ALUMNI HATI

ALUMNI HATI
32


__ADS_3

HAPPY READING!!!


...*****...


...Bila kau tau diam akan sangat menyiksa,...


...lalu bagaimana dengan berbicara tapi tak pernah di dengar?...


...*****...


Tyara berlari ke jalan raya dengan perasaan jengkel, panggilan dari Azka tak sedikitpun ia hiraukan. Ia terus berlari hingga sebuah taksi berhenti di hadapannya.


Tyara menarik pintu mobil, berharap bisa kabur dari laki-laki yang sedang ia hindari seharian ini. Persetan dengan tak punya uang, nanti di rumah ia tinggal meminta uang kepada mamahnya atau pun pada Rei.


Belum sempat tubuhnya masuk ke dalam mobil, tangannya sudah dicekal terlebih dahulu dengan tangan yang lebih besar dari tangannya.


"Turun!"


"Ngga, lepasin gue!" Tyara berusaha melepaskan tangan Azka yang mencengkram pergelangan tangannya dengan begitu kuat.


Bruk!


Tyara berhasil mendorong tubuh Azka hingga cekalan tangannya terlepas begitu saja, alhasi Azka jatuh tersungkur di tanah karena ia kehilangan keseimbangannya.


"Keluar, gue mau pulang," Tyara kembali mendorong tubuh Azka ketika laki-laki itu hendak memaksa masuk ke dalam mobil.


Namun, bukannya turun Azka malah duduk diam tak menghiraukan pukulan-pukulan Tyara.


"Gue mau nganterin lo pulang, emangnya salah?"


"Salah, salah banget!", jawab Tyara cepat.


"Kenapa? Gue kan pacar lo, gue berhak dong buat nganterin pacarnya sendiri."


"Lo anterin aja sana si Luna kalo gak Aliya."


Tyara masih berusaha untuk mendorong tubuh Azka keluar dari taksi, namun, kekuatan yang tak sebanding membuat Azka tetap berada pada posisinya.


"Keluar!!"


"Enggak!"


"Dek, kalau mau pacaran jangan disini, saya mau cari uang buat nafkahin keluarga saya," ujar sopir taksi yang bingung melihat dua tingkah remaja di belakangnya.


"Diem!" Seru Tyara dan Azka secara bersamaan sedangkan pak sopir melongo memandang mereka berdua.


****


Sore ini Azka menemani Luna pergi ke mall, Luna ingin membeli beberapa pasang baju juga kebutuhan lainnya. Keduanya menyusuri beberapa toko pakaian yang ada di mall, Luna berjalan di depan dengan belanjaan yang berada di tangan kanannya sementara Azka berjalan di belakangnya.


Awalnya, Azka sudah menawari diri agar dia saja yang membawakan barang belanjaannya, namun Luna bersikeras untuk membawanya sendiri.


Seseorang menepuk punggung Azka pelan, Azka pun menoleh dan melihat siapa pelakunya.


"Elo?"


Orang itu menatap Azka datar juga ia melirik gadis yang sekarang sudah berdiri di samping Azka.


"Halo, Vano," seru gadis itu sedangkan Vano hanya menaikkan alisnya sebelah.


Vano tak menghiraukan sapaan itu ia mengalihkan pandangannya pada Azka, "Ikut gue," ujar Vano sembari berjalan menjauhi Luna.


Ketika dirasa sudah cukup jauh dan Luna pun tidak mungkin bisa mendengar percakapan mereka, Vano berbalik badan dan menatap Azka.


"Lo ngapain sama dia?"


"Luna," sahut Azka.


"Ya, siapapun namanya, gue tanya sekali lagi lo ngapain sama dia?"

__ADS_1


"Dia minta gue buat nemenin belanja, udah itu doang."


Vano tersenyum miring, "Emang dia gak punya temen selain lo?"


Azka mengerutkan alisnya, "Maksud lo apa, sih? Kalo ngomong yang jelas, Van."


Vani berdecak sembari menggelengkan kepala, "Ternyata lo brengsek juga ya, gue baru tau temen gue sebrengsek ini."


Azka masih dengan rasa santai menanggapi ucapan Vano, "Kalo ngomong yang jelas kampret, gak usah berbelit-belit."


"Lo emang brengsek, gila ya, lo gak tau? dua hari yang lalu cewek lo pulang sekolah ujan-ujanan sampe jatoh di jalan! Kalo bukan gue yang nolongin siapa lagi? Liat sekarang, lo malah asik-asiknya jalan sama nih cewek?! Sumpah gak habis pikir gue sama lo!"


Azka membelalakkan matanya mendengar ucapan Vano, "Maksud lo?"


