
Kabar bahwa Amiraa mengalami kecelakaan itupun sudah terdengar dimanapun keluarga Rizal dan juga orang tua Amiraa yang sempat menerima kabar itu melalui Rizal.
Hari yang begitu buruk pada saat menerima berita itu ayah Amiraa mengalami serangan jantung yang pada saat itu pula menghembuskan nafas terakhirnya disaat Amiraa juga masih berjuang didalam ruang operasi.
"Jika boleh ibu saja yang menunggu Amiraa,nak Rizal pergilah kekampung untuk membantu orang tua Amiraa" Ucap bu Hanum yang saat itu juga berada disuper market yang lokasinya tak jauh dari tempat kejadian kecelakaan.
"Tapi bu" Jawab Rizal yang merasa sedikit bimbang dengan keputusan yang akan ambil sedang mama Rani juga tidak bisa menggantikannya menjaga Amiraa mengingat bahwa wanita itu mengurus Aska saja sedikit kewalahan ditambah asam urat yang dideritanya.
"Tidak apa ibu sudah menganggap Amiraa seperti anak ibu sendiri nak Rizal pergilah kasihan ibunya Amiraa" Ucap bu Hanum menyakinkan Rizal.
"Baiklah bu maaf jika sudah merepotkan" Jawab Rizal kini pria itupun dengan mantab melangkahkan kakinya menuju parkiran rumah sakit.
Iapun mengendarai mobil yang merupakan fasilitas dari kantor,sebelum itu Rizal berpapasan dengan mobil mobil hitam yang mulai memasuki area pakiran dan juga pria pria seperti bodyguard yang terus keluar satu persatu dan terlihat mulai memasuki rumah sakit.
Rizalpun segera melesat menuju desa dimana tempat Amiraa dibesarkan yang mana perjalanan itu membutuhkan waktu setengah hari.
...****************...
Bu Hanum yang masih duduk diruang tunggupun sedikit dibuat bingung dengan kedatangan pria pria bertubuh besar yang segera berdiri berjejer dihadapan pintu oprasi.
"Siapa mereka?mengapa pintu ini dijaga dengan ketat" Gumam bu Hanum.
Hingga beberapa jam lamanya pria itu masih terlihat begitu berdiri tegap seolah tak memiliki rasa lelah sedikitpun.
Seorang dokterpun akhirnya keluar bu Hanum segera berdiri dan menghampiri dokter tersebut.
"Bagaimana keadaan Amiraa dok?" Tanya bu Hanum
"Apakah anda wali dari pasien tersebut?" Ucap sang dokter.
"Walinya sedang tidak ada dok sementara saya yang mewakilkan" Ucap bu Hanum dengan elegan.
__ADS_1
"Kondisinya tidak terlalu parah hanya mengalami luka luka saja dan kamu sudah menjahitnya" Jawab sang dokter yang kemudian pandangannya teralihkan pada para bodyguard.
"Dia akan sampai sebentar lagi dok" Ucap salah satu bodyguard yang seketika mendapatkan anggukan dari dokter.
"Kapan Amiraa segera sadar dok?" Tanya bu Hanum hawatir.
"tiga sampai empat jam lagi ia akan cepat sadar bu untuk saat ini masih belum bisa dipindahkan keruang rawat bu karena harus menunggu pasien yang satunya lagi" Jawab sang dokter yang bernama Reyhan.
"Ahh baiklah" Jawab bu Hanum.
"Apa Amiraa mengenal pria ini ya kenapa harus menunggunya?" Ucap bu Hanum membatin seraya kembali duduk dikursinya.
Empat jam lebih lamanya Amiraa mulai tersadar jari jarinyapun mulai bergerak perlahan ia mulai membuka kelopak matanya.
Rasa sakit disekujur tubuhnya dan pandangan yang terasa sangat berputar putar begitu membuatnya bingung tak berdaya.
"Amiraa kau sudah sadar?" Ucap seorang pria yang tak lain adalah Renno ia menatap kesegala penjuru yang mana terlihat bu Hanum yang tengah tertidur dengan posisi duduk disofa,jarum infus yang menancap ditangannya dan beberapa bagian tubuhnya yang terbalut rabi oleh sebuah perban.
"Amiraa" panggil Renno kembali yang akhirnya membuat bu Hanum juga terbangun.
