
Hoammm....Amiraa menguap entah pukul berapa kali ini ruangan itu sama seperti sebelumnya masih gelap gulita tanpa penerangan sama sekali.
Amiraa menyadari bahwa Edward sudah tidak ada lagi disampingnya dengan sabar Amiraa tetap setia duduk diatas ranjang menunggu Edward yang entah kemana dikegelapan itu.
"Tidak mungkin kan dia meninggalkanku disini" Batin Amiraa.
Suara langkah kaki kian mendekat membuat Amiraa sedikit waspada didalam kegelapan itu.
"Tuan itu kau?" Ucap Amiraa sedikit berbisik.
Lama tak mendapatkan jawaban Amiraa beringsut kebelakang hingga tubuhnya menatap dinding.
"Kau takut denganku Miraa?" Ucap seorang pria dengan sedikit menyunggingkan senyumnya.
"Aishhh tuan kukira siapa?"Ucap Amiraa sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Edward duduk disamping ranjang kemudian pria itupun memencet sebuah tombol yang ada dinakas.Sekali saja kemudian ruangan itupun terlihat jelas dengan adanya lampu kecil kecil yang menyala.
Ruangan yang memang tidak begitu luas hanya ada satu singel bed meja belajar dan beberapa foto polaroid yang menempel pada dinding.
Amiraa sedikit terkesima dengan dekorasi ruangan yang begitu menarik itu.
"Makanlah hanya ini yang tersisa" Ucap Edward serata memberikan sebuah apel kepada Amiraa.
"Tuan jika ada lampu mengapa se..semalam" Ucap Amiraa terbata.
"Ini sudah siang Miraa jika semalam aku menyalakannya takutnya mereka akan mengetahui keberadaan kita,aku tidak cukup memiliki tenaga untuk melawan mereka" Jawab Edward seadanya.
"Memangnya disini hanya kita berdua?" Tanya Amiraa dan Edwardpun hanya mengangguk seraya memejamkan matanya.
Perlahan lahan Amiraa menapakkan kakinya pada lantai kayu itu rasa bosan mulai menghampirinya namun Edward berkata bahwa masih ada beberapa anak buah kelompok itu yang ada diluar rumah.
Amiraa berjalan mengrayap pada dinding disaksikannya foto foto yang terlihat kuno itu sebuah foto masa pertumbuhan Edward sedari kecil hingga dirinya yang menjadi pria dewasa.
"Ini siapa?" Tanya Amiraa menunjuk sebuah foto pria tampan bermata sipit yang berdiri tepat disamping Edward.
"Itu Aaron orang yang kupercaya" Jawab Edward.
__ADS_1
"Memangnya seberapa tinggi status tuan hingga memiliki orang kepercayaan" Celetuk Amiraa yang terdengar oleh Edward.
Edwardpun tak bergeming matanya hanya fokus mengawasi setiap langkah kaki Amiraa yang sedikit demi sedikit kian terlihat pulih.
Amiraa berhenti pada sebuah foto keluarga yang terdiri dari dua orang dewasa yang tengah bersama anak kecil dan balita.
Sebuah keluarga yang tampak bahagia didalam foto itu hingga suatu keanehan mulai Amiraa rasakan ketika menatap seorang anak kecil berusia sekitar 9 atau 10 tahun an menggunakan dress selutut entah warna apa karena foto itu merupakan sebuah foto hitam putih.
"Mengapa aku merasa tidak asing dengan anak perempuan ini" Ucap Amiraa lirih yang disertai rasa pusing yang menyerang dikepalanya.
Sebuah dejavu seolah Amiraa berada didalam foto itu kilatan kejadian masa lalu yang begitu cepat suara tawa anak kecil dan bahasa asing yang terucap dari seorang wanita bangsawan.
Brukkk...Amiraapun pingsan untungnya Edward segera melangkah dengan cepat sehingga tubuh Amiraa jatuh didalam dekapan Edward.
"Miraa..Mira" Panggil Edward seraya menepuk perlahan pipi Amiraa.
Edwardpun membawa Amiraa dan menidurkannya pada ranjang dirinya merasa bingung dengan kondisi Amiraa sementara diruang bawah tanag itu tidak ada persiapan obat obatan sama sekali.
"Amiraa ada apa denganmu" Ucap Edward yang panik kemudian iapun mengintip melalui celah sempit melihat kedalam kamarnya dan ternyata disana masih ada dua orang yang berjaga dengan senapan yang mereka genggam.