"Bego!" ujar Vano sembari mengusap wajahnya frustasi, "sekarang gue tanya sama lo, lo pilih Tyara atau Luna?"


Azka memutar bola matanya malas, "Gak usah kasih gue pilihan yang jelas-jelas gak bisa gue pilih."


Vano tersenyum sinis, "See? Kita sahabatan udah lama, tapi gue masih gak ngerti jalan pikiran lo dimana."


Setelah mengatakan itu Vano beranjak pergi meninggalkan Azka yang terdiam.


****


Sewaktu turun dari motor Vano, Tyara tidak bisa menutupi keterkejutannya. Bagaimana ia tidak terkejut, satu buah motor yang terparkir rapi di samping garasi adalah alasan dari rasa kagetnya. Biasanya, Azka akan menunggu Tyara di dalam rumahnya namun kali ini laki-laki itu sedang berdiri di depan rumahnya bersama dengan Riana.


Dengan langkah terburu-buru, Tyara memasuki rumahnya diikuti Vano yang berjalan di belakangnya.


"Tuh, Tyara udah pulang," ujar Riana sembari menunjuk Tyara menggunakan dagunya dan tentu saja membuat Azka langsung membalikkan badannya. Manik matanya seolah mengunci tatapan Tyara sehingga gadis itu tidak bisa mengalihkan tatapannya ke arah lain.


"Ya udah, sekarang ngobrol sama Tyara, Tante ke belakang dulu," Riana beranjak dari duduknya sembari menepuk pundak Azka pelan.


Tyara berjalan mendekat ke arah Azka yang saat ini sudah berdiri sembari menyilangkan tangannya di depan dada. Ia melangkah dengan perasaan cemas, bayang-bayang buruk yang akan terjadi ia tepis jauh-jauh dari benaknya.


"Dari mana aja?"


Suara itu, bukanlah suara bentakan. Namun, entah kenapa rasanya Tyara ingin menghilang saja dari muka bumi saat ini juga.


Tatapan Azka beralih pada Vano yang tengah berjalan santai ke arah mereka, ia berdecih pelan saat menyadari ada sesuatu yang ia lewatkan.


Vano berdiri di samping Tyara sebelum menatap ke arah Tyara Vano menaikkan alisnya sebelah menatap Azka, "Ra, gue mau pulang."


Tyara menoleh pada sosok Vano, "Terus?"


"Bisa panggilin mama lo, gak?"


"Kenapa?"


"Mau minta maaf udah bikin anak gadisnya pulang telat," ujar Vano sembari menaik turunkan alisnya yang mana membuat Tyara mendengus.


"Udah gak papa, gak usah."


"Bener?"


"Nggak."


Vano menganggukkan kepala mengerti, "Ya udah, gue pulang ya," ujarnya "Hati-hati," lanjutnya sembari menatap Azka dan berlalu pergi.


Kepergian Vano membuat suasana menjadi canggung, tapi sepertinya hanya Tyara saja yang merasakan seperti itu karena tampaknya Azka terlihat biasa-biasa saja.


"Dari mana?" Lagi, Azka kembali melontarkan pertanyaan yang sama.


Dengan keberanian yang sudah ia kumpulkan, Tyara menjawab pelan, "Dari taman."


Ia mengernyit bingung saat melihat Azka yang tengah terkekeh, baru saja ia hendak membuka suara tapi mulutnya kembali tertutup rapat saat mendengar pertanyaan Azka.


"Selingkuh? Sama Vano?"


Tidak sama sekali! Tidak pernah terpikirkan sekali pun dalam benaknya Tyara untuk berselingkuh apalagi dengan Vano, sahabatnya Azka.

__ADS_1


Selingkuh? Yang benar saja, ia diajarkan untuk menghargai seseorang lalu, apakah selingkuh itu termasuk menghargai seseorang yang diselingkuhi? Sepertinya tidak.


"Kenapa diem? Gak mau jawab? Bener yang gue omongin? Kenapa harus Vano?"


Napas Tyara memburu, entah pergi kemana rasa takutnya terhadap Azka, yang jelas saat ini laki-laki itu sudah memancing emosinya.


"Segitu buruknya ya? Padahal gue gak pernah punya niatan kaya gitu, sedikitpun gak pernah."


Azka menaikkan alisnya sebelah, "Terus, apa sebutan buat cewek yang jalan bareng cowok lain dibelakang pacarnya?"


Kini, giliran Tyara yang menatap Azka dengan tatapan menantang, sudut bibirnya terangkat, "Oh, terus.. apa sebutan buat cowok yang berani-beraninya jalan sama cewek lain di belakang pacarnya?"


