Amiraa:Di Penghujung Penantian

Amiraa:Di Penghujung Penantian
Keputusan Dalam Memilih


__ADS_3

"apa kau benar benar yakin Amiraa?" Tanya Renno pria tampan itu masih saja setia duduk dihadapan gadis yang sudah membuat hari harinya cukup berantakan selama ini.


"Aku bersungguh sungguh dia wanita yang baik dia juga begitu mencintaimu" Jawab Amiraa gadis itu terlihat tampak mengucapkannya dengan wajah yang cukup antusias.


Situasi hening untuk sesaat dua manusia yang tengah duduk disebuah ruangan vip sebuah restoran yang cukup terkenal.


Amiraa sudah merencanakan dengan cukup matang apa dan bagaimana tentang kelanjutan soal Renno mengingat dibalik sebuah rasa diantara Amiraa dan Renno ada seorang wanita yang berharap cintanya akan dibalas yaitu Valena yang meminta bantuannya untuk bisa mendekatkannya kepada Renno.


"Apa yang telah mempengaruhi pikiranmu itu Amiraa kau tau aku tidak pernah mencintai wanita itu" Ucap Renno pria itu mendengus kesal berulang kali dia berusaha menyakinkan Amiraa namun masih tetap sama saja Amiraa menolak cintanya.


"Tidak ada sama sekali Ren aku tahu selama ini kamu baik padaku dan aku menganggap hubungan kita tidak lebih dari teman" Jawab Amiraa tangannya kian bergetar saat mengucapkan kalimat yang bertolak belakang dengan hatinya.


"Tap-" Baru saja akan melanjutkan ucapannya terdengar pintu ruangan diketuk Renno bergegas berdiri dan membukanya.


"Kau!ada urusan apa kemari?" Tanya Renno kepada pria maskulin yang sudah berdiri diambang pintu.


"Aku hanya menjemput Amiraa sesuai jam yang ditentukan" Jawab pria itu yang tidak lain adalah Edward.


Sejenak Renno memperhatikan Amiraa yang sudah berdiri dan menatapnya terlihat jelas tangan gadis itu menggenggam ujung gaunnya.


"Sebaiknya mulai sekarang jauhi dia bukankah sudah jelas dia menolakmu" Ucap Edward dengan nada sedikit mencibir.


"Atas dasar apa kau menyuruhku" Ucap Renno.


"Aku kekasihnya dan aku berhak atas diri Amiraa kejarlah wanita yang mencintaimu" Ucap Edward dengan santai Rennopun terdiam seketika menatap Amiraa yang masih tetap terdiam.


"Apa yang pria itu katakan benar Miraa?" Ucap Renno tapi gadis itu masih saja diam tak bergeming.


"Diam mu itu merupakan sebuah jawaban untukku Miraa"


"Maafin aku Ren" Hanya itulah yang keluar dari bibir Amiraa suara itu sangatlah lirih bahkan nyaris tak terdengar.


"Kau akan menyesal Amiraa!" Hardik Renno sambil menghempaskan tubuh Amiraa pada sofa lalu memilih pergi meninggalkan Amira yang masih menangis dalam diam.


Rencana itu benar benar berhasil atas kesepakatan Amiraa dan Edward saat berada dirumah sakit.

__ADS_1


Flashback On


“Aku memanggilnya Humairah” Ucap Edward seketika membuat langkah kecil itu terhenti.


Amiraa masih terdiam mematung ditempatnya berdiri setelah mendengar sebuah nama yang keluar dari mulut Edward.


"Oh begitu" Ucap Amiraa seraya melanjutkan langkah kakinya.


"Amiraa berhenti" Ucap Edward pria itu bergegas mencekal lengan Amiraa agar gadis itu berhenti.


"Apa?" Tanya Amiraa sambil menautkan kedua alisnya.


"Mengapa kau masih pergi?" Ucap Edward manik mata itu tampak mencari cari sebuah jawaban pada wajah cantik Amiraa.


"Lalu aku harus berbuat apa?"Ucap Amiraa singkat.


"Bukankah aku sudah menyatakan padamu nama seseorang yang telah membuatku jatuh cinta" Ucap Edward seraya menggenggam tangan Amiraa.


