Amiraa:Di Penghujung Penantian

Amiraa:Di Penghujung Penantian
Masih Dengan Edward


__ADS_3

Sudah satu bulan berlalu semenjak insiden itu terjadi semua seolah baik baik saja dan kembali menata hidup masing masing menjalani setiap detik menit jam dan hari tanpa adanya kesedihan sama sekali.


Dimalam itu Rizal menawarkan sebuah pekerjaan kepada Amiraa bahwa saat ini membutuhkan OB dikantornya tanpa sepengetahuan Amiraa bahwa Rizal sendiri bekerja dibawah naungan EE Company yang kerap disingkat menjadi EEC dan pemilik perusahaan tersebut adalah Edward seorang pria yang selalu Amiraa sebut dalam doa agar tidak dipertemukan lagi.


"Kamu mau kan Mir?" Tanya Rizal pria itu tampak serius menawarkan pekerjaan kepada Amiraa yang akhir akhir ini memang sering mencari lowongan pekerjaan.


"Yaudah deh mas gak papa dari pada Amiraa gak ada kerjaan terus soal Aska bagaimana?" Ucap Amiraa seraya menatap balita yang tengah tertidur di gendongannya.


"Biar ibuk saja yang jaga" Jawab bu Ani yang sedari tadi hanya terdiam menyimak apa yang dibicarakan oleh Rizal dan Amiraa.


Pandangan Rizal juga teralihkan pada wajah putranya yang terlihat sejuk dan damai saat tidur kala Amiraa membawanya ke atas untuk ditidurkan.


"Kenapa nak?" Tanya bu Ani


Tampak mata Rizal yang berkaca kaca malam itu banyak sekali yang sudah ia lalui selama ini.


"Tidak bu aku hanya kasihan kepada Aska diusianya yang menginjak masa sekolah seharusnya bersama mamanya" Ucap Rizal lirih kali ini air mata itu tumpah ia menaruh kepalanya pada pangkuan bu Ani.


"Sabarlah nak Allah pasti ganti yang lebih baik untukmu dan Aska" Jawab Bu Ani serata membelai lembut rambut Rizal.


Tak lama kemudian Amiraa kembali turun dan ikut bergabung bersama Rizal dan ibunya diruang tamu.


"Yah mas Rizal kok nangis sih?Amiraa setuju mas kerja disana ikut mas Rizal" Ucap Amiraa seraya duduk disamping ibunya.


...****************...


Perusahaan EEC


"Ed kau harus lihat siapa yang akan interview hari ini" Ucap Aaron sangat antusias seraya menaruh banyak file dimeja kerja Edward.


"Aku serahkan padamu bukankah itu pekerjaanmu" Jawab Edward tak mempedulikan apa yang baru saja dibicarakan oleh Aaron pikirannya entah kemana pagi hari ini meski sudah menjalankan kewajibannya namun faktanya hatinya masih saja gelisah.


"Ku harap kau tidak menyesal Ed" Ucap Aaron sambil berlalu pergi menyeruput kopi milik Edward.


"Ck..dasar kau ini tidak memiliki sopan santun" Ucap Edward yang semakin dibuat kesal dengan kelakuan Aaron.


"Apakah ada perkembangan mengenai Alia?" Tanya Edward sambil memejamkan matanya dan memijit sejenak kepalanya yang memang terasa sedikit pusing.

__ADS_1


"Tidak ada bahkan dokter andalan kita hampir menyerah" Jawab Aaron dengan lesu.


Kini diruangan Edward terasa sunyi sepi ketika dua orang itu tengah saling diam menatap kosong dan beradu dengan pikiran masing.


Tanpa sengaja Edwar menyenggol berkas file yang Aaron bawa hingga jatuh berserakan kelantai.


"Ini semua ulahmu Ron!" Seru Edward sebelum pandangannya tertuju pada secarik kertas dilantai yang terdapat sebuah biodata dan foto berukuran 6×4.


Edward mengambilnya dilihatnya dengan tulus foto seorang wanita yang tengah sedikit menampilkan senyum manisnya.


"Sudah kubilang dan kau berkata bahwa Aku serahkan padamu bukankah itu pekerjaanmu" Jawab Aaron menirukan gaya berbicara Edward dengan sedikit dilebih lebihkan.


