
Cuaca siang hari yang cukup terik gadis dengan rambut diikat satu itu meneguk jus mangga ditangannya dengan sangat rakus.
"Pelan pelan Amiraa tidak ada yang memintanya" Ucap Viona seraya menatap kearah Amiraa.
"Haus Vi panas sekali siang ini" Ucap Amiraa ia menyeka peluh yang membasahi dahinya menggunakan tisu.
"Apa kau serius akan membiarkan Renno bersama wanita itu?" Tanya Viona.
Sudah bukan hal yang perlu dirahasiakan lagi oleh Amiraa bahkan Viona sudah tau seluruh cerita kehidupan Amiraa.
"Mau bagaimana lagi sudahlah jangan dibahas lagi" Ucap Amiraa tatapannya sedikit kosong menatap menu makan siang dimeja.
"Kalau gak ikhlas kenapa dilepas Mir?"Ucap Viona sedikit meledek.
"Apaan sih Vi lagian kita gak ada hubungan apapun kok" Ucap Amiraa mengelak.
"Alah gak usah berbohong Mir aku tau sebenarnya kamu sedikit menaruh rasa kan padanya?" Ucap Viona.
Kali ini Amiraa kembali terdiam memang benar bahwa Amiraa sudah menaruh hatinya kepada Renno hanya saja menunggu waktu yang tepat untuk menjawab pernyataan bahwa Renno juga mencintainya akan tetapi dengan adanya Valena yang cintanya jauh lebih besar membuat Amiraa harus merelakan Renno dan juga mengorbankan perasaannya.
"Nanti kamu ya yang bertugas diruangan presdir" Ucap Viona mengalihkan topik pembicaraan.
"Kenapa harus aku sih Vi kenapa bukan kamu saja lagi lagi hariku selalu rusak oleh pria arogan itu" Amiraa mendengus kesal.
"Ayolah mir selamatkan aku kau tau sendiri tuan Edward tak segan memecat seseorang jika matanya tidak suka melihat orang itu" Ucap Viona sedikit memohon.
"Ya ayolah Mir kau mau aku keluar dari sini tau sendiri kan tidak ada seorangpun yang mau berteman dengan kita" Ucap Viona.
"Baiklah" Satu jawab singkat yang diberikan oleh Amiraa membuat gadis berambut keriting itu tersenyum lebar menampilkan gigi putihnya.
...****************...
Tibalah dimana Amiraa harus kembali bekerja untungnya ruangan Edward kali ini benar benar sepi tidak ada siapapun bahkan Aaron sekalipun.
Memang setelah jam istirahat Edward harus memimpin rapat bulanan bersama setiap ketua staf di perusahaannya.
“Untunglah tidak ada dia” Ucap Amiraa membatin dengan penuh kemenangan.
__ADS_1
Pandangan Amiraa tertuju pada sosok perempuan yang tengah berjalan mondar mandir disamping kaca besar semaksimal mungkin Amiraa bertingkah seolah tidak melihat wanita bergaun merah itu.
“Miraa kau mampu melihatku kan!” Ucap wanita itu.
Amiraa masih saja tidak bergeming seolah tidak mendengar dan tidak melihat siapapun disana.
“Miraa kumohon aku tau kau bisa melihatku tolong aku miraa kali ini saja” Ucap wanita itu memelas dan memohon bahkan kini tubuhnya pun tersungkur dilantai terdengar suara isakan tangis yang begitu memilukan.
Sejenak Amiraa mengingat bukankah itu hantu dirumah sakit saat dirinya dua kali dirawat disana dan wanita itu berdiri menatap Edward yang berjalan memasuki sebuah ruangan VVIP.
*“Apa mungkin berhubungan dengan pria itu?sudahlah aku tidak mau terlibat apapun dengannya cukup Emillia saja yang menyusahkan ku” *Ucap Amiraa membatin.
Wanita itu tampak masih menangis bukan air mata yang terlihat menetes pada lantai melainkan sebuah noda berwarna merah,Amiraa cukup yakin bahwa jika hantu menangis darah artinya masalah mereka cukuplah sulit dan itu merupakan sebuah bukti kejujuran tentang apa yang mereka rasakan.
“Selamatkan dia Miraa ini menyangkut nyawa seseorang” Ucap suara lain yang tidak asing lagi bagi Amiraa.
“Hufttt..sampai kapan aku akan berurusan dengan kalian!!” Ucap Amiraa sedikit kesal kali ini Emillia yang memintanya.
“Miraa bukankah kau sudah berjanji padaku untuk selalu membantuku kali ini orang yang paling berharga bagi Edward dalam bahaya” Ucap Emillia.
“Mengapa aku harus membantumu” Ucap Amiraa sedikit angkuh bagi Amiraa menolong hantu bukanlah sebuah keistimewaan tersendiri melainkan sebuah kesialan yang sedang dia tuju.
“Amiraa kau masih ingat rumah sakit itu kan?beri tahu Edward saat ini juga Alia dalam masa kritis” Ucap Emillia.
“Siapa itu Alia dan apa hubungan hantu ini dengannya dan apa aku harus menuruti kalian” Ucap Amiraa.
“Amiraa waktunya tidak banyak lagi cepat beri tahu Edward!!” Bentak Emillia sementara hantu wanita bergaun merah itu hanya melihat dan meremas gaun yang dia gunakan.
“Beri tahu aku dulu” Ucap Amiraa tak mau kalah.
“Alia putriku tolong selamatkan dia beritahu Edward bahwa putrinya dalam bahaya” Ucap wanita bergaun merah itu dengan nada datarnya.
Amiraa terdiam sesaat *“jadi pria arogan itu sudah menikah” *Gumam Amiraa.
Amiraa segera berbalik bahkan berlari cukup kencang setelah mendapatkan telepati dari wanita itu yang menunjukkan keadaan anak kecil berusia sekitar 3tahunan yang berbaring di ranjang rumah sakit para dokter berusaha menghubungi Edward beberapa kali panggilan itu ditolak.
Sampailah Amiraa pada ruang aula disana Amiraa membuka pintu dengan kasar membuat semua pandangan tertuju kepadanya.
__ADS_1
“Apa kau tidak tau sopan santun Miraa!” Ucap Edward sedikit marah.
Amiraa berjalan dengan elegan mendekati Edward bahkan tubuh mungilnya itu tidak memperlihatkan dirinya memiliki rasa takut sedikitpun.
*Plakkk…*satu buah tamparan Amiraa layangkan tepat mengenai pipi kanan Edward.
“Kau-“
“Apa harta dunia benar benar membuatmu buta bahkan sekali lagi nyawa putrimu dalam bahaya kau bahkan lebih mementingkan rapat sampah mu ini sekali saja lihat ponselmu para dokter yang menelepon mu sejak tadi” Ucap Amiraa dengan suara yang berbeda bahkan gadis kecil itupun cukup berani membanting ponsel dan juga laptop yang berada dihadapan Edward kelantai hingga hancur.
“Apa maksudmu Miraa” Jawab Aaron.
“Diam kau!bukan Amiraa aku bukan Amiraa” Jawab Amiraa membuat berapa orang orang yang berada didalam aula sedikit berbisik membicarakannya.
“Amiraa!” Ucap Edward yang kian terbawa emosi memanas.
“Elaine!aku Elaine!Jangan ulangi kesalahanmu tiga tahun lalu yang membuatku saat ini terpisah dengan putriku!” Ucap Amiraa seraya menunjuk wajah Aaron yang memucat dan terdiam seketika.
“Selamatkan putrimu atau kau akan menyesal nantinya!jangan buat kesalahan yang sama seperti tiga tahun yang lalu” Ucap Amiraa yang sudah dikuasai oleh arwah wanita bergaun merah bernama Elaine.
Tanpa menunggu lama dan ber basa basi lagi Edward dan Aaron bergegas pergi meninggalkan rapat itu.
Begitupun Amiraa yang menjatuhkan dirinya sendiri kelantai wanita itu kembali pingsan untung saja didalam aula itu ada Rizal yang turut rapat.
“Miraa” panggil Rizal bersamaan dengan Viona yang sejak dari tadi mengejar Amiraa yang seperti kesurupan.
“Miraa bangun Miraa” Ucap Rizal menyadarkan Amiraa untungnya kali ini Elaine tidak menggunakan energi Amiraa seperti Emillia.
“Mas apa yang terjadi” Ucap Amiraa.
Ingatannya sebatas ia bejalan keluar dari ruangan Edward secara tiba tiba saja tubuhnya terhuyung kedepan dan semuanya menjadi gelap.
.
.
BERSAMBUNG..
__ADS_1