa, siapa suruh bilangnya mau beli minum tapi malah makan gorengannya mba iyem. Dia kembali menghadap ke depan takut pak Yadi memergokinya dan berakhir mengenaskan seperti Arva, sorry ya Tyara masih sayang telinganya.


***


Bel istirahat sudah berbunyi beberapa menit lalu, tapi Tyara dan Yeni masih sibuk menyalin catatan pelajaran sebelumnya sedangkan Arva? Tidak usah ditanya, dia sudah ngacir duluan ke kantin.


Tyara menutup bukunya dan memasukkannya ke dalam tas, Yeni juga sudah selesai mencatat nya.


"Yuk, kantin"


Yeni mengangguk dan menggandeng tangannya.


Sesampainya di kantin Tyara langsung mencari tempat duduk yang sekiranya masih kosong sedangkan yeni memesankan makanan.


Sembari menunggu Yeni datang dia lebih memilih untuk membuka Instagram, mengusir kegabutan.


"Nih"


Tyara menengok, "makasih, Yen"


Yeni hanya mengangguk dan kemudian duduk di hadapannya.


Ketika mereka sedang asik menikmati makanannya, tiba-tiba saja seseorang mengagetkannya.


"Lo masih deket sama Azka?"


Tyara dan Yeni tersedak mendengar suara yang tiba-tiba itu, secara mereka hanya berdua. Lalu, suara siapa itu?


Ketika Tyara menengok ke sampingnya dia melihat orang yang sangat tidak ingin dia temui.

__ADS_1


\*\*\*\*


__ADS_2