
"Tapi Amiraa itu perempuan mas!mengapa dibiarkan sendirian dan mempercayakannya kepada laki laki yang sudah membuatnya dalam bahaya!!" Ucap Renno dengan nada tinggi amarahnya kini tak tertahankan lagi.
Semua orang tidak ada yang memberi tahunya meski sebenarnya bukan tidak mau hanya saja mereka juga tidak tahu dimana Amiraa berada.
"Nak tenanglah Amiraa pasti baik baik saja" Ucap bu Nia seraya memisahkan Renno dan Rizal yang sama sama memiliki pandangan sangat sengit.
"Jika aku benar benar tau dimana dia berada aku sudah pasti terlebih dahulu menjemputnya!jangan sok menjadi yang paling perhatian disini!" Jawab Rizal yang juga turut terbawa suasana.
Rennopun terdiam sesaat ia baru menyadari bahwa tindakannya saat ini begitu salah ia bertamu namun prilakunya tidak menunjukkan layaknya tamu sama sekali.
Rennopun berpamitan kepada bu Nia entah apa lagi yang kali ini ia pikirkan selama diperjalanan menuju pulang.
"Cepatlah pulang Miraa,aku bisa gila tanpamu" Batin Renno seraya menancap gas motornya yang kian menggila..
Sementara itu di villa kayu hari menunjukkan mulai petang Amiraa masih duduk bersantai dihalaman rumah sederhana itu menikmati senja yang begitu mempesona.
"Sudah waktunya kita masuk" Ucap Edward yang telah berdiri disamping kursi roda Amiraa.
"Sebentar lagi tuan" Ucap Amiraa.
"Tidak bisa Amiraa terlalu berbahaya jika kita berada diluar seperti ini" Jawab Edward kemudian pria itupun mendorong kursi roda Amiraa untuk kembali memasuki rumah.
Setibanya didalam rumah Edward segera mengunci semua pintu dan juga jendela dan bahkan hanya beberapa bohlam saja yang dihidupkan.
Edward mendorong kursi roda Amiraa memasuki kamarnya terlintas didalam benak Amiraa mengapa harus kesana bukannya kekamar Amiraa sendiri.
Edward menempatkan posisi Amiraa didepan sebuah meja pria itupun menyalakan sebuah layar monitornya.
"Aku akan memberitahukan mu sesuatu" Ucap Edward seraya tersenyum manis kepada Amiraa.
Sebuah rekaman video dan juga beberapa foto yang terlihat begitu menjijikan sehingga membuat Amiraa harus menutup matanya.
"Untungnya kau sudah keluar dari tempat biadab itu dan sebagai ucapan terimakasih ku aku sudah melunasi semua hutang hutangmu" Ucap Edward dengan penuh keyakinan.
"Tu..tuan apa maksud dari video itu" Ucap Amiraa yang telah menyaksikan dimana dalam rekaman itu Wina tengah menjadi penari dengan pakaian yang sangat sexy bahkan terkadang tanpa sehelai benangpun ada pula Anang yang menjadi sebuah gi**lo.
"Mereka diperbudak oleh ketua kelompok yang saat ini mengincarku,kelompok itu merupakan sebuah kelompok bayaran Miraa mereka melakukan apapun demi uang akan tetapi jika uang tidak memadai seseorang yang memakai jasa mereka harus menanggung akibatnya seperti rekan kerjamu itu" Jawab Edward seraya menyipitkan matanya menatap layar monitor yang memiliki cahaya berkedip berwarna merah.
__ADS_1
"Gawat mereka berada disini" Ucap Edward seraya cepat cepat memutus seluruh jaringan yang ada dan menyembunyikan komputer miliknya.
Suasana menjadi panik ketika deru suara mobil kian terdengar semakin mendekat.
Edward mematikan lampu kamarnya dan mendorong kursi roda Amiraa menuju sebuah lemari tua.
"Tuan siapa mereka?" Tanya Amiraa yang turut panik dan merasa ketakutan.
"Diamlah Amiraa kau hanya perlu menuruti semua yang aku ucapkan" Jawab Edward.
Pintu lemari itupun terbuka seolah tidak ada yang aneh namun seketika Edward mendorong kursi roda Amiraa menembus beberapa pakaian yang tergantung sangat rapi.
Amiraa membuka matanya menyadari bahwa dirinya saat ini seorang diri didalam sebuah ruangan kecil yang sangat gelap gulita.
Hampir saja Amiraa berteriak saat mendengar suara pintu lemari yang baru ditutup untungnya Edward segera membekap mulut Amiraa.
"Mereka disini Amiraa jangan bersuara sedikitpun apapun yang terjadi" Ucap Edward setengah berbisik dan Amiraapun hanya mengangguk.
Sementara diluar sana segerombolan orang orang yang memakai baju berwarna hitam dan menggunakan topeng diwajahnya berjalan mengendap endap mengepung villa.
