Amiraa:Di Penghujung Penantian

Amiraa:Di Penghujung Penantian
Kemarahan Dua Addison


__ADS_3

Brakkkk... Suara pintu yang terbuka dengan paksa dan terkesan sangat berutal kala itu membuat Dodi mengalihkan pandangannya kearah pintu.


"Amiraa" Ucap Rizal dan Renno secara bersamaan sementara Edward masih diam tak bergeming.


Pria itupun maju kedepan dengan langkah kaki yang begitu cepat melayangkan satu kali bogeman yang mendarat tepat di wajah Dodi yang seketika tersungkur dilantai.


Rennopun segera berlari menghampiri Amiraa hatinya benar benar terenyuh saat menyaksikan kondisi Amiraa ia melepas jaketnya dengan kasar dan menutupi tubuh Amiraa.


"Ren..hikksss hiksss" Ucap Amiraa diiringi isak tangisanya.


Begitupula Rizal yang berusaha melepaskan ikatan ditangan dan kaki Amiraa ia benar benar tidak tega menatap sang keponakannya.


Setelah ikatan itupun terlepas Renno memasangkan dengan benar jaketnya ditubuh mungil Amiraa untungnya jaket itu memiliki ukuran yang over size pada tubuh Amiraa sehingga mampu menutupinya hingga bawah.


Renno menarik Amiraa untuk berjalan mundur menjauhi area dimana Edward menghajar habis habisan Dodi hingga darah segar terlihat mengucur dari hidung pria itu.


"Apa dia sudah melakukannya Miraa?" Tanya Edward seraya menatap Amiraa yang terlihat ketakutan.


Amiraa hanya menggelengkan kepalanya saja dan tak lama dari itu sekitar 15 orang pria bertubuh besar datang kedalam kamar itu.


Saat itu pula Edward semakin kehilangan kendali setelah dinyatakan Dodi tidak mampu menyerang Edward membantu Aaron menyerang sekelompok pria berbaju hitam tersebut.


Sebuah pertarungan sengit dimana Edward dan Aaron harus melawan 15 orang itu.


"Bawa Amiraa pergi!" Ucap Edward seraya menatap kearah Rizal dan Renno secara bergantian dengan nafasnya yang mulai tersengal bahkan sedikit darah disudut bibir terlihat kian mengalir.


"Tapi kau?!" Ucap Renno iapun merasa sedikit bingung dengan keputusan yang akan ia ambil disatu sisi ada Amiraa yang harus ia jaga dan disatu sisi entahlah dada debaran rasa sakit kala melihat Edward melawan segerombolan pria itu.


"Cepat pergi kalian!" Kali ini Aaron berkata seraya melempar sebuah kunci mobil kepada Rizal.


Renno dan Rizal akhirnya membawa Amiraa pergi dari tempat yang terlihat sangat bagus hanya didalam kamar itu saja selebihnya dari luar bangunan itu tampak seperti rumah kosong yang tidak berpenghuni.

__ADS_1


Mereka bertiga baru saja sampai pada mobil yang digunakan Edward untuk sampai pada tempat dimana Dodi menculik Amiraa namun suara satu kali tembakan serta teriakan dari Edward membuat mereka bertiga menghentikan langkahnya dan berbalik menoleh.


"Edward" Satu kata yang lolos dari mulut Amiraa begitu pula tubuhnya yang sedikit bergetar.


Amiraa kembali bergegas memasuki rumah itu dengan berlari meninggalkan sejuta tanya dibenak Rizal dan juga Renno yang masih terdiam.


"Amiraa!!!"


"Miraa!!!"


Teriakan Rizal dan Rennopun tak ia hiraukan sama sekali kakinya dengan mantab berlari menyusuri sebuah lorong menuju tempat dimana Edward berada.


Dan benar saja Edward tengah bersandar pada dinding disana mengecap dengan jelas noda berwarna merah bahkan sama hanya Dodi yang tertancap sebuah pisau kecil pada dadanya namun terlihat masih memiliki kesadaran.


"Jangan pernah ganggu Amiraa dan Adikku" Ucap Amiraa dengan bola mata yang memutih sempurna.


Aaron yang sudah tergeletak dilantai itupun menyaksikan sendiri bagaimana mengerikannya Amiraa kala itu.


Amiraa berjalan dengan tegap kearah dimana Edward yang perlahan lahan sedikit terduduk.


"Tidak akan kakak biarkan siapapun melukaimu" Ucap Amiraa dengan suara yang terkesan seperti anak kecil.


Amiraa segera bangkit ia berdiri menatap tajam dengan bola mata berwarna putihnya kepada semua pria yang masih tersisa didalam ruangan tersebut diraihnya sebuah kursi yang digunakan untuk mengikat Amiraa.


Dengan satu tangannya ia melempar kursi itu dan mengenai beberapa pria yang sedang menertawakannya.


Kursi itupun patah dan satu persatu dari orang orang itupun terlihat ambruk kelantai dengan darah segar yang mengalir melalui hidung dan mulut mereka.


"Apakah ini Amiraa dewi kebaikan sedang menjelma menjadi iblis" Ucap Aaron membatin.


"Haaaa'!!!!Sudah kukatakan jangan lagi mengusik Amiraa maupun adikku" Ucap Amiraa yang sebenarnya sudah berganti Emillia didalam tubuhnya seraya menunjuk kearah Edward.Pandangannya tak pernah lepas dari beberapa pria yang masih ada dan terlihat memucat itu.

__ADS_1


Emillia yang tengah menggunakan tubuh Amiraa itupun bergerak dengan cepat mencabut sebuah pisau pada dada Dodi ia melawan beberapa pria itu hanya dengan satu tangan kanannya saja.


Beberapa pria itupun ambruk seketika dengan luka yang cukup parah disekujur badannya tepat dihadapan Rizal dan Renno yang sedari tadi berdiri diambang pintu.


"Mas itu Amiraa yang selama ini aku kenal kan?" Tanya Renno kepada Rizal keduanya terlihat tidak seolah tidak percaya dengan apa yang terjadi dihadapannya.


"Yang kau lihat itu memang Amiraa tapi siapa yang berada didalam raganya aku pun tidak tau" Jawab Rizal.


Keduanya masih sama sama terdiam menyaksikan apa yang terjadi dimana Amiraa berjalan kearah Dodi yang tengah merintih menahan sakitnya.


"Bukankah aku sudah pernah memberimu peringatan ditempat itu!jangan pernah ganggu Amiraa!!Amiraa tidak suka disentuh!" Ucap Amiraa yang memiliki suara Emillia seketika Dodi pun juga teringat akan kejadian di Caffe waktu itu kemarahan yang sama tatapan mata yang sama bahkan suara yang sama.


"Maaf maafkanlah aku" Ucap Dodi.


"Maaf katamu?" Ucap Amiraa.


"Aku akan memaafkanmu aku juga tidak akan membunuhmu!tapi kau harus menanggung akibatnya!Hiyaaaakk!!!" Ucap Amiraa


Jleebbbb...Satu kali tangannya melayang dengan genggaman pisau yang sudah bercampur cairan merah itu tepat mengenai bagian vital Dodi.


Dodi menjerit dengan sisa yang ada merasakan kesakitan yang luar biasa bahkan Rizal dan Rennopun sampai saling bertatap muka dan menggenggam erat miliknya masing masing tak terbayangkan bagaimana rasanya menjadi Dodi dan juga atas tindakan gila Amiraa yang selama ini terlihat sedikit lugu dan ceria.


Amiraa berjalan mendekati Edward melewati begitu saja Aaron yang juga terluka,matanya kembali menutup namun anehnya Amiraa masih bisa berjalan dan berhenti tepat dihadapan Edward.


Dengan lembut ia membantu Edward untuk duduk dengan benar.


"Apa kabar adik?kau sudah besar dan menjadi pria yang sangat tampan sekali mirip dengan papa" Ucap Amiraa seraya membelai lembut wajah Edward.


Meski sedikit kurang memahami apa yang dikatakan oleh Amiraa akan tetapi Edward merasakan hal yang sangat membuatnya merasa tenang berbeda halnya dengan Aaron Rizal dan juga Renno yang masih melongo saja.


"Ini kakak jangan takut ya kakak akan membantumu menemukan siapa yang menyebabkan papa dan mama meninggal" Ucap Amiraa yang terlihat menitikkan air mata meski kini matanya masih terpejam.

__ADS_1


"Terimakasih sudah melindungi dan menjaga tuan muda Addison kami" Ucap Amiraa seraya menoleh kearah Aaron yang juga memperhatikannya dengan tersenyum manis.


BERSAMBUNG.


__ADS_2