Amiraa:Di Penghujung Penantian

Amiraa:Di Penghujung Penantian
Viona.


__ADS_3

Hari terus berganti begitupula dengan minggu dan bulan setelah serangkaian yang terjadi Amiraa dinyatakan positif hamil.Sedangkan jauh di negeri sebrang sebuah pesta pernikahan yang begitu mewah tengah diadakan.


Pernikahan seorang pewaris tunggal dari seorang wanita janda yang begitu terkenal di negara itu.


Ya hari ini Renno akan menikah dengan Valena seorang gadis yang selalu mendampinginya.


Para tamu undangan yang menghadiri pesta pernikahan tampak terlihat saling memberikan ucapakan kepada Renno.


"Semoga kalian selalu bahagia dan segera memberikan mama cucu" Ucap nyonya Tnunay yang begitu antusias melihat putranya kini menikah.


"Mama terlalu terburu buru" Ucap Renno.


Disaat yang bersamaan sebuah kilatan bayangan mulai bermunculan diingatan Renno yang membuat kepalanya sedikit pusing.


"Sayang kamu baik baik saja kan?" Tanya Valena yang ikut cemas.


"Aku tidak apa apa mungkin karena sedikit kecapekan" Jawab Renno seraya mengebaskan kepalanya kekanan dan kekiri sehingga membuat bayangan itu menghilang.


"Siapa?siapa wanita itu tawanya tatapan matanya aku yakin itu bukanlah Valena akan tetapi siapa mengapa selalu muncul pada bayangan kepalaku" Ucap Renno membatin.


...----------------...


"Aaawww...kau menggemaskan sekali bagaimana rasanya menjadi ibu hamil,ah..Amiraa sebentar lagi aku akan menjadi aunty" Ucap seorang wanita dengan rambut keriting.


Sore itu kediaman Emilliano tepatnya yang baru kedatangan Viona yang begitu sangat antusias menemani Amiraa.


Semenjak menikah dan menyandang status nyonya muda Addison Amiraa dilarang keras untuk bekerja oleh Edward terlebih disaat mengetahui Amiraa tengah hamil.


"Amiraa dimana suami kayamu itu aku tidak melihatnya?" Tanya Viona.


"Dia ada urusan diluar sebentar lagi juga akan pulang mengapa mencari cari suamiku?" Ucap Amiraa sedikit dingin.


"Aku tidak mencari suamimu Mir hanya saja aku ingin melihat assisten tampan yang selalu mengekor dibelakangnya" Ucap Viona gadis itu benar benar terpikat akan Aaron.


"Hentikan menghayal mu Vi,Aaron sepertinya telah jatuh hati kepada bidadarinya" Ucap Amiraa menimpali seraya tak berhenti memasukkan potongan buah kedalam mulutnya.


"Mustahil mereka bisa bersatu dinding penghalang mereka terlalu tinggi Mir" Jawab Viona enteng.


"Bukankah bersamamu juga mustahil Vi hahahha" Ucap Amiraa mengejek Viona yang memang nyatanya tidak pernah sedikitpun direspon oleh Aaron.


"Aisshhh..jahat sekali kamu Mir" Ucap Viona sambil mencebik.


Suara gerbang terbuka menyadarkan dua ciwi ciwi yang sedang bergosip itu segera membereskan sampah yang berserakan dimeja.

__ADS_1


"Sepertinya atm berjalanmu sudah pulang Mir"


"Husstt jangan katakan sembarangan lagi" Ucap Amiraa memberi peringatan.


"Sayang aku pulang" Ucap Edward seraya menghampiri Amiraa dan menghujani wajah Amiraa dengan kecupan manis.


"Heyy!tidak bisakah kalian menahannya hingga nanti aku pulang?tidak melihatkah ada jomblo yang berdiri disini?" Ucap Viona yang dianggap bagaikan nyamuk.


Rona diwajah Amiraapun keluar saat mendengar ocehan dari mulut sahabatnya.


"Kamu pengen ya?sana sama Aaron aku masih merindukan istriku" Jawab Edward santai akan tetapi tidak dengan si pemilik nama yang baru saja disebut.


"Aku?dengan si rambut mie ini mustahil" Jawab Aaron seraya berlalu menuju kamar tamu.


Hal itu membuat Amiraa tak bisa menahan tawa kecilnya bagaimana tidak Edward yang ia kenal bagaikan singa diluar nyatanya akan menjadi kucing yang menggemaskan saat dirumaah.


Dan soal Aaron dan Viona dua manusia yang bagaikan kucing dan tikus ada saja kelakuan mereka yang tidak bisa akur sama sekali.


