Amiraa:Di Penghujung Penantian

Amiraa:Di Penghujung Penantian
Hari Bahagia


__ADS_3

Dimalam yang begitu dingin ditambah dengan derasnya hujan Renno mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan yang sedikit padat.


Bagaimana tidak hancur perasaannya ketika esok adalah hari dimana ia melihat gadis pujaan hatinya memilih menikah dengan orang lain tanpa tau alasannya.


Motor itupun berhasil terparkir dengan sempurna didalam garasi.Renno segera bergegas kedalam rumah dan mengurung dirinya sendiri didalam kamar.


Terdiam menatap awan mendung kelabu diatas gelapnya malam.


Entah setelah beberapa lama lantas pria itupun menggelar sajadah melaksanakan kewajiban dalam keyakinannya.


"Jika memang bukan dia yang tertulis didalam lauhul Mahfudz ku maka jodohkanlah aku dengan ajalku.Aamiin" sepenggal do'a yang Renno ucapkan sebelum pria itu memilih meraih sebuah buku kitab yang ia baca hingga menjelang subuh.


...****************...


Dimalam yang sama pula Amiraa duduk terdiam didepan meja rias ia memandang kosong foto dirinya dengan Renno yang ia simpan didalam ponselnya.


"Entah kemana dan dimana kamu sekarang aku harap kamu menemui ku kita bertemu untuk terakhir kalinya,maaf jika pertemuan kita membuat sebuah luka yang mendalam didalam hatimu" Ucap Amiraa lirih hingga air bening itupun menetes dari pelupuk matanya.


Tak lama kemudian suara dering ponselnya berbunyi Amiraa segera tersadar berharap yang menelponnya itu adalah Renno akan tetapi ia harus sedikit menelan kekecewaan dikala bukan nama Renno yang terpampang disana.


"Hallo tuan" Ucap Amiraa.


"Selamat malam sayang belum tidur?" Ucap Edward di seberang sana.


"Be..belum mungkin sebentar lagi"


"Jangan pikirkan tentang hari esok,pagi pagi sekali Aaron akan menjemputmu sekarang waktunya untuk istirahat okey jaga kesehatanmu" Ucap Edward pria itu tampak sedikit lebih perhatian dibanding hari biasanya.


"Baiklah" Jawab Amiraa singkat sebelum panggilan itu terputus.


...****************...


Kediaman Addison begitu terlihat sedikit ramai sebuah acara pernikahan akan dilaksanakan hari ini yaitu pernikahan tuan muda Addison seorang pewaris satu satunya keluarga besar Addison.


Seorang pria menggunakan jas berwarna navy terlihat begitu tampan dan gagah saat menurun i anak tangga.


Sementara Amiraa sudah berada didalam kamar khusus untuk merias dirinya.Pernikahan yang tidak pernah akan ia bayangkan menikahi seorang pewaris tunggal keluarga kaya raya yang memiliki segudang usaha.


Didalam hatinya ia masih mengharapkan akan kehadiran seseorang yang telah memberinya tempat dimana dia bebas menjadi dirinya sendiri selama ini.


Sementara itu Renno dengan motor kesayangannya tengah mengebut dijalan bersama dengan Valena menembus ramainya jalan raya hingga gadis itu harus berpegangan erat pada dirinya.

__ADS_1


Hingga mereka sampai dihalaman sebuah mansion yang begitu luas.Hatinya semakin terasa berkeping keping ketika membaca sebuah tulisan pada sebuah karangan bunga.


"HAPPY WEDDING Edward & Amira"


"Ren kalau tidak sanggup jangan dipaksa" Ucap Valena mencoba membaca isi hati Renno.


Renno hanya tersenyum menatap Valena sebuah tatapan teduh yang cukup lama membuat jantung Valena semakin berdegup kencang.


"Mari kita masuk" Ucap Renno.


"Aku ingin tahu alasanmu tetap sekuat ini ketika rumah ternyaman mu ada di pasangan tetapi tuhan memberimu perbedaan keyakinan Ren" Ucap Valena wanita itu menatap lekat pria yang berjalan beriringan disampingnya.


"Artinya bukan jodoh yang tertulis didalam lauhul Mahfudz mu dan kamu harus mengikhlaskannya" Jawab Renno dengan santai meski isi hantinya tidak sesantai itu.