"Humairah bukan?apa hubungannya denganku meski namaku juga humairah bukan berarti itu aku kan" Jawab Amiraa dengan wajah datarnya.


Amiraa tampak termangu memperhatikan sekitar dimana ada Emillia dan juga Elaine yang tengah memperhatikannya dengan tersenyum.


"Entahlah yang pasti itu bukan aku" Ucap Amiraa malas.


"Amiraa aku sungguh mencintaimu dan terimakasih karenamu nyawa putriku terselamatkan" Ucap Edward berbinar.


"Aku bisa saja menerima terimakasihmu asal kau mau membantuku" Ucap Amiraa.


"Apa?lalu bagaimana dengan cintaku?" Tanya Edward.


"Tuan kau adalah bosku mau ini serius atau bukan sudahlah kau tetap atasanku sekarang bantu aku sebagai rasa terimakasihmu itu" Ucap Amiraa suasana yang hampir saja terlihat romantis itu hilang seketika saat Amiraa mengingatkan status mereka hanyalah seorang atasan dan bawahan.


"Apa kau sungguh tidak malu tuan mengatakan itu dihadapan mendiang istrimu bahkan juga kakakmu meski wujudnya masih terlihat seperti anak kecil mereka berdua sudah bertemu dialam mereka dan Emillia tidak akan membiarkanku dalam situasi bahaya" Ucap Amiraa kembali.


"Apa?maksudmu kau harus meminta restu dari mereka ohh ayolah Amiraa..kak mohon restui hubungan kami dan untukmu Elaine aku tau kau sangat mencintaiku maka relakan aku bersamanya kau tau bukan dia gadis baik dia dan aku kelak akan merawat Alia sampai tumbuh dewasa" Ucap Edward yang terdengar seolah sedang bermonolog.

__ADS_1


Amiraa tampak menahan tawanya dengan memegang bagian perutnya tak terbayang bagaimana lucu dan polosnya Edward yang mempercayainya begitu saja.


"Sekarang apa yang bisa kubantu?" Ucap Edward.


Amiraapun mendekat tampak dia berjinjit dan meraih bahu Edward agar pria itu sedikit menundukkan badannya lantas iapun segera membisikkan sesuatu pada Edward.


"Misal beneranpun tidak masalah aku setuju" Celetuk Edward dikala Amiraa menyelesaikan ucapannya.


"Tidak perlu sudahlah tidak jadi" Ucap Amiraa berlalu.


"Oke oke baiklah aku akan menuruti seperti yang kau mau" Ucap Edward merasa pasrah.


"Wanita memang selalu merepotkan" Ucap Edward lirih seraya menyusul langkah Amiraa.


Flashback Off


Amiraa masih terdiam perlahan Edwardpun mendekat kearahnya.


"Apa kau baik baik saja?sakitkah?" Tanya Edward seraya menghapus air mata yang mengalir membahasi pipi Amiraa.


"Apa aku menyakitinya tuan?" Ucap Amiraa lirih.


"Tidak atau mungkin iya sedikit itu jauh lebih baik Amiraa dibandingkan harus memaksanya bertahan tanpa kepastian" Ucap Edward perlahan pria itupun mendekap Amiraa yang terlihat seolah tidak berdaya.


"yess.. sainganku berkurang satu tanpa sadar kau sendiri yang jatuh kedalam pelukanku Amiraa tanpa aku harus memaksamu" Ucap Edward membatin.


"Apa apaan kau ini tuan lepaskan aku kau mencari cari kesempatan" Ucap Amiraa seraya melepaskan pelukan Edward dan sedikit menjauh.


"Tidak Amiraa sama sekali bukan begitu aku hanya merasa kasihan padamu harus merelakan pria yang kau cintai" Ucap Edward sambil berusaha memeluk Amiraa kembali.


" Berhenti disana tuan kau tidak bisa membohongiku atau aku panggilkan kakakmu itu" Ucap Amiraa sedikit mengancam meski ia tahu bahwa Emillia tidak berada disana.


Akhir akhir ini Emillia selalu menghilang dari sisinya dalam waktu yang cukup lama akan tetapi jika ia memanggilnya hantu itu tetap saja akan muncul.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2