
"Papa selama ini aku diam hingga ajal menjemput ku pun aku masih memilih diam!tetapi kali ini biarkan aku bersuara pa!" Ucap Elaine dengan nada sendu akan tetapi terpancar aura kemarahan didalam dirinya.
"Elaine" Ucap Edward.
"Tunggu Ed!biarkan aku menyelesaikan ini semua agar semua kebenaran terungkap kau juga harus tau!Pa kau menjadikan mama sebagai budak pemuas nafsumu saja tanpa adanya cinta karena kau bodoh!bodoh dalam usahamu untuk memiliki nyonya Fleur bukan?dan Athena adalah seorang putri dari hasil kebodohanmu yang menikmati pelayan rendahan yang kebetulan memiliki wajah mirip sekali dengan nyonya Fleur" Ucap Elaine.
Semua orang terdiam begitupula Daniel yang baru saja mengetahui kebenaran dari nona yang selama ini ia jaga.
Pak Li terdiam ia berjalan mendekati Amiraa dengan langkah yang sigap pula Edward menghadang pak tua Li waspada jika orang itu akan mencelakai Amiraa yang tengah dikuasai oleh Elaine.
"Tua bangka berhenti disana!" Ucap Edward dengan penuh amarah.
"Hari ini akan kupastikan kau menemui ajalmu dengan cara yang begitu menyakitkan!" Ucap Edward penuh dengan amarah yang berkobar.
"Pa dimana hati nuranimu kau bahkan ingin menghabisi Alia dia cucumu darah dagingmu mengalir disana sadarkah kau sudah kehilangan seluruh cintamu wanita mana lagi yang akan menjadi korbanmu selanjutnya apakah dia" Ucap Elaine seraya menunjuk seorang wanita muda yang memakai kaca mata hitam yang tengah berdiri disamping tangga yang tidak lain adalah Laras yang selama ini menjadi simpanan pak Li.Pernyataan itu membuat pak Li hanya terdiam memaku ditempatnya pria tua itu pun bersujud dikaki Amiraa ia kini mulai tersadar akan kesalahannya yang mengabaikan Elaine bahkan berusaha menghancurkan hidup putrinya sendiri.
Sementara itu Daniel sudah berjalan dan kembali berdiri disamping peti mati Athena.
"Tetapi maaf Elaine kesabaranku tidak sama sepertimu aku harus membalaskan dendam keluargaku yang ia bunuh dengan kejam!" Ucap Edward yang dengan sigap pula ia menendang pak Li.
"Kau membuatku tumbuh besar tanpa keluarga brengs*ek" Ucap Edward yang membabi buta memukul pak Li sementara tubuh Amiraa terdiam sesaat setelah air mata menetes membasahi pipinya wanita itu sempat terhuyung sebelum pada akhirnya kembali berdiri dengan tegap.
"Kau yang membakar papa mama!"
"Kau yang menyuruh mereka menembak tanganganku!"
"Kau harus tetap hidup Li Tao!!"
Amiraa tak berhenti meracau selama Edward menyerang pak Li dengan suara anak kecil khasnya siapa lagi jika bukan Emillia yang sudah mengambil alih raga Amiraa.
__ADS_1
"Buat dia hidup tapi setiap detiknya ia akan memohon agar kau membunuhnya adikku sayang" Ucap Emillia dengan senyum jahatnya.
Sementara itu Daniel memilih menutup peti mati itu dan menyuruh beberapa anggota yang tersisa mengangkat jenazah nonanya itu untuk keluar tak lupa ia juga menyuruh lima orang yang menyandera Zainab agar melepaskannya.
"Karma sudah semestinya berjalan sesuai alunan takdir" Ucap Daniel seraya melenggang berjalan keluar.
Dia seorang yatim piatu sejak kecil dan diasuh oleh seorang wanita yang bekerja untuk pak Li namun diusianya yang menginjak 10 tahun ia harus menyaksikan ibu asuhnya meninggal secara tidak wajar didalam kamar penuh dosa milik pak Li entah apa yang terjadi sejak saat itu Daniel ditugaskan untuk menjaga Athena yang notabenenya seorang putri manja jelita yang apapun keinginannya harus terpenuhi berbanding terbalik dengan Elaine seorang anak yang tumbuh tanpa perhatian dari pak Li membuatnya menjadi wanita dewasa dan juga anggun.
Didalam mansion Aaron menggiring Zainab untuk keluar ia tahu bahwa wanita itu begitu ketakutan menyaksikan serangkaian peristiwa yang terjadi.
"Apakah kalian manusia" Ucap Zainab ia berjalan sedikit gemetar disamping Aaron.
"Kami manusia sepertimu Zainab tetapi takdir jalan kehidupan kami tidak sama sepertimu" Jawab Aaron.
.
.
.
Sebuah lengan kekar melingkar dengan erat diatas perutnya iapun menoleh kesamping dilihatnya wajah seorang pria berhidung mancung yang tengah terpejam.
"Sudah bangun Miraa?" Ucap Edward dengan suara paraunya.
"Ka..kau sudah bangun" Ucap Amiraa sedikit terkejut.
"Tentu saja,ayo bangun putri tidur" Ucap Edward seraya memberikan morning kiss secara singkat kepada Amiraa.
"Tunggu berapa hari aku tertidur"
__ADS_1
"Tiga hari sayang" Ucap Edward dengan senyum manisnya.
"Benarkah?" Ucap Amiraa sedikit tidak percaya iapun berusaha mengingat ingat terakhir kali kesadarannya ada.
Saat itu ia berjalan dilorong rumah sakit pandangannya sedikit buram saat dilihatnya banyak sekali makhluk tak kasat mata yang turu memandanginya.
"Renno" Ucap Amiraa membatin entah bagaimana kondisi pria itu sekarang Amiraa sendiri tidak tau sekarang.
"Tunggu apalagi ayo bangun mandilah aku akan membuatkanmu sarapan" Ucap Edward.
"Memangnya bisa?" Tanya Amiraa sedikit ragu.
"Kau meremehkan suamimu sayang,sana mandilah sudah tiga hari kau tidak mandi aku hanya membantu membersihkan tubuhmu dengan handuk basah saja" Ucap Edward saraya bangkit dari ranjang berukuran besar itu.
Blusshhh rona memerah bagaikan kepiting rebus muncul pada pipi Amiraa meski buka. pertama kalinya Edward melihat tubuh polosnya tetap saja bagi Amiraa itu adalah hal yang memalukan.
Amiraa membuka selimutnya terlihat ia memakai piyama tidur dikakinya juga masih terbalut sebuah perban kecil untung saja anak peluru yang ditembakkan oleh Athena sedikit meleset dan hanya menggores bagian paha dalamnya.
"Tunggu,bukankah itu suara ombak" Ucap Amiraa.
Senyum manis terpancar pada wajahnya ketika angin segar dipagi hari menyapa wajah polos tanpa make upnya.
Benar saja mereka berada disebuah villa yang menghadap pantai laut lepas dengan pasir putih.
"Amiraa ayo membuka lembaran baru" Ucapnya bermonolog seraya berjalan sedikit pincang menuju kamar mandi bagaimanapun juga lukanya belum sembuh total.
.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG