Amiraa:Di Penghujung Penantian

Amiraa:Di Penghujung Penantian
Mencari Kebenaran Keluarga Addison


__ADS_3

"Baiklah aku tidak boleh lemah apapun yang terjadi aku harus kuat tidak mungkin kan selamanya aku akan tinggal menumpang bersama mas Rizal apa lagi ada ibu disini" Ucap Mia menatap jauh kearah wanita paruh baya yang sedang terlelap didalam kamar meski bukan ibu kandung Mia menyayanginya lebih dari itu.


"Sehat selalu ya bu dan lihatlah Miraa pasti bisa membuat ibu bangga" Lirih Amiraa.


Diapun segera beranjak mengambil tas kecilnya tak lupa juga memakai sepatunya kini penampilannya sudah rapi dengan rambut diikat satu.


"Sudah siap?"Tanya Rizal yang sudah duduk pada kursi kemudi.


"Sudah mas" Jawab Amiraa dengan senyum manisnya.


"Baiklah kalau ada apa apa hubungi mas Rizal oke" Ucap Rizal dipagi itu.


Amiraa memang memutuskan untuk kembali bekerja terlepas dari masa keterpurukannya selama beberapa hari Miraa tidak ingin membuat ibunya hawatir karena itulah Miraa memberanikan diri untuk tetap melangkah maju melawan rasa takut dan traumanya atas bantuan Rizal dan juga Renno yang hampir setiap hari berkunjung mengajaknya berbincang dan memberikan motivasi agar dirinya bisa kembali menjadi Amiraa ya dahulu.


"Mir.." Ucap Rizal memanggil Amiraa ditengah keheningan yang terjadi selama perjalanan.


"Iya mas ada apa?" Jawab Miraa seraya menoleh.


"Menurutmu bukankah Renno itu terlihat memiliki perasaan lain?” Ucap Rizal.


"Aku tidak mengerti maksutnya mas" Jawab Miraa yang berusaha untuk menutupi.


"Mas lihat dia baik padamu perhatian padamu apa itu namanya bukan cinta?" Ucap Rizal sedikit hati hati.


“Mungkin jujur lebih baik kali ya selama ini hanya Emillia saja yang tahu” Batin Amiraa.


“Kok diem sih jangan melamun Mir nanti kesambet” Ucap Rizal membuyarkan pandangan Miraa yang begitu jauh.


“Mana ada aku kesambet mas kan aku bisa lihat mereka semua dibelakang saja ada dua cewek yang terus ngikutin kemanapun mas Rizal pergi” Jawab Miraa yang terdengar sedikit ngasal namun Rizal percaya Miraa memang memiliki kelebihan dan tidak mungkin bicara sembarangan.


“Soal Renno dia pernah menyatakannya mas pada Miraa malam itu” Imbuh Miraa.


“Lalu apa jawabanmu” Ucap Rizal dengan perasaan yang tidak menentu ketika mendengar pernyataan Amiraa ada rasa bahagia saat melihat Amiraa mengucapkannya dengan senyumnya yang menandakan ada kejujuran disana akan tetapi ada juga sekelebat rasa yang begitu menusuk saat tau bahwa Amiraa akan sulit untuk digapai.

__ADS_1


“Entahlah mas aku tidak tau harus menjawab apa aku nyaman dengannya tapi aku tidak ingin rasa persahabatan yang sudah kita bangun hancur begitu saja mas tau kan Renno terlalu baik kepada Amiraa” Ucap Amiraa yang memberikan sensasi sedikit lega.


“Kan pasangan hidup juga bisa dijadikan teman dan sahabat Mir?meski tidak semuanya” Ucap Rizal yang malah mengingat akan rumah tangganya yang hancur dikarenakan Laras memilih pergi ketangan lelaki yang dianggapnya memang mampu memberikannya kebahagiaan duniawi.


Mobil mereka telah sampai pada basement gedung EEC yang benar benar megah dan menjulang sangat tinggi.


Pada pintu utama Amiraa sudah melihat Aaron yang berdiri tegap seolah sudah menantikan kehadirannya.


“Selamat pagi pak” Ucap Rizal dengan hormat kepada Aaron yang memang menjadi atasannya.


