Amiraa:Di Penghujung Penantian

Amiraa:Di Penghujung Penantian
Balas Dendam Part 1 (Putri Yang Tidak Diharapkan)


__ADS_3

Amiraa segera dilarikan menuju rumah sakit oleh Aaron atas perintah Edward bersamaan dengan Renno dan juga Valena.


Sedangkan Edward pria itu membersihkan lukanya sendiri dan membalutnya secara asal menggunakan kasa perban.


Teringat jelas semua anak buah yang Athena bawa memiliki tato matahari didalam segitiga.


"Li Tao!" Satu kata yang keluar dari mulut pria yang memiliki tatapan tajam itu.


Sudah tidak diragukan lagi kelompok Pyungsoo adalah anak buah dari Li Tao musuh terbesar EEC dalam dunia perbisnis an dan juga dunia bawah.


"Kakak jika benar pula tua bangka itu yang menyebabkan kematianmu dan orang tua kita akan kupastikan dia menemui ajalnya dengan cara yang lebih menyakitkan" Ucap Edward bermonolog.


Namun langkahnya terhenti ketika ia mendengar suara seorang perempuan dari dalam ruangan khusus dan Edward segera bergegas kesana.


"Tu..tuan" Ucap Zainab sedikit ketakutan setelah pintu besi itu terbuka.


"Rupanya anak itu menyembunyikan kalian disini keluarlah" Ucap Edward sedikit tenang karena melihat putrinya baik baik saja didalam dekapan seorang wanita yang mampu dipercaya.


"Setelah ini ikutlah anak buahku dan sekali lagi aku meminta pertolonganmu jaga Alia" Ucap Edward.


.


.


Sementara itu dirumah sakit disebuah kamar bangsal seorang gadis yang kini bergelar menjadi seorang wanita hanya mampu melihat seorang lelaki yang pernah ia cintai bahkan sampai saat ini tengah berbaring keritis didalam ruangan ICU.


"Sudah puas melihatnya" Ucap Valena yang sudah berdiri dibelakang Amiraa.


"Ma..maaf" Ucap Amiraa.


Wanita itu berbalik perlahan seraya menahan rasa ngilu pada kaki kanannya yang terkena luka tembak.


"Maafmu tidak berarti disini Amiraa kau sudah menyakitinya begitu dalam,seharusnya kau beruntung dicintai dengan hebat oleh seorang pria yang tidak pernah memikirkan dirinya sendiri" Ucap Valena.

__ADS_1


Amiraa hanya terdiam hanya buliran bening itulah yang kini berbicara setiap ucapan yang dikatakan oleh Valena memang benar adanya dirinya telah menyakiti dan membuat seseorang yang begitu mencintainya terluka bahkan kini harus berjuang antara hidup dan mati.


"Pergilah sejauh yang kau mampu Amiraa,jangan pernah datang kembali dalam hidupnya disini aku juga akan berjuang membantunya untuk bahagia".Ucap Valena kepada Amiraa sebelum wanita itu melangkahkan kakinya dibantu tongkat peyangga.


"Maaf,ya tuhan aku akan menjauh dari hidupnya setelah ini dan melupakannya asalkan sembuhkan dia,aku tidak akan pernah kembali muncul dihadapannya jika itu sampai terjadi kau boleh menghukumku" Ucap Amiraa air matanya tak mampu terbendung ia terus berjalan tanpa menghiraukan orang orang disekelilingnya yang menatap dirinya.


.


.


Sebuah mobil jeep hitam terparkir dengan sempurna dihalaman sebuah mansion besar yang tengah berhiaskan karangan bunga dan juga kain putih.Dengan berani Edward menarik pelatuknya sehingga membuat kegaduhan yang membuat semua orang yang tengah berkabung itupun berhamburan.


"Siapa kau!beraninya kau datang kemari seorang diri dan membuat keributan" Ucap seorang pria yang tidak terlalu tua namun hampir rambutnya terlihat memutih.


"Salam Li Tao,oh salah tetapi ayah mertua" Jawab Edward dengan santai seraya melepas kaca mata hitam diwajahnya dan melemparnya sacara asal.


"Apa kabar ayah mertua ini pertama kalinya kita berjumpa" Sambung Edward.


