
“Itu tidak mungkin" Sanggah Edward pria itu lantas berdiri pada sudut ruangan kaca memandang lurus gumpalan awan putih diatas birunya langit yang sangat cerah.
"Nama lengkapnya Emillia Calista Addison bukan?Masih ingat dengan vila kayu saat aku mencoba memberitahumu?dirumah sakit saat aku menyelamatkanmu?dan terakhir pada bagunan tua?apa gadis lemah sepertiku mampu memiliki kekuatan besar seperti itu?" Ucap Amiraa tanpa adanya jawaban sedikitpun dari dua pria didalam ruangan itu.
"Saat Emilia mengatakan akan selalu menggunakan tangan kanannya untuk menyelamatkanmu percayalah Emillia harus kehilangan tangan kirinya untuk menyelamatkanmu yang masih bayi waktu itu entah apa yang terjadi setelah itu sehingga kau masih selamat sampai saat ini" Ucap Amiraa mimik wajah itu tampak dingin seolah merasakan sesuatu yang menyakitkan ketika menjelaskan hal hal yang tidak ada hubungannya mungkin saja jika Emillia tidak berdiri disudut ruangan dan memohon padanya untuk menjelaskan segalanya sudah pasti Amiraa tidak akan lagi peduli pada Edward.
"Terserah mau percaya atau tidak jika sudah selesai saya ijin tuan" Ucap Amiraa untuk terakhir kalinya seraya kakinya melangkah keluar menuju pintu.
"Berhenti!"Seru Edward menahan Amiraa.
Amiraapun memilih berhenti tanpa menoleh sedikitpun membiarkan pria arogan itu berjalan dihadapannya tubuh mereka saling berhadapan begitupula dengan tatapan mereka yang saling terkunci satu sama lain.
"Jika benar yang kau katakan panggil kakakku aku meminjam ragamu sebentar saja" Ucap Edward.
Amiraa memutar bola matanya dengan sangat malas itu bukanlah permintaan yang mudah karena saat dirinya membiarkan jiwa jiwa roh agar merasuki tubuhnya resikonya adalah Amiraa bisa saja kehabisan tenaga dan membuatnya lemas seharian dengan beberapa titik pada bagian tubuhnya yang terasa sangat sakit semua.
"Tapi aku ada syarat yaitu berikan aku cuti satu hari tanpa penolakan tanpa potong gaji" Tawar Amiraa seraya melipat tangannya kedepan dada.
Seorang gadis yang biasanya terlihat polos kali ini berubah 360 derajat menjadi seorang gadis angkuh benar benar suatu penampilan yang terlihat sedikit kurang cocok untuk dilihat.
"Baiklah aku turuti permintaanmu" Ucap Edward sebuah jawaban yang membuat Aaron sedikit membulatkan matanya.
“Sejak kapan seorang Edward mau bernegoisasi apalagi dengan seorang perempuan" Ucap Aaron sedikit lirih namun masih bisa didengar oleh Edward.
Amiraa diam sejenak sudut matanya menangkap sesuatu yang dilihatnya cukup mengganggu bukan hanya Emillia yang berada disana namun satu persatu makhluk tak kasat mata mulai berdatangan satu persatu.
"Mengapa hanya diam saja cepat laksanakan printahku!" Ucap Edward pria arogan itu memang tidak pernah mau menunggu dan menggunakan kesabarannya.
__ADS_1
"Diamlah tuan aku sedang berkonsentrasi" Ucap Amiraa seraya menaruh jari telunjuknya pada bibir Edward.
“Apa apaan ini” Ucap Edward membatin.
“Akhh…sangt sulit sekali sepertinya tampar aku tuan” Ucap Amiraa sedikit melebarkan pandangannya kearah Edward.
“Apa kau gila!!!” Ucap Edward benar benar tidak yakin selama ini dia tidak pernah bermain kasar dengan wanita manapun.
“Cepat lakukan jika tidak Emilia tidak akan bisa masuk dia akan terkalahkan oleh energi lain mangkanya buatlah dia marah” Ucap Amiraa.
“Tidak akan aku tidak pernah memukul seorang wanita kau suruh saja Aaron yang melakukannya dia ahli dalam menghukum wanita” Jawab Edward seraya membuang muka menatapa tajam kearah Aaron yang duduk pada sandaran sofa.
“Hey mengapa aku!” Ucap Aaron tak percaya bahwa Edward akan benar benar menyuruhnya menyakiti Amiraa.
“Akh apa salahnya itu tidak akan sakit cepat-“ Ucap Amiraa seraya berdiri dan ingin bergegas menghampiri Aaron namun apalah daya saat ia merasa kakinya menginjak sebuah benda kenyal dibawah sana membuatnya terjatuh tepat dihadapan Edward.
Sebuah benda kencal yang cukup pas pada genggamannya terasa sedikit empuk dan juga hangat beberapa detik pandangan mereka terkunci satu sama lain terkecuali Aaron yang dengan sigap menutup matanya menggunakan telapak tangannya.
“Kau!!Emilliaaa!!!!” Teriak Amiraa yang merasakan bahwa tindakan Edward kali ini benar benar merugikannya.
Tidak butuh waktu lama tubuh Amiraa sedikit menegang terlihat kembali bola mata miliknya kembali memutih Edward merasakan tubuh Amiraa semakin berat lantas membantu Amiraa duduk dengan benar meski kali ini apa yang dia rasakan benar benar berampur menjadi satu.
"Amiraa jangan menakutiku mat..matamu itu" Ucap Aaron yang perlahan telah kembali melihat situasi didalam ruangan itu.
Amiraa menutup kelopak matanya sangat rapat meski demikian Aaron dan Edward menduga jika saja dibuka mungkin didalamnya masih sama saja berwarna putih sempurna.
"Jangan sentuh dia Ed dia memang tidak suka" Ucap Amiraa yang masih dengan mata terpejam dan suaranya yang khas seperti anak kecil.
__ADS_1
"Siapa kamu?" Ucap Edward yang masih sedikit tidak percaya.
"Bukankah tadi kamu yang meminta agar bisa berbicara dengan kakak" Kali ini Emillia yang bersuara.
"Bisakah aku percaya rasanya sangat mustahil ada dunia lain seperti ini" Ucap Edward.
"Kau salah Ed dunia ini tidaklah sempit kami benar benar ada arwah yang tidak tau arah jalan kembali dikarenakan masih memiliki urusan duniawi,katakan saja apa yang ingin kau ketahui" Ucap Emillia.
"Ceritakan dengan jelas siapa keluarga kita dan bagaimana insiden itu terjadi aku akan membalas kematian orang tuaku" Ucap Edward dengan manik mata yang sedikit terlihat berkaca kaca.
"Papa Lars Emilliano Addison dan mama Fleur Callista Addison malam itu mereka mengajak kita berpindah rumah secara tiba tiba mama membangunkanku dengan adanya kamu yang sudah berada digendongannya papa berkata bahwa anak buahnya tidak sanggup lagi menahan serangan yang akan menuju rumah kita yang aku tau mereka mengincar sebuah kalung liontin,liontin itu sangatlah langka nilai tukarnya saja mampu menjamin kehidupanmu hingga tujuh turunan sekalipun” Ucap Emillia.
"Apa demi kalung ini" Ucap Edward seraya menunjukkan sebuah kalung yang menggantung dengan indah pada lehernya.
"Kau benar" Ucap Emillia.
"Tapi dulu bukan itu saja yang mereka incar sebuah hal yang bahkan nilainya tidak bisa ditukar dengan apapun" Ucap Emillia terhenti.
"Maksutmu ada lagi?” Tanya Edward.
"Ya mereka menginginkan mama..kecantikan mama waktu itu tiada tanding dibandingkan dengan wanita manapun semua memang salah papa jika saja papa tidak memperkenalkan mama kepada pimpinan itu mungkin mereka juga tidak akan tau bahwa papa memiliki seorang wanita cantik yang sangat ia cintai" Ucap Emillia suasana masih hening Aaron dan juga Edward masih menatap tubuh Amiraa yang terlihat seperti putri tidur hanya saja mulutnya tak berhenti bergerak.
"Kakak masih ingat dimalam yang sedikit terang karena bantuan sinar bulan purnama pria itu memiliki tatto naga pada lehernya sebenarnya itu bukan tatto sebagai tanda ia adalah ketua suatu organisasi melainkan waktu itu papa pernah berusaha membunuhnya saat tau mama hampir saja diperkosa olehnya pria itupun lantas menutupinya dengan sebuah tato karena merasa malu jika memiliki bekas luka pada tubuhnya organisasi mereka semua memiliki tato yang sama pada tubuhnya tatto sebuah matahari didalam segitiga" Ucap Emillia.
"Tunggu sebentar bukankah kelompok Pyungsoo yang akhir akhir ini berhadapan dengan kita juga memilikinya bos" Ucap Aaron memotong ucapan Emillia,Edwardpun mengingat ingat saat dirumah sakit ketika Emillia menyerang kelompok itu dengan sangat brutal memang ada disebagian orang orang yang memiliki tato tersebut.
"Carilah siapapun itu dan balaskan kematian kakak dan kedua orang tua kita" Ucap Emillia.
__ADS_1
BERSAMBUNG…