
Hari semakin siang Amiraa tampak mengerjapkan kelopak mata indahnya menatap kesekeliling.
"Kamu sudah sadar Amiraa?" Suara seorang lelaki terdengar begitu jelas ditelinganya.
Edward berjalan mendekati Amiraa yang tengah berbaring diranjang berukuran sedang itu.
Sepersekian detik Amiraa mengingat ingat apa yang sudah terjadi semalam pertarungan dua insan manusia yang tengah memadu hasrat.
"Berhenti disana tuan" Ucap Amiraa.
Edwardpun terdiam sejenak sebelum dia kembali melangkahkan kaki jenjangnya.
"Mengapa ini sudah siang kau harus makan Amiraa" Ucap Edward.
"Apakah pinky sandwich masih sakit hemm?" Tanya Edward seraya melirik kearah tubuh Amiraa yang tertutup selimut.
"Mesum!bagaimana kalau nanti aku hamil" Ucap Amiraa seraya berusaha untuk duduk.
Kini dalam diam dan rasa penyesalannya kembali memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya akankah ia memutuskan untuk berhenti bekerja.
"Aku membencimu tuan!" Ucap Amiraa datar.
Edward menghembuskan nafasnya dengan kasar "Silahkan membenciku tapi satu hal yang harus kamu tau bahwa aku mencintaimu bahkan sampai keujung duniapun aku akan selalu mengejarmu Amiraa" Ucap Edward.
"Sekarang makanlah dulu setelah itu kita lanjutkan" Ucap Edward kembali.
"Apanya yang dilanjutkan?" Tanya Amiraa tanpa ingin menatap Edward sedikitpun.
"Pertengkaran kita memangnya apa lagi?atau jangan jangan kamu menginginkan yang semalam ya" Ucap Edward yang seketika mendapatkan sebuah tatapan tajam dari Amiraa.
"Eitss tunggu sabar dong kata dokter minimal satu minggu baru bisa anu anu lagi" Sambung Edward pria itu tampak terlihat jauh berbeda dari seorang pria yang begitu arogan menjadi pria yang begitu perhatian.
__ADS_1
"Aku bisa makan sendiri kamu pergilah tuan arogan" Ucap Amiraa yang masih terdiam menatap lurus kearah kaca besar dihadapannya.
"Tidak aku akan menyuapimu"
Hembusan nafas yang begitu berat Amiraa kembali menatap Edward begitu sulit untuk mengalahkan seorang Edward.
Makanan itu habis seketika memang sejak kemarin malam perutnya belum terisi makanan sedikitpun.
"Kalaupun nanti kamu hamil ya berarti bagus dong sayang ada calon anak kita diperutmu pewaris dari Emilliano" Ucap Edward seraya menyodorkan segelas berisi air putih.
"Amiraa percayalah padaku bahwa aku bersungguh sungguh terhadapmu" Ucap Edward namun seorang gadis yang tengah duduk dihadapannya masih saja diam mematung.
Buliran bening kembali menetes mengalir membasahi pipi putih mulusnya.
"Kau tau tuan selama hidupku aku tidak pernah menyangka bahwa mahkotaku akan jatuh dengan cara seperti ini dahulu saat masih berada dikampung halaman aku memimpikan sebuah pernikahan bersama seorang pria yang aku cintai,pernikahan yang cukup sederhana saja namun kini..hikss..hiksss" Isakan tangis itu menghentikan sebuah cerita yang baru saja keluar dari mulutnya.
Rasa bersalah menyelimuti relung jiwa Edward hingga pria itupun mendekatkan dirinya untuk menjangkau Amiraa lalu memeluknya dengan begitu sangat tulus.
Amiraa perlahan bangkit ia menghapus air matanya sangat lama ia terdiam dari lamunan panjangnya.
"Lalu apakah keluargamu akan merestuinya tuan kau tau bahwa aku bukan dari golongan keluarga semacam kalian" Ucap Amiraa datar.
"Sssttt..memangnya aku memiliki keluarga?tidak Amiraa hanya ada Alia satu satunya keluarga yang aku miliki saat ini" Jawab Edward secara jujur.
"Lalu nona Elaine?" Ucap Amiraa keingin tahuannya terhadap masa lalu Edward kini mulai menyelimuti pikirannya semenjak mendiang istri Edward itu muncul dirumah sakit.