Tidak ada cara lain selain menunggu dan tetap berusaha membangunkan Amiraa ditengah kepanikan itupun terlintas untuk menghubungi Aaron melalui sinyal kode rahasia.
...****************...
"Sangat lama sekali bahkan sedetikpun aku tidak pernah mengingat sang penciptaku" Batin Renno yang kini ia bersiap untuk melangkah memasuki masjid.
Yahh selama ini Renno hanyalah seorang pria pemabuk berat bahkan hari harinya tak pernah mengunjungi rumahnya.
Ia yatim sejak kecil dan menjadi piatu semenjak duduk dibangku kelas menengah pertama.Saat berada dibangku kelas menengah keatas ia pernah mengagumi sesosok perempuan yang setiap kali melihatnya ia merasa bahagia namun diakhir kisah ia harus merelakan pujaannya menikah dengan pria lain.
Semua telah berlalu Renno semakin frustasi dan melakukan hal gila setiap harinya hingga bu Fitri yang merupakan adik dari ibunya sangat kewalahan ketika menghadapi Renno pulang dalam kondisi mabuk.
Semua itu berubah ketika pertama kali Renno bertemu dengan Amiraa.Wajah teduh Amiraa telah mengubah semua keburukan yang ia lakukan.
"Ya Allah diamanapun Amiraa berada tolong lindungi dia.Aamin." Batin Renno diakhir salamnya.
...****************...
__ADS_1
Amiraa mulai tersadar pandangannya sedikit buram saat melihat wajah Edward yang tengah menatapnya.
"Akhirnya kau sadar juga" Ucap Edward.
Edward memberikan air putih kepada Amiraa pria itupun juga membantu Amiraa terduduk.
"Amiraa kau sakit?apa yang kau rasakan saat ini?" Ucap Edward seraya menyentuh dahi Amiraa.
"Tidak ada hanya saja saat melihat foto keluarga itu tiba tiba saja semua menjadi gelap" Jawab Amiraa.
"Apakah itu keluargamu?" Tanya Amiraa dengan nada dingin dan Edward hanya menjawab dengan sebuah anggukan saja.
"Dimana mereka?" Tanya Amiraa dengan tatapan kosongnya.
"Mereka sudah tenang dialam sana" Ucap Edward dengan singkat.
"Anak kecil dengan rambut dikepang itu bernama Emillia bukan?" Ucap Amiraa masih dengan tatapan kosongnya.
Namun berbeda dengan Edward yang melipat wajahnya dengan masam terlintas dalam fikirannya bagaimana Amiraa tau selama ini hanya dia dan Aaron sajalah yang tau rahasia itu.
"Mungkin kau ingin bertanya bagaimana aku tau kan tuan" Ucap Amiraa kali ini tatapannya beralih menatap manik mata hazel dihadapannya.
"Aku memiliki kelebihian khusus dan selama ini Emillia bersamaku" Ucap Amiraa dengan percaya diri.
"Tidak mungkin" Ucap Edward yang memang tidak begitu percaya akan adanya dunia lain yang berdampingan dengan dunia manusia.
"Miraa jangan katakan omong kosong itu" Ucap Edward yang merasa sedikit terganggu jika ada orang lain yang berusaha mencari tau lebih dalam akan keluarganya.
"Tidak tuan aku tidak berkata omong kosong namanya Emillia Calista Addison bukan?dan namamu Edward Emiliano Addison" Ucap Amiraa yang sama sekali tidak menurunkan tatapannya.
Edward terdiam terjadi keheningan didalam ruangan kecil itu mencerna dengan baik setiap ucapan Amiraa.
"Kau masih tidak percaya tuan,saat ini kalung yang kau pakai adalah kalung pemberian almarhumah ibumu bukan?mereka semua tewas dimalam itu didalam mobil yang terbakar dan hanya jasad Emillia yang tidak pernah ditemukan sampai saat ini" Ucap Amiraa dengan tegas tanpa rasa ragu lagi.
Edward benar benar terpaku akan pengakuan Amiraa memang informasi yang ia dapat selama ini sama persis seperti yang diucapkan oleh Amiraa.
"Siapa gadis ini?dia tahu banyak mengenai masalalu itu" Batin Edward.
__ADS_1
BERSAMBUNG