
Kabar penyerangan dirumah sakit sudah terdengar dikeluarga Amiraa dan Rizal ingin rasanya mereka segera menemui Amiraa hanya saja beberapa orang sudah mencegahnya terlebih dahulu demi keselematan Amiraa dan juga tuan muda mereka.
Sesekali bawahan Edward menghubungi melalui Rizal dan menunjukkan bahwa Amiraa saat ini aman bersama mereka.
Kini keberadaan Amiraa benar benar dirahasiakan tidak ada satupun keluarganya yang tau hanya saja mereka masih dapat melihat Amiraa melalui video yang setiap saat dikirim oleh bawahan Edward.
Tak lepas dari itu juga orang orang terdekat Amiraapun juga mendapatkan pengawasan yang sangat ketat atas perintah Edward.
...****************...
Disebuah rumah kecil bagaikan Villa disanalah tempat Amiraa mendapatkan sebuah perawatan yang begitu serius sudah tiga hari Amiraa belum juga menampakan tanda tanda kesadaran.
"Simpan semua file CCTV itu dan setelah ini segera kembalilah perusahaan akan sangat kacau tanpa adanya kau dan aku" Ucap Edward kepada Aaron.
"Ta..tapi tuan bagaimana denganmu" Ucap Aaron ia seolah cemas akan kondisi tuannya terlebih rencana musuh yang menyerang dirumah sakit kala itu benar benar sesuatu yang diluar kendali.
Untungnya masih ada Amiraa yang kali kedua telah menyelamatkan Edward jika tidak mungkin saja kelompok itu sudah berhasil membuat Edward tewas ditempat.
"Kau tenang saja tempat ini begitu jauh dari kejaran musuh kau juga harus mengunjungi ku satu kali dalam satu minggu agar musuh tidak mengetahui keberadaanku.Selama disini aku akan segera memulihkan seluruh tenagaku" Jawab Edward menyakinkan Aaron.
"Sungguh kau serius tuan tanpa bodyguard sama sekali?lalu bagaimana dengan gadis kecil itu" Ucap Aaron seraya melirik kearah Amiraa yang masih tengah terbaring lemah.
"Jangan melihatnya!!dan sudah kukatan beberapa kali jangan panggil aku tuan jika kita hanya berdua" Umpat Edward sambil melempar sebuah majalah tepat didada Aaron.
"Aku yang akan merawatnya dan kau jangan lupa jamin kehidupan keluarganya dengar dengar dengan kakak sepupu gadis ini baru saja pindah keperusahaan kita sebagai manager" Ucap Edward.
"Memang benar Rizal namanya dia sangat jujur dan pekerja keras..tapi ngomong ngomong sejak kapan tuan muda Edward mau mengurus masalah wanita hingga turun tangan sendiri" Jawab Aaron yang sesekali terlihat tengah menahan senyumnya.
"Gajimu bulan ini kupotong 50 persen" Jawab Edward dengan serius membuat Aaron hanya membuka mulutnya lebar lebar.
"Yahh jangan begitulah lah Ed aku hanya bercanda" Ucap Aaron tampak sedikit merengek.
"Ucapan seorang Edward tidak bisa ditarik" Jawab Edward dengan kukuhnya.
__ADS_1
"Ayolah please aku takkan mengulanginya lagi,50 persen mana cukup untuk satu bulan" Ucap Aaron seraya memanyunkan bibirnya dihadapan Edward yang terlihat begitu cuek.
"Sudahlah itung itung kita sedang berhemat sekarang kau tau bukan aku tidak bisa bekerja" Jawab Edward.
"Tapi Ed kau sudah terlahir kaya raya sejak dalam masa embrio kau tidak akan pernah merasakan kelaparan ayolah Ed cabut kebutusanmu itu" Ucap Aaron yang terlihat seperti anak kecil yang merengek bergelayut manja.
"Hentikan Ron malulah dengan tattomu itu" Ucap Edward seraya berdiri menuju dapur yang diikuti oleh Aaron.
"Kau mau apa Ed bukankah kau masih sakit?" Ucap Aaron penasaran.
"Memasak lah apalagi?aku tidak mau kau sampai mati kelaparan disini" Jawab Edward dengan santainya sambil memotong daging.
"Hehehe kau memang yang selalu mengerti Ed,apa kau tau selama kau berada dirumah sakit tidak ada yang bisa memasak sehebat dirimu dirumah" Jawab Aaron.