Amiraa berusaha untuk duduk namun segera dicegah oleh bu Hanum banyak sekali pertanyaan dikepala Amiraa terlebih orang orang yang memakai pakaian serba hitam diruangan tersebut yang berjumlah enam orang dan empat orang lainnya didepan pintu.
"Sakitt bu" Rintih Amiraa seraya menunjuk kearah tulang rusuknya sebelah kiri.
"Iyaa sabar ya nak memang lukanya sedikit dalam" Ucap bu Hanum dengan lembut.
"Ini ada Renno dia bilang temanmu dan ingin menunggumu disini" Ucap bu Hanum lagi.
"Bu mengapa banyak orang orang itu disini" Tanya Amiraa kepada bu Hanum.
Bu Hanumpun melangkahkan kakinya yang diikuti oleh pandangan Amiraa yang juga terus mengikuti kemana arah wanita itu pergi.
__ADS_1
Dengan perlahan bu Hanum sedikit membuka tirai putih yang berada disamping kanan Amiraa.Terlihat seorang pria yang terbaring dengan banyak sekali alat bantu ditubuhnya.Seorang pria yang mungkin saja tidak banyak luka memar diwajahnya itu akan terlihat sangat tampan.
Amiraa kembali mengingat dengan jelas tentang insiden kecelakaan kemarin sore dimana ia menyaksikan semuanya darah dan juga korban korban yang mengalami luka.
Bu Hanumpun lantas menceritakan kepada Amiraa bahwa orang orang yang berbaju hitam itu merupakan bodyguard dari seorang pria yang kerap dipanggil sebagai tuan muda yang kini tengah berjuang di brangkar dibantu dengan segala alat canggih yang menempel didada bidangnya.
"Bu dimana mas Rizal?" Tanya Amiraa dengan polos yang seketika membuat bu Hanum dan Rennopun saling berpandangan.
Amiraa yang memperhatikan kedua orang tersebut mulai merasakan sebuah firasat buruk meski ia tidak tahu apa yang terjadi.
"Katakan padaku Ren aku hanya memiliki mas Rizal laku dimana dia?tidak mungkin kan jika dia tidak tau aku berada disini" Ucap Amiraa meski dengan kondisi yang sangat lemah ia masih terus berusaha untuk terlihat kuat.
"Nak yang sabar ya Amiraa harus ikhlas" Ucap bu Hanum seraya mendekat kearah Amiraa.
"Apa maksudnya bu" Jawab Amiraa dengan cepat.
"Rizal saat ini pulang kekampun desamu nak untuk membantu prosesi pemakaman semalam ayahmu menghembuskan nafas terakhirnya" Ucap bu Hanum dengan air mata yang tak dapat lagi terbendung.
Amiraa terdiam bibirnya sangat kelu untuk berucap hanya air mata yang kini kian mulai mengalir.
"Jangan bohong bu itu tidak mungkin kemarin Amiraa masih berbicara dengan bapak katanya keadaanya kian membaik hikkss...hikkaaa" Ucap Amiraa diiringi tangisannya.
"Amiraa akan pulang bu!!" Ucap Amiraa yang kian mulai menjadi dan lepas kendali ia dengan brutal melepas jarum infus yang tertancap ditangannya yang mengakibatkan darah mulai menetes.Rennopun dengan sigap memeluk Amiraa.
"Tenang Amiraa,tenangkan dirimu lukamu akan parah" Ucap Renno sembari memeluk Amiraa dengan kuat sementara bu Hanum berlari keluar mencari dokter Reyhan.
Baju rumah sakit yang Amiraa gunakan kini terlihat jelas sebuah noda merah yang kian melebar dibagian samping kiri.
Dokter Reyhanpun segera datang diikuti wajah panik bu Hanum sebuah tindakan yang mana dokter Reyhan memberikan sebuah suntikan dilengan Amiraa.
Perlahan Amiraapun melemas dan berhenti meronta sepertinya obat penenang yang diberikan dokter Reyhan itupun telah bekerja dengan cepat.
__ADS_1
"Kalin bisa keluar sebentar aku akan memeriksa lukanya" Ucap dokter Reyhan yang akhirnya bu Hanum Renno dan beberapa bodyguard itupun melangkahkan kakinya untuk menunggu diluar.
BERSAMBUNG