Amiraa:Di Penghujung Penantian

Amiraa:Di Penghujung Penantian
Perangkap Athena


__ADS_3

Oh begitu baiklah semoga kekasihku itu cepat sembuh" Ucap Athena seraya berlalu pergi senyum aneh itu kembali muncul disaat ia membalikkan badan tanpa sepengetahuan dari Aaron.


Amiraa yang terus bergegas menuju ruangan Aaron tanpa sengaja menabrak Viona.


"Mir hati hati dong kamu gak papakan?" Tanya Viona sedikit hawatir


"Aku gak papa Vi ini mau antar obat buat tuan arogan itu" Jawab Amiraa.


"Dia sakit?bukankah tadi masih sehat kau lihat kan bagaimana menyebalkannya dia menyuruh nyuruh kami" Ucap Viona yang kembali dibuat kesal jika mengingat Edward yang seenaknya memberikan titah.


"Sudah sudah Vi aku tidak ada waktu lagi" Ucap Amiraa segera kembali bergegas namun belum sempat dia menjauh.


"Tunggu!" Ucap seorang wanita yang berjalan dengan sangat anggun tampilan yang glamour dan bibir yang berwarna merah terang.


"Ada yang bisa saya bantu nyonya maaf tapi saya terburu buru bisa diwakilkan dengan teman saya saja Viona namanya" Jawab Amiraa seraya menoleh kearah Viona yang secara refleks memberikan senyum keramahannya.


"Tidak aku hanya mau membantumu itu obat untuk Edward kan berikan padaku aku akan memberikannya padanya" Ucap Athena wanita yang benar benar sungguh cerdas dalam memanipulasi.


"Maaf nyonya-"


"Panggil aku nona aku belum setua itu untuk kau panggil nona!" Ucap Athena dengan tegas membuat Amiraa dan Viona saling pandang.


"Tapi-"


"Berikan padaku Aaron menyuruhku agar aku saja yang memberikannya" Ucap Athena seraya merebut botol kecil ditangan Amiraa.


Athena segera bergegas pergi meninggal kedua manusia yang tampak masih linglung itu.Sedangkan Amiraa juga memperhatikan Athena sampai memasuki lift.


"Mengapa lantai atas sendiri bukankah?" Ucap Amiraa terhenti dia baru menyadari Aaron ternyata sedang diatas panggung memberikan acara penutup malam itu.


"Ada apa Miraa?" Tanya Viona.


"Gawat Vi" Ucap Amiraa dia segera bergegas berlari firasatnya mengatakan bahwa Edward sedang dalam bahaya iapun memilih jalur alternatif dengan menggunakan tangga darurat.


"Aku harus segera sampai disana" Ucap Amiraa tanpa henti ia berlari menaiki anak tangga yang seolah tiada habisnya didepannya.

__ADS_1


"Bukankah sudah kubilang dia bukan sembarang orang Amiraa" Ucap suara perempuan.


"Pergilah Elaine aku tidak membutuhkan nasehatmu yang terpenting tuan arogan itu baik baik saja" Ucap Amiraa.


"Apa kau mencintainya Amiraa" Ucapan Elaine kembali terdengar hanya saja sosok itu tidak menampilkan wujudnya dihadapan Amiraa.


"Pertanyaan macam apa itu diamlah Elaine" Ucap Amiraa seraya tak pernah berhenti berlari.


"Aku merelakannya denganmu dibandingkan dengan Athena Amiraa" Ucap Elaine lagi lagi Amiraa di buat bingung kembali.


"Athena?Athena siapa apa mungkin wanita itu" Ucap Amiraa bermonolog.


Sampailah Amiraa pada lantai dimana ruangan Aaron berada ruangan itu berada tepat dibawah ruangan Edward hanya saja beda satu lantai.


"Tu..tuan" Ucap Amiraa seraya mengetuk pintu meskipun kini ia terlihat sangat kesulitan mengatur nafasnya dalam benaknnya keselamatan Edward itu lebih penting.


Lama tak kunjung terbuka hingga akhirnya Amiraa bersandar pada pintu.


"Tuan ini aku Miraa cepat bukalah pintunya" Ucap Amiraa masih dengan nafasnya yang sedikit tersenggal bahkan topi pelayan yang ia gunakan entah berada dimana sekarang mungkin saja terjatuh disaat ia berlari menaiki tangga.


Dengan segera Edward membantu Amiraa berdiri dan buru buru menutup pintu yang seketika terkunci itu.


"Lama sekali membukanya tuan kau baik baik saja?" Tanya Amiraa yang masih mengatur nafasnya.


"Dimana obatku Amiraa" Ucap Edward dengan suara seraknya pria itu terlihat bagaikan ikan tanpa air dengan wajahnya yang semakin memerah.


"Panas Miraa cepat berikan obatku?" Ucap Edward kembali pandangannya tertuju kepada baju berwarna putih milik Amiraa yang basah oleh keringat sehingga menimbulkan siluet sesuatu berbentuk bulat yang dibungkus dengan cup berwarna merah.


"Ck..Siall" Batin Edward.


"Maaf tapi obatnya direbut oleh wanita bergaun terbuka tadi aku merasa ada yang salah karena itu aku kemari menaiki tangga darurat.


"Astaga" Ucap Edward tampak frustasi pria itu semakin terlihat sangat acak acakan jas yang ia lempar kesembarangan tempat kancing kemeja yang terbuka atasnya.


"Aku akan mengambilkannya kalau begitu" Ucap Amiraa merasa gugup dengan tingkah laku Edward.

__ADS_1


"Percuma kau tidak akan bisa mendapatkannya Miraa kau akan semakin membuatnya kemari dan mengetahui kita bersembunyi disini" Ucap Edward pria itu bahkan terlihat berjalan mondar mandir.


"Maksudnya tuan" Ucap Amiraa.


"Dia bukan wanita baik Amiraa,dan saat ini obat itu memang penting apakah kau bersedia membantuku Amiraa" Ucap Edward pria tampak semakin menjadi jadi deru nafasnya semakin berat.


"Mem membantu apa tuan" Ucap Amiraa sedikit bergetar penampilan Edward benar benar membuatnya sedikit bergidik ngeri.


"Amiraa kau tau aku mencintaimu semenjak pertama kalinya aku melihatmu kau gadis yang baik dan penyayang kepada siapapun aku tidak bicara omong kosong Amiraa aku mencintaimu" Ucap Edward.


"Amiraa seseorang memberikan obat perangsang dengan dosis yang cukup tinggi di minumanku dengan sengaja mereka ingin menjebakku apakah kau tau itu?aku hanya meminum minuman darimu saja dan kau tau itu kan Amiraa jika tidak ada obat penawar itu aku bisa mati saat ini juga maukah kau" Ucap Edward terhenti disaat Amiraa mengundurkan kakinya kebelakang.


"Makaudmu aku harus menjadi pemuas nafsumu begitu tuan?" Tanya Amiraa dengan berani dan sedikit membentak.


"Amiraa tolonglah aku,aku akan menikahi mu besok pagi sebagai rasa tanggung jawabku terhadapmu" Ucap Edward pria itu terlihat tampak semakin menyedihkan dengan tubuhnya yang merasa cukup panas.


"Apa kau pikir aku semurahan itu tuan biar ku beritahu tuan Aaron agar mencarikan mu wanita panggilan" Ucap Amiraa bergegas pergi namun belum sempat dia meraih gagang pintu Edward sudah berdiri dibelakangnya memeluknya dari belakang secara erat.


"Amiraa kumohon aku tidak pernah selalai ini bahkan saat bersama Elaine aku hanya melakukannya sekali itupun karena masalah yang sama" Ucap Edward berbisik ditelinga Amiraa.


"Amiraa tolonglah aku kali ini saja aku bisa mati dan Alia tidak akan ada yang menjaganya kumohon Amiraa setelah ini aku akan bertanggung jawab dan menyerahkan seluruh hidupku padamu" Ucap Edward pria itu masih dengan posisi yang sama meski ada sebuah rasa yang tak tertahankan lagi ia masih berusaha semampunya agar tidak menyakiti Amiraa.


"Amiraa kumohon" Bisik Edward memelas ditelinga Amiraa.


Tampak gadis itu terdiam membendung sebuah cairan bening dikelopak matanya.


"Diammu memberikan jawaban tersendiri padaku maafkan aku Amiraa" Ucap Edward ciuman halus mendarat cukup lama pada bahu Amiraa yang membuat gadis itu sedikit bergidik menahan rasa geli dan nikmat tersendiri.


🍓


🍓


🍓


🍓

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2