
Hari semakin siang Amiraa masih tetap tidak sadarkan diri hal itu tentunya membuat Edward tidak bisa meninggalkannya sedetikpun dan terpaksa Aaronlah yang menghandle semua pekerjaan Edward.
Siang itu menjelang jam makan siang disaat yang tidak terduga Aaron tengah berada dimeja resepsionis meminta laporan laporan mingguan.
"Permisi" Ucap seroang wanita dengan nada yang cukup lembut membuat semua orang memalingkan pandangannya.
"Iya nona bisa saya bantu" Ucap salah sata resepsionis.
Aaron terdiam sesaat ketika wanita itu berdiri tidak jauh disamping seorang wanita yang memakai jubah hitam dan juga tutup kepala hitam tidak hanya itu wajahnya pun turut tertutup oleh sebuah kain berwarna hitam yang hanya menampilkan bagian mata dengan bulu lentiknya.
"Ini makan siang yang biasanya dipesan oleh nona Amiraa biasanya setiap malam selalu memberi kabar tapi tidak dengan kemarin" Ucap wanita itu dengan ramah.
"Oh baiklah terimakasih nona nanti akan saya sampaikan kepada Amiraa" Sahut Aaron secara spontan membuat dua orang resepsionis itu saling pandang pasalnya sejak pagi mereka tidak melihat Amiraa sama sekali.
"Terimakasih tuan saya pergi dahulu" Ucap wanita itu seraya menyipitkan matanya mungkin saja wanita itu sedang tersenyum manis dibalik cadarnya batin Aaron.
"Nona tunggu!" Seru Aaron ketika wanita itu sudah berada diambang pintu keluar.
"Nona tunggu!" Seru Aaron kembali sembari mengejar wanita yang terus saja berjalan itu.
"Nona!" Ucap Aaron seraya mencengkram lengan wanita itu.
__ADS_1
Seketika wanita itupun melepaskan pegangan tangan Aaron di lengan kirinya dengan sangat sopan.
"Maaf tuan ada yang bisa saya bantu" Ucap wanita itu dengan sangat sopan membuat Aaron sedikit merasa gugup kali ini.
"Besok hantarkan bekal juga padaku seperti milik Amiraa aku akan membayarnya bulanan bisa kan" Ucap Aaron sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Alhamdulillah bisa tuan" Ucap wanita itu lagi lagi matanya kembali terlihat menyipit.
"Baik tuan mulai besok akan saya antar kemari terimakasih dan saya pamit" Ucap wanita itu.
"Tunggu!" Ucap Aaron kali ini dia hanya berucap tanpa bertindak gegabah.
"Ya tuan?" Tanya wanita itu benar benar sabar menghadapi Aaron yang sedikit tidak jelas.
"Nama saya Zainab dan ini kartu nama saya tuan disana ada nomor rekening saya" Jawab wanita bernama Zainab tersebut.
Aaron tampak terdiam sesaat setelah menerima kartu nama tersebut dan memperhatikan secara detail.
"Saya pamit ya tuan masih ada pekerjaan lainnya" Ucap Zainab.
"Ohh baiklah perlu ku antar?" Tanya Aaron.
__ADS_1
"Tidak tuan saya bawa motor" Jawab Zainab.
"Baiklah hati hati dijalan" Ucap Aaron.
Zainab hanya diam sekilas matanya yang menyipit menandakan dia sedang tersenyum manis dibalik penutup wajahnya itu.
"Zainab" Sebut Aaron lirih disaat wanita itu tampak menghilang dari pandangannya.
...****************...
"Bu tenanglah Amiraa baik baik saja semalam memang ada acara dikantor karena itu Amiraa harus full day mungkin dia istirahat dikantor saja karena hari ini kan langsung bekerja jadi biar tidak bolak balik" Ucap Rizal yang berusaha menenangkan ibu Amiraa.
"Baiklah" Jawabnya wanita paruh baya itu tampak sedikit gusar dikarenakan Amiraa yang tak kunjung pulang.
Begitu pula Rizal yang hanya bisa berdiam diri bagaimanapun juga Edward dan Aaron bukanlah orang sembarangan yang bisa saja dia menghajarnya.
"Papa tante Amiraa kemana?" Tanya Aska sembari memeluk boneka beruang kecil.
"Tante Amiraa kerja sayang sabar ya" Jawab Rizal mencoba memberikan arahan kepada putra kecilnya.
"Eumm" Aska pun pergi menuju kamar bermainnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG.