Amiraa:Di Penghujung Penantian

Amiraa:Di Penghujung Penantian
Noda Pada Gaun Pernikahan.


__ADS_3

Waktu sudah menjelang sedikit gelap beberapa tamu undangan ada yang mulai meninggalkan dan juga baru datang.


"Amiraa jaga dirimu baik baik mas harus pulang terlebih dahulu kasihan Azka" Ucap Rizal seraya menatap keponakan cantiknya yang memakai riasan natural itu.


"Hati hati dijalan mas titip ibu juga ya" Ucap Amiraa sedikit berat baginya harus berpisah dengan keluarganya.


Edward turut serta mengantar kakak ipar dan juga ibu mertuanya hingga halaman mansion pribadinya.


"Ron bereskan sebelum terlambat" Ucap Edward kepada Aaron yang berdiri dibelakangnya.


"Memangnya akan terjadi sesuatu?" Ucap Amiraa yang mulai menebak dari guratan keseriusan diwajah Edward.


"Sepertinya begitu"


"Jangan lupakan soal Alia" Sambung Edward kembali.


Tanpa menjawab Aaron segera bergegas pergi memasuki mansion dimana semua orang tengah menikmati pesta.


Tujuannya hanya pada anak kecil yang tengah bersama pengasuh kepercayaan Edward.


"Ali ikut om ya" Ucap Aaron kepada Alia.


Tanpa basa basi lagi Aaron segera menggendong Alia menyelimutinya dengan sebuah mantel tebal.


Disaat ia berlari menuju sebuah tempat terlintas dalam benaknya akan suatu hal.


"Maaf Zainab bisakah ikut denganku"


"Kemana tuan acaranya belum selesai" Jawab Zainab dengan lemah lembut sembari menatap kearah seorang gadis yang tengah berlinang air mata dihadapannya.


"Nanti akan kujelaskan yang terpenting saat ini ikutlah bersamaku karena aku membutuhkanmu" Ucap Aaron.


Setelah memastikan Zainab mau ikut bersamanya Aaron segera bergegas menuju kesebuah ruangan besi disana pula ia menyerahkan Alia kepada Zainab.


"Pakailah ini" Ucap Aaron seraya melepaskan jasnya yang membuat Zainab berbalik memunggunginya.


"Tenang saja aku tidak akan membuka baju dihadapanmu aku hanya akan menyerahkan ini dan pakailah" Ucap Aaron seraya menyerahkan sebuah rompi anti peluru kepada Zainab.

__ADS_1


"Ada apa mengapa aku harus memakainya" Ucap Zainab kedua manik netra itu menunjukkan bahwa banyak sekali pertanyaan didalam pikirannya.


"Zainab jangan terlalu banyak bertanya yang pasti saat ini aku percayakan Alia kepadamu apapun yang terjadi dan kau dengar jangan pernah membuka pintu ini sebelum kau melihat aku yang berdiri didepan pintu itu" Ucap Aaron dengan wajah gusarnya ia menatap Alia yang berpegang erat pada jilbab panjang yang digunakan oleh Zainab.


"Aku pergi" Ucap Aaron tanpa melihat kembali kedalam ruangan besi yang kini mulai tertutup kembali.


Zainab memeluk erat Alia yang saat itu hanya terdiam balita itu seolah mengerti bahwa ada keadaan darurat yang sedang terjadi.


Sementara itu sebuah pesta pernikahan sederhana yang diimpikan oleh Amiraa menjadi sebuah pesta yang begitu penuh kisah mengerikan.


Dimana sekelompok musuh Edward datang menyergap semua orang yang ada disana bahkan sudah ada beberapa pula yang meninggal.


Suara baku tembak begitu nyaring memekakkan ditelinga.Amiraa menangis ketakutan dibalik punggung Edward yang berusaha menyerang kembali musuh yang ada.


Derap langkah kaki terdengar begitu jelas dari arah pintu utama seorang wanita yang menggunakan gaun sexy berwarna merah menyala.Perlahan ia mulai membuka topengnya,senyum simpul mulai terlihat.


"Athena!" Ucap Edward


"Renno!" Pekik Amiraa yang juga tak kalah terkejut.


"Menarik bukan pesta pernikahan kalian aku merubahnya menjadi sebuah pesta yang berkesan" Ucap Athena.


"Apa maumu" Ucap Edward seraya memberikan kode untuk seluruh anak buahnya agar berhenti menyerang.


"Kamu" Jawab Athena dengan penuh tawa yang menggelegar.


"Bagaimana Amiraa suruh Edward tunduk padaku maka akan kuserahkan pria tidak berguna ini kepadamu" Ucap Athena seraya menginjakkan kakinya pada punggung Renno yang kini memang tersungkur pada lantai.


"Kumohon tuan selamatkan dia" Ucap Amiraa.


Suatu permohonan yang membuat dada Edward terasa sedikit sesak dimana wanita yang ia cintai memohon untuk keselamatan pria lain.


"Bagaimana jika aku menolak" Ucap Edward dingin yang membuat Amiraa membulatkan matanya ia tidak menyangka bahwa Edward tidak memiliki hati.


"Tentu saja pria ini akan menjadi korban selanjutnya dia akan mati ditanganku bukankah kalian saling mencintai" Ucap Athena seraya melirik Renno dan dan Amiraa secara bergantian.


Tanpa berfikir panjang Amiraa merebut pistol milik Aaron dan menembakkannya secara asal kearah dimana Athena berdiri secara brutal.

__ADS_1


Dua kali tembakan tepat mengenai dada Athena sehingga membuat wanita itu tersungkur.


"Kau!" Ucap Athena penuh kebencian iapun membalas dengan cara menembak bagian kepala Renno dan juga kearah Amiraa yang berhasil mengenai kaki gadis tersebut.


Seketika suasana menjadi runyam ketika Valena yang sedari tadi juga menyaksikan tiba tiba saja menarik sebuah pelatuk dari senjata yang ia dapatkan dari anak buah Athena yang sudah tak bernyawa.


Darr.. Satu buah tembakan tepat mengenai pelipis Athena yang seketika itu pula membuat wanita angkuh itu tersungkur kelantai disamping Renno.


Daniel bodyguard kepercayaan Athena berteriak histeris tak percaya bahwa majikannya kini berlumuran darah.


Sementara ketua pimpinan musuh Edward yang memakai topeng juga tak terima dengan kondisi Athena iapun berusaha untuk menyerang Edward bagaimanapun caranya.


Ditengah pertarungan sengit itu Amiraa berjalan tertatih menghampiri Renno yang berbaring tak sadarkan diri.Gaun putih pernikahannya kini telah kotor bernoda merag darah.


"Ren bangun Renno" Ucap Amiraa dengan isak tangisnya.


Sementara itu dari arah belakang Valena menariknya dengan sedikit kasar.


"Pergilah menjauhlah dari Renno apa belum cukup selama ini kau buat dia hancur berkeping keping Mir!" Hardik Valena seraya memeluk Renno.


"Ini semua karenamu Mir kau egois!Kau membuatnya terluka menyingkirlah" Ucap Valena sedikit berteriak.


Sementara itu Amiraa tak berdaya ia melihat kesekelilingnya dimana banyak sekali korban yang terluka maupun meninggal diacara pesta pernikahannya.


Valena yang menangisi Renno dan berusaha membuat pria itu sadar dan juga Seorang pria yang tengah menggendong tubuh tak bernyawa Athena keluar mansion.


Noda merah tercecer dimana mana bahkan saat ini Edward terlihat bukan lawan seimbang dari pria yang tengah berkali kali memukulinya.


Kemarahan Amiraa menuncak tangannya kembali mengepal kelopak matanya menghitam ketika melihat tatto pada tangan pria yang tengah menghajar Edward.


Kini tubuhnya telah dirasuki oleh Emillia Amiraa mengambil sebuah botol minuman dan memecahkannya dengan sengaja pada botol lainnya sehingga ujung botol itu membentuk sebuah pecahan beling yang meruncing.


"Kau yang membakar mama dan papa!kau yang menembak tanganku!kau yang menyebabkan kehancuran ini terjadi" Ucap Amiraa dengan berteriak sambil berlari.


Satu kali tancapan berhasil mengenai leher ketua pemimpin pasukan yang menyerang mansion Edward.


Tetesan air mata itu tampak mengalir membasahi pipi Amiraa dengan satu tangan yang bersimbah darah itupun ia mendekati Edward.

__ADS_1


"Marga Li yang telah membunuh papa dan mama" Ucap Amiraa seraya mengelus pipi Edward dengan lembut.


BERSAMBUNG.


__ADS_2