"Ingatlah satu hal Valena"


"Apa"


"Jangan sampai cintamu pada seseorang melenyapkan rasa takutmu kepada tuhan.Saat kamu memilih menjauhinya karena tuhan dalam artian kamu akan berubah menjadi lebih baik lagi maka tuhan akan menyatukanmu.Demikian nabi Yusuf A.S ia memilih Allah dari pada ajakan cinta Zulaikha,maka Allah menyatukan keduanya" Ucap Renno dengan mantab seketika Valena terdiam ditempatnya berdiri begitu tertamparnya dirinya dengan Renno.


"Aku melupakan sesuatu bahwa aku bukan Zulaikha namun aku akan berusaha membujuk NYA untuk mempersatukan kita Ren" Ucap Valena lirih.


Sementara dilantai atas Amiraa menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa Renno menghadiri acara pernikahannya.


"Seandainya aku memiliki keberanian seperti Valena Ren" Ucap Amiraa membatin sebisa mungkin ia menahan agar air mata itu tidak jatuh.


Suara MC yang mengatur jalannya prosesi pernikahan kembali terdengar.Amiraa turun dari lantai atas didampingi Viona dan juga ibunya.


Tidak banyak tamu undangan yang hadir hanya beberapa kerabat Edward dan juga staf karyawannya dikantor akan tetapi semua mata tertuju kepada mempelai wanita yang tengah menuruni tangga dengan sangat elegan.


"Cantik sekali" Ucap Edward tanpa sadar.


"Bidadariku lebih cantik" Celetuk Aaron yang sedari tadi hanya memperhatikan wanita berniqab yang tengah sibuk menata makanan yang tidak lain merupakan Zainab.


"Apa katamu!" Ucap Edward yang terpancing emosi.


"Ahh tidak ada ya maksudku Amiraa terlihat cantik" Ucap Aaron sedikit kelabakan.


Hingga pada akhirnya ijab qabul pernikahan itupun terucap Edward dan Amiraa resmi menjadi sepasang suami istri.


Rasa perih menyelimuti hati Renno hanya saja pria itu selalu mampu menutupinya dengan senyum diwajahnya.

__ADS_1


"Selamat atas pernikahanmu semoga menjadi keluarga yang bahagia Humairah" Ucap Renno


"Maksudku Amiraa" Ralat Renno.


"Terimakasih ini kekasihmu Ren semoga cepat menyusul" Jawab Edward dengan ramahnya.


"Doakan saja jalan kami dipermudah" Ucap Renno sambil tersenyum.


Amiraa hanya terdiam dengan senyum manisnya ia memberikan buket bunga mawar putih ditangannya kepada Valena.


"Semoga kalian segera menyusul" Ucap Amiraa dengan nada kekosongan.


"Terimakasih semoga kalian lekas diberikan momongan" Ucap Valena yang semakin membuat dua manusia yang seolah ditakdirkan tidak berjodoh itupun saling menundukkan kepalanya.


"Secepat inikah tuhan memberiku balasan karena telah menyakiti hatinya" Ucap Amiraa membatin.


Sementara ditengah acara yang berlangsung Renno pergi entah kemana dia hanya berpamitan kepada Valena sebentar saja namun kenyataannya itu cukuplah lama bagi dirinya.


Hingga Valena berjalan pergi untuk mengambil makanan dan tanpa sengaja bertemu dengan Zainab.


"Kamu bekerja disini?" Tanya Valena.


"Tidak hanya saja pengantin wanita mempercayakan soal makanan kepadaku" Jawab Zainab dengan lembut.


"Oh jadi kamu temannya Amiraa" Ucap Valena.


"Bisa dibilang dia pelangganku karena setiap hari dia memesan bekal kepadaku" Jawab Zainab.


"Boleh aku meminta sesuatu pertolingan padamu" Ucap Valena tampak dengan raut wajah yang serius.


"Tentu saja nona jika aku bisa aku akan membantumu" Ucap Zainab dengan lembut.


"Jadikan aku sebagian dari kaum kalian" Ucap Valena secara tiba tiba.


Meski sedikit terkejut Zainab tetaplah wanita cerdas ia memahami kemana yang dimaksud oleh Valena.


"Masyaallah nona ingin menjadi muslim" Ucap Zainab dengan penuh senyuman yang mendapatkan sebuah jawaban anggukan dari Valena.


"Sebentar aku akan merapikan ini setelah itu aku akan membimbing mu nona" Jawab Zainab dengan penuh kebahagiaan.


"Membicarakan apa wahai bidadariku sehingga tampak membuatmu bahagia yang seolah garis matamu menampilkan banyak sekali kupu kupu yang terbang disana" Ucap Aaron yang memandang dari kejauhan.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2