Amiraa:Di Penghujung Penantian

Amiraa:Di Penghujung Penantian
Alia.


__ADS_3

"Dia putri kami" Ucap Elaine dengan wajah sendunya kini sudah tidak ada lagi noda merah ditubuhnya atas permintaan Amiraa.


"Lalu mengapa dia disini?"Tanya Amiraa bahkan kini hati Amiraa sangat tersentuh menyaksikan betapa sakitnya anak itu berjuang menahan seorang diri dengan beberapa alat yang terpasang ditubuhnya.


"Dia memiliki masalah jantung semenjak didalam kandungan dokter sudah menyatakan bahwa memang kandunganku lemah saat itu Edward benar benar menginginkan Alia karena itu aku berusaha semampuku untuk menjaganya sejak dia dalam kandungan." Jawab Elaine seraya menatap Aaron yang berjalan di koridor rumah sakit dengan penuh kebencian.


"Apa ada masalah?"Tanya Amiraa tatapannya juga tertuju kepada Aaron.


"Jika saja waktu itu dia tidak melarang Edward mungkin aku masih bersama bayiku saat ini tapi aku juga sedikit berterimakasih karenanya Alia masih hidup sampai saat ini" Ucap Elaine yang sedikit membuat Amiraa bingung.


"Edward dan aku menikah atas persetujuan hitam diatas putih pernikahan bisnis yang kami jalani hanya sebagai syarat agar dua perusahaan yang sedang menjalin kerja sama saat itu semakin erat,aku tahu Edward sangat membenciku lambat laun aku berharap Edward mungkin saja bisa meluluh nyatanya sampai saat ini hanyalah aku yang mencintainya aku tidak bisa membencinya Amiraa" Ucap Elaine sorot mata hitamnya menerawang jauh ingatan saat saat dia menikah dengan Edward dan juga momen mengandung Alia tanpa perhatian Edward sedikitpun.


"EEC sebenarnya hanyalah perusahaan kecil lalu menjadi seperti sekarang ini adalah atas bantuan dari perusahaan milik papaku yang sudah beralih tangan atas namaku segala kuasa awalnya atas nama kita berdua namun Edward merubahnya aku tidak mempermasalahkan karena aku yakin kelak anakku yang akan mewarisinya suatu ketika saat aku melahirkan disebuah rumah sakit lain sebuah insiden terjadi ada beberapa kelompok pria yang berusaha mengambil Alia yang masih baru lahir aku berjuang semampuku untuk menyelamatkannya sebelum Edward dan Aaron datang”


"Semua terjadi begitu singkat kebakaran hebat juga sedang terjadi disana Edward datang menyelamatkan kami hanya saja harus melawan kelompok pria tidak dikenal itu terlebih dahulu api semakin membesar aku menyerahkan Alia yang masih bersimbah darah di badannya kepada Edward tidak ada waktu lagi untuk menyelamatkanku ketika melihat kobaran api yang sangat besar Aaron meminta Edward untuk meninggalkanku meski Edward terlihat begitu enggan disana aku baru menyadari bahwa Edward pria arogan itu memiliki setitik cinta hanya saja suatu ketidak keberdayaannya membuat kami berpisah" Ucap Elaine melanjutkan kata katanya.


Amiraa terdiam membisu sebuah cerita kelam yang terasa mengoyak hatinya itulah mengapa kaki pucat Elaine selalu bersimbah darah dan gaun merah itu bukanlah warna yang sesungguhnya melainkan merah darah yang sudah mengering.


"Lalu apa kau masih tidak merelakan Alia bersama Edward sehingga masih berada didunia ini?" Tanya Amiraa penasaran mungkin bagi orang yang berlalu lalang akan menganggap Amiraa memiliki gangguan jiwa lantaran gadis itu bermonolog dengan dirinya sendiri didepan pintu ICU.


"Tidak aku yakin Edward menyayanginya dan akan menjaganya" Ucap Elaine.


"Lalu?"

__ADS_1


"Aku bertanya tanya semenjak hari itu kemana papa dia tidak pernah mencariku bahkan mengunjungi Alia sama sekali,begitupula Edward keduanya memang belum pernah bertemu tapi aku yakin papa pasti sudah tau karena papa memiliki begitu banyak anak buah mereka selalu setia dengan papa" Jawab Elaine.


"Baiklah semoga kau segera bertemu dengan papamu" Ucap Amiraa menenangkan Elaine hantu wanita yang sebenarnya sangat cantik dengan rambut blonde nya yang tergerai panjang.


