
Edward masih saja terdiam pria itupun kini telah berdiri dihadapan sebuah foto keluarga yang memang terlihat begitu bahagia.
"Malam itu dia terus berlari tuan dengan adanya kau didalam gendongannya menembus hutan lebat yang penuh dengan semak semak berduri ia sama sekali tidak peduli akan rasa sakit yang ia rasakan asalkan selamat dari kejaran orang orang bersenjata itu bahkan setelah menaruhmu ditempat yang aman ia masih terus berlari membiarkan tangan kirinya tertinggal dan pada akhirnya ia lompat kedalam jurang yang sangat curam" Ucap Amiraa kali berhasil membuat Edward yang sangat sulit menerima perkataan Amiraa pun menoleh pada Amiraa.
"Kau boleh tidak mempercayainya tuan kau boleh menganggapku berbicara omong kosong kau pikir kejadian dirumah sakit saat aku melwan mereka menggunakan senjata itu adalah aku?" Ucap Amiraa terhenti namun tatapannya masih awas menatap kearah Edward yang masih diam tak bergeming.
"Emillia lah yang mengendalikan tubuhku tuan" Ucap Amiraa.
Edward mengingat ingat dengan keras malam kejadian penyerangan dirumah sakit itu bahkan rasanya memang tidak mungkin bagi Amiraa gadis lugu itu mengangkat sebuah pistol dan bertarung melawan pria pria bertubuh kekar dimalam itu terlebih bola mata Amiraa yang menghitam sepenuhnya.
"Selama ini dia mencarimu tuan ia akan membantumu membalaskan dendam atas apa yang dialami oleh keluarga Addison" Ucap Amiraa.
Baru juga Edward akan menjawab ucapan Amiraa bunyi suara tembakanpun terdengar dengan sangat nyaring.
Sebuah baku tembak yang telah terjadi diluar sana yang dipimpin oleh Aaron untuk melawan kelompok bersenjata yang mengincar nyawa Edward.
Cukup lama sekali hingga Amiraa bersembunyi dibalik punggung Edward karena merasa takut.
Hingga keadaan cukup sunyi pintu yang tersembunyi dibalik lemari itupun terdengar sebuah ketokan.
"Tuan ini aku" Ucap Aaron.
Edwardpun segera membuka semua kunci pintu itu dan munculah Aaron dengan wajah tengilnya.
"Woww..kau bersembunyi disini tuan?dengan wanita?sejak kapan?" Ucap Aaron mulai menggoda Edward yang tengah berwajah mode serius.
__ADS_1
"Lama sekali!!" Ucap Edward dengan wajah dinginnya seraya berjalan mengambil kursi roda.
"Heyy setidaknya ucapkan terimakasih tuan,kau tau perjalanan kemari memanglah tidak mudah lagipula mengapa kau harus mencari tempat terpencil tidak berpenghuni" Jawab Aaron tanpa henti.
Edward mengisyaratkan Amiraa agar duduk dikursi roda.
"Tidak tuan aku akan berjalan saja sepertinya kakiku sudah sembuh" Jawab Amiraa.
Suatu penolakan adalah hal yang paling dibenci oleh Edward maka dari itu pria itupun bergegas pergi dari ruangan itu meninggalkan Aaron dan Amiraa.
"Hey yahh tuan mengapa kau tinggal dia sendiri disini" Ucap Aaron kebingungan sementara Amiraa yang merasa tidak enakpun lantas melangkahkan kakinya turu keluar diruangan itu.
"Ini kenapa sih?" Ucap Aaron bertanya tanya lantaran ia sendirian diruangan itu.
"Emmm Amiraa semalam tidak terjadi apa apa kan antara kalian berdua?" Tanya Aaron yang membuat Amiraa sedikit merasa tidak nyaman.
"Cepat makan makanannya setelah ini kita kembali dan bereskan semua kekacauan ini" Ucap Edward dingin seraya menaruh mangkuk berisi spaghetti itu dengan kasar.
"Bagaimana mereka bisa makan dalam kondisi seperti ini". Batin Amiraa seraya menatap keseluruh bagian villa yang begitu banyak sekali bercak dan noda merah yang berbau anyir itu.
Sore itupun iring iringan mobil menyertai keberangkatan Amiraa yang harus pulang.Tidak ada percakapan sama sekali dialam mobil itupun membuat Amiraa merasa mengantuk dan tertidur.
Hingga malam dini hari mereka baru sampai dikediaman Rizal,Aaron mengetuk pintu rumah tersebut.
"Amiraa" Seru Rizal setelah membuka pintu dan melihat Amiraa yang tengah duduk dikursi roda.
__ADS_1
"Maaf tuan kami mengantar nona Amiraa ditengah malam seperti ini,selanjutnya rumah ini akan terus dipantau oleh bawahan kami karena nona Amiraa sangat berjasa bagi tuan muda kami" Ucap Aaron dengan sopan.
Rizalpun menatap lekat kedalam mobil hitam "Apakah tuan mudamu tidak bisa turun dan mengucapkan terimakasih secara langsung" Ucap Rizal dengan nada yang sedikit lantang.
"Maaf tuan saya selaku perwakilan dari tuan muda mengucapkan terimakasih yang sebesar besarnya" Ucap Aaron dengan nada formal meski ini bukan pertama kalinya Aaron dan Rizal bertemu karena sebelumnya mereka kerap bertemu dikantor.
Aaronpun kembali memasuki mobil dan seperti biasa iapun segera mengemudi menuju kediaman Edward.
Rizal mendorong kursi roda Amiraa memasuki rumah yang terlihat begitu sepi.
"Mas Amiraa sebenarnya bisa berjalan dan dimana ibu?" Ucap Amiraa.
"Sudahlah jangan banyak bergerak Miraa dan ibu sedang dirumah mama katanya kalau disini akan terus teringat denganmu mangkanya memilih tinggal disana saja dan bermain dengan Aska" Jawab Rizal.
"Miraa tidak mungkin kan jika kau harus berjalan menaiki tangga?bagaimana kalau sementara tidur dikamar bawah saja?" Ucap Rizal sedikit ragu saat Amiraa sudah berdiri tepat didepan anak tangga.
"Tidak mas Amiraa kuat kok dan pengen mandi biar lebih seger" Jawab Amiraa.
"Baiklah jalan pelan pelan saja kalau tidak kuat bilang" Ucap Rizal seraya mengikuti langkah Amiraa dari belakang.
Sesampainya dikamar Amiraa iapun segera merebahkan badannya tidak mungkin baginya menceritakan bahwa semalaman terkurung didalam kamar bersama seorang pria dan satu hari ini ia belum mandi akibat penyerangaan kelompok pyungsoo.
"Mas siapkan air hangatnya" Ucap Rizal.
BERSAMBUNG.
__ADS_1