
"Bukankah aku tadi tertidur disana?lalu siapa yang memindahku?" Ucap Amiraa kala ia terbangun dan menyadari bahwa kini posisinya tengah tertidur diatas ranjang.
"Astagaa!!!" Ucap Amiraa kala menyadari bahwa dirinya tertidur disamping pria asing tersebut.
Segera ia ingin untuk cepat cepat turun namun pandangannya dibuat bingung oleh cahaya lampu ruangan yang sedikit temaram dan bahkan semua bodyguard yang ada didalam ruanganpun ikut tertidur.
"Anehh biasanya mereka 24 jam akan menjaga tuan ini secara bergantian" Ucap Amiraa lirih seraya memperhatikan diluar pintu juga tidak ada penjaga.
Terdengar bunyi suara langkah kaki yang kian mendekat Amiraa segera turun dari brangkar tidak ada kesempatan lagi untuknya segera kembali ke brangkarnya akhirnya Amiraapun memutuskan untuk duduk disamping pria asing itu dan berpura pura seolah tidur.
Firasatnya mengatakan bahwa akan terjadi hal buruk saat ini bahkan ia bertanya tanya kemana perginya Emilia semenjak hari kecelakaan itu.
Beberapa orang menggunakan pakaian dokter dan perawat memasuki ruangan VVIP tersebut.
"Mengapa wanita ini masih disini?" Ucap seorang pria yang menggunakan masker.
"Tidak akan mempengaruhi rencana kita tuan orang suruhan kita sudah menjalankan misinya siang tadi" Jawab seorang pria lainnya.
"Tunggu tadi siang?aku bakan tidak mengingat apapun dan bagaimana bisa aku tertidur selama itu?" Ucap Amiraa membatin seraya terus menyimak percakapan orang orang yang memakai jas dokter dan perawat itu.
Hingga satu orang mulai maju mendekati pria asing yang tengah berbaring tersebut mulai melepaskan selang oksigen yang terpasang dihidung pria tersebut.
Satu orang lainnya membuka selimut pria itu dengan kasar meski demikian Amiraa masih tetap diam tak bergeming hingga salah satu dari mereka mengucapkan.
"Selamat tinggal Edward seharusnya kau mati saja hahahaha"
Amiraapun segera berdiri dari tempat duduknya dengan gesit tangannya meraih sebuah pisau buah yang ada diatas nakas.
"Siapa kalian!!" Ucap Amiraa sedikit berteriak hingga membuat beberapa orang itupun sedikit terkejut dan anehnya para bodyguard yang biasanya selalu siap siaga kali ini seolah ta mendengar apapun.
Amiraa mengacungkan pisau itu kedepan sebagai upaya perlindungan diri dilihatnya pria asing yang masih terbaring itupun terlihat mulai kesulitan bernafas.
__ADS_1
"Hahahaha gadis kecil tidak perlu ikut campur jika kau masih ingin hidup" Ucap salah satu seorang pria bertubuh sedikit gemuk.
Tatapan mereka seolah tidak takut sama sekali dengan Amiraa dan itu membuat Amiraa mulai memanggil nama Emillia untuk menghadapi sekumpulan orang orang brengsek dihadapannya.
"Aku mohon aku membutuhkanmu Emillia" Batin Amiraa.
Amiraa melihat sebuah pistol yang tersembunyi dibalik punggung pria itu namun kali ini untuk mengambilnya saja rasanya sangat mustahil.
Amiraa mencoba melawan kala dua pria bertubuh besar kini tengah berusaha untuk melumpuhkannya gelak tawa yang menggelegar dari seorang pria yang terlihat seperti pimpinan kelompok itupun membuat Amiraa bergidik ngeri.
"Tuan sadarlah tuan kumohon!!" Seru Amiraa.
"Diam kau!!" Ucap seorang pria disamping Amiraa.
Pukulan tendangan bahkan tamparan kini sudah Amiraa terima,bagaimana tidak meski terlihat baik baik saja Amiraa tetaplah seorang wanita yang tidak memiliki kemampuan bela diri ditambah dengan kondisinya yang belum cukup pulih.
Darah segar mengalir dari sudut bibirnya begitupula dengan baju rumah sakit yang ia kenakan terlihat koyak dan noda berwarna sama kini mulai terlihat di badan sebelah kirinya.
