
Seperti hari biasanya Amiraa berangkat bekerja bersama Rizal pagi itu tidak ada hal yang mencurigakan sama sekali disepanjang perjalanan yang sangat padat kendaraan saat itu.
Amiraa berpisah dengan Rizal kala memasuki gedung EEC dengan tujuan ruangan yang berbeda.
"Tumben pagi banget datengnya Mir?" Tanya Viona yang telah sampai terlebih dahulu.
"Iya kata mas Rizal hari ini ada rapat dipagi hari mangkanya berangkat lebih awal" Jawab Amiraa seraya menyiapkan alat tempurnya.
"Bagaimana pengalamanmu kemarin saat membersihkan ruangan direktur?" Tanya Viona dengan raut wajah yang begitu penasaran.
"Baik baik saja memangnya ada apa?" Tanya balik Amiraa
"Serius?Apakah direktur tidak memecatmu atau memarahimu sama sekali?" Tanya Viona sedikit tidak percaya.
"Ya serius lah jika aku dipecat tidak mungkin kan pagi ini aku masih masuk kerja jikapun aku dimarahi mungkin kemarin siang sudah pasti wajahku tidak akan semanis itu" Ucap Amiraa dengan penuh percaya diri.
"Memangnya kenapa sih?" Tanya Amiraa yang kini berbalik penasaran.
"Rumornya dikantor ini siapapun yang membersihkan ruangan direktur pasti bermasalah diakhir karena direktur kita terkenal dengan sebutan sitampan berhati batu" Ucap Viona dengan ekspresi yang begitu menghayati.
"Benarkah?" Tanya Amiraa.
"Aaron berhati batu ck..sungguh?" Ucap Amiraa membatin.
"Iya Miraa katanya direktur kita itu tidak suka jika ada barang barangnya yang disentuh secara sembarangan makanya jika tidak sesuai langsung dipecat" Jawab Viona.
"Apa kau pernah memasukinya Vi?" Tanya Amiraa.
"Tidak pernah sih tau sendiri aku ini tidak menarik sama sekali jadi mana mungkin jadwalku dirolling kesana" Jawab Viona.
"Yasudah ayo cepat kita bekerja bukankah akan ada rapat pagi" Ucap Amiraa.
Mereka pun akhirnya melanjutkan pekerjaan masing masing hingga tanpa sadar waktu sudah menunjukkan jam istirahat dan waktu untuk makan siang.
***
"Dimana dia?" Tanya Edward.
"Di kantin sedang makan siang bersama sahabatnya yang jelek itu" Jawab Aaron sambil jari jemarinya terus berselancar pada ponselnya.
"Awasi terus dia meski kelompok Pyungsoo tidak lagi mengincarnya bukan berarti dia bisa terbebas dari bahaya" Ucap Edward penuh penegasan.
"Siap tuan muda Edward Emiliano Addison" Jawab Aaron.
***
Tring... Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
"Keluarlah sebentar"
__ADS_1
"Siapa?" Balas Amiraa.
Tring...
"Apa kau melupakanku Miraa,kemarilah sebentar saja aku mengganti nomor teleponku"
"Apakah mungkin ini Renno?" Batin Amiraa.
"Baiklah" Balas Amiraa.
Amiraa segera bergegas.
"Vi nitip ponselku sebentar ya" Ucap Amiraa.
"Kamu mau kemana Mir?" Tanya Viona.
"Turun sebentar saja" Jawab Amiraa dengan senyum malu malunya.
"Hayoo pacarmu dibawah ya" Ucap Viona menggoda.
"Bukan kok ini Renno temanku yaudah bentar dulu ya" Jawab Amiraa segera pergi meninggalkan Viona dengan sedikit berlari.
Waktu istirahat hampir saja usai namun Amiraa tak kunjung kembali tak lamapun ponselnya berdering sebuah panggilan masuk dengan nama Renno muncul dilayar ponsel Amiraa.
"Aduhh angkat gak ya nanti dibilang lancang" Gumam Viona yang ragu.
"Tapi gimana kalo ini hal penting ah sudahlah terserah nanti bagaimana respon Amiraa" Ucap Viona yang bermonolog dengan dirinya sendiri.
"Emhh..Amiraa?bukan siapa ini?" Tanya Renno.
"Sa..saya Viona temannya Amiraa ini Renno temannya kan?" Tanya Viona sedikit merasa bingung.
"Iya saya Renno dimana Amiraa mengapa ponselnya bersamamu!" Tanya Renno yang penasaran begitu pula dengan Viona yang juga dibuat bingung.