Salah satu diantara mereka berhasil membobol pintu belakang dan setelah dirasa cukup aman pria itupun memberikan kode sinyal melalu HT.
Sementara didalam ruangan kecil itu Edward sudah bersiap siap dibalik pintu yang menghubungkan kekamarnya melalui lemari dengan dua buah pistol yang ia genggam.
"Bos sepertinya tidak ada penghuni sama sekali" Ucap salah satu pria setelah mengecek detail villa secara menyeluruh.
"Jangan terkecoh malam ini kita menginap disini siapa tau Edward akan kemari mustahil pria itu dapat bersembunyi dariku hahahhaa" Ucap Pria yang tengah berdiri sambil berkacak pinggang.
"Panggil wanita itu kemari" Ucapnya kembali dengan sedikit menggelegar membuat Amiraa semakin merasa ketakutan.
Merasa dirinya aman Edward segera kembali menenangkan Amiraa bahkan pria itupun dengan sangat hati hati menggendong tubuh mungil Amiraa dan mendudukannya pada sebuah ranjang.
"Sementara kita berdua bersembunyi disini sebisa mungkin jangan buat suara apapun dan satu hal lagi jika kau merasa kedinginan pakai selimut itu" Ucap Edward seraya memegang tangan Amiraa dan membantunya meraba bahwa ada selimut didalam ruangan yang sangat gelap itu.
Dan dalam ruangan itu semua apa yang dikatakan oleh orang orang diluar sana sangat terdengar jelas oleh Amiraa dan Edward.
"Kemarilah cantik" Ucap pria itu yang kini tengah berbaring diranjang milik Edward.
__ADS_1
Seorang wanita yang tidak lain merupakan Wina mulai berjalan kian mendekat dengan langkah yang sedikit ragu.
"Jangan lupa bahwa kau harus membayar semua yang kulakukan dengan tubuhmu itu sekarang gadis bernama Amiraa itu sudah lenyap giliranmu melayaniku sayang" Ucap pria tersebut dengan liar.
Amiraa benar benar menutup mulutnya ia tidak menyangka sama sekali bahwa Wina merencanakan hal yang tidak baik padanya.
Malam itu benar benar diiringi suara jerit tangis dan desa*an yang begitu sangat memekakkan telinga yang berasal dari Wina dan pria yang tidak diketahui identitasnya.
"Tidurlah terlebih dahulu lukamu ditulang rusuk hampir pulih Miraa" Ucap Edward berbisik ditelinga Amiraa.
Sesuatu yang aneh mulai terasa Amiraa merasakan geli saat jarak mereka begitu sangat dekat bahkan hangatnya nafas yang sedikit berbau mint itupun sangat dirasa oleh Amiraa.
"Kau boleh menggenggam ini jika kau merasa takut" Ucap Edward seraya menyentuh tangan Amiraa agar gadis itu menggenggam erat lengannya.
Namun Amiraa masih saja tetap tak bergeming baginya ini adalah pertama kalinya bersama seorang pria terjebak didalam ruangan yang sempit dan begitu gelap.
Edward yang merasa juga kian sedikit lelahpun akhirnya membaringkan tubuhnya terlebih dahulu.
"Tu..tuan mengapa kau ikut tidur disini juga" Ucap Amiraa sangat lirih.
"Lagian siapa suruh kamu tidak tidur" Jawab Edward.
"Aishhh..ibuku bisa marah jika aku tidur bersama pria yang bukan suamiku" Ucap Amiraa yang kian mulai merasa bersalah dengan sejujurnya
"Lalu menurutmu aku harus tidur dimana?ayolah kita sama sama membutuhkan istirahat Amiraa dan ibumu tidak akan tau jika kau tidak memberi tau" Ucap Edward tak kalah lirih dalam berucap.
"Tap..tapi tuan"
"Sssttt tidurlah Amiraa aku tidak akan berbuat yang aneh aneh padamu kau hanya gadis kecil" Ucap Edward membuat Amiraa merasa bahwa dirinya memang tidak mungkin menjadi selera pria tampan yang terlihat arogan disampingnya.
Amiraapun merebahkan badannya disamping Edward dengan rasa gelisah yang menyelimuti hingga akhirnya perlahan kelopak matanya tertutup dengan sempurna.
Sementara Edward yang masih belum bisa terlelap itupun memang sangat sulit untuk memejamkan matanya terlebih suara berisik diluar sana.
Namun hal berbeda kali ini saat Edward beralih menghadap Amiraa yang sudah tertidur dengan posisi memunggunginya,ia menghirup aroma strawberry dari rambut panjang Amiraa.
Aroma yang begitu menenangkan bagi Edward yang mengidap Insomnia hingga pria itupun lama kelamaan ikut terhanyut dalam mimpi indah malam itu.
__ADS_1
BERSAMBUNG