
Hari minggu yang sangat cerah hari ini Amiraa libur begitupula Rizal yang dua hari ini sibuk menyiapkan dokumen dokumen penting dikarenakan jabatan barunya dari karyawan biasa diperusahaan cabang kini sebagai seorang manager diperusahaan pusat.
Pria itupun tengah menuruni anak tangga dengan santai seusai resmi bercerai dengan Laras kini penampilannya terlihat sedikit berubah bahkan hanya menggunakan celana selutut dan kaos oblongpun duda anak satu itu terlihat begitu sangat mempesona.
"Selamat makan mas" Ucap Amiraa dengan ramah dimeja makan tersebut.
"Ekhemm.." Rizal berdehem seraya menatap kearah Amiraa yang tengah memasukkan nasi kedalam mulutnya.
"Ekhemm.!!" Dehem Rizal kembali yang kini membuat perhatian Amiraa tertuju kepadanya.
"Mas Rizal kalau tenggorokannya lagi gak enak tuh minum dulu biar nyaman" Ucap Amiraa seraya menuangkan air putih kedalam gelas yang berada dihadapan Rizal.
"Mas mau bicara sama kamu" Ucap Rizal dengan dingin yang seketika membuat Amiraa menelan salivanya dengan kasar.
"Ada apa mas?" Tanya Amiraa penasaran dan merasa gugup dengan tatapan Rizal yang seolah olah akan mengintimidasinya.
"Jawab jujur Amiraa kemarin malam kamu pergi kemana?" Ucap Rizal dengan santai namun terlihat sangat serius wajahnya.
"Jawab Amiraa!" Ucap Rizal kembali dengan keras membuat Amiraa semakin beringsut.
"Ak..aku ke?"
"Dengan siapa?" Tanya Rizal kembali sebelum Amiraa benar benar menyelesaikan ucapannya.
"Sendiri mas" Jawab Amiraa yang kian bergetar.
"Jujur Amiraa kamu pergi dengan siapa hingga pulang hampir subuh" Ucap Rizal yang sekali lagi penuh dengan penegasan.
"Amiraa sendirian mas beneran" Ucap Amiraa memberanikan diri menatap Rizal.
"Lalu pergi kemana kamu?" Tanya Rizal yang spontan dijawab oleh Amiraa.
"Hotel Chand"
"Apah!!!!" Ucap Rizal seraya menggebrak meja yang pada akhirnya membuat Amiraa tak lagi diam.
Buliran bening itu mulai menetes membasahi pipinya terlebih lagi kali ini posisi Rizal yang sudah berdiri tepat dihadapannya.
__ADS_1
"Buat apa kamu malam malam kesana?jelaskan pada mas apalagi kamu tidak ijin saat pergi apakah itu yang diajarkan oleh orang tuamu?" Ucap Rizal seraya memegang dagu Amiraa dengan sedikit kasar.
Amiraa segera menepis tangan Rizal dengan kasar meski tinggi mereka begitu terlihat sangat jauh Amiraa mendongakkan kepalanya dan membalas menatap Rizal.
"Jangan bawa bawa orang tua mas!orang tuaku tidak seperti apa yang mas katakan!!!aku pergi menemui pemilik hotel bu Hanum namanya" Jawab Amiraa yang tak kalah tegas bahkan kini wanita yang biasanya hanya diam dan terlihat periang itu seketika berubah drastis dikala menyangkut kedua orang tuanya.
"Untuk apa kau menemuinya bukankah itu cukup tidak masuk akal terlebih dari caramu yang seakan takut padaku!apalagi Amiraa" Ucap Rizal dengan emosi yang menggebu meski tidak bermaksud memarahi Amiraa tetap saja ucapan Rizal terdengar seolah pria yang tengah memarahi anaknya.
"Aku membantunya menemukan putranya yang menghilang mas dengan caraku dengan kelebihanku" Jawab Amiraa yang kini buliran bening itu semakin deras.
Acara sarapan pagi itupun tertunda oleh perdebatan yang awalnya Rizal bermaksud untuk mencari tau kemana Amiraa pergi namun pada akhirnya Rizal sendiri bingung mengapa jadi sebuah pertengkaran.
"Amiraa kau tau harga diri wanita itu sangat mahal kau tau kau adalah seorang ratu tak pantas rasanya jika mahkotamu itu jatuh ketangan yang salah..mas tidak mau masadepanmu hancur Mir" Ucap Rizal yang kini juga berubah sedikit lembut bahkan pria itupun memegang bahu Amiraa dan sedikit membungkukkan badannya dihadapan Amiraa.