Sesaat pintu itu terbuka Edward dan dokter Reyhan keluar secara bersamaan dua pria tampan berjas putih ala baju dinasnya dan satunya lagi berjas warna navy tua yang terlihat elegan benar benar sugar daddy yang tampan.


"Untungnya kau datang tepat waktu untuk memberikan darahmu jika saja tidak entahlah aku sendiri tidak menjamin apa yang akan terjadi pada putrimu" Ucap dokter Reyhan.


Pandangan Edward tertuju pada gadis yang sedang duduk dan menatapnya.


"Terimakasih Rey lanjutkan pekerjaanmu" Ucap Edward seraya melangkah meninggalkan Reyhan.


"Apa sudah lama aku ingin bertanya padamu" Ucap Edward dengan nada datarnya.


"Seharusnya aku yang bertanya padamu" Ucap Amiraa tak kalah datar.


"Tentu saja itu bukan aku itu tamparan dari mendiang istrimu yang marah terhadapmu hampir saja membuat Alia dalam bahaya" Ucap Amiraa wajah yang biasanya terlihat ceria itupun kini terlihat suram bahkan auranyapun sedikit membuat siapapun bergidik ngeri termasuk Aaron yang baru saja sampai ditempat Edward berdiri memilih mengundurkan langkahnya berdiri disamping dokter Reyhan.


"Apakah menurutmu akan terjadi perang dunia kedua antara Ukraina dan Rusia Rey?" Tanya Aaron kepada dokter Reyhan.


"Sejak kapan perang satu saja belum selesai" Ucap dokter Reyhan yang benar benar polos menanggapi ucapan Aaron.


"Gelar pendidikanmu saja yang tinggi lihatlah dua manusia yang akan berperang itu ayo kita pergi aku ingin melihat Alia princess kecilku itu harus sembuh" Ucap Aaron sedikit berbisik semenjak Alia bayi Aaron begitu sangat menyayanginya hanya saja hampir satu tahun ini keadaan Alia benar benar diambang hidup dan mati.

__ADS_1


"Itu tidak mungkin" Ucap Edward.


"Apa kau lupa aku bisa melihat mereka tuan saat ini saja nona Elaine sedang berdiri disampingmu jika saja dia bisa dia ingin mencekik lehermu itu" Ucap Edward.


"Cekik saja lagian hantu tidak memiliki kemampuan untuk menyakiti manusia" Jawab Edward terlihat menyepelekan.


"Nona Elaine kau bisa meminjam tubuhku untuk membunuhnya jika kau mau" Ucap Amiraa dengan serius kini tangan yang digenggam oleh Edwardpun juga menggenggam dengan erat seperti tanda tanda saat Amiraa berganti menjadi Emilia.


"Ahh tidak tidak aku hanya bercanda Elaine jika kau benar benar ada disini boleh aku meminta jangan menuruti apa katanya lain kali kau jua tidak perlu menamparku aku berjanji sehidup semati akan menjaga Alia dengan baik oke maafkan aku" Ucap Edward yang seolah berbicara dengan angin wajah arogannya tampak serius kali ini membuat Amiraa sedikit menahan tawanya.Akan tetapi raut wajah Elaine terlihat begitu sedih.


*“Seandainya aku masih hidup dan melihat tingkah konyol mu yang seperti ini Ed” *Ucap Elaine yang hanya mampu didengar oleh Amiraa sebelum dia menghilang bagaikan angin yang berlalu.


“Miraa katakan pada Elaine seburuk apapun masalalu kami aku tidak pernah membencinya apalagi membuatnya terluka” Ucap Edward.


“Tapi dia sudah pergi tuan,apakah kau tau nona Elaine begitu mencintaimu bahkan meski orang tuanya tidak merestui hubungan kalian dia tetap memilihmu” Ucap Amiraa yang sudah bertelepati dengan keseluruhan cerita Elaine.


“Andai saja kelompok itu tidak mengusik hidupku mungkin kami masih bersama aku bahkan sudah mengikhlaskan kepergian Elaine itu masa masa yang sangat sulit Miraa disaat aku mulai menemukan cintaku,tapi kali ini aku juga menemui cintaku kembali” Ucap Edward denan sorot matanya yang berbinar.


“Siapa” Tanya Amiraa.


“Penasaran ya” Ucap Edward meledek.


“Yasudah aku pulang saja” Jawab Amiraa seraya melangkahkan kakinya meninggalkan Edward.

__ADS_1


“Aku memanggilnya Humairah” Ucap Edward seketika membuat langkah kecil itu terhenti.


BERSAMBUNG.


__ADS_2