"Sudah sudah mandi sana kamu bau sayang" Ucap Amiraa dengan lembut.


"Mandiin baby" Ucap Edward dengan manja.


"Kamu sudah tua Ed mandi sendiri juga bisa kan" Jawab Amiraa meski ini bukan yang pertama kalinya Edward berbicara terlalu intim dihadapan Viona tetap saja Amiraa merasa malu.


"Aku beri satu ciuman bagaimana?" Tawar Amiraa yang segera mendapatkan anggukan dari seorang Edward.


Satu kecupan berhasil mendarat sempurna pada pipi kanan Edward suatu hal yang membuat Viona terdiam membeku dengan mulut mengaga.


"Heyy kalian!sama saja sudahlah aku pulang saja!" Ucap Viona yang semakin merasa terabaikan.


"Sekalian makan malam disini Vi" Cegah Amiraa sementara Edward sudah berlalu dengan senyum yang mengembang diwajahnya.


...----------------...


Didalam kamar tamu yang begitu luas Aaron tengah menanggalkan satu persatu pakaian yang ia kenakan.


Tak luput melepas jam tangan yang ia gunakan dan menyimpannya diatas meja.


Ia berjalan menuju kamar mandi dan kini seluruh tubuhnya telah terbaring pada bath up yang berisi air hangat.


Terdiam sesaat dan kemudian meraih segelas minuman yang ada disampingnya meneguknya secara perlahan.


"Engkau yang tersenyum mengapa hatiku yang tergores bagaimana bisa aku melupakanmu Zainab" Ucap Aaron sekilas ingatan tentang kejadian dipagi hari ini membuat kepala Aaron serasa ingin pecah.

__ADS_1


Flashback.


Aaron yang tidak sengaja melihat Zainab keluar dari sebuah tempat ibadah bersama dengan seorang pria yang terlihat begitu menjaga jarak dengan Zainab.


Dengan bergegas Aaron menghampiri Zainab yang tidak jauh dari mobilnya terparkir.


"Zainab" Seru Aaron yang membuat wanita itupun mendongakkan kepalanya.


"Ya Aaron"


"Senang berjumpa denganmu disini" Ucap Aaron seraya melirik kearah pemuda yang yang tengah berdiri disamping Zainab yang juga menatapnya.


"Dia siapa?" Tanya pemuda itu.


"Dia tuan Aaron asisten tuan Edward yang waktu itu aku ceritakan kepadamu" Jawab Zainab dengan lembut.


"Oh senang bertemu denganmu juga tuan Aaron" Ucap sang pemuda dengan sopan.


"Tentu,kalian mau kemana" Ucap Aaron seraya menjabat tangan pemuda itu.


"Oh kami mau kekantor agama mengurus surat pernikahan" Ucap sang pemuda mendahului Zainab yang akan menjawab.


Pagi hari yang begitu cerah seketika serasa berubah menjadi awan hitam yang disertai petir bagi seorang Aaron.


"Ohh begitu rupanya,selamat ya Zainab semoga acaranya lancar" Ucap Aaron seraya melangkah pergi dan kembali memakai kaca mata hitamnya tanpa menghiraukan Zainab yang tengah memanggilnya berulang kali


Flashback off.


"Semoga bahagia" Ucap Aaron dengan senyum smirknya ia merebahkan dirinya pada ranjang empuk berukuran besar setelah merasa air hangatnya sedikit dingin.


Hingga pintu kamar yang terbuka disertai suara teriakan yang menggema dari mulut Viona menyadarkannya.


Viona berdiri mematung seraya menutupi wajahnya bagaimana tidak ia bermaksud untuk memanggil Aaron karena sebentar lagi makan malam.


Namun yang terjadi Aaron tidak menyahut sama sekali panggilan darinya karena itulah Viona terpaksa membuka pintu kamar tamu dan mendapati Aaron yang tengah berbaring dengan telanjang.


"Sssttt kecilkan suaramu" Ucap Aaron seraya meraih handuk kimono yang tadi sempat ia lempar sembarangan.


"Amiraa menyuruhmu segera bergabung makan malam" Ucap Viona dengan wajah yang masih ditutupi kedua telapak tangannya hingga tanpa ia ketahui Aaron sudah berdiri dihadapnnya kini.


"Katakan pada mereka aku akan segera kesana lima menit lagi" ucap Aaron.


Viona segera berbalik badan dan buru buru ia berjalan menuju ruang makan dengan wajah semerah tomat dikedua sisi pipinya.

__ADS_1


BERSAMBUNG ...


__ADS_2