Pak Li terdiam membeku tangannya mengepal dengan erat tanpa perkenalanpun dia sudah tau siapa lelaki yang tengah berjalan mendekat kearahnya.


"Siapapun hentikan dia!" Perintah pak Li.


Beberapa anak buahnyapun berusaha menyerang Edward yang memang datang seorang diri namun satupun tidak ada yang menjadi tandingan Edward karena ketua kelompok Pyungsoo sudah terlebih dahulu dihabisi oleh Edward.


"Daniel mengapa kamu hanya diam saja cepat lumpuhkan dia" Ucap pak Li yang sedikit bergetar namun pria itu terdiam tak bergeming sedikitpun ia hanya menatap sebuah bingkai foto seorang wanita yang kini wanita itu sendiri tengah berbaring didalam peti mati.


"Daniel!jangan lupakan Athena meninggal karena ulahnya kau harus membalaskan dendamnya!" Ucap pak Li mencoba memprovokasi Daniel.


Namun sebelum itu terjadi lima orang anak buah pak Li membawa masuk Zainab yang masih menggendong Alia kecil.


"Hahaha sepertinya para dewipun berpihak kepadaku!Edward menyerahlah atau mereka akan mati!" Ucap pak Li dengan senyum penuh kemenangan.


Edward terdiam ditempatnya ia berjalan mendekati peti mati Athena ia membuka kain putih tipis yang membalut peti mati.

__ADS_1


"Sepertinya kepergian putrimu masih tidak mampu menyadarkanmu juga dasar tua bangka!" Ucap Edward.


"Cukup papa mama kakak dan juga istriku yang kau lenyapkan kini giliranmu!" Ucap Edward dengan emosi yang kian membakar dirinya.Ia berjalan cepat dan melayangkan pukulan tepat pada wajah pak Li sehingga membuat lelaki itu tersungkur pada kaki Daniel.


"Daniel!bodoh lindungi aku bagaimanapun juga aku ayah dari wanita yang kau cintai!" Ucap pak Li seraya berusaha bangkit.


Daniel Pun kembali membabi buta saat melihat wajah teduh Athena iapun menyerang Edward tanpa henti bahkan ingatannya kini dipenuhi bagaimana hari hari Athena yang mendambakan sosok Edward namun pria itu sedikitpun tidak mau membalas perasaan sang nona yang ia kagumi.


"Hentikan!!!" Ucap seorang wanita yang baru saja sampai dia adalah Amiraa yang masih menggunakan baju pasiennya.


Pertarungan antara Edward dan juga Daniel pun terhenti semua mata tertuju pada sumber suara.


"Hentikan semua ini,bahkan dihari berkabung pun tidak ada bedanya" Ucap Amiraa dengan mata terpejam ia berjalan secara normal seolah tidak ada luka dikakinya dan berhenti tepat ditengah tengah aula.


"Dia bukan Amiraa lalu Emillia?tidak suara Emillia seperti anak kecil" Ucap Edward lirih.


"Elaine" Ucap Edward satu kata yang membuat tubuh Amiraa yang dirasuki oleh Elaine itupun menoleh dengan mata yang masih terpejam.


"Ya ini aku tuan muda Addison"


"Ini aku papa putri yang tidak pernah kau harapkan kehadirannya" Ucap Elaine.


"Nona!" Seru Daniel yang juga mengenali suara dan juga intonasi Amiraa yang memang mirip sekali dengan Elaine dulu.


"Iya Daniel ini aku,masih ingatkah kamu dulu kita selalu bertiga dengan Athena tetapi papa lebih memanjakan Athena sehingga membuatmu dan aku berpisah" Ucap Elaine.


Pak Li terdiam ditempatnya berdiri rasanya ingin sekali ia tidak mempercayai kehadiran Amiraa namun suara Amiraa meyakinkan dirinya bahwa itu adalah Elaine yang sudah meninggal tiga tahun lebih yang lalu.


"Papa selama ini aku diam hingga ajal menjemput ku pun aku masih memilih diam!tetapi kali ini biarkan aku bersuara pa!" Ucap Elaine dengan nada sendu akan tetapi terpancar aura kemarahan didalam dirinya.


.


.

__ADS_1


.


BERSMABUNG CERRY


__ADS_2