"Tidak perlu merayu keputusanku sudah mutlak gajimu bulan ini hanya 50 persen" Ucap Edward pria yang masih memiliki beberapa luka ditubuhnya itupun masih cukup cekatan untuk memanggang sebuah daging.
"Yahh gagal sudah" Gumam Aaron dengan wajah masamnya.
"Cepatlah Ed aku sudah sangat lapar" Ucap Aaron lagi seperti anak kecil yang tengah menunggu seorang ibunya dimeja makan.
Sarapan pagipun dimulai oleh dua orang pria tersebut yang sama sama terlihat begitu dingin bagaikan benua antartika tersebut.
Setelah selesai sarapan Aaronpun segera pergi meninggalkan villa tersebut termasuk Edward dan Amiraa yang entah kapan ia akan sadar.
Edward segera memasuki rumah setelah memastikan Aaron benar benar tak terlihat tertutup dibalik lebatnya hutan.
Langkahnya terhenti tepat disamping pintu kamar Amiraa saat ia mendengar suara isakan tangis yang terdengar begitu pilu.
Edward segera memasuki kamar tanpa aba aba menyaksikan disana Amiraa tengah terduduk dilantai dekat dengan ranjangnya.
"Kau!!" Ucap Edward seraya menggendong tubuh mungil Amiraa kembali pada kasur empuk itu.
"Bagaimana kau bisa dibawah sana?" Ucap Edward
__ADS_1
Amiraa masih saja tetap menangis sambil menatap wajah Edward yang penuh dengan luka dan dadanya yang terbalut perban.
"Dimana aku?mengapa aku tidak bisa berdiri tuan hikss..hiksss" Ucap Amiraa...
"Ssstttt tenanglah kau aman disini jangan menangis" Ucap Edward seraya menghapus air mata Amiraa yang mengalir membasahi pipinya.
"Amiraa dengarkan aku terakhir kalinya kakimu memang sakit karena salah urat yang tidak disadari oleh para dokter ditambah dengan insiden itu jadi sementara waktu kau harus memakai kursi roda itu" Jawab Edward dengan lembut.Entahlah pria itupun juga merasa sedikit ada yang aneh dengan dirinya.
Edward yang memiliki jiwa kepemimpinan yang sangat tinggi tegas dan berwibawa semua keputusannya adalah mutlak bahkan pria berbadan tinggi itupun hampir tidak pernah tersenyum dan sangat keras kepala hari ini ketika melihat Amiraa rasa iba menyelimuti hatinya.
"Apakah artinya aku lumpuh tuan?" Ucap Amiraa sendu.
"Bisa seperti itu ehh tidak maksudnya ini hanya sementara saja jika kau mau latihan berjalan setiap hari kau akan sembuh" Ucap Edward
"Benarkah kau tidak berbohong kan?" Tanya Amiraa sementara Edward hanya menggelengkan kepalanya saja.
"Lalu diamana aku sekarang?" Tanya Amiraa kembali.
"Jauh..kita berada ditempat yang sangat jauh tunggu aku dan kau sembuh baru kita kembali" Ucap Edward seraya mengambil sebuah obat dinakas.
"Memangnya kenapa?ibuku dan mas Rizal pasti mencariku tuan" Ucap Amiraa dengan mata yang kembali terlihat berkaca kaca.
"Akan ada saatnya nanti kau berbicara dengan mereka,mereka juga tau kau berada disini" Ucap Edward
"Sebelumnya aku berterimakasih padamu karena telah menyelamatkanku dua kali dan maaf karenaku pula kau harus terjerat dalam masalahku" Ucap Edward lagi.
"Lalu?" Ucap Amiraa bingung karena Edward seolah tak ingin melanjutkan kata katanya.
"Jika kau menyelamatkanku hanya satu kali mungkin kelompok itu hanya akan berfokus mengejarku namun kali ini kau menyelamatkanku lagi pastinya kaupun juga menjadi daftar pencarian mereka meski aku tidak mengenalmu aku tak ingin kau celaka" Ucap Edward dengan tatapan kosong.
"Cepat minum obatmu ini setelah ini aku akan membawakanmu sarapan dan berlanjut meminum obat yang lainny" Ucap Edward.
Amiraapun patuh baginya ia tidak merasakan bahwa Edward akan berbuat jahat padanya meski ia sendiri tidak tau pasti sedang dimana saat ini.
__ADS_1
Sebuah villa kayu yang memiliki dua kamar tidur dikelilingi oleh rimbunnya pepohonan dan kamar Amiraa tepat menghadap sebuah danau hijau yang mungkin memang terlihat begitu indah disiang hari.
BERSAMBUNG.