"Amiraa Lituhayu Humaira Rengganis" Gumam Edward lirih.


"Tuh kan lagi lagi aku kau abaikan lima tahun lamanya Ed dan sekarang kau kembali gila oleh cinta" Ucap Aaron pria itu seraya mengendurkan dasinya.


"Jam berapa interviewnya?" Tanya Edward tampak berbinar binar.


"Kenapa bukankah sudah ku katakan kau akan menyesal" Jawab Aaron acuh.


Cplak... Sebuah majalah berhasil mendarat dengan sempurna menutupi wajah tampan Aaron yang tengah terlihat kesal.


"Maaf tuan jika kehadiran saya salah" Ucap Rizal.


"Ada urusan apa datang kemari?" Sahut Aaron dengan jutek.


"Perasaan orang ini kemarin baik baik saja bahkan ramah mengapa sangat berbeda" Ucap Rizal membatin seraya menatap Aaron yang juga menatapnya dengan sinis.


"Apa sekarang kau menyumpahi diriku?" Ucap Aaron dengan sengit.


"Sudah hentikan apa apaan ini,Rizal mengapa kau kemari dan tidak mengetuk pintu?" Ucap Edward dengan nada berwibawa.


"Maafkan saya tuan sebenarnya saya sudah mengetuk pintu hanya saja tidak ada yang mendengarnya" Jawab Rizal dengan sopan.


"Lalu?"


"Saya mencari tuan Aaron bukankah jadwal interview akan segera dimulai" Ucap Rizal meneruskan niat kedatangannya.

__ADS_1


"Apa!!sekarang?" Ucap Edward seraya menatap tajam kearah Aaron yang masih terlihat kesal.


"Iya tuan" Jawab Rizal.


"Bukankah dia keponakanmu?" Ucap Edward seraya menunjukkan kertas biodata Amiraa dimeja.


"Benar tuan" Jawab Rizal.


"Baiklah dia diterima tanpa interview selain dia perhatikan baik baik kualitas mereka yang akan bekerja diperusahaanku" Ucap Edward dengan senyumannya.


"Benarkah tuan?terimakasih banyak sudah berbaik hati" Ucap Rizal dengan sumringah.


"Tapi syaratnya jangan biarkan dia tau bahwa aku pemilik perusahaan ini,biarkan dia tau dengan sendirinya jika dia bertanya jawab saja Aaron yang memimpin perusahaan ini" Ucap Edward dengan santai.


Namun reaksi Rizal dan Aaron benar benar dibuat bingung dengan keputusan Edward.


"Kenapa harus aku?menyusahkan saja" Ucap Aaron.


"Kau mau gajimu kukembalikam tidak?" Jawab Edward dengan santainya membuat Rizal sedikit terkekeh melihat ketidak berdayaan seorang Aaron pria berwajah dingin dan hanya akan berbicara ramah kepada kliennya saja.


"Baiklah tuan saya undur diri" Ucap Rizal berpamitan.


Rizal yang memang sudah mengetahui bahwa kala insiden itu ternyata Amiraa bersama Edward kini tak memikirkan hal lain karena baginya Edward sudah sangat baik.


"Interviewnya masih lama mas?" Tanya Amiraa kala melihat Rizal berjalan melaluinya.


"Kamu lolos Mir" Ucap Rizal dengan senyumnya.


"Haa...benarkah gimana bisa kan belum interview" Ucap Amiraa dengan wajah polosnya yang bertanya tanya.


"Kan ada mas yang sebagai managernya dan kau tau atasanmu adalah tuan Aaron" Ucap Rizal seraya menuntun Amiraa berjalan keluar.


"Sepertinya aku mengenal nama ini?tidak mungkin Aaron yang saat itu membantu pria itukan?" Ucap Amiraa membatin dan bergelut dengan pikirannya sendiri.


"Pulanglah hati hati dijalan" Ucap Rizal kepada Amiraa.


"Iya mas" Jawab Amiraa yang mulai memasuki mobil hitam yang disengaja disediakan oleh kantor khusus untuk Amiraa dan berlaku peraturan itu saat itu juga.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2