
"Bu..bukan begitu Amiraa dengarkan saya dulu" Ucap pak Sam yang kini tengah mencekal pergelangan tangan Amiraa,menahannya seolah tidak rela akan sebuah penolakan dari Amiraa.
"Lepaskan saya pak ini sudah diluar batas antara seorang bos dan anak buah" Jawab Amiraa dengan sorot mata tajam.
"Jangan munafik Amiraa saya dengar kau hanya tinggal bersama kakak iparmu saja yang statusnya duda anak satu itu tidak mungkin kan jika kau tak melalukan sesuatu dengannya" Ucap pak Sam dengan senyuman ganjilnya.
"Bapak tau jika tuduhan bapak itu salah maka artinya itu sebuah fitnah jangan menjadi sok tau jika tidak benar benar tau pak!" Ucap Amiraa yang kali ini lebih mempertegas setiap ucapannya.
"Bukankah yang tau soal ini hanya Anang saja lantas bagaimana pria tua bangka ini bisa tau" Ucap Amiraa membatin.
"It's okay Amiraa baiklah aku paham" Ucap pak Sam seraya melepaskan genggamannya.
"Tapi jangan lupa Amiraa kau sedang membutuhkan uang bukan untuk biaya pengobatan ibu sambungmu" Jawab pak Sam seketika Amiraapun terdiam.
"Dan lagi bagaimana dia tau jika aku hanya pernah curhat dengan mbak Wina,Astagaa!! apakah ditempat ini ada alat penyadap suara atau semacamnya ataukah mereka semua tidak bisa menyimpan rahasia" Ucap Amiraa dalam batin kini dirinya mulai jengah dengan setiap adegan drama ditempat kerjanya.
"Soal kata kata mbak Laras kalau aku berkonflik dengan mas Dody apa juga diantara mbak Wina dan mas Anang pula yang membertahunya" Ucap Amiraa kembali membatin lenyap dalam pemikiran dirinya sendiri.
"Sudahlah Amiraa terima saja penawaranku yang jarang sekali kuberikan pada orang lain" Ucap pak Sam sedikit berbisik yang entah sejak kapan pria itu tengah berdiri dibelakang Amiraa.
"Hentikan pak bahkan meski kau memberikanku sebuah apartment dan seluruh kekayaanmu aku tidak akan sudi menyerahkan kesucianku padamu!" Ucap Amiraa yang kian tersulut emosi.
"Hari ini juga saya mengundurkan diri dari pekerjaan saya pak!" Ucap Amiraa dengan mantab.
Samuel hanya terdiam ia menahan segala rasa emosinya dihadapan Amiraa segala rencananya kini telah gagal bahkan sosok Amiraapun tak mudah digapai dengan materi.
"Tidak bisa!!kau harus tetap bekerja disini Amiraa kau tau bukan didalam surat perjanjian kontrak jika belum habis masa kontrakmu maka kau harus membayar padaku dua kali lipat gajimu perbulan selama sisa masa kontrak itu!!" Ucap pak Sam pria itu benar benar cerdas dalam memanfaatkan segala hal yang tidak akan merugikannya.
"Baiklah aku sanggup membayarnya sekarang saya pamit pergi" Ucap Amiraa seraya melangkahkan kakinya membuka pintu ruangan Samuel.
"Ingat Amiraa jika kau tak membayarnya kau akan masuk penjara" Ucap pak Sam sedikit lantang.
__ADS_1
Amiraapun tak menggubris apa yang diucapkan oleh pak Sam ia terus berjalan dengan elegan pergi menuju pintu utama.
"Lebih baik aku cari jalan keluar lainnya dibandingkan menuruti pria pria berengsek disana!!" Lirih Amiraa.
Meski saat ini kata kata itu hanyalah sebagai penenang dirinya dikala emosi.Soal uang yang harus ia kirim setiap bulan untuk berobat sang ayah dan juga uang denda melanggar kontrak kerja sejenak Amiraa coba lupakan.
"Amiraa" Sapa Wina yang kala itu baru saja memarkirkan motornya.
"Ya mbak" Jawab Amiraa singkat.
"Amiraa bolehkah aku minta tolong padamu gantikan aku bekerja hari ini aku sedikit tidak enak badak" Ucap Wina dengan lemas.