Siapa sangka disaat seperti itu pria yang bernama Edward itupun secara tiba tiba membuka matanya begitu tersadar tangannya meraih sebuah pistol yang ada dipunggung nya,menarik pelatuk itu secara asal.
Edward segera turun dari ranjangnya seraya terus berusaha melawan kelompok musuhnya.Selang infus dan juga oksigen sudah terlepas dari tubuhnya.
Pria yang penuh luka diwajahnya itu tanpa berbicara sepatah katapun terus berusaha melawan hingga kondisinya yang kian melemah ia tersungkur dilantai setelah mendapatkan sebuah pukulan di kepala bagian belakang.
Amiraa yang menyaksikan kejadian itupun hanya menangis terisak seraya menyeret tubuhnya mendekati pria yang kini tergeletak dilantai bersimbah darah.
"Tu..tuan bangun tuan hikss..hiksss" Ucap Amiraa sambil menyentuh wajah Edward menggunakan satu tangannya sementara tangan lainnya terus memegangi dada sebelah kirinya yang terus mengeluarkan darah.
"Hahahaha sudah kukatakan mati saja kalian disini manusia bodoh" Ucap pimpinan kelompok seraya menginjak kaki Amiraa.
Amiraa menjerit sekeras mungkin bagaimana tidak itu bertepatan dengan luka lebam dikakinya.Bersamaan dengan itu bola mata Amiraa menghitam sempurna tangan kanannya menggenggam dengan erat.
__ADS_1
Semua orang termasuk Edward yang masih dalam kondisi sadar dibuat terkejut dengan Amiraa yang kini berusaha untuk bangkit.
Penampilannya dengan baju yang koyak dan rambutnya yang dibiarkan berantakan sedikit senyuman aneh yang Amiraa tunjukan benar benar terlihat sangat menyeramkan.
Krekkk..krekkk Bunyi tulang tulang leher Amiraa yang di gelengkan dengan kuat.
"Pria brengsek" Ucap Amiraa yang kini telah berdiri dengan sempurna bahkan seolah tidak ada sedikitpun bagian tubuhnya yang terasa sakit meski kakinya semakin membiru dan bajunya pun kian basah berwarna merah.
Dengan sekali tinjuan yang Amiraa berikan kepada salah satu pria yang sejak tadi memukulinya membuat pria itupun terjatuh seketika.
Amiraa berteriak seraya mengambil pistol dilantai dan mulai menembaki orang orang kelompok tak dikenal itu.
Sesekali ia menendang bahkan memukul orang orang itu dengan gesit dan lincah.
"Kau ingin membunuhnya?Amiraa hanya milikku!!Aku yang berhak atas diri Amiraa!!" Ucap Amiraa sendiri yang membuat semua orang yang tersisa termasuk Edward pun merasa bingung.
Kelompok itupun dalam sekejap telah dibinasakan oleh Amira termasuk pimpinan kelompok yang terlihat begitu mengenaskan dengan adanya pisau buah yang tertancap tepat di bagian ma*a sebelah kirinya.
Amiraa menjatuhkan pistolnya kelantai dengan langkah yang sedikit gontai ia berjalan dan menatap Edward yang berbaring tak berdaya dilantai.
Tatapan Amiraa benar benar berubah bahkan bola mata yang sepenuhnya menghitam kini telah menghilang hanya saja itu bukanlah Amiraa yang sesungguhnya.
"Aku akan melindungi mu" Ucap Amiraa lirih seraya mengelus lembut wajah Edward menggunakan tangan kanannya.
"Tidak apa aku kehilangan ini aku masih bisa menyentuh dan melindungi mu menggunakan tangan kananku" Ucap Amiraa seraya menunjukkan tangan kirinya yang terlihat baik baik saja.
"Edward maaf aku terlambat" Ucap seorang pria diambang pintu.
Begitu Amiraa menoleh dengan tatapan tak suka Edward segera menggenggam tangan Amiraa mengisyaratkan bahwa itu bukan orang jahat.
"Aaron" Ucap Edward lirih disaat yang bersamaan kesadaran Amiraa dan Edward pun menghilang keduanya sama sama tergeletak tak berdaya dengan posisi kepala Amiraa berada pada dada Edward.
__ADS_1
Aaron pun segera bergegas meminta pertolongan termasuk dokter Reyhan yang begitu terkejut melihat ruang bangsal VVIP yang kini terlihat begitu banyak mayat bergeletakan termasuk bodyguard yang bertugas menjada Edward.
BERSAMBUNG.