Azka dibuat mematung dengan pertanyaan pedas Tyara, Ia memandang Tyara dalam tidak menyangka kalimat itu akan dilontarkan oleh Tyara.


"Siapa yang lo maksud?"


Seribu kali pun Tyara berniat untuk menyadarkan laki-laki itu, jawabannya tetap sama, percuma.


Tyara menatap Azka lurus, "Ada, orang."


Suasana mendadak hening seiring berjalannya Tyara ke dalam rumahnya, ia duduk di sofa ruang tamu diikuti Azka yang duduk bersebrangan dengannya.


"Lo tega sama gue?"


Tyara mengernyit bingung.


"Lo tega selingkuh dibelakang gue? Apalagi orang itu Vano," Azka menjeda ucapannya sebentar, lalu menatap curiga ke arah Tyara, "atau... jangan-jangan lo udah ada perasaan sama dia? Iya?"


"Kenapa bisa lo berpikir kaya gitu?"


"Kenapa harus Vano?! Apa gak ada orang lain? Gue mau lo jauhin dia," balas Azka tegas.


"Kenapa gue harus jauhin dia? Sekarang, gue balik pertanyaannya. Kalo gue minta lo buat jauhin Luna, lo mau?" Tyara tersenyum miris setelah melihat perubahan wajah Azka, biar dia tebak jawaban macam apa yang akan Azka berikan. "Gak bisa kan?!"


"Ini beda!" Suara Azka naik satu oktaf, ia menatap Tyara dalam lalu menghela napas saat sadar apa yang telah ia lakukan.


Tyara tersentak kaget ketika Azka membentaknya, pasalnya Azka tidak pernah sedikitpun membentaknya seperti saat ini.


"Gue sama Luna itu sahabat lama, udah lama banget sama dia dan dia butuh gue."


"Terus, apa bedanya gue sama dia?" balas Tyara pelan.


Azka menghela napas berat, "Please, ngertiin posisi gue."


Azka menegakkan punggungnya, ia berjalan mendekati Tyara kemudian berjongkok di hadapannya. Kedua ibu jarinya mengusap sudut mata Tyara yang sudah berair, cepat atau lambat air mata itu akan jatuh juga.


"Maaf udah buat lo nangis," cukup lama Azka mempertahankan posisi seperti itu. Sebelum akhirnya ia berdiri, "Gue pulang ya, abis ini lo langsung mandi terus tidur, jangan kemana-mana lagi."


Tyara mengangguk dengan kepalanya yang diusap oleh Azka, setelah itu Azka berlalu sampai punggungnya menghilang di balik pintu.


Seribu kali pun ia berusaha menguatkan hatinya untuk tidak menangis, namun air mata itu tetap keluar juga. Ia terisak pelan dengan hatinya yang terus merutuki kebodohannya, ia sudah berjanji untuk tidak lagi menangisi laki-laki tapi, lihat sekarang.


Tyara mengusap air matanya kasar, ia beranjak dari duduknya hendak melangkah ke lantai dua dimana kamarnya berada. Namun, baru beberapa langkah ia spontan berhenti saat tangannya ditahan dari belakang oleh seseorang. Tyara berbalik hingga ia berhadapan dengan tubuh tegap seseorang, ia mendongak dan membelalakkan matanya kaget.


"Vano?"


"Jangan nangis cuma karena laki-laki kaya dia," ujar Vano sembari menarik Tyara agar duduk kembali ke sofa.


"Lo denger semuanya?"


Vano mengangguk sembari duduk di sofa yang tadi ditempati oleh Azka, "Sorry kalo gara-gara gue lo malah jadi berantem sama Azka."


Tyara menggeleng cepat, "Nggak kok, ini bukan salah lo."


Vano menaikkan alisnya, "Sebelum Azka kenal sama lo dia emang udah lama sahabatan sama Luna, yang gue tau Azka sayang sama dia melebihi rasa sayang ke sahabat, tapi ternyata Luna cuma nganggep dia sebagai sahabat gak lebih."


"Kenapa lo cerita ini ke gue?"


"Biar lo gak salah paham nantinya, gue gak tau Azka masih ada rasa sama Luna atau gak kalo emang lo penasaran, lo bisa tanya sendiri ke Azka langsung."

__ADS_1


Tyara tersenyum miris menanggapi ucapan Vano, mana mungkin ia nekat bertanya seperti itu kepada Azka, nyari penyakit.


Vano menghela napas pelan kemudian mengunci tatapannya, "Kalo sekarang gue bilang suka sama lo, gimana?"


__ADS_2