Amiraa sedikit memperhatikan wajah Wina yang memang terlihat pucat sama seperti Anang bahkan kali ini Wina berjalan dengan sedikit tertatih dan penampilannya yang sedikit acak acakan.
"Maaf mbak gak bisa" Jawab Amiraa.
"Ayolah Amiraa kali ini saja bantu aku" Ucap Wina sedikit memohon dan memelas.
"Aku sudah mengundurkan diri mbak jadi maaf tidak bisa membantumu" Ucap Amiraa.
"Emm mak...maksudku mengapa kau mengundurkan diri Amiraa bukankah itu sangat disayangkan kau bilang sedang membutuhkan uang untuk biaya pengobatan orang tuamu" Kata Wina yang kini sudah merubah mimik wajahnya seperti awal tadi.
"Cihh...setidaknya masih banyak cara bersih untuk mendapatkan uang mbak saya tidak mau menjadi wanita munafik" Jawab Amiraa berdecih.
"Maksudmu Mir?"Ucap Wina.
"Tak ada maksud kok mbak" Jawab Amiraa sedikit sinis hingga sebuah taxipun melintas Amiraapun memberhentikannya.
Tinggalah Wina yang terlihat sangat pucat masih berdiri memandang taxi yang kian mulai menghilang.
"Cihhh lalu bagaimana setelah ini,hidup saja numpang dirumah mas Rizal lalu..akhhh lelah sekali" Lirih Amiraa seraya melemaskan badannya pada sandaran kursi bahkan dua hari lagi seharusnya dia gajian tapi apalah daya yang ia memutuskan untuk berhenti bekerja ditempat itu.
__ADS_1
Sayup sayup mata Amiraa terpejam rasanya begitu sangat melelahkan dengan masalah yang ia hadapi hingga tanpa disadari Amiraa taxi yang ia pesan tiba tiba saja oleng dan sedikit mengerem.
Belum sempat Amiraa bertanya kepada sang sopir kedua matanya menyaksikan sebuah kecelakan dihadapannya yang mana mobil hitam itu terpelanting hingga menabrak taxi yang mengakibatkan taxi itupun turut terguling.
Yaa..sebuah kecelakaan beruntun telah terjadi pada jalan raya tersebut diakibatkan sebuah mobil mewah yang secara tiba tiba mengalami rem blong.
Amiraa yang sedikit memiliki sisa kesadaran terkapar tak berdaya didalam taxi yang sedang ia tumpangi dengan posisi terbalik.
Ia masih mampu melihat sang sopir yang tewas dengan luka yang cukup sangat parah begitupula mobil yang menjadi penyebab kecelakaan beruntun yang saat ini berada disamping taxi.
Amiraa mengedarkan pandangannya menatap kearah mobil yang sama sama dengan posisi terbalik namun kondisinya hampir hancur.
Seorang pria yang kulitnya sangat putih namun tertutup oleh warna darah merah segar yang terus mengalir.
Dengan susah payah Amiraa keluar dari dalam taxi yang ringsek itu dengan cara merambat dan merangkak.
Entahlah didalam hati kecilnya ia merasa sangat familiar dengan lelaki yang baru ia temui tersebut.
Amiraapun berhasil keluar dengan sisa kekuatan yang ia miliki ia membantu pria yang hampir kehilangan kesadarnya tersebut keluar dari dalam mobil.
"Ayolah kau juga harus selamat" Ucap Amiraa seraya berusaha sekuat mungkin menarik pria tersebut yang posisinya hampir terhimpit body mobil.
"Kau laki laki jangan lemah" Ucap Amiraa sambil mengerahkan seluruh tenanganya.
Hingga akhirnya usahanyapun membuahkan hasil,pria itupun berhasil ia tepikan dan sedikit menjauh dari mobil yang terlihat hancur tersebut.
Bupp....Duwarrrrr....Mobil itupun meledak disertai api besar yang turut membumbung tinggi kelangit.
Pria tersebut secara refleks menindih tubuh Amiraa agar tidak terkena lemparan kaca kecil kecil namun sangat tajam jika mengenai kulit.
Sedetik kemudian Amiraa benar benar kehilangan kesadarannya begitupula pria yang kini memeluknya seolah melindungi dirinya.
__ADS_1
Gelap dan bahkan hening mulai menghampiri semua itu bagaikan sebuah mimpi yang secara tanpa disadari namun menghampiri.
BERSAMBUNG.