"Bu..bukannya Amiraa sedang turun menemui anda setelah anda memintanya sendiri melalui chat tidak mungkin yang bernama Renno itu ternyata dua orang kan?" Ucap Viona ia mulai merasa ada yang salah saat ini.
"Apa?tidak aku tidak menyuruhnya ini aku baru saja menghubunginya karena tadi aku sibuk bekerja" Jawab Renno.
"Nona bisakah aku minta tolong untuk pergilah kebawah dan cari Amiraa dan jangan matikan panggilan ini tolong ini sangat
penting" Ucap Renno dengan nada yang seketika berubah menjadi panik.
"A..ada apa ini tuan" Ucap Viona yang tidak tau apa apa.
"Tolong nona cepatlah mungkin Amiraa dalam bahaya" Ucap Renno dengan tegas.
"Ba..baik tuan" Jawab Viona lantas wanita itupun segera pergi menuju lantai dasar dengan berlari kata kata Renno yang begitu panik membuatnya juga merasa takut jika terjadi sesuatu kepada Amiraa.
Hingga tanpa sengaja Viona menabrak Rizal dan membuat lembar file yang ada ditangannyapun berhamburan dilantai.
__ADS_1
"Heyy kau!!" Ucap Rizal yang merasa geram.
"Maaf tuan maafkan aku namaku Viona nanti cari saja aku ini sangat mendesak" Ucap Viona seraya terus berlari menghiraukan Rizal yang terlihat sedikit marah padanya.
Rizalpun berjongkok dan memungut satu persatu kertas kertas penting yang berserakan dilantai itu.
"Dasar tidak tau diri tap..tapi tunggu mengapa dia menggenggam ponsel Amiraa" Ucap Rizal yang mulai menyadari suatu keanehan terjadi.
"Amiraa!!"Ucap Rizal diiringi dengan matanya yang melebar.
"Hey kau bereskan semua ini dan taruh dimeja ruanganku" Ucap Rizal kepada seorang karyawan yang kebetulan lewat saat itu juga dan bergegas berlari mengikuti Viona.
"Cihh..wanita ini apakah seorang mantan atlet mengapa cepat sekali berlarinya" Ucap Rizal seraya berdecak.
Viona sudah sampai dilantai dasar bahkan ia menyusuri setiap halaman depan gedung EEC bahkan sudah mengecek basement juga tidak ada siapa siapa disana.
"Hallo tuan Amiraa tidak ada" Ucap Viona diponsel.
Tak lama pula Rizal menyusul dan sampai dengan nafas yang tersengal sengal.
"Dimana Amiraa?" Tanya Rizal dan saat itu juga ia merebut ponsel Amiraa dengan paksa.
"Renno?" Ucap Rizal saat melihat panggilan itu masih tersambung.
lousepekerpun dinyalakan.
"Hallo mas Rizal" Ucap Renno yang panik.
"Hallo Ren ada apa ini" Ucap Rizal.
"Mas kata teman Amiraa dia pergi menemui seseorang setelah mengira itu bahwa aku yang memintanya,sungguh mas aku baru saja menghubunginya apakah Amiraa ada disana?" Tanya Renno kepada Rizal yang menatap tajam kearah Viona.
"Aku tidak tau apa apa tuan Amiraa hanya berpamitan untuk kebawah menemui temannya yang bernama Renno lihat saja riwayat chatnya" Ucap Viona apa adanya.
"Hallo Ren aku akan mencari Amiraa terlebih dahulu nanti aku kabari lagi" Ucap Rizal.
Setelah penggilan terputus Rizal mengecek sendiri ponsel Amiraa yang benar adanya riwayat chat dari nomor tidak dikenal yang mengaku sebagai Renno.
"Urusan kita tadi belum selesai!" Ucap Rizal kepada Viona yang masih berdiri terlihat cemas seraya mengatur pernafasannya.
Rizal kembali bergegas memasuki gedung dan sedikit berlari menuju ruangan pengawas.
"Rizal!" Panggil Aaron yang saat itu memang mencarinya.
"Mengapa kau terlihat seperti habis lari maraton?" Tanya Aaron seraya memperhatikan penampilan Rizal yang sudah acak acakan.
"Maaf tuan saya perlu mengecek CCTV keponakan saya Amiraa menghilang" Ucap Rizal sejujurnya dengan wajah paniknya.
"Apa!Habislah aku" Ucap Aaron dengan wajah masamnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG.