ALUMNI HATI

ALUMNI HATI
29


__ADS_3

Happy Reading!!


...*****...


...Saling menyayangi tapi juga saling menyakiti, lalu.. harus bagaimana?...


...*****...


Tyara memegang pulpennya dengan mata yang lurus menatap ke depan, angin yang berhembus melalui jendela membuat rambutnya yang sengaja dibiarkan tergerai bebas berterbangan. Sinar matahari yang menelusup ke dalam kelas melalui ventilasi membuat Tyara sedikit mengerutkan alisnya.


Tepukan bahu di sebelahnya membuat Tyara berjengit kaget, dan memegang sebelah dadanya sebagai bentuk gerakan refleks. Tatapannya berubah melotot ketika melihat Yeni yang sedang terkekeh.


"Kenapa sih, suka banget ngagetin orang!"


Seruan Tyara yang terdengar kesal membuat Arva mencondongkan tubuhnya kearah depan tempat dimana Tyara dan Yeni duduk. "Ssstts, berisik," ujarnya sembari menaruh jari telunjuknya di depan mulutnya.


"Diem lo!" ujar Tyara.


"Gue perhatiin dari tadi lo murung terus, kenapa? Ada masalah?" Tanya Yeni sembari menatap kearah Tyara.


Tyara menggeleng pelan dengan mimik wajah yang dibuat kembali normal, "Gak kenapa-napa kok, Yen."


"Azka buat ulah lagi ya?"


"Emang Azka ngapain Tyara lagi?" Tanya Arva penasaran.


"Tadi gue liat dia berangkat bareng Luna."


Tyara membelalakkan matanya mendengar sebuah fakta baru, tapi sepersekian detik selanjutnya dia langsung menggeleng dengan kuat. "Bukan gara-gara dia ko," sahutnya sembari mencoba untuk tersenyum.


"Terus, karena apa?"


Tyara menghela napas pelan kemudian menunduk, "papa sama mama bakal cerai."


"APA?!" teriakan nyaring itu membuat murid-murid yang lainnya menatap Yeni tajam, sementara yang ditatap hanya memberikan cengirannya dan menangkupkan kedua tangan serta mengucapkan maaf tanpa suara.


"Kenapa? Kok bisa?" tanya Arva.


"Papa gue selingkuh," sahut Tyara sembari mendongak. Terlihat dari bola matanya yang memancarkan kekecewaan yang sangat mendalam, memangnya anak mana sih yang mau melihat orang tuanya berpisah? Setegar-tegarnya anak, pasti rapuh juga jika sudah menyangkut orang tua terlebih lagi perceraian.


"Gue gak bakal nyangka hal ini bakal menimpa keluarga gue, padahal gue bahagia banget udah lahir di keluarga ini. Papa yang baik, mama yang perhatian juga Rei yang sangat ngejaga gue, gue sebenernya gak mau mereka pisah tapi gue gak bisa ngelarangnya..." sebulir air mata jatuh dari pelupuk matanya, dengan cepat ia langsung mengusap air matanya kasar.


Ia menatap Arva dan Yeni secara bergantian, "Gue harus gimana? Azka yang gue pikir bakalan bisa jadi tempat gue buat ngeluapin keluh kesah gue ternyata dia gak ada disaat gue lagi terpuruk kaya gini."


Tubuh Tyara tiba-tiba ditarik ke dalam pelukan hangat Yeni, kedua tangannya mengusap punggungnya lembut, "Lo kuat! Lo pasti bisa laluin semuanya. Nggak selamanya hidup itu tentang kesenangan begitupun sebaliknya, intinya setiap kesedihan yang kita hadapi saat ini bakal diganti dengan kebahagiaan di suatu saat nanti."


Yeni melepaskan pelukannya, gantian Arva yang menepuk-nepuk punggung Tyara pelan. "Yang kuat yaa, gak boleh sedih!"


Tyara tidak bisa untuk tidak menahan senyumnya, jejak air mata di pipinya pun perlahan menghilang. Apalagi yang membahagiakan selain memiliki teman yang baik dan pengertian seperti mereka?

__ADS_1


****


Suasana di sekolah saat ini sudah mulai sepi, hanya tersisa beberapa motor saja. Deru motor yang memekakkan telinga terdengar beriringan dari arah parkiran sekolah, pikiran Tyara buyar saat samar-samar ia mendengar suara seseorang memanggil namanya seiring dengan derap langkah kaki yang berjalan kearahnya.


Tidak memberanikan diri untuk menoleh ke belakang, Tyara malah mempercepat langkahnya menuju gerbang sekolah.


"Tunggu!"


Tyara hendak berlari tapi terlambat, sebuah telapak tangan besar telah berhasil melingkar di pergelangan tangannya, Tyara menghentikan langkahnya tanpa berniat untuk berbalik.


"Kenapa lari?"


Mendengar suara yang familiar di telinganya membuat Tyara membalikkan badannya, "Gue pikir siapa," ujarnya. Bohong, Tyara sebenarnya sudah tahu suara siapa itu.


Azka menyentil dahi Tyara pelan, "Makanya kalo dipanggil itu nyaut bukannya lari."


"Bodo!"


Lagi, Azka menyentil dahi Tyara pelan, "Apaan sih?! Lo udah ganti profesi jadi tukang sentil apa, hah?!" ujar Tyara kesal.


Tanpa memedulikan ucapan Tyara, Azka kembali menyentil dahi Tyara dengan agak kuat membuat gadis itu meringis pelan. Lalu ia mengikuti Azka yang sudah berjalan lebih dulu menuju parkiran.


Tidak membiarkan Tyara untuk membuka suara, Azka langsung menyodorkan helm ke hadapan gadis itu. Tyara menerimanya dengan sedikit kasar kemudian memasang pengait helm dengan cepat.


Setelahnya, motor Azka melaju dengan cepat meninggalkan lingkungan sekolah membelah kemacetan di siang hari. Panas matahari menyengat bagian kulit Tyara yang terbuka, angin siang hari menerpa kulit wajah Tyara karena kaca helm yang dibiarkan terbuka.


Motor Azka berhenti di simpang empat saat lampu merah menyala.


"Sama temennya."


Tyara tetap menganggukkan kepalanya walau Azka tidak bisa melihatnya karena pandangan laki-laki itu menatap lurus ke depan.


"Kenapa nanyain dia?" ujar Azka sembari melirik Tyara melalui kaca spion.


"Kenapa? Gak boleh?" Bukannya menjawab Tyara malah balik bertanya.


Azka terkekeh pelan, bahkan jika Tyara tidak menajamkan pendengarannya ia tidak akan mendengar itu, "Lo gak lagi cemburu, kan?"


Tyara menggeleng, bertepatan dengan lampu lalu lintas yang berubah warna menjadi hijau. Satu persatu kendaraan melanjutkan kembali perjalanan mereka yang sempat tertunda, begitu pun dengan Azka yang melajukan kecepatannya dengan sedang.


"Kalau mau pergi lagi, bilang, sebelum gue jatuh lagi sama lo," Tyara bergumam pelan.


*****


Perasaan seperti apa yang akan kamu gambarkan jika hari Minggu tiba? Sedih kah? Senang kah? Atau, biasa saja?


Sedih karena tidak bisa berjumpa dengan teman-teman di sekolah, senang karena bisa menghabiskan waktu seharian di rumah atau biasa saja karena kamu menganggap hari Minggu sama seperti hari-hari sebelumnya.


Hari Minggu disebut sebagai hari mencuci sedunia, selain itu orang-orang juga sering memanfaatkannya untuk jalan-jalan bersama keluarga, teman atau bahkan pasangan. Namun, tak jarang ada juga yang hanya menghabiskan waktunya di kamar seharian.

__ADS_1


Tyara menatap pantulan dirinya di depan cermin, dia merapikan rambutnya yang sedikit agak berantakan. Raut kesal Azka adalah yang pertama kali ia lihat ketika menjejakkan kakinya di lantai bawah.


"Lama amat, neng? Dandan apa bangun rumah?" cibir Azka sembari beranjak dari duduknya.


Tyara memutar bola matanya malas, "Jadi berangkat gak nih? Kalo gak jadi gue mau naik ke atas lagi," ujarnya sembari mengambil ancang-ancang untuk kembali ke kamarnya.


Azka langsung menarik pergelangan tangan Tyara keluar rumah dan mendorongnya masuk ke dalam mobilnya.


Tak lama setelahnya, mobil milik Azka melaju meninggalkan pekarangan rumah Tyara, suara musik yang menggema di dalam mobil mengisi keheningan mereka. Azka yang fokus pada kemudinya dan Tyara yang fokus menatap keluar jendela.


Decitan ban yang beradu dengan semen terdengar saat Azka menghentikan mobilnya secara mendadak, tentu saja ia langsung mendapatkan umpatan dari Tyara.


"Kira-kira dong kalo mau ngerem!"


Azka yang sibuk melepaskan seatbelt hanya melirik Tyara, "Udah sampe, lo masih mau di dalem mobil?"


Suara pintu mobil yang dibanting dengan kuat terdengar bersamaan dengan Azka yang keluar dari mobil, lalu Tyara pun mengikutinya. Keduanya memasuki pusat perbelanjaan yang cukup terkenal di Ibu kota. Mereka berjalan berdampingan mampu membuat beberapa pasang mata menatap kearahnya.


'Gila, tuh cowok ganteng banget.'


Azka yang mendengar ucapan itu langsung menoleh ke sumber suara, "Makasih, gue tau gue ganteng tapi sorry gue udah punya pacar," ujarnya sembari menggandeng lengan Tyara.


Tyara yang melihatnya berusaha untuk melepaskan gandengan tangan itu, namun nihil ternyata Azka memegangnya dengan kuat.


Gadis-gadis yang menatap Azka tadi pun berseru, 'yaahh!' dengan suara pelan namun masih mampu di dengar oleh Azka dan Tyara. Mereka kembali melanjutkan perjalanannya, "Ini kita mau kemana sih?" tanya Tyara yang sudah mulai lelah.


"Jalan-jalan aja, daripada lo gabut di rumah."


Tyara menatap Azka tak percaya, "Gue udah dandan-dandan begini tapi lo cuma ngajak jalan-jalan gak jelas gini?"


Azka hanya menghendikkan bahunya acuh, setelah cukup lama berkeliling mereka menyempatkan diri untuk mengisi perut mereka. Helaan nafas lelah terdengar setelah Tyara berhasil menjatuhkan dirinya pada kursi yang ada disana.


Ketika pesanan mereka dihidangkan, Tyara serta Azka langsung menyantap makanannya. Tidak perlu membutuhkan waktu lama, makanan mereka habis tak tersisa.


"Ini serius, kesini cuma numpang makan doang?" tanya Tyara sembari menyeruput es jeruknya.


Azka hanya memberikan cengirannya, tapi sepersekian detik selanjutnya ia memasang wajah serius. Tyara yang melihatnya langsung bergidik ngeri, pasalnya Azka kalau memasang wajah serius itu sangat menyeramkan baginya.


"Kenapa?"


Azka tersenyum manis, "Balikan, yuk!"


Sedangkan Tyara hanya membelalakkan matanya kaget, ia mengerjapkan matanya beberapa kali untuk memastikan bahwa ini bukan mimpi.


"Mau gak?" tanya Azka lagi, "Udahlah, mau gak mau harus mau. Pokoknya sekarang kita pacaran titik," ujar Azka sedikit memaksa.


"Yaudah terserah lo aja deh," sahut Tyara pasrah.


Sebenarnya, Tyara sangat senang ketika Azka mengajaknya untuk kembali berpacaran tapi ada sedikit keraguan di dalam dirinya entah apa itu bahkan dia sendiri pun tidak tahu. Masih dengan senyuman yang tidak pernah hilang, Azka memandang Tyara seakan-akan gadis itu akan hilang saja.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Azka pun beranjak bangun dari duduknya dan mengajak Tyara untuk segera pulang ke rumah. Tyara pun menurut dan mengikuti Azka dari belakang, tapi ternyata lengannya ditarik oleh Azka dan mereka berjalan berdampingan sembari berpegangan layaknya orang menyebrang.


...******...


__ADS_2