Amiraa:Di Penghujung Penantian

Amiraa:Di Penghujung Penantian
Roti Sobek Aaron


__ADS_3

usia kandungan Amiraa sudah memasuki trismester kedua dimana saat ini yang ibu hamil itu rasakan hanyalah lapar dan lapar contohnya pagi ini Amiraa menyuapi Alia bersamaan dengan itu tangannya tak berhenti memasukkan cemilan kesukaannya kedalam mulut kecilnya.


"Alia lihatlah adikmu menendang perut mama" ucap Amiraa sontak balita kecil itupun menyentuh perut Amiraa yang terlihat buncit sambil tersenyum.


yaa hari telah berganti begitupula minggu dan bulan Amiraa pun telah menerima garis takdir hidupnya dengan ikhlas dan tanpa keterpaksaan sedikitpun termasuk hadirnya Edward dan juga Alia di kehidupannya.


"Sayang sudah kukatakan berapa kali jangan makan camilan seperti itu" ucap Edward seraya berusaha merebutnya dari tangan Amiraa.


"kau jahat!" ucap Amiraa dengan mencebikkan bibirnya sontak saja membuat Alia berdiri dan memeluk Amiraa.


"papa mengapa membuat mama menangis bagaimana jika mama pergi meninggalkanku" ucap Alia dengan polos palsunya karena jiwa polos Alia yang sesungguhnya sudah ternodai dengan perkataan Aaron yang selalu menggunakan balita itu agar Edward sedikit jauh darinya.


"huhh yang benar saja baiklah lanjutkan" ucap Edward seraya ikut duduk bersama Amiraa dan Alia diruang keluarga.


"hey jagoan papa berharap kau terlahir laki laki agar ada Edward junior yang akan ada dipihakku dikala mama dan kakakmu memusuhiku" ucap Edward seraya mengelus perut Amiraa sedikit gemas.


"kau yakin tidak mau usg lagi untuk mengetahuinya sayang" tanya Edward.


"tidak biarkan menjadi kejutan memangnya ada masalah jika dia terlahir laki laki atau perempuan toh yang penting sehat" ucap Amiraa sedikit ketus.

__ADS_1


"ya ya baiklah sayangku"


Lima menit kemudian Amiraa menggeser duduknya disamping Edward sementara Alia sudah dibawa pengasuhnya karena hari sudah mulai larut.


"Sayang.." panggil Amiraa dengan nada sedikit menggoda.


"ayolah Amiraa jangan lagi" batin Edward karena setiap Amiraa berkata demikian pasti akan ada hal diluar nalar yang akan istrinya itu pinta.


"Iya sayang" jawab Edward dengan senyum manis terpaksanya.


"Sepertinya bayi kita menginginkan jus seperti kemarin yang kau buat" ucap Amiraa dengan manja.


Saat itu Edward menyusul kemana perginya istri kecilnya ditengah malam seperti itu dan setelah ditelusuri Amiraa sedang berada didapur.


Ia meminta Edward membuatkannya jus buah yang baru saja ia lihat.


"kau yakin" ucap Edward sedikit tidak percaya dan membayangkan bagaimana rasa jus itu.


satu kali tegukan yang Amiraa minum dan sisanya tentu saja Edward yang harus menghabiskannya jika tidak istri kecilnya itu akan bersedih.

__ADS_1


"tapi buahnya tidak ada" jawab Edward memalingkan topik agar keinginan Amiraa berganti.


"yahh baiklah kalau begitu panggilkan Aaron kemari" ucap Amiraa


"untuk apa sayang ini sudah hampir tengah malam mungkin saja dia sudah beristirahat kasian dia" ucap Edward


"emm aku ingin menyentuh roti sobeknya sebelum tidur" ucap Amiraa dengan puppy eyesnya.


"tidak bisa!!" ucap Edward sedikit membentak dan hal itu sukses membuat tangis ibu hamil tersebut pecah.


disaat yang bersamaan Aaron ingin menuju dapur mengisi botol air minumnya ia sudah berusaha mengalihkan pandangannya agar sejoli yang dilanda bucin akut itu tidak memanggilnya.


"kemarilah istriku sedang nyidam menyentuh perutmu" ucap Edward dengan pasrah namun tidak dengan sorot mata tajamnya kearah Aaron.


"ahh nona kau bisa membunuhku apakah kau tidak melihat kecemburuan dimata suamimu itu" batin Aaron seraya berjalan gontai menuju Amiraa dan Edward berada.


"ini istrimu yang minta Ed jadi jangan libatkan gajiku!" Ucap Aaron mendahului karena ia sangat yakin jika Edward akan menggunakan gajinya untuk mengancam.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2