"Aku tau mas bahkan ibu dan bapak dikampung selalu mengingatkan Amiraa soal itu tanpa harus menggebrak meja terlebih dahulu" Ucap Amiraa seraya membuang wajahnya.
"Oke..oke maafkan mas Rizal yang keterlaluan tadi,mas tidak bermaksud untuk bertindak kasar denganmu meski kita tidak ada hubungan darah mas turut hawatir selama Amiraa disini berarti Amiraa juga tanggung jawab mas" Ucap Rizal.
"Jangan ulangi lagi mas tau kamu memiliki kelebihan itu tapi jangan jadikan kelebihanmu itu untuk berbohong mas tidak suka,jujurlah kepada mas ya" Imbuh Rizal lagi yang kali ini hanya mendapatkan sebuah anggukan dari Amiraa.
Hingga menjelang siang hari sebuah ketukan dari pintu utama membuyarkan lamunan Amiraa yang masih memikirkan perilaku Rizal padanya.
"Ouhh ibu silahkan masuk bu" Ucap Amiraa.
"Siapa mir?" Tanya Rizal yang tengah menuruni anak tangga.
"Bu Hanum mas" Jawab amiraa.
"Ouhh bikinin minum Mir" Ucap Rizal.
Amiraapun segera bergegas menuju dapur sedangkan Rizal berjalan menemui bu Hanum.
"Silahkan duduk dulu bu" Ucap Rizal dengan ramah.
"Iya nak" Jawab Bu Hanum.
"Apakah kedatangan saya kemari mengganggu?" Ucap Bu Hanum
__ADS_1
"ohh tidak sama sekali kok bu,perkenalkan nama saya Rizal kaka iparnya Amiraa" Ucap Rizal dengan sopan.
Amiraapun segera kembali menuju ruang tamu sembari membawa teh hangat yang tersedia diatas nampan.
"Ibu kok tau alamat saya?" Tanya Amiraa yang memang sedari tadi pertanyaan itu sedikit mengganggu difikirannya.
"itu mudah saja nak Amiraa" Jawab bu Hanum
"Begini maksud kedatangan saya kemari ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar besarnya" Ucap bu Hanum yang seketika membuat wajah Amiraa sedikit memerah.
"Saya kemari ingin membalas kebaikan Amiraa mas" Ucap bu Hanum lagi.
"Bu Hanum tak perlu sungkan kami tidak pernah meminta balasan apapun bu selagi kita masih bisa menolong ya alangkah baiknya kita tolong" Ucap Rizal yang tau arah dari pembicaraan bu Hanum.
"Iya mas tapi ini memang bentuk rasa terimakasih saya jika Amiraa berkenan saya akan memberikannya satu buah unit apartment yang masih satu lokasi dengan Chand Hotel" Ucap bu Hanum seraya menyodorkan sebuah kartu hitam yang merupakan kunci apartment tersebut.
"Bu..tidak perlu begini Amiraa tulus kok membantu" Jawab Amiraa yang merasa sedikit malu.
"Yasudah kalau begitu saya berikan tawaran lain nak Amiraa jika ingin berpindah kerja Chand Hotel sedang membutuhkan bagian keuangan" Ucap bu Hanum lagi dengan tersenyum.
"Kalau nak Amiraa masih bimbang boleh disimpan kuncinya atau jika membutuhkan saya bisa hubungi ini" Ucap bu Hanum seraya menyodorkan sebuah kartu nama.
Begitu banyak obrolan disiang itu tentang begitu banyak bu Hanum memberikan hadiah sebagai rasa ucapan terimakasih karena Amiraalah ia bisa menemukan putranya meski dengan keadaan tak bernyawa begitu pula dengan sang pelaku.
Bu Hanumpun lantas berpamitan kepada Amiraa usai kunjungannya kerumah Rizal dengan dibantu sang Supir bu Hanum berjalan dengan sangat elegan memasuki mobil jenis bmw tersebut.
"Astaga mimpi apa aku tadi" Lirih Amiraa yang masih terdengar ditelinga Rizal.
"Jadi kamu mau terima tawaran bu Hanum Mir?Meninggalkan rumah ini dan berpindah ke apartment mewah itu?" Ucap Rizal dengan wajah yang sedikit terlihat sinis ketika menatap Amiraa.
"Mas" Ucap Amiraa terhenti.
"Sudahlah pergi sana biarkan aku meratapi kesendirianku disini" Ucap Rizal dengan acuh seraya kembali masuk kedalam rumah.
"Mas Rizal hari ini kenapa sih aneh banget" Gumam Amiraa seraya mengikuti kembali masuk kedalam rumah.
BERSAMBUNG...
__ADS_1