“Selamat pagi juga,Rizal kau bisa keruananmu terlebih dahulu dan Amiraa keruangan direktur sekarang” Ucap Aaron dengan formal membuat Amiraa dan Rizal saling berpandangan.


“Tidak apa pergilah” Ucap Rizal dengan mantab menyakinkan Amiraa.


Langkah kaki kecil itupuj mengekori langkah kaki pria yang ada dihadapannya Amiraa mengikuti kemana arah Aaron pergi.


“Tuan bisa lebih pelan jalannya” Ucap Amiraa memang saat Aaron menoleh kebelakang Amiraa terlihat sedikit berlari untuk bisa tidak terlalu jauh dau Aaron.


“Ahh iya aku lupa gadis ini sangat kecil hahahah” Batin Aaron seraya tersenyum geli didalam hatinya.


“Ada apa tuan memanggil saya” Ucap Amiraa kepada Aaron.


“Bukan saya melainkan dia” Jawab Aaron seraya menunjuk Edward yang kini sudah berjalan menggunakan tongkat dan telah duduk bersama Amiraa.


“Apa kabar Amiraa” Ucap Edward dengan ramah.


“Baik tuan” Jawab Amiraa yang masih mengingat statusnya diperusahaan besar itu dengan sopan.


“Baiklah kuharap seperti apa yang kamu katakan itu benar” Ucap Edward sedikit bertele tele.


“Ada apa tuan memanggil saya kemari” Jawab Amiraa berterus terang.


“Sepertinya kau memang bukan gadis yang mau menunggu baiklah aku ingin bertanya apa maksud dari ucapanmu waktu aku menyelamatkanmu yang mengatakan aku adik” Ucap Edward kali ini dengan wajah seriusnya.

__ADS_1


Amiraa tidak mengingat sedikitpun apa yang terjadi setelah ia keluar dari rumah itu setahunya ia hanya mendengar suara Edward berteriak untuk terakhir kalinya.


Amiraa menatap intens keseluruh ruangan berharap Emillia berada disana dan menjelaskannya.


“Apa yang kau lihat bukankah aku sedang bertanya padamu” Ucap Edward.


“Itu masalahnya aku sedang mencari seseorang untuk bisa menjawab pertanyaanmu itu” Jawab Amiraa yang melupakan posisinya sambil terus memutar boal matanya mencari cari Emillia.


“Amiraa aku serius hanya ada kita bertiga disini” Ucap Edward sedikit menggertak.


“Jika aku katakan apakah kau bisa mempercayainya” Ucap Amiraa sedikit kesal alis satunya kini nampak naik saat mendengar ucapan Edward.


“Katakan dahulu” Ucap Edward dengan nada datarnya.


“Kau tau bahwa ada dunia lain atau dimensi lain yang bersanding dengan dunia kita” Ucap Amiraa.


“Omong kosong kau pikir ini taun berapa hanya ada dunia manusia mereka yang telah mati ya pergi ke alam baka” Jawab Edward sambil membuang muka.


“Bagaimana aku menjawab jika kau saja tidak percaya padaku tuan aku memiliki kelebihan aku mampu melihat mereka yang tidak bisa dilihat oleh mata normal” Ucap Amiraa mulai gusar dan sedikit geram.


“Maksudmu itu indigo?Amiraa hal itu tidak nyata itu adalah sebuah penyakit aneh yang membuat manusia berhalusinasi melihat hantu” Ucap Edward menyanggah ucapan Amiraa.


“Terserah kau saja lalu bagaimana jika aku memang benar benar melihat arwah kakakmu yang terjebak didunia ini” Jawab Amiraa dengan datar yang membuat Edward seketika mentapnya suatu pandangan yang saling terkunci untuk mendapatkan jawaban sekaligus kepercayaan.


“Kau masih ingat saat awal mula kau menyelematkanku pada villa kayu didanau apa kau tidak menyadainya bagaiamana aku bisa tahu bahwa dalam foto itu adalah kakak dan orang tuamu yang menggendong bayi” Ucap Amiraa mengingatkan Edward.


“Kau pikir aku tau dari mana jika bukan Emillia yang memberitahuku” Ucap Amiraa dengan mantab membuat Edward melebarkan manik matanya.


“Apa dia benar benar tau mengenai kematian keluargaku” Ucap Edward membatin.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG…


__ADS_2