"Awalnya pernikahan kami hanyalah pernikahan bisnis tapi disatu sisi lain Elaine sudah mengandung Alia sebelum kami menikah kisahnya hampir sama saat itu ada yang memasukan sejenis obat kedalam makanan Elaine sehingga saat itu aku terpaksa menolongnya" Ucap Edward mencoba menjelaskan secara rinci.
"Dan wanita bernama Athena?" Tanya Amiraa penuh selidik.
"Dia kakak Elaine mereka berbeda ibu menurut Athena,Elaine terlahir dari seorang wanita selingkuhan papanya yaitu tuan Li namun ketika aku menanyakan lebih jelasnya kepada Elaine dia selalu menghindar seolah menutup rapat rapat rahasia terbesar keluarga tuan Li hal itulah yang membuatku membencinya hingga suatu hari aku tersadar bahwa aku mulai mencintainya karena bayi yang ada dikandungannya adalah darah dagingku namun semua terlambat saat aku hanya mampu menyelamatkan Alia yang masih bayi kobaran api itu tidak menyisakan apapun" Ucap Edward pria terkenal Arogan itupun menjelaskan secara detail tentang serangkaian kisah masa lalu yang pernah terjadi.
__ADS_1
"Dan-" Ucap Amiraa terhenti.
"Bagaimana tuan bisa tau bahwa anda keluarga Addison termasuk Aaron" Ucap Amiraa.
Edward tersenyum begitu tipi pria itupun lantas merebahkan dirinya diatas ranjang menjadikan paha Amiraa sebagai bantal.
"Apa apaan ini" Ucap Amiraa"
"Sepertinya gadis kecilku ingin tau segala ceritanya" Ucap Edward seraya menggenggap tangan Amiraa.
"Itu karena kalung liontin ini" Ucap Edward seraya menunjukkan kalung yang bertuliskan nama Addison dibaliknya"
"Kakek masih hidup saat itu mencariku kemana mana hingga mendapatkan kabar dari anak buahnya aku berada disebuah desa terpencil diasuh oleh keluarga seorang petani mereka memiliki seorang putra yang berusia enam tahun,saat kakek dalam perjalanan untuk menjemputku tanpa diduga musuh papa juga mengetahui keberadaanku mereka membuntuti kakek"
"Keluarga petani itu menyadari bahwa akan terjadi sesuatu karena dari kejauhan samar samar mereka mendengar suara pistol yang saling bersahutan.Mereka menyuruh putra mereka yang berusia enam tahun itu untuk berlari dan bersembunyi sambil membawaku dan kau tau Amiraa siapa anak kecil itu?" Tanya Edward.
"Tentu saja tidak tau Emillia hanya memberitahuku bahwa sebelum dia terjatuh kedalam tebing itu dia terlebih dahulu meneyembunyikanmu ditumpukan jerami" Jawab Amiraa dengan jujur kini kedua netra manusia itu pun bertemu saling memandang satu sama lain.
"Lanjutkan" Ucap Amiraa memecah keheningan didalam ruangan itu.
"Anak kecil itu adalah Aaron,tidak bisa terbayangkan bagaimana wajahnya saat ketakutan seraya terus berlari menggendongku hingga pada saat sampai dijalan raya hampir saja tertabrak mobil kakek,Aaron meminta kakek untuk menyelamatkan kedua orang tuanya namun sangat disayangkan orang tua Aaron meninggal dengan luka tembak dikepala mereka" Ucap Edward.
"Jadi selama ini kalian hidup hanya berdua begitu?" Tanya Amiraa yang sedang membayangkan kehidupan pahit yang telah Edward lalui.
"Tentu saja Aaron bukanlah assistenku tapi aku menganggapkan seperti kakakku" Ucap Edward.
"Dasar pembual menganggapku sebagai kakak tapi kau memperlakukanku selayaknya babu,Ed sampai kapan kau akan bermesraan disini pekerjaan kantor sudah sangat menumpuk menunggu tanda tanganmu" Ucap Aaron secara tiba tiba yang kedatangannya tanpa disadari oleh Amiraa dan Edward.
"Cihh mengganggu saja" Ucap Edward pria itupun semakin melingkarkan lengannya diperut Amiraa.
"Tuan apa apaan hey malu" Ucap Amiraa dengan pipi yang merona.
__ADS_1